"Ya dulu...aku tinggalin kerjaan ku sebagai arsitek ya...memang karena masalah kita dulu. Tapi, sekarang...aku udah beneran enggak apa-apa. Udah enjoy sama hidup aku yang sekarang. Masalah kita dulu ya...udah berlalu juga, kan." Dara harus jujur mengenai apa yang ia rasakan. Ia memang sangat sakit hati dengan Reza dulu. Saat Reza lebih memilih wanita lain yang juga satu profesi dengan mereka. Begitu sakitnya, Dara memilih untuk pergi dari dunia itu dan memulai hidup barunya.
"Sorry, Ra."
Dara terkekeh."Itu bukan masalah. Santai ajalah, kak."
Reza menatap Dara bingung, setelah dua tahun terlewati, baru kali ini ia melihat tawa Dara begitu lepas."Syukurlah kalau gitu."
Dara menepuk lengan Reza."Iya. Enggak usah dipikirin. Semoga langgeng hubungannya sama Yesa,ya, Kak."
"Thank you, Ra."
"Sama-sama. Aku ke atas dulu." Dara melambaikan tangan dan pergi ke ruangannya.
"Dara udah punya pacar ya, Gi?" tanya Reza pada Gia yang masih ada di sana.
"Belum. Dia masih sendiri tuh," balas Gia cuek. Ia sibuk merapikan kertas-kertas di meja. Reza tak membalas ucapan Gia. Pria itu tampak terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu kayak udah biasa aja ya, Ra pas ketemu Kak Reza,”kata Vania setelah mereka semua sudah berkumpul lagi dalam ruangan. Reza pun sudah pulang.
Dara terkekeh."Iyalah...memangnya aku harus gimana, Van. Dia kan cuma masa lalu."
"Tapi, yang terpenting adalah aku bersyukur dengan hadirnya Dimas dalam kehidupan Dara sekarang,"sambung Gia.
"Loh kok lari ke Dimas?" Vania mengguncang tubuh Gia, khawatir temannya itu tidak fokus dengan apa yang mereka bicarakan tadi.
"Karena...kehadiran Dimas udah buat Dara lupa sama Kak Reza."
"Masa sih karena Dimas." Data tertawa kecil.
"Bener kan? Sekarang perasaan kamu membaik setelah kenal Dimas? Ngaku?" todong Gia.
"Iya deh iya...sebodo amat sama Kak Reza sekarang." Dara tertawa dan disambut tepukan tangan dari kedua sahabatnya itu.
Ponsel Dara berbunyi. Pesan masuk dari Dimas yang mengajaknya bertemu untuk membicarakan desain. Dara segera membalas dan memberi tahu bahwa desainnya sudah selesai. Mereka membuat janji besok untuk bertemu. Dara tersenyum penuh arti. Sekarang ia tengah memeluk ponselnya dengan perasaaan yang begitu bahagia.
**
Dimas sudah kembali lagi di apartemen karena kakaknya sudah kembali ke rumah. Mamanya pun sudah tidak perlu ditemani olehnya. Dimas memeriksa pesan yang ia kirim tadi, belum dibaca oleh Dara. Kemudian ia jadi tersenyum sendiri. Beberapa hari yang lalu ia sudah berani melakukan itu pada Dara padahal mereka belum memiliki hubungan. Namun Dimas tidak bisa mengontrol dirinya saat berada di dekat wanita itu. Tapi, dalam hati Dimas berjanji akan menyatakan perasaannya, karena ia juga sudah sayang pada Dara.
Saat sedang asyik memikirkan Dara, ponselnya berbunyi. Dimas tersentak da langsung mengangkatnya.
”Iya, Ma?”
“....”
“Ngapain, Ma?”
“....”
“Iya deh iya, Ma. Dimas ke sana sekarang.”
Dimas terlihat tidak begitu bersemangat saat mamanya menyuruhnya datang ke rumah Namira. Sedang ada arisan di sana. Tapi, Dimas paling tidak bisa menolak permintaan sang Ibu hingga akhirnya mau tidak mau ia harus datang ke sana.
Dimas datang dengan penampilan kasual. Namira yang saat itu sedang berada di teras rumah tampak senang sekali melihat Dimas datang. Pria itu tampak keren dengan sepeda motornya.
“Hai, Dim, kamu datang juga,” sambutnya bahagia.
Dimas melepaskan helmnya.”Iya, disuruh Mama. Mama mana?”
