bc

Menggantikan Sepupu, Menikahi Mafia Lumpuh

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
love after marriage
age gap
friends to lovers
arranged marriage
goodgirl
mafia
gangster
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

"Sering kali orang yang dibuang justru kembali sebagai mimpi buruk." 🥀🔥

chap-preview
Pratinjau gratis
Pengganti yang Dibuang
Malam itu, ruang makan utama kediaman keluarga Saputra dipenuhi seluruh anggota keluarga besar. Lampu kristal memantulkan cahaya hangat ke meja makan panjang dari kayu mahoni. Di atasnya tersaji berbagai hidangan mahal, tetapi tak seorang pun benar-benar berselera makan. Di kursi paling ujung, duduk tetua keluarga Saputra, Fajar Saputra. Rambutnya telah memutih, namun sorot matanya masih tajam dan penuh wibawa. Tak ada satu pun anggota keluarga yang berani menatapnya terlalu lama. Fajar meletakkan sebuah surat bersegel hitam di atas meja. "Itu surat dari keluarga Pratama?" tanya Dimas, putra sulungnya. Fajar mengangguk perlahan. "Mereka datang menagih janji lama." Suasana langsung berubah tegang. Beberapa orang saling pandang. Janji lama itu bukan rahasia. Puluhan tahun lalu, saat bisnis keluarga Saputra hampir runtuh, keluarga Pratama membantu mereka bangkit. Sebagai gantinya, dua kepala keluarga berjanji akan menyatukan keturunan mereka lewat pernikahan. Tak ada yang menyangka hari itu benar-benar tiba. Tatapan Fajar beralih ke gadis cantik yang duduk di sisi kanan meja. Amara Dewi Saputra. Putri dari Dimas dan cucu paling dibanggakan keluarga. Cantik, berkelas, berpendidikan tinggi, dan sejak kecil selalu menjadi pusat perhatian. "Amara," ujar Fajar datar. "Kamu akan menikah dengan pewaris keluarga Pratama." Sendok di tangan Amara jatuh ke piring. "Apa?" Di sampingnya, Nabila langsung menggenggam tangan putrinya. "Ayah, ini pasti bercanda." Fajar menatap tajam menantunya itu. "Aku tidak pernah bercanda soal keluarga." Amara berdiri mendadak. "Tidak mungkin! Aku tidak mau menikah dengan pria cacat itu!" Ruangan seketika hening. Nama pewaris keluarga Pratama memang sering menjadi bahan bisik-bisik. Pria muda yang mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu. Kini hidup di kursi roda. Jarang terlihat di publik. Dingin dan tertutup. Amara menahan rasa jijik di wajahnya. "Aku memiliki masa depan! Aku memiliki reputasi! Kenapa aku harus menikah dengan pria lumpuh?" "Amara, jaga ucapanmu," tegur Dimas, meski suaranya tak cukup tegas. Namun Nabila bangkit dari kursinya. "Aku setuju dengan putriku." Seluruh meja menoleh padanya. "Aku tidak akan membiarkan Amara dikorbankan untuk janji kuno seperti itu." "Nabila!" bentak Dimas panik. "Apa salah jika aku membela anak sendiri?" balas Nabila tajam. "Amara pantas mendapat pria sehat dan setara dengannya!" Amara mengangkat dagu bangga. Ia tahu ibunya akan selalu berada di pihaknya. Fajar mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Cukup." Satu kata itu membuat semua orang terdiam. Namun Amara tak mau mundur. "Aku menolak. Jika keluarga Pratama marah, itu bukan urusanku." "Amara!" seru Dimas. "Papa sendiri juga tidak ingin aku menikah dengannya, kan?" tantang Amara. Dimas terdiam. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban. Di sisi lain meja, seorang gadis duduk tenang di antara kedua orang tuanya. Titah Anggun Saputra. Putri dari Arjun Saputra, anak kedua keluarga. