Jika kau berpayung di tengah hujan namun masih merasa basah, coba tengoklah lagi. Mungkin sedihmu berlindung pada orang yang salah.
Aji melangkahkan kaki terburu-buru melewati beberapa orang yang nampak sibuk berjalan dengan santai menuju sebuah pintu gerbang keberangkatan pesawat. Dalam hatinya terus saja mengutuk waktu yang memang terasa tidak begitu bersahabat. Aji beberapa kali melihat jam tangan yang ia kenakan. Waktunya tinggal sedikit lagi atau dia akan ketinggalan pesawat untuk terbang ke Yogyakarta. Padahal dari semalam ia terus menjaga agar tidak tertidur namun memang rasa kantuk sulit sekali diprediksi kapan datangnya.
Sampai pukul 3 pagi tadi, dia masih terus terjaga. Membaca beberapa berkas konsumen yang menjadi targetnya untuk diselesaikan secepatnya. Karena semakin lama konsumen-konsumen tersebut diselesaikan maka akan berdampak pula pada cabang yang dirinya pimpin.
Aji mendesah lega ketika manik matanya menangkap dua orang anak buahnya sudah berdiri di depan pintu masuk tersebut. Mereka turut gelisah menantikan sosok Aji yang tidak pernah terlambat dalam menjalankan pekerjaan.
"Assalamu'alaikum. Maaf saya telat," ucap Aji merasa bersalah sesaat setelah berdiri berhadapan dengan mereka.
Kedua mata anak buahnya tidak kalah menampilkan kelelahan. Dalam pemikiran Aji, keduanya pasti sudah datang sejak subuh tadi. Mengingat pesawat akan berangkat pukul 6.05 yang itu berarti 10 menit lagi dari sekarang.
"Ayo," ajak Aji.
Mereka duduk di kursi yang berisikan tiga orang penumpang. Sambil berusaha mencoba menikmati perjalanan udara yang tidak terlalu lama ini.
Selama perjalanan berlangsung, kedua orang anak buah Aji nampak tertidur. Memaksimalkan waktu istirahat mereka. Karena jika sampai di Yogya nanti, bisa dipastikan waktu istirahat sangatlah sedikit. Banyak pekerjaan yang sudah menunggu mereka semua.
Sedangkan Aji sendiri nampak sibuk mengutak-atik ponselnya. Memasang headset kemudian menekan tombol play.
Tak lama berselang muncul wajah ceria Wulan di sana bersama kedua anaknya di dalam sebuah video. Aji ingat kapan video ini diambil dan dia masih bisa merasakan kebahagiaan pada saat itu.
Tanpa sadar sebelah tangannya terulur mengusap video bergambar Wulan yang sibuk menyanyikan lagu ulang tahun untuk Lana. Perempuan itu terlihat sederhana tapi sangat cantik di mata Aji. Mungkin alasan terbesarnya adalah senyum yang selalu terbit di wajah Wulan sampai selalu bisa menghipnotisnya.
"Jangan pernah menyerah dengan keadaan," ucapnya pelan sebelum mematikan video tersebut untuk ikut beristirahat sejenak sebelum menghadapi kerasnya kehidupan.
***
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Mas," sambut Wulan dalam sambungan teleponnya.
Ia melirik ke kiri dan ke kanan mencari sosok Nisa di sana, tetapi hasilnya perempuan tersebut tidak terlihat di matanya.
"Mas sudah sampai, Yang."
Desahan lega keluar dari bibirnya. Bila Aji sedang menjalani tugas luar kota, pikiran takut selalu menghantui. Dia tidak mau sesuatu yang buruk menimpa suaminya itu. Apalagi pekerjaan yang Aji geluti bukan pekerjaan sembarangan. Bisa saja sewaktu-waktu berdampak buruk kepada dirinya sendiri.
Karena sesungguhnya isi pemikiran orang lain itu tidaklah ada yang tahu. Rambut semuanya boleh sama hitam, tapi apa bisa menjamin semua pikiran mereka positif. Boleh jadi konsumen yang tidak terima bila barang-barangnya ditarik oleh anak buah Aji menaruh dendam pada mereka semua. Dan Aji lah yang menjadi sasaran utamanya.
Astagfirullah al'adzim...
Dia menuduh orang lain tanpa bukti sama saja dia sudah memfitnah. Bahkan Wulan tahu bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan.
Sesaat ia menggelengkan kepala sebelum tersadar dengan suara Aji yang sibuk memanggilnya.
