Bab 11

2532 Kata
Karena yang sayang akan menutupi kekurangan pasangan. Bukan saling serang apalagi menjatuhkan.   Aji memasukkan sebuah koper besar ke dalam mobilnya. Tak jauh darinya, seluruh keluarga Aji nampak akan bersiap-siap untuk pulang. Begitupun dirinya. Besok setumpuk pekerjaan sudah menunggu untuk Aji perhatikan kembali setelah beberapa hari sibuk dengan urusan pernikahannya. Belum lagi, untuk seminggu ke depan dia harus ke luar kota menemani anak buahnya mengurus beberapa unit yang dikabarkan dibawa lari konsumen. Dalam bidang pekerjaan yang Aji jalani, hal ini memang sering terjadi. Kadang Aji sampai satu bulan lamanya harus ke luar kota mengurus pekerjaan dan meninggalkan keluarga kecilnya. Tapi Ya Tuhan, apa tidak bisa waktunya sedikit dimundurkan. Baru hari ini ia menikahi Nisa, namun Tuhan seperti sudah mengatur semuanya. Hingga Dia membuat Aji dan Nisa terpisah sejenak, mungkin memberikan jeda waktu keduanya meyakinkan diri masing-masing akan pernikahan yang mereka jalani bukan hanya sebuah permintaan. "Sudah?" Tegur Aji pada Nisa yang nampak bingung. "Hm ... sudah," jawabnya pelan. Ia melirik Wulan masih terlihat asik berbicara dengan perempuan paruh baya, yang Nisa tahu itu adalah mama Aji. Lantas ia melangkah memutari pintu mobil Aji, mengambil posisi di samping Aji yang sudah turut masuk ke dalam. Rasa cangung seketika menghampiri mereka berdua. Setiap gerak gerik yang Nisa lakukan terasa tidak bebas karena di sebelahnya berisi sosok laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya. "Mas, aku...." "Untuk sementara kamu akan tinggal bersama Wulan. Karena rumah yang kebetulan Mas beli belum selesai di renovasi," potong Aji cepat. Perempuan itu mengangguk lemah, melirik Aji yang kembali diam dengan pandangan mata tidak putus dari Wulan. Pancaran kedua mata Aji sudah begitu menjelaskan padanya seberapa besar rasa cinta Aji kepada Wulan. Bukannya hampir semua orang bilang, jika mencari titik ketulusan cinta maka perhatikan pancaran sinar matanya. Di sana pasti akan kalian temukan jawaban dari ketulusan itu. Detik demi detik berlalu hingga Nisa kembali menunduk. Memilin jemarinya yang mulai terasa dingin karena AC mobil diset dengan suhu yang cukup rendah. Beberapa helai rambut yang tidak beraturan reflek Nisa benarkan dengan jari-jarinya. Hingga tanpa sadar semua gerakan itu diperhatikan oleh Aji. "Kamu masih kerja saat ini?" Tanya Aji tiba-tiba. Nisa sedikit tersentak mendengar suara bariton itu. Ia melirik Aji, lalu menganggukan kepala sebagai jawabannya. Entah kenapa jika berhadapan langsung dengan Aji, bibirnya lebih banyak diam. Tetapi anehnya organ tubuh lainnya yang ingin menyuarakan jawaban dari pikirannya. "Memangnya berapa besar perusahaan menggajimu?" Tanya Aji kembali. Namun ketika ia mendapatkan tatapan tidak suka dari Nisa, laki-laki itu langsung mencoba meralat pertanyaannya. "Mas enggak maksud untuk...." ungkapnya serba salah. Sebelah tangannya sibuk menggaruk kepalanya. Sambil keningnya berkerut menyadari setiap kesalahan pertanyaannya tadi. "Gaji yang Nisa terima memang enggak sebesar gaji yang didapatkan Mas Aji, tapi mudah-mudahan bisa membantu nantinya." "Bukan. Bukan seperti itu maksud Mas." Ada rasa tidak enak yang Aji rasakan karena ternyata Nisa salah menangkap maksud pertanyaannya. "Lalu?" "Mas hanya ingin Nisa tahu kalau Mas bukan tipe laki-laki yang suka istrinya bekerja di luar. Karena semua itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab Mas," ungkapnya. "Lalu tadi mengapa Mas tanya