Pov dini
"Iya Bu, terima kasih atas supportnya" ujarku sambil memandang Bu Nur.
"Ya, sudah. Ibu tinggal dulu ya, nanti kalau Dokternya sudah datang Ibu ke sini lagi, sekarang kamu banyakin istirahat, Jangan banyak pikiran" ucap Bu Nur berpamitan untuk melanjutkan tugasnya lagi.
Aku hanya menganggukkan kepala, tanda menyetujui apa yang beliau ucapkan, setelah beliau keluar. Pintu itu terbuka kembali, lalu kulihat Kak Darda masuk dengan wajah yang merasa bersalah. Dia duduk kembali di ranjang samping yang tidak terisi pasien. Kak Darda hanya diam sambil menunduk Menatap layar ponselnya.
"Maafin aku Kak "ucapku memecah Haning suasana
"Aku yang harusnya minta maaf, kamu maafin aku ya" jawabnya sambil menaruh ponsel di sampingnya.
"Iya, Kak. kita saling memaafkan aja, Terima kasih sudah mau direpotin" ucapku lirih
"Nggak apa-apa, kamu kan pacarnya sahabat aku, jadi aku juga berkewajiban menjaga pacar sahabatnya" ucapnya sembari senyum. lalu mendekatiku kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
"Sebenarnya aku dan kak Dali, nggak pacaran Kak. Aku juha nggak tahu bagaimana perasaan dia sama aku" ujarku sambil menundukkan kepala
"Hah! kok bisa" tanya Kak Darda sambil membulatkan mata.
"Iya emang begitu kenyataannya"
"Parah banget si Dali. Masa cewek secantik kamu dia nggak tertarik, Apa bener apabyang dikatakan Evita, bahwa dia kaum belok" ujarnya serius.
"Hahaha Gak tau juga Kak ,serem juga kalau begitu" ucapku yang kembali merasa terhibur oleh perkataan Kak Darda.
"Kalau nggak belok, Mungkin dia masih trauma" Jelas kak Darda sambil menarik nafas.
"Trauma kenapa Kak" Tanyaku merasa penasaran.
"Kalau aku cerita, kamu bisa jaga rahasia nggak?, soalnya nanti takut dia marah, kalau aku menceritakan kisah hidupnya" ucapnya serius sambil menatap ke arahku.
"Bisa" jawabku dengan cepat Karena rasa penasaran yang sudah memenuhi ubun-ubun.
"Janji" sambil mengosongkan kelingking jarinya.
"Janji" jawabku sambil menautkan kelingkingku ke kelingking Kak Darda, sebagai tanda bahwa aku orang yang bisa dipercaya.
Sebelum bercerita Kak Darda terlihat beberapa kali narik nafas, seolah bahwa yang akan diceritakannya adalah hal yang sangat berat sekali.
"Beberapa tahun ke belakang. Dali sempat punya pacar. Wanita itu adalah teman di kampusnya. Lama pacaran, akhirnya Dali memutuskan untuk melamarnya, dia ingin acara pelamaran itu surprise, sehingga sepulang kerja dia mampir ke kosan pacarnya, tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Namun setelah sampai ke kosan dia melihat Sepasang Sepatu laki-laki yang berada di dekat pintu kosan pacarnya. Dengan penasaran, akhirnya pintu itu didorong dan pacarnya yang bod0h itu, dia tidak sempat Mengunci pintu. Sehingga dali bisa masuk dengan mudah, matanya terbelalak saat melihat orang yang iya cintai, sedang melakukan begini" cerita ka Darda sambil menaruh telapak tangan kirinya lalu ditindih dengan telapak tangan, kemudian telapak tangan digerakkan naik turun sehingga mengeluarkan bunyi.
"Apa itu Kak" Tanyaku yang tidak mengerti maksudya.
"Ya gini" jawab Kak Darda sambil memperagakan kembali gerakanya.
"Ya itu apa" Tanyaku mendesak
"Hubungan suami istri" jawab Kak Darda.
"Astagfirullah" ucapku setelah mengetahui apa yang dimaksud oleh kak Darda, sambil menutup mulut seolah tidak percaya dengan apa yang diceritakan.
"Dari kejadian itu dia sangat frustasi, namun kebetulan banyak teman-temannya yang sudah berumur, sehingga pikirannya mulai terbuka kembali. Dan mungkin karena gara-gara itu, dia tidak terlalu dekat sama perempuan, walau banyak perempuan yang suka, namun dia tolak sehingga paea perempuan itu menganggapnya sebagai kaum belok" Kak Darda melanjutkan ceritanya.
"Kasihan banget ya, Kak" tanggapanku setelah mendengar kisah kelam kak dali
"Namun aku yakin dia sangat menyayangimu, terlihat dari tatapan dan caranya memperlakukanmu. Mungkin butuh waktu saja untuk mengakuinya" ujar Kak Darda membuat hatiku menjadi merah muda.
"Terus sekarang perempuan mantan kak dali ke mana, apa dia masih terus menghubungi Kak Dali" Tanyaku sambil menatap Darda
"Sering, namun dia tidak memperdulikannya sehingga lama-kelamaan wanita itu merasa merasa Jengah , alu menghilang begitu saja" jelas kak Darda.