"Kamu lagi apa? Mas panggil tapi enggak dengar."
"Aku lagi duduk Mas, baru selesai beres-beres," ucapnya lemah.
"Hati-hati di rumah. Kalau sepi minta mama untuk nginap. Jangan sendirian di rumah," ingatkan Aji sampai berhasil menarik kedua sudut bibir Wulan.
Suaminya ini memang bukan lelaki romantis. Namun tanpa sadar setiap perkataan serta perbuatan yang Aji berikan kepadanya entah mengapa terasa begitu manis. Tanpa dilebih-lebihkan sedikitpun.
"Iya Mas, kan Wulan enggak sendirian. Ada pengasuh, ada bibi, ada supir juga," kekehnya pelan. Wulan sibuk mengusap tengkuknya yang terasa begitu lelah, tetapi sejak tadi tidak ia rasakan sedikitpun.
"Ya sudah, pokoknya mas enggak mau kamu sendirian. Nanti mas hubungi lagi."
"Mas..."
"Iya Sayang."
Ibu dua anak itu sibuk mencari-cari kata yang tepat dalam mengemukakan isi hati. Namun sampai kedua matanya menangkap apa yang menjadi pertanyaan, ia hanya bisa mengucapkan nama itu. "Nisa,"
"Mas tadi sudah menghubunginya," balas Aji dalam hitungan detik.
Hanya 4 kata tersebut tetapi berhasil menampar sudut kecil dalam ruang hatinya.
Apa tadi yang suaminya katakan? Dia sudah menghubungi Nisa. Dan baru menghubunginya sekarang?
Apa Aji memang mendahulukan Nisa sejak awal?
Wulan menutup kedua matanya sejenak sembari membaca istighfar berulang kali. Ia tahu sekarang setan sedang mengontrol hatinya. Tidak seharusnya ia membandingkan begini. Apalagi merasa kecewa karena di nomor 2 kan oleh Aji.
Tapi, semakin ia berusaha untuk membohongi hatinya, Wulan semakin merasa sakit. Luka setitik itu mulai ada. Dan jika tidak segera diobati maka bukan tidak mungkin luka itu akan menjadi borok besar yang akan menyakiti seluruh organ tubuhnya.
"Sayang..."
"Sayang..."
"I ... iya Mas."
"Mas tinggal dulu. Jangan lupa pesan mas tadi. Dan tolong titip peluk serta cium mas untuk Lana dan Alan."
Setelah mengucap salam, Wulan meletakkan ponsel di sebelahnya.
"Kenapa, Put?" Tegur Nisa merasa bingung.
Wulan menggeleng cepat, memberikan senyum cerah kepada Nisa yang terlihat baru selesai mandi.
"Enggak papa, aku mau mandi dulu. Tolong jaga Alan sebentar ya."
"Tenang aja Put, kamu kayak sama siapa aja," kekeh Nisa.
Langkah kaki Wulan terhenti. Ia memandang balik Nisa yang masih tersenyum bahagia.
"Aku telah berhasil menunjukkan kebahagiaan serta perlindungan kepadanya," bisik hati Wulan.
Walau ia tahu semua ini begitu berat, tetapi akan terus Wulan jalankan dengan sepenuh hati. Sebab Wulan yakin, Tuhan selalu ada di hatinya.
Luka yang dia rasakan kini tidak seberapa jika dibandingkan luka yang Nisa rasakan. Dan jika boleh Tuhan membalik kondisinya, mungkin dia tidak bisa setabah Nisa dalam menjalani semua ini.
***
Nisa nampak memasang wajah bosan tepat ketika semua orang di rumah itu tidak terlihat di matanya. Yang dirinya tahu, bila Wulan tadi mohon ijin untuk menidurkan Alan di kamar. Lalu Lana, anak pertama Wulan dan Aji masih berada di sekolah.
Sejak usia tiga tahun, gadis kecil itu sudah Wulan dan Aji masukan ke dalam sebuah sekolah Islam. Mereka ingin Lana memiliki bekal ilmu agama setidaknya ia bisa membaca satu ayat Al-Qur'an. Dan kini Lana sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas. Beberapa surah pendek sudah ia hafal di luar kepala. Sedangkan untuk bacaan sholat sendiri, walau masih candel dalam mengucapkannya Lana sudah mampu. Hingga Nisa bisa melihat kekaguman orang-orang di sekitar Lana atas kepintaran gadis kecil itu.