berapa gajimu, Mas hanya ingin tahu dimanfaatkan untuk apa saja penghasilanmu selama ini. Karena...." ia menggantungkan kata-katanya kemudian menatap Nisa di sampingnya. Perempuan itu masih menunduk dengan rambut hitam panjangnya tergerai. Pakaiannya terbuka dengan bagian bahunya memamerkan keindahan kulit putih pucatnya. Belum lagi bagian mulus kakinya tidak tertutup efek dari rok pendek yang Nisa pakai. Beribu kali Aji sangat menyayangkan pakaian yang Nisa pakai. Mengapa perempuan ini tega membiarkan auratnya diperlihatkan kepada orang banyak. Apa sebelumnya Nisa tidak pernah berpikir bahwa sebelum ia menikah, maka yang menanggung semua dosanya adalah ayahnya sendiri. Lalu kini setelah Aji menikahinya, semua dosa dan tanggung jawab perpindah pada dirinya. Untuk itu ia ingin menyadarkan Nisa perlahan-lahan jika apa yang dia pakai sekarang bukan pakaian yang baik untuk muslimah. Selain karena tidak menutupi aurat, di samping itu juga untuk melindungi Nisa dari kejahatan. Karena banyak kejahatan yang terjadi saat ini salah satu penyebabnya adalah gaya berpakaian manusia. Apalagi gaya berpakaian seorang perempuan. Bukan tidak mungkin perempuan diperkosa oleh lelaki akibat dari pakaian yang ia pakai tidak dapat menutupi apa yang seharusnya tidak diperlihatkan. Karena Aji tahu, sebagai seorang laki-laki ia tidak akan merasa teransang bila bukan melihat pakaian-pakaian seperti itu yang dipakai perempuan. Merasa ada yang memerhatikan, Nisa menoleh dan membalas tatapan Aji dengan bingung. "Karena seperti yang Mas lihat, tidak ada sisa sedikitpun dari penghasilan yang kamu dapat untuk kebahagiaanmu." Kedua alis Nisa terangkat keatas. Mencoba memahami maksud Aji. "Mas bilang apa? Aku enggak bahagia? Jadi...." "Bukan. Bukan. Tolong, pahami dulu kata-kataku. Jangan mendengarkan untuk membalasnya, tapi cobalah mendengarkan untuk kamu pahami," celah Aji. "Coba tolong Mas jelaskan biar Nisa paham." Perlahan sebelah tangan Aji bergerak ingin menyentuh kepala Nisa, namun ketika tangannya belum sampai pada tujuan, pintu mobil di sebelah Nisa terbuka. Di sana wajah Wulan nampak kaget melihat Nisa dan Aji, kemudian perlahan ia mencoba  merubahnya menjadi senyuman penuh terpaksa. "Oh, maaf Wulan enggak tahu kalau...." Ia sengaja tidak melanjutkannya kembali kalimatnya. Menutup rapat pintu penumpang di bagian depan tersebut, kemudian beralih pada pintu belakang. Membiarkan Lana masuk lebih dulu baru dirinya beserta Alan yang berada di dalam gendongan. "Kamu duduk di depan aja Put, biar aku yang di belakang," protes Nisa. "Enggak usah, aku di belakang aja sama anak-anak. Lagian Lana udah ngantuk," jelas Wulan. Ketika Nisa ingin protes kembali, Aji sudah mulai menjalankan mobilnya menuju rumah mereka. Perempuan itu langsung merasa tidak enak. Tidak seharusnya dia diposisi ini, namun mengapa takdir selalu menempatkannya dalam posisi yang salah. Hingga akhirnya ia menyerah, dan menerima semuanya. Selama perjalanan baik Aji, Wulan maupun Nisa tidak ada yang bersuara satupun. Mereka memang berada dalam satu perjalanan yang sama, akan tetapi pikiran mereka tidak pada jalur yang sama. Bila Aji memikirkan bagaimana kedepannya sikap yang harus ia ambil, maka berbeda dengan Nisa. Perempuan itu ingin sebisa mungkin tidak tergantung dengan Aji. Bisa mendapatkan perlindungan saja rasanya sudah begitu bersyukur. Karena itu, ia sadar diri akan posisinya. Lalu bagaimana dengan Wulan? Selama perjalanan ia memilih pura-pura untuk tidur. Bukannya ia menghindar, namun memang lebih baik seperti