“Ada di dalam lagi pada arisan,” kata Namira. Pandangannya tak lepas dari wajah Dimas.
“Mira...” terdengar suara Mama Namira memanggil.
Dimas dan Namira menoleh bersamaan. Dimas tersenyum.”Halo, Tante.”
“Eh...ini Dimas kan anaknya Tara?” tebak Mama Namira.
“Iya, Tante,” jawab Dimas sesopan mungkin.
“Mir, tolong antar makanan ini ke rumah Bude kamu dong. Sekarang ya.”
“Tapi kan, Ma...mobilnya di garasi. Enggak bisa keluar karena banyak kendaraan yang lain,” kata Namira.
“Mobil kamu dimana, Dimas?”
“Saya naik motor, Tante, tuh,”tunjuknya.
“Nah, Tante minta tolong kamu anterin Mira ya,” katanya tanpa sungkan.
Dimas mengusap kepala belakagnya, ia seolah sudah terjebak dan tidak bisa lagi menghindar. Mau tidak mau Dimas menyetujuinya.
“Rumahnya jauh, Mir?” tanya Dimas saat mereka sudah berada di atas motor.
“Lumayan, sih,” balas Namira.
Dimas mengangguk saja, lalu fokus melihat jalanan. Mereka berhenti di lampu merah. Sebuah mobil berhenti tepat di sebelah sepeda motor.
“Dimas!”
Dimas menoleh si pemilik suara, ia pun membuka kaca helmnya.”Eh, Bro...mau kemana?”
“Biasa mau jemput keponakanku,” balas Doni sambil melirik Namira. Ia merasa aneh karena tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya.
“Besok jadi ngumpul enggak?”
“Jadi. On time ya,” kata Doni.
Dimas mengacungkan jempol. Lalu terdengar suara klakson dari belakang, lampu hijau sudah menyala.”Oke, Bro sampai ketemu besok!”
“Oke!” balas Doni yang kemudian melajukan mobilnya.
Dimas kembali fokus dengan jalanan. Lalu terdengar suara petir menyambar. Sepertinya akan turun hujan. Mereka pun tiba di rumah yang dituju. Namira tidak lama di sana, hanya mengantarkan makanan lalu pulang lagi. Baru saja mereka keluar komplek, tiba-tiba hujan turun dengan begitu deras. Dimas segera mencari tempat untuk berteduh.
“Berteduh dulum ya, Mir,”katanya sambil mengibaskan bajunya yang sudah sempat terkena tetesan hujan sedikit.
“Iya,” kata Namira.
Ponsel Dimas berbunyi, ia langsung memeriksa pesan tersebut. Balasan dari Dara. Melihat Dimas tersenyum sendiri, Namira jadi penasaran.
“Hujan petir gini jangan main hape, Dim. Bahaya.”
Dimas melirik Namira.”Oh...” Ia segera menyimpan ponselnya di kantong. Lalu masuk lagi pemberitahuan pesan. Dimas mengambilnya cepat. Ia kembali tersenyum, wajahnya terlihat sumringah sekali. “Dimas...simpan hapenya, nanti kamu kesamber petir,” kata Namira lagi.
Dims mendecak sebal. Ia segera menyimpan ponselnya.”Kita lanjut aja, ya, Mir. Aku lapar banget nih.”
“Tapi, hujan, Dim.”
Dimas mengambil helm dan menyerahkannya ke Namira.”Nih kamu pakai biar kepala kamu enggak kena air hujan, jadi enggak pusing. Lagian udah agak reda dan...enggak jauh lagi kok.”
“Enggak apa-apa nih aku yang pakai?”
Dimas mengangguk cepat.”Iya. Kalau aku enggak apa-apa, kan cowok. Kamu cewek...harus dikasih perlindungan.”
Jawaban Dimas membuat hati Namira berbunga-bunga. Ia bahagia sekali dan berharap ini adalah kabar baik bagi hubungannya dengan Dimas. Ia segera memakai helm dan naik ke ats motor. Di perjalanan ia memeluk pinggang Dimas dengan erat, rasanya begitu nyaman dan menenangkan.
Sesampai di rumah Namira, Dimas langsung berpamitan pulang. Ia bahkan tidak lagi mau turun. Ia ingin segera sampai di apartemennya. Namira sedikit kecewa, tapi ia sungguh tidak bisa menahan lelaki itu lebih lama.