Pov Dini
Mendengar pemberitahuan Kak Darda, dengan malas ku ambil ponsel pemberian Kak Dali, yang berada di atas nakas, dengan cepat kubuka kunci ponsel itu, setelah terbuka kulihat ada beberapa pesan yang masuk melalui aplikasi hijau.
[ din jangan lupa makan buahnya ]
[ Din jangan lupa susunya diminum biar kamu cepat pulih ]
[ Kamu tidur ya ]
[ Ya udah kamu istirahat supaya kamu cepat pulih diakhiri dengan chat senyum ]
[ Kamu baik-baik aja kan ]
[ Nanti siang ada pengacara ke sana kamu bantu ya ]
[ Ya udah met bobo dini manis ]
Beberapa pesan chat yang masuk di aplikasi itu, dengan waktu yang berbeda, namun sejak tadi aku tidak mendengar notifikasinya dan ternyata bunyi notifikasinya di Aktifkan. kutaruh lagi handphone itu, setelah mengaktifkan bunyi notifikasinya, agar berbunyi ketika ada pemberitahuan yang masuk.
"Kok kamu nggak bales chatnya" tanya Kak Darda yang dari tadi memperhatikanku membuatku termenung memikirkan apa jawabannya.
"Kamu marah ya sama dia" lanjut Kak Darda.
Aku hanya menggelengkan kepala, walau dalam hati betkata, mana mungkin aku bisa marah terhadap pria sebaik Kak Dali.
"Perlu kamu tahu, tadi malam dengan panik dia meneleponku, meminta bantuan untuk melacak keberadaanmu, karena mobil yang dia ikuti masuk ke tol, sehingga dia kehilangan jejak, Untung saja aku bisa melacak keberadaan kakakmu.
Dan yang perlu kamu ketahui lagi, setelah aku dan para polis datang, dia dalam keadaan hendak dig0rok lehernya, menggunakan cutter. Untung saja kami datang tepat waktu, sehiga bisa menyelamatkanya" lanjut Kak Darda menjelaskan pengorbanan Kak Dali waktu menyelamatkanku tadi malam, sehingga butiran bening di pipiku mengalir.
"Maafin aku Kak" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut, tidak tahu harus bilang apa.
"Kamu tidak salah, Dali juga tidak salah, yang salah itu kakak kamu,sehingga membuat kita seperti ini, jadi kamu gak harus minta maaf, namun kalian harus bersama, saling menguatkan, untuk menghadapi masalah ini" jawab Kak Darda walaupun kelihatannya dia sangat kocak Namun ternyata pemikirannya lebih dewasa daripada yang aku pikirkan.
"Aku malu Kak sama Kak Dali" jelasku sambil menghela nafas panjang menahan beban yang ada di d**a.
"Malu kenapa" tanya Kak Darda sambil terus memperhatikanku.
"Aku malu, karena tubuhku sudah tidak Suci lagi kak, Apakah Kak Dali masih mau mengenalku, apa masih mau memperhatikanku, apa dia berbuat baik seperti sekarang karena Kak dali kasihan melihatku yang sudah menjadi samp4h ,dan aku malu, sama orang-orang yang mengetahui Kejadian ini, apakah mereka masih mau berteman denganku, Aku takut, aku sedih, aku putus asa, Kalau mengakhiri hidup tidak dosa, mungkin tadi malam udah aku lakukan" jawabku sambil terisak sampai-sampai butiran bening dari hidung keluar, saking menggebu-gebunya. Aku mengutarakan isi hatiku.
Kak Darda hanya menatap Sendu, dengan apa yang aku jelasakan, dengan perlahan ia mendekatkan tisu yang ada di nakas rumah sakit, untuk mebersihkan air mataku.
"Maafin aku Din, kamu Jangan berpikiran macam-macam, lihat aku, lihat si Dali, kita berdua masih berada di sampingmu, karena kita berdua sangat peduli kepadamu, jadi kamu jangan merasa sendiri" jelas kak Darda yang terbawa suasana sehingga beberapa kali dia memalingkan muka untuk menyembunyikan rasa sedihnya.
"Terima kasih Kak, tapi aku masih trauma Kak, aku takut banget, apalagi aku hanya seorang anak pungut, yang tidak Diharapkan kehadirannya, oleh kedua orang tuaku sehingga aku dibuang ditong sampah, aku ditelantarkan, Aku mau diperkosa, ya Allah berat banget hidupku" ucapku dengan suara keras ,sambil menangis sejati jadinya, membuat kak darda gelgapan, dia bingung harus berbuat apa..
"Udah jangan nangis, Aku bingung harus ngapain, maafin aku" ucap Kak Darda yang terlihat gugup.
Tangisku yang sangat keras, sehingga Mengundang perhatian para perawat yang lagi bertugas, mereka menghampiriku, mungkin untuk menonton diriku yang lagi berada di tahap rapuh, serapuh rapuhnya bak Kapuk yang sedang tertiup angin, jiwaku hancur habis hanya menyisakan badan yang sudah lebam.
"Udah kamu tenang ya" ujar Seorang perawat dengan lembut yang memelukku sangat erat, sambil mengusap-usap punggungku.
"Udah kalian tolong keluar" seru perawat itu menyuruh rekan kerjanya untuk pergi tidak menonton ku lagi.
Terdengar beberapa suara sepatu yang menjauhi ranjangku, suara itu pun tidak terdengar lagi, setelah mereka menutup pintu dengan rapat.
"Sudah jangan nangis, kamu harus kuat" ucap perawat itu sambil terus mengurus-ngulus punggungku supaya aku merasa lebih tenang.