ini. Mungkin sampai besok dia tidak akan membahas apapun dengan Aji. Berusaha menjaga jarak dengan suaminya itu agar kewajiban Aji kepada Nisa malam ini dapat terlaksana. Wulan sadar bahwa semua yang terjadi kini adalah permintaannya. Oleh karena itu harusnya dia tidak boleh menjadi penghalang apapun untuk kedepannya. Sesampai di rumah, Nisa memerhatikan rumah bergaya minimalis itu sejenak sebelum turun dari mobil. Sedangkan Aji sudah sibuk menggendong Lana yang sudah tertidur pulas. Membawa putri kecilnya itu ke dalam kamarnya agar Lana bisa beristirahat dengan nyaman. "Sudah Mas tidurkan Lana saja di kasur. Biar nanti Wulan yang bantu Lana mengganti bajunya," ucap Wulan saat menidurkan Alan di samping Lana. Kedua tangan Aji yang berada di atas tubuh mungil Lana terhenti, ia baru saja ingin membantu membukakan pakaian Lana dan menggantinya dengan baju tidur. "Kenapa?" Ungkap Aji tanda protes akan ketidaksukaannya pada cara Wulan mengusirnya. "Kok Mas tanya kenapa? Mas pasti capek, jadinya Mas langsung istirahat saja. Biar Wulan yang...." Belum selesai Wulan menyelesaikan kalimatnya, sebelah tangannya ditahan oleh Aji dengan pandangan kecewa. "Mas menikah lagi itu atas permintaanmu, tapi kenapa sekarang kamu menghindar dari Mas? Sampai anak-anak juga tidak boleh Mas urus?" "Bukan begitu Mas, tapi...." "Wulan, tolong dengarkan Mas, baik Lana maupun Alan adalah buah cinta kita. Mereka hadir ke dunia karena kita menginginkannya. Bukan hanya kamu tapi aku juga punya andil di sana. Dalam mengurusnya pun baik kamu maupun aku sama besar. Tidak ada yang namanya menjaga, mendidik serta merawat anak hanya tugas seorang ibu sedangkan bapak hanya mencari nafkah. Sumpah demi Tuhan, aku enggak suka kamu berpikir begitu. Sesuai janji kita 6 tahun lalu, semua kita jalani bersama-sama. Tanggung jawabmu adalah tanggung jawabku juga dalam mengurus anak. Jangan kamu pikir setelah aku menikah lagi, maka Alan dan Lana akan aku asingkan. Tidak Wulan, Mas tidak sejahat itu," jelas Aji. Wulan membuang pandangannya ke arah lain bersamaan dengan sebulir air matanya mengalir di pipi. "Hei, jangan menangis Sayang," bisik Aji. Ia menarik dagu Wulan untuk menghadapnya. "Maaf kalau Mas berbicara sudah keterlaluan. Tapi Mas ingin semua berjalan sesuai kesepakatan kita." "Iya Mas, Wulan paham," jawabnya lirih. Ciuman hangat mendarat di kening Wulan dengan perlahan. Ia dapat meresapi segala perasaan sayang dan cinta yang Aji berikan kepadanya. Kemudian Aji merengkuh tubuh Wulan ke dalam pelukannya. Sampai-sampai ia bisa mendengar isakan kecil dari bibir istrinya itu. "Please, dont cry." "Iya Mas, Wulan janji enggak akan nangis lagi," bisiknya pelan. "Terima kasih Sayang." Dalam beberapa saat keduanya terlarut dalam pelukan hangat, mencoba melupakan sejenak akan kesakitan yang diam-diam keduanya rasakan saat ini. ***   Hampir satu jam Aji baru keluar dari kamar anak-anaknya. Ia terus saja membujuk Wulan agar bisa tidur di kamar mereka. Akan tetapi Wulan terus mengelak, ia tahu saat ini waktunya Aji bersama Nisa. Maka Wulan lebih memilih tidur bersama dengan anaknya. Aji berjalan lemah menuju ruang kerjanya sembari memijat keningnya yang terasa begitu lelah. Ketika tepat kakinya melewati kamar tamu di sebelah kamar utama, ia melirik sekilas ke dalam. Ternyata di sana ada Nisa. Perempuan itu nampak sedang duduk di atas ranjang dengan ponsel di tangannya. Awalnya Aji malas untuk mendekat, tetapi ketika ia melihat kedua bahu Nisa bergetar akhirnya Aji memilih masuk ke dalam kamar