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna hijau. Rambut panjangnya diikat rapi, tangannya terlipat tenang di pangkuan. Di sampingnya, Arjun menunduk cemas, sementara istrinya, Dinda, menatap meja tanpa suara. Seperti biasa, keberadaan mereka nyaris tak dianggap. Amara kembali bersuara angkuh. "Jika keluarga Pratama butuh pengantin, carikan saja gadis lain." Tatapan Fajar perlahan beralih ke ujung meja. Ke arah Titah. Jantung Titah berdegup pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, semua orang menoleh kepadanya. Fajar menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Benar," suara pria tua itu dingin dan mantap. "Kita memang masih memiliki cucu perempuan lain." Ucapan Fajar Saputra membuat udara di ruang makan seolah membeku. Titah tetap duduk tegak di kursinya, tetapi jari-jarinya perlahan mengepal di bawah meja. Amara adalah orang pertama yang tertawa. "Lihat? Bukankah aku sudah bilang? Masih ada pilihan lain." "Amara!" tegur Dimas, meski kali ini suaranya terdengar lemah. Nabila justru tersenyum lega. "Itu keputusan bijak, Ayah." Arjun menoleh cepat ke arah Fajar. "Ayah, maksud Ayah Titah?" "Memangnya ada cucu perempuan lain di meja ini?" balas Fajar dingin. Wajah Dimas memucat. Dinda langsung menggenggam tangan putrinya. "Tidak bisa," ucap Dinda lirih namun tegas. "Titah masih muda. Lagi pula, sejak awal yang disebut adalah Amara." "Yang disebut," potong Fajar, "Adalah cucu perempuan keluarga Saputra." Ruangan kembali sunyi. Tak ada yang bisa membantah. Memang sejak dulu isi perjanjian itu tak pernah dijelaskan secara rinci kepada generasi muda. Hanya keluarga besar yang tahu bahwa salah satu cucu perempuan Saputra akan menjadi istri pewaris Pratama. Dan Amara dianggap pilihan paling layak karena statusnya sebagai anak dari garis sulung. Namun jika ia menolak, maka aturan itu kembali terbuka. Amara menyilangkan tangan sambil menatap Titah dengan senyum meremehkan. "Jangan pasang wajah seperti itu, Titah. Bukankah ini kehormatan besar?" Titah mengangkat mata menatap sepupunya. "Aku tidak pernah memintanya." "Jangan sok suci," Amara mendecak. "Kamu pasti senang akhirnya dilirik keluarga." "Ayah, Titah anakku. Dia bukan barang pengganti," Arjun masih mencoba berusaha. Fajar memandang putra keduanya tanpa ekspresi. "Dan kamu lupa siapa yang membiayai perusahaanmu saat hampir bangkrut dua tahun lalu?" Arjun terdiam. Satu kalimat itu cukup menghantam harga dirinya. Wajah Dinda berubah pucat. Mereka tahu, tanpa bantuan keluarga besar, usaha kecil Arjun sudah lama tutup. Fajar kembali bicara. "Cabang keluargamu hidup dari nama Saputra. Sekarang waktunya membalas." "Ayah," suara Arjun melemah. "Titah akan menikah," Amara mencondongkan tubuh sambil tersenyum puas. "Sepupu tersayang, jangan khawatir. Jika suamimu benar-benar lumpuh, setidaknya kamu tidak akan terlalu lelah melayaninya." Beberapa orang menahan napas. Ucapan itu terlalu kasar. Namun tak satu pun membela Titah. "Keluarga Pratama adalah keluarga nomor satu di negeri ini," ucap Titah akhirnya, memecah keheningan yang menyesakkan. Suaranya tenang, tetapi jelas terdengar di seluruh ruangan. "Mereka pasti menginginkan gadis paling layak di keluarga ini, Mbah," Ia menoleh perlahan ke arah sepupunya. "Dan orang itu adalah Amara." Amara mengangkat dagunya dengan senyum puas. Namun sebelum ada yang sempat bereaksi, tongkat Fajar menghantam lantai. Tok! "Tidak usah berkomentar." Sorot mata pria tua itu menembus Titah seperti pisau. "Suaramu tidak pernah ada gunanya di keluarga ini." Jantung Titah terasa diremas. Meski sudah terbiasa diabaikan, kata-kata itu tetap menusuk lebih dalam dari biasanya. "Kenapa Ayah selalu seperti ini?" Arjun akhirnya berdiri dari kursinya, wajahnya memerah menahan amarah yang selama ini ia telan. "Titah juga memiliki darah keluarga ini. Dia juga cucumu!" Fajar menoleh lambat ke arah putra keduanya. "Justru karena dia cucuku, maka aku akan mengirimkannya ke keluarga Pratama." Dinda menutup