Aku menghabiskan air mataku, sampai tak dapat menetes, dan habis terurai, menyisakan cegukannya. Setelah berhenti menangis, baru wanita itu melepaskan pelukannya. Terlihat baju bagian depannya basah terkena air mataku.
"Maafkan aku Bu" ujarku lirih dengan suara tertahan.
"Enggak apa-apa, kapanpun kamu mau menangis, Ibu siap menyediakan bahu, untuk menjadi sandaranmu, jawab ibu itu sambil mengulum senyum di bibirnya.
"Terima kasih" ucapku dengan terbata-bata.
"Nggak apa-apa, kamu harus kuat ya, Oh ya kenalin nama ibu Nur Jasmi, panggil saja Nur" jelas wanita paruh baya itu memperkenalkan dirinya.
"Yah Terima kasih Bu Nur, maaf bajunya jadi basah" ucapku
"Eh kamu bisa keluar dulu nggak, aku mau ngobrol" seru Bu Nur sambil menoleh ke arah Kak Darda.
Seperti biasa Kak Darda hanya tersenyum, memperlihatkan gigi putihnya yang kontras dengan warna kulitnya.
"Itu siapa kamu Din" tanya Bu Nur setelah Kak Darda pergi tak terlihat.
"Itu Kak Darda Bu, dia yang menelongku tadi malam, aku juga belum kenal dekat karena baru tadi pagi ketemu, sampai sekarang dia yang menemani disini, soalnya teman dekat saya yang tadi pagi, dia lagi kerja" aku menjelaskan keadaannya.
"Kamu harus bersyukur karena masih banyak yang peduli sama kami, tapi maaf sebelumnya, orang tuamu kemana, Kok, mereka nggak menjengukmu" pertanyaannya yang seketika air mata yang udah terhenti, mulai berjatuhan kembali.
"Maaf, kalau pertanyaan Ibu, membuatmu merasa sedih" ucap Bu Nur yang merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa Bu" ucapku sambil menarik nafas "Aku anak pungut. Kata kakak angkatku aku dipungut di tong sampah, aku kabur dari rumah, setelah kedua orang tua angkatku berniat menjodohkanku dengan pria tua, yang lebih pantas di sebut kakek dibanding suami. Sehingga aku bertemu kembali dengan kakak angkatku, namun bukan pertemuan yang menyenangkan, namun pertemuan yang membuatku kehilangan kehormayan" lanjutku mengutarakan semuanya, aku berani bercerita, karena yakin Bu Nur orang baik.
"Ya Allah, cobaanmu begitu berat, semoga kamu Sabar menghadapinya, dan kamu harus yakin, setiap cobaan pasti akan ada kebahagiaan" hanya ucapan itu yang keluar dari Bu Nur.
"Amiiin" ucapku lirih
"Sekarang kamu harus bangkit, harus jadi wanita kuat, kamu usut tuntas laki-laki biadab itu, sehingga tidak ada korban lagi dari perbuatannya" ucap Bu Nur memberi saran.
Aku hanya menganggukkan kepala, menyetujui sarannya. Memang benar aku tidak boleh berlarut dalam kesedihan ini, aku harus bangkit, dan aku harus membuat si Dani membusuk di penjara, meski tidak mudah namun aku akan berjuang sebisa mungkin.
"Ya sudah kamu istirahat, jangan nangis terus jangan buang-buang energi, oh iya sebentar lagi dokter ahli forensik akan segera datang, untuk melakukan visum" ucap Bu Nur memberitahuku.
"Buat apa Bu, visum. " tanyaku yang merasa kaget karena hanya di TV lah aku mendengar kata visum.
"Buat bukti bahwa kamu korban pelecehan, dan akan memberatkan hukuman pelaku" Bu Nur menjelaskan
"Aku takut Bu, aku takut karena kesucianku udah direnggut" jelasku sambil mengiba, supaya visum tidak dilakukan.
"Nggak boleh takut, kita sebagai perempuan harus berani berbicara, karena kalau tidak, para penjahat itu akan terus melakukan kejahatan, meski. Kita tidak bisa mencegah kejahatan itu terjadi, namun kita bisa berusaha meminimalisir kejahatan, dengan menahan mereka dipenjara, dan semoga mereka mendapat efek Jera" ungkap Bu Nur sambil berapi-api. Seperti yang lagi berorasi di depan gedug kita.
"Jadi sekarang aku harus ngapain Bu" tanya aku
"Sekarang kamu istirahat, nanti Ibu Panggil, setelah dokter forensik datang" ucap Bu Nur memberitahu.
"Tapi itu nggak apa-apa kan, kalau aku di visum" Tanyaku yang masih merasa ketakutan.
:Nggak apa-apa, semua Dokter udah disumpah untuk menjalankan pekerjaannya dengan baik, dan menjaga rahasia pasien itu adalah kewajibannya, jadi kamu nggak usah takut, bahkan ini bisa kamu gunakan ketika kamu nanti punya suami, itu bisa menjadi bukti, bahwa kamu kehilangan mahkotamu, dengan paksaan, bukan karena kenakalan" ungkap Bu Nur panjang kali lebar.
"Terima kasih banyak Bu" hanya kata itu yang terus aku ucapkan karena tidak tahu harus membalas kebaikannya dengan apa.
"Sudah jangan berterima kasih melulu. Sekarang persiapkan diri kamu, untuk menjadi lebih kuat, wanita itu tidak boleh lemah" Bu Nur memberi semangat.