itu. "Nis," tegur Aji. Nisa mengangkat pandangan sambil menghapus air mata yang terus mengalir di pipi. Ia tersenyum sejenak ke arah Aji, kemudian meletakkan ponselnya keatas nakas. "Ada apa, Mas?" "Tidurlah, Mas mau mengecek beberapa pekerjaan dulu," ucapnya. Nisa tersenyum pedih. Ia tahu semua akan seperti ini. Ditinggalkan sendiri pada malam pengantin rasanya lebih menyakitkan dari pada harus menjadi perempuan single selama belasan tahun lamanya. "Iya Mas, Nisa mau bersih-bersih dulu," ucapnya lemah. Ketika kepalanya tertunduk lemah, Nisa merasakan kehangatan pada keningnya. Sampai sebuah perasaan yang sudah lama tak pernah ia rasakan kembali tumbuh dalam hati. Membangkitkan perasaan bahagia yang sudah lama terkubur setelah kejadian mengenaskan itu. "Istirahatlah," kedua manik mata hitam Aji mengunci pandangan Nisa. Jarak mereka yang terlalu dekat hingga perempuan itu bisa mencium harum veronom dari tubuh Aji. Tanpa bisa dikendalikan, wangi itu memabukkannya. Membawa Nisa bermimpi apakah ia bisa berada di dalam pelukan laki-laki yang sudah berstatus resmi menjadi suaminya. Namun ia takut, bila terlalu tinggi dirinya menggantung harapan maka kesakitan yang akan menyapa. "Mas juga jangan terlalu malam begadang." Setelah Aji pergi, Nisa merasakan debaran jantungnya yang tidak terkendali. Ini baru pertama kali ia merasakan seperti ini. Selama 29 tahun usianya, tidak pernah jantungnya berdetak seperti habis melakukan lari marathon. "Ya Tuhan, jangan buat aku jatuh cinta padanya."   ***   Dari belakang ia memerhatikan perempuan yang tengah sibuk menyiapkan sesuatu di dapur. Senandung dari bibir perempuan itu tidak kunjung henti seiring dengan pergerakannya. Ketika ia ingin melangkah mendekatinya, perempuan itu mulai berucap tanpa melihat terlebih dahulu siapa lawan bicaranya. "Memangnya pesawat Mas terbang jam berapa? Kok baru jam 5 sudah bangun. Kan Wulan janji mau bangunin nanti," ucapnya dengan santai. Lama tidak ada tanggapan, perempuan itu kembali bersuara dengan sedikit menggoda. "Kalau Mas bangun lebih pagi untuk minta Wulan bantuin tidurin yang lagi bangun, Wulan enggak mau ah. Badan Wulan dari semalam sakit karena tidur di kamar Lana. Kasurnya kecil, jadinya Wulan tidur enggak nyaman," keluhnya sambil terkekeh. Namun ketika ia berbalik, wajahnya menegang melihat siapa yang berdiri. Tetapi setelah beberapa detik terlewati, Wulan kembali menampilkan senyumnya. "Maaf ya Nis, aku pikir mas Aji." "Enggak papa kok, Put," jawabnya. Nisa mencoba membantu Wulan dalam menyiapkan beberapa bahan untuk dibuat sarapan pagi. Mereka memang tidak merasakan canggung bila berdekatan, tetapi terkadang ada waktu-waktu tertentu yang seakan menyiksa keduanya. "Mas Aji belum bangun ya? Kok kamu bangun duluan?" "Aku enggak tahu Put." Tangan Wulan yang sedang sibuk memotong bahan-bahan mentah itu terhenti, ia mengalihkan tatapannya kepada Nisa. "Kenapa?" Tanya Nisa tidak paham. Namun segera Wulan menggeleng lalu kembali berpura-pura sibuk dengan kegiatannya. "Mas Aji semalam kayaknya tidur di ruang kerjanya. Dia cuma pamit mau ngecek beberapa pekerjaan semalam. Dan sampai pagi ini aku enggak tahu dia tidur di mana." Nisa menjelaskan segalanya tanpa perlu Wulan minta. "Mungkin mas Aji ketiduran semalam." "Mungkin juga. Atau kupikir dia memang tidur bareng Alan atau Lana," kekehan Nisa seperti mengiris hati Wulan. Walau sebenarnya Nisa tidak ingin menyindir dirinya, tetapi tetap saja terasa seperti itu. "Nanti aku tanya sama mas Aji." "Enggak usah Put," sahut Nisa. "Pernikahan