Suara langkah kaki seseorang menghentikan lamunan Nisa. Ia melihat seorang pengasuh yang dipekerjakan oleh Aji dan Wulan sedang berjalan melewatinya.
"Mbak, mau ke mana?" tegur Nisa.
"Mau jemput non Lana, Bu. Sudah mau hujan, saya takut non Lana kehujanan kalau pulang sendirian," jawabnya sopan. Sedikit banyak semua pekerja di sini tahu siapa Nisa sebenarnya dan bagaimana kedudukannya di rumah ini. Oleh karena itu semua orang bersikap sopan kepadanya.
"Boleh aku ikut jemput?" seru Nisa buru-buru.
Sejenak pengasuh itu terdiam, mencermati kata-kata yang baru saja Nisa ucapkan.
"Tapi lumayan loh bu jalannya jauh."
"Enggak papa. Sekalian olah raga," kekehnya.
Tanpa pikir panjang, langkah kaki Nisa berjalan begitu ringan mengikuti pengasuh Lana yang ia baru tahu bernama Siti. Perempuan itu jauh berusia di bawahnya. Namun akibat dari faktor ekonomi, Siti tidak melanjutkan sekolah lagi dan ikut membantu ekonomi keluarganya.
Untung saja ada Aji dan Wulan mau memperkerjakan dirinya. Siti yang tidak tamat SD bagai mendapatkan rezeki dari Tuhan. Mendapat majikan seperti Aji dan Wulan sangat luar biasa dia syukuri. Perlakuan Aji dan Wulan begitu baik. Belum lagi gaji yang dia dapatkan sangat berlebih. Bahkan bila Aji mendapatkan bonus-bonus penting dari rekan kerjanya, tidak segan-segan ia akan mengajak mereka semua untuk menikmati makanan di luar.
Karena itu Siti begitu terima kasih pada keluarga ini. Mengasuh Lana sama saja menjaga dirinya sendiri. Segala perhatian, kasih sayang, dan tanggung jawab sudah ia curahkan bahkan ketika Lana masih berusia beberapa bulan.
"Jadi Siti udah lama kerjanya. Bahagia ya kerja sama mas Aji?"
"Pak Aji baik banget, Bu. Mama Wulan juga. Saya yang rasanya takut sendiri kalau-kalau enggak bisa balas kebaikan mereka. Bahkan ya Bu, mama Wulan itu kalau beli apa-apa pasti beliin kami juga. Saya, pengasuhnya Alan yang namanya mbak Tinah, si bibik, sama pak supir juga. Kadang kami semua bingung, terbuat dari apa sih hati keduanya. Baiknya susah untuk dihitung," kekeh Siti.
"Memang, mereka baik banget, Sit. Aku ada di sini juga karena kebaikan dari mereka."
"Maksud Ibu apa?"
"Kamu kan tahu Sit, aku ini istri keduanya mas Aji. Dia menikahiku bukan karena bermain serong di belakang. Tapi karena permintaan istri tercintanya, Wulan. Sahabat terbaikku."
Siti yang melangkah di samping Nisa menatap sedih istri majikannya itu. Ternyata pikiran buruknya salah tentang Nisa. Hampir semuanya berpikir bila Nisa yang menggoda Aji untuk dinikahi, tetapi nyatanya semua ini berawal dari permintaan.
"Bu, yang sudah terjadi itu bukan disesali. Tapi dijalani. Mungkin Siti enggak akan paham ada apa di antara kalian. Tapi kalau boleh Siti bicara, Siti akan mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan. Walau bagi Ibu mungkin semua ini enggak seharusnya. Atau bisa dibilang salah gitu, tapi harusnya Ibu yakin tidak ada yang salah dalam ketetapan Tuhan."
"Kamu hebat deh, enggak bisa disangka kalimat begitu hebat keluar dari dirimu. Katanya enggak tamat SD," goda Nisa.
"Saya boleh enggak tamat SD, Bu. Tapi saya enggak pernah tamat untuk selalu mau belajar. Bahkan kadang nih ya Bu, kalau bapak Aji enggak di rumah, saya suka banget baca buku-buku bisnis dia di ruang kerjanya."
"Loh kenapa harus sembunyi-sembunyi?"
"Ya karena enggak enak saya Bu, kalau beliau di rumah. Masa saya di ruang kerjanya baca buku bisnisnya."
"Kamu enggak tamat SD tapi bisa baca buku bisnis? Luar biasa sekali," ucap Nisa terkagum-kagum.
Baru kali ini dia melihat seorang pengasuh anak memiliki pemikiran maju. Biasanya jika yang sering ia lihat, pengasuh anak kerjaannya hanya bisa bergosip dan bergosip. Waktu Nisa masih tinggal di rumah lamanya, setiap ia pulang kerja pasti menjadi bahan gosip orang-orang tersebut.
Tetapi ... Siti, perempuan itu sangat luar biasa mengagumkannya.
Dari perempuan muda itu Nisa mendapatkan sebuah pelajaran penting bila menilai orang jangan dari covernya saja.
Hampir semua orang sekarang ini berpenampilan high class namun pikiran dan hatinya jauh dibawah rata-rata. Apalagi jika dibandingkan dengan Siti yang berpenampilan sederhana, hanya seperti segelintir debu berterbangan di musim panas.
Namun siapa yang akan sangka, Siti, seorang pengasuh anak memiliki kemauan tinggi untuk belajar. Ia boleh saja miskin, tapi dalam belajar tidak mengenal kata miskin.
Ilmu memang boleh mahal, namun masih banyak cara untuk orang yang bersungguh-sungguh ingin belajar.
"Bu, awalnya juga saya enggak bisa baca. Tapi mama Wulan yang mengajarkan saya segalanya. Dia yang membuat saya bisa mengenal dunia dari membaca. Semua ilmu yang dia miliki benar-benar dia curahkan kepada semua orang terdekatnya." Cerita Siti hingga membuat Nisa bungkam.
Tanpa sadar Nisa mengangguk sekilas, membenarkan pemikiran yang terlintas dalam otaknya.
Bahwa orang-orang di dunia ini yang mengetahui segalanya tidaklah lebih pintar dari orang-orang yang mau mempraktekan apa yang dirinya ketahui.
Seperti apa yang dilakukan Wulan kepada Siti hingga pengasuh anak itu bisa menerapkan ilmu yang sudah Wulan ajarkan.
Ternyata sekarang ia bisa mendapatkan jawabannya, mengapa Wulan begitu ikhlas berbagi Aji bersamanya. Karena hati Wulan memang dibuat begitu sempurna oleh Tuhan.
Lalu bagaimana Aji bisa mau menuruti istrinya itu? Karena satu hal yang tidak akan pernah bisa dihapuskan. Cinta.
***
Lana tersenyum gembira ketika manik matanya menangkap Siti tengah menunggunya di luar pagar. Langkah kakinya bergerak ringan ke kiri dan kanan menghampiri Siti. Ia tahu mengapa bukan mamanya yang menjemput. Karena biasanya jam segini, adiknya Alan sedang cengeng meminta untuk di tidurkan.
"Mbak, Sit."
"Gimana sekolahnya Lana? PR nya benar enggak?"
Lana mengangguk semangat. Menggandeng tangan Siti untuk berjalan keluar sekolah.
"Tunggu dong sayang, itu Ibunya ketinggalan."
Gadis kecil itu menoleh menatap Nisa. Rambutnya yang terkuncir dua bergerak bersamaan dengan gelengan kepalanya.
"Kata papa enggak boleh dekat-dekat sama orang asing," ucapnya polos.
Nisa meringis kecut mendengarnya. Ia hanya bisa diam tanpa tahu harus berkomentar apa.
"Kok orang asing, Ibu Nisa juga tinggal di rumah Lana, kan?"
"Kenapa tinggal di rumah Lana, Mbak?" tanya gadis kecil itu.
"Karena Ibu Nisa istri papa Aji juga," jelas Siti.
Baik Siti maupun Nisa sama-sama menunggu reaksi Lana sejenak. Namun gadis itu malah berjalan acuh menuju rumahnya.
Selama perjalanan pulang, Nisa terus mengamati Lana. Postur tubuh gadis itu mirip sekali dengan Wulan. Tetapi pancaran mata Lana sangat mirip dengan Aji.
Baginya, Lana merupakan perpaduan Wulan dan Aji yang paling indah. Sampai ada rasa iri yang menyusup pelan di hatinya. Apa mungkin nanti Nisa bisa memiliki anak seperti Lana?
"Lana ... pulang sekolah ya?" tegur tetangga yang memang mengenal baik keluarga Aji.
"Iya ibu Dewi," serunya lucu.
"Loh, sama mbak baru ya?" serunya kembali ketika ia melihat Nisa mengikuti dari belakang.