mulutnya, menahan isak tangis. "Itu sama saja Ayah mendorong Titah ke dalam neraka!" "Kalau perlu, iya." Jawaban Fajar jatuh dingin tanpa sedikit pun ragu. Ruangan seketika membeku. Tatapan Arjun berubah tak percaya. "Ayah." "Aku lebih rela kehilangan Titah daripada kehilangan Amara." Setiap kata yang keluar dari mulut pria tua itu seperti palu yang menghancurkan harga diri Titah sedikit demi sedikit. Amara menunduk, berusaha menyembunyikan senyum tipis di bibirnya. Fajar lalu menatap cucu kesayangannya dengan wajah melunak. "Amara." "Ya, Mbah?" "Kamu akan tetap di sini. Masa depan keluarga ini ada padamu." Kemudian ia mengalihkan pandangan ke Titah. "Sedangkan kamu, bersiaplah." Dinda menangis pelan. "Tidak, jangan lakukan ini." Namun Fajar tak peduli. "Keluarga Pratama tidak menerima penolakan. Jika Amara yang pergi dengan sikap keras kepalanya, dia bisa dibunuh oleh calon suaminya sendiri." Napas seluruh ruangan tertahan. "Jadi Titah yang akan pergi." Arjun mengepalkan tangan hingga bergetar. "Jadi sejak awal, Ayah memang sudah memilih anakku untuk dikorbankan?" Fajar menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku memilih siapa yang paling mudah untuk dilepas." Kali ini, bahkan para pelayan yang berdiri di sudut ruangan ikut menunduk ngeri. Titah berdiri perlahan. Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap tenang. Ia menatap satu per satu keluarganya. Sepupu yang puas. Kakek yang tega. Ayah yang tak berdaya. Ibu yang menangis. Lalu ia tersenyum tipis. Senyum yang membuat Amara mengernyit tak nyaman. "Baik, Mbah. Aku akan pergi." Ia berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke arah Amara. "Tapi ingat satu hal." Tatapannya berubah tajam. "Sering kali orang yang dibuang justru kembali sebagai mimpi buruk." Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membungkuk singkat ke arah meja utama. Gerakan itu tenang. Sopan. Nyaris tanpa emosi. Lalu ia berbalik dan melangkah keluar dari ruang makan. Tak ada seorang pun yang menahannya. Suara langkah kakinya menggema pelan di lantai marmer, meninggalkan ruangan yang terasa semakin dingin. "Titah..." bisik Dinda dengan mata berkaca-kaca. Tanpa ragu, Dinda berdiri dan segera menyusul putrinya. Arjun menatap meja makan itu untuk terakhir kali, rahangnya mengeras menahan amarah. Kemudian ia ikut bangkit. "Ayah, suatu hari Ayah akan menyesali ini." Setelah mengatakan itu, Arjun berbalik dan pergi meninggalkan ruangan. Wajah Fajar langsung menggelap. "Kurang ajar!" Tongkatnya menghantam lantai sekali lagi. "Mereka berani melakukan hal ini setelah semua yang kuberikan!" Tak seorang pun berani bersuara. Nabila adalah orang pertama yang memecah keheningan. "Ayah jangan terlalu dipikirkan," ucapnya sambil menuangkan teh ke cangkir Fajar. "Sejak dulu Arjun memang tidak tahu tata krama." Dimas ikut menghela napas panjang seolah kecewa. "Aku sudah sering katakan, Ayah terlalu memanjakannya. Karena itu dia merasa bisa menentang keputusan keluarga." Fajar menyipitkan mata. "Memanjakan?" suaranya rendah. Nabila mengangguk prihatin. "Bukankah benar? Usahanya gagal berkali-kali, tapi tetap Ayah bantu. Rumahnya menunggak, Ayah lunasi. Namun balasannya hanya pembangkangan." Amara menyandarkan tubuh ke kursi sambil tersenyum kecil. "Titah juga aneh, Mbah. Harusnya dia bersyukur dipilih masuk keluarga Pratama. Banyak perempuan bermimpi ada di posisinya." Ucapan itu membuat wajah Fajar sedikit melunak. "Setidaknya kamu mengerti arti kehormatan keluarga." Amara menunduk manja. "Aku hanya tidak ingin Mbah Kakung dipermalukan oleh keluarga paman Arjun." "Ayah, maaf jika aku lancang, tapi keluarga Arjun memang terlalu lama bergantung pada nama