kami bukan hanya sebatas hubungan fisik seperti itu. Aku menerima pinangan mas Aji, karena pertama itu adalah permohonanmu. Dan kedua sebagai tempatku berlindung. Mas Aji lelaki baik, suami bertanggung jawab dan penyayang. Maka aku sungguh bersyukur ada sahabat sebaik dirimu yang mau rela berbagi lelaki seperti itu untuk perempuan hina seperti diriku." "Nis," panggil Wulan. Ia mencuci kedua tangannya lalu menghadap penuh ke arah Nisa. "Terima kasih. Mungkin saat ini hanya itu yang ingin aku ucapkan. Aku ... berbagi denganmu bukan karena terlalu berbahagia dan ingin kau merasakannya, tapi aku ingin sahabatku tidak mengalami penderitaan. Aku juga perempuan biasa Nis. Pasti ada rasa cemburu dalam hatiku. Tapi Insha Allah. Jika memang niatku sudah tulus, Dia pasti bantu melancarkan semuanya. Kau sahabatku Nis, dan aku menyayangimu," ungkap Wulan dengan kedua matanya penuh kesedihan. Nisa mengangguk, kemudian terbitlah sebuah senyuman dari bibirnya. "Semua ini seperti mimpi, Put. Kita dulu berbagi bangku bersama ketika masa sekolah. Lalu kini berbagi kebahagiaan yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Rasanya selama mengenalmu hampir 20 tahun lamanya, Tuhan selalu hadir dan memberikan segala permintaan yang belum sempat kuajukan. Contohnya pernikahan ini." "Memangnya kamu enggak mau nikah, Nis?" Nisa menggeleng, kemudian tertawa geli melihat tampang aneh Wulan. "Bukan begitu, sejak usia yang cukup untuk menikah memang selalu ingin terbesit keinginan menikah. Namun apa daya bila keadaan tidak memungkinkan. Bahkan aku takut mengajukan keinginanku itu pada Tuhan. Tuhan yang kadang terasa begitu jauh dari hatiku. Tetapi nyatanya, kini semuanya kudapatkan sebelum keinginan itu kuucapkan padaNya." Jika tadi Nisa yang tertawa, kini Wulan yang merasa geli pada bagian perutnya. Wajah polos Nisa memang begitu lucu untuk dilewatkan. "Makanya Nis, inget Dia itu lebih penting dari pada dia." "Maksudnya?" "Mungkin mas Aji adalah perantara kebahagiaanmu, tapi Tuhanlah yang mengirimkan kebahagian itu agar bisa kamu rasakan," ucapnya. Wulan membelai wajah Nisa yang berada di hadapannya. Wajah putih itu begitu halus dan memancarkan kecantikan walau tanpa make up sekalipun. "Jujur ya Nis, aku bangga sama kamu. Kamu enggak pernah malu mengatakan segala kekuranganmu. Padahal mungkin bagi orang yang mengenalmu, kekurangan itu menjadi tidak penting untuk didengarkan. Enggak kayak banyak orang sekarang ini, sudah merasa baik dan sempurna sampai tidak mau diingatkan. Ini yang aku takutkan, bahwa kiamat akan semakin dekat." Tanpa sadar setiap perkataan Wulan menusuk hati Nisa. Ia melirik tampilannya saat ini. Tubuhnya terbalut pakaian tidur tanpa lengan dengan bahan yang hampir tembus pandang. Sedangkan Wulan? Walau tanpa hijab di kepalanya, pakaian tidur yang Wulan kenakan begitu indah. Berbahan sutera halus yang membalut tubuhnya dengan mewah sampai batas mata kaki. "Kenapa, Nis?" "Kamu cantik Put, sangat serasi dengan mas Aji. Aku doakan kalian berdua selalu bahagia sampai akhir hayat," ucap Nisa begitu tulus. Tanpa bisa ia cegah doa itu meluncur begitu saja melalui bibirnya. Padahal di dalam sana hatinya menjerit memaki setiap kata yang baru saja ia ucapkan.   Jika Tuhan terasa seperti sedang mengajarkanmu terjatuh dalam kehidupan, maka cobalah untuk mengerti bahwa Dia sedang memberikanmu sebuah cara agar bisa berpegangan padaNya. ------ Continue.. Jangan lupa di tap love buat cerita ini. terus dikomen yaa :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN