Banyak janji yang mudah diucapkan namun sulit untuk menepatinya. Hari sudah melewati tengah malam, tapi tidak memutuskan niatan Aji untuk mendudukan kedua istrinya di hadapannya saat ini. Sudah hampir setengah jam mereka diam diposisi masing-masing, tanpa gerakan, tanpa suara. Keduanya kompak menunduk tanpa membiarkan Aji membaca isi hati mereka melewati tatapan mata. Sejenak Aji mendesah, dia memijat pelipisnya lemah. Menghadapi dua istri ternyata jauh lebih sulit dari pada harus berurusan dengan polisi dan pengadilan. Atau lebih parahnya, Aji lebih takut kepada dua istrinya yang diam-diam saling memberikan luka dari pada dia diserang konsumen yang datang mengamuk ke kantor dengan parang di tangan. "Nis, ada yang mau kamu ungkapkan?" tegur Aji lebih dulu. Sempat Wulan mengangkat t