"Bukan bu Dewi," ralat Siti. "Sini Bu, kenalan sama bu Dewi," ajak Siti.
Nisa awalnya enggan untuk berkenalan. Namun tatapan merendahkan yang ia terima, membuatnya tidak bisa melakukan apapun selain menuruti Siti.
"Saya Nisa, Bu."
"Dia ini istrinya pak Aji," jelas Siti.
Sontak kedua mata ibu Dewi membelalak lebar. Memang belum ada gosip apapun mengenai pernikahan dadakan Aji. Karena baik Wulan ataupun Aji belum resmi mengenalkan Nisa kepada ketua RT setempat.
"Kok bisa? Aji sudah gila pasti," celetuknya kasar.
"Kok pak Aji dibilang gila?" Siti menyuarakan isi pikirannya yang tidak suka majikannya dikatai.
"Ya habisnya, sudah punya Wulan yang kayak bidadari masih aja cari yang lain. Dasar laki mah gitu, otaknya ada di selangkangan."
"Astaghfirullah al'adzim," seru Siti cepat. Ia melirik Nisa yang menunduk diam dalam keheningan. "Bu, jangan bicara begitu. Pak Aji itu orang baik. Enggak mungkin kalau...."
"Siti ... Siti. Iya kamu lihat dia di rumah baik, tapi kalau di kantor siapa yang tahu," potong Ibu Dewi cepat dengan lirikan tajam pada Nisa.
"Tapi ibu juga enggak seenaknya bicara begitu. Memangnya ibu mau kalau...."
"Kalau apa? Kalau suami saya begitu juga?"
"Saya enggak bilang gitu, Bu. Pikiran Ibu yang sudah negatif saja."
"Memang benarkan apa yang saya bilang?"
Siti menggeleng cepat, merasa tidak enak dengan Nisa. Selama hampir lima tahun dirinya bekerja untuk pasangan Wulan dan Aji, baru kali ini ada yang berbicara buruk tentang majikannya.
"Ternyata yang kelihatannya baik di luar, tapi hancur juga dalamnya."
"Maaf Bu Dewi bila Siti lancang. Mungkin yang Ibu Dewi bilang itu ada benar atau tidaknya. Karena hakikatnya orang hidup pasti punya masalah. Tapi sekarang Siti bisa belajar dari masalah ini, karena dari masalah yang terjadi dapat hadirkan sebuah lapangan pekerjaan baru. Kayak yang Ibu Dewi lakuin. Yaitu peramal handal," jelasnya tajam.
"Tapi karena Ibu Dewi enggak bisa jampi-jampi, jadi lebih cocok jadi tukang gosip," sambungnya lagi.
"Sudahlah, Sit." Cela Nisa.
Ia tersenyum pada ibu Dewi sebelum mengajak Siti pergi. "Kamu enggak seharusnya ngomong begitu, Sit."
"Kok ibu malah dukung dia buat jatuhin pak Aji?"
"Bukannya bela dia Sit, tapi dalam hidup ada kalanya lebih baik diam dari pada memperpanjang masalah. Toh mas Aji bukan seperti yang dia ucapkan," jelas Nisa.
"Bu membela bukan berarti kita marah. Tapi karena...."
"Jangan membenarkan apa yang kamu yakini. Tapi kamu harus yakini apa yang memang sudah benar."
Siti nampak bingung mendengarnya. Keningnya berlipat dalam sambil memerhatikan Nisa.
"Udah Sit, jangan dipikirkan lagi. Aku enggak papa, serius. Mungkin dia komentar karena tidak tahu seperti apa yang terjadi sebenarnya. Semua ini hanya butuh waktu Sit," kekehnya sambil berlalu. Waktu untuk membuat orang lain sadar bila tidak ada orang ketiga di antara dua orang, kecuali dia adalah setan, sambungnya dalam hati.
Namun yang mereka tidak sadari, di sampingnya seorang gadis kecil menatap keduanya dengan pandangan terluka. Ia memang baru berusia lima tahun, tapi perasaanya jauh lebih peka dari orang dewasa.
"Mbak Siti," ucap Lana.
"Ya sayang."
"Apa papa sama mama akan pisah?"
Yakinlah sebuah kebahagiaan tidak pernah hilang di sisi, namun hanya bersembunyi di samping kita yang sibuk merenungi kesakitan diri.
-----
Continue..
Yuk dikomen yang rajin