"Mendengar ceritanya, kirain aku saja kak yang merasakan hidup penuh dengan kepahitan" ucapku lirih
" hehe semua orang memiliki jalan ceritanya masing-masing, dan mereka juga akan memiliki cobaan masing-masing, sehingga orang itu menjadi lebih baik, karena seyogianya ujian itu diberikan buat orang yang akan menemukan kebahagiaan" ucap Kak Darda menasehati.
Cklek
Lagi asik mengobrol tiba-tiba pintu kamar terbuka, masuklah bu Nur Jasmi, sambil membawa kursi roda lalu Beliau mendekatiku.
"Ayo, kita cek dulu kondisi kamu, dokter forensiknya sudah datang" ajak Bu Nur yang dibalas dengan anggukan ku.
Aku pun disuruh duduk di kursi roda, Meski aku menolak, namun beliau tetap memaksa. Akhirnya dengan berat hati aku duduk di kursi roda itu, didorong oleh kak Darda menuju ruang pemeriksaan.
Awalnya merasa takut. Namun, Ibu Nur Jasmi terus menguatkanku, agar aku berani. Setelah masuk ke ruangan, semua luka lebamku diperiksa, Bahkan bukan hanya lebam bekas cip0kan si Dani pun tak luput dari pemeriksaannya.
Dan yang membuatku, merasa semakin takut. Ketika aku disuruh berbaring di atas ranjang sambil menekuk kakiku, seperti orang yang melahirkan.
"Ibu!, rileks ya, jangan tegang biar nggak sakit" ucap dokter itu menenangkanku setelah melihat kondisiku yang ketakutan.
Tak lama dokter itu mengambil alat berbentuk paruh angsa, lalu alat itu ditempelkannya ke 0rgan intim, sehingga membuatku meringis menahan rasa sakit. Namun, Bu Nur yang menemaniku dia terus menguatkan.
"Bagaimana keadaannya dok" tanya Bu Nur setelah pemeriksaan itu selesai.
"Selaput darahnya masih utuh, mungkin pria yang hendak memperk0s4nya, belum sempat" jawab dokter itu sambil melepaskan sarung tangan yang terbuat dari karet.
Aku hanya bengong menatap ke arah Bu Nur, tidak paham apa yang mereka biarakan, sehingga membuat pikiranku menerka-nerka, bahwa tidak Suci lagi. Namun waktu itu aku yakin, Dani belum sempat melakukan tusukannya, apa benar keperawananku bisa hilang setelah dij1lati orang, pemikiran-pemikiran seperti itu yang terus memenuhi Otaku, sehingga aku dibawa kembali ke kamar di mana aku beristirahat.
Setelah sampai di kamar, aku kembali naik ke atas ranjang dan Bu Nur menyuruhku untuk beristirahat.
"Aku tidak perawan lagi ya Bu: Tanyaku sambil menatap Bu Nur.
"Sudah kamu jangan banyak pikiran, kamu istirahat supaya kamu cepat pulih" Bu Nur tidak menjawab pertanyaanku, sehingga membuatku merasa yakin bahwa aku adalah wanita yang paling kotor.
"Ibu kenapa nggak jawab, bener kan aku sudah tidak perawan" aku bertanya kembali sambil menatap Bu Nur dengan mata penuh embun.
"Sebentar lagi kamu akan mengetahui hasilnya, sekarang kamu istirahat ya" jawabnya tidak memberi jawaban sambil menutup tubuhku dengan selimut.
"Oh iya kamu Sekarang ikut saya ke ruang dokter, karena keluarganya tidak ada di sini, jadi kamu yang harus bertangung jawab" ajak Bu Nur sama Kak Darda.
Kak Darda pun beranjak dari tempat berdirinya, mengikuti Bu Nur keluar kamarku.
"Ya Allah" gumamku lirih membayangkan kejadian tadi malam, yang menimpa. Tak terasa butiran bening berjatuhan dengan cepat, menyusuri pelipis "ku harus kuat, aku harus membalas apa yang telah dia lakukan. Jangan Menangis Lagi, ini sudah terjadi, aku harus memikirkan bagaimana caranya dia membusuk di penjara" batinku terus bergejolak.
Lima belas menit berlalu, Kak Darda pun kembali dengan membawa kertas yang ada di tangannya, dia tersenyum menatap ke arahku sehingga membuatku merasa penasaran.
"Alhamdulillah, pria Br3ngs3k itu, belum sempat menodaimu" tanpa ditanya Pak Darda sudah menjelaskan.
"Maksudnya Kak" Tanyaku sambil mengerijitkan dahi menatap kearah kak darda.
"selaput darah kamu masih utuh, jadi kamu masih perawan Din, ini keterangannya" jelasnya sambil memberikan kertas yang ada di tanganku.
Tambahan penulis : Maaf harusnya visum dilakukan setelah kejadian itu terjadi, sehingga bukti itu masih ada, saya baru mendapatkan informasinya, setelah mengupload beberapa Bab, jadi maaf kalau ceritanya sedikit cacat logika, terima kasih sudah Setia membaca.