Saputra. Mereka menjadi lupa posisi," Dimas menambahkan dengan nada berat. "Jika Titah nanti juga berani menolak keluarga Pratama, nama kita yang hancur." Tatapan Fajar berubah tajam. "Dia tidak akan berani." "Tapi darah Arjun keras kepala, Ayah," bisik Nabila pelan. "Aku khawatir Titah akan membuat masalah." Ruangan kembali hening. Setiap kalimat yang mereka lontarkan seperti minyak yang disiram ke bara api. Fajar menggenggam tongkatnya erat. "Jika begitu, mulai malam ini keluarga Arjun tidak lagi menerima bantuan satu rupiah pun dariku." Amara tersenyum puas. Sedangkan Dimas dan Nabila saling bertukar pandang diam-diam. Mereka berhasil. Fajar kini semakin membenci keluarga Arjun. * * Di sisi lain kota, jauh dari hiruk-pikuk rumah keluarga Saputra, berdiri megah kediaman utama keluarga Pratama. Bangunan bergaya klasik itu menjulang angkuh di atas lahan luas yang dijaga puluhan pengawal bersenjata. Setiap sudutnya memancarkan kekuasaan yang tak perlu diumumkan. Di ruang duduk utama, sepasang suami istri tengah menikmati malam dengan tenang. Pria berusia lima puluhan dengan wajah tegas itu adalah Tuan Egar Pratama, pemimpin keluarga Pratama sekaligus orang yang namanya mampu mengguncang pasar dan menjatuhkan banyak orang hanya dengan satu keputusan. Di sampingnya duduk sang istri, Nyonya Bella Pratama. Wanita elegan dengan tatapan tajam yang terkenal jauh lebih sulit ditebak daripada suaminya sendiri. Bella menyeruput tehnya perlahan, sementara Egar membaca laporan bisnis di tangannya. Suasana damai itu pecah saat pintu dibuka. Seorang pria berpakaian hitam masuk dengan langkah tenang lalu membungkuk hormat. Ia adalah tangan kanan keluarga Pratama. Ardiansyah Basuki. "Tuan, Nyonya," ucap Ardiansyah. "Saya membawa kabar dari keluarga Saputra." Egar meletakkan berkasnya. "Katakan." "Terjadi perubahan calon pengantin wanita." Alis Bella terangkat tipis. "Oh?" "Cucu utama mereka, Nona Amara Dewi Saputra, menolak perjodohan itu karena kondisi Tuan Muda." Keheningan sesaat memenuhi ruangan. Lalu Egar tertawa pendek. "Sesuai dugaanmu, sayang." Bella meletakkan cangkir tehnya dengan tenang. "Sudah kukatakan sejak awal," ucapnya dingin. "Mereka tidak akan pernah mengirim cucu kesayangan mereka pada putra kita." Tatapannya mengeras. "Walaupun keluarga Pratama adalah keluarga paling kaya dan paling berpengaruh di negeri ini, orang tua mana yang rela menyerahkan putri kesayangannya pada pria cacat?" Ia berhenti sejenak. "Apalagi Daffa terkenal kejam." Ardiansyah menunduk lebih rendah. Rumor tentang putra tunggal keluarga Pratama memang beredar ke mana-mana. Pria muda yang hidup tertutup. Duduk di kursi roda. Tak pernah menunjukkan belas kasihan. Dan siapa pun yang mengkhianatinya akan menghilang tanpa jejak. Semua orang takut padanya. Egar menyandarkan tubuh sambil tersenyum samar. "Lalu siapa yang mereka kirim?" "Putri dari anak kedua keluarga Saputra, Nona Titah Anggun Saputra." Bella saling pandang dengan suaminya. "Seperti yang kuduga," gumamnya. "Mereka menukar cucu kesayangan dengan anak yang dianggap cadangan." "Lalu apa yang harus saya lakukan, Tuan? Nyonya?" "Cukup jaga calon menantuku," perintah Egar tegas. Ardiansyah sedikit terkejut, namun tetap diam mendengarkan. Egar menatap lurus ke depan, sorot matanya tajam. "Dan tetap awasi keluarga Arjun Saputra." Bella tersenyum tipis, senyum yang penuh makna. "Setidaknya mulai sekarang mereka akan menjadi besan kita."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
751.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
984.2K
bc

A Warrior's Second Chance

read
362.7K
bc

Not just, the Beta

read
349.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook