Bab 9

1022 Kata
Siang ini, Dimas berjanji akan bertemu dengan Doni. Terakhir kalinya mereka bertemu adalah saat membahas masalah arsitek yang akan dipakai oleh Dimas.           Doni melambaikan tangannya saat Diams baru saja memasuki Coffe Shop itu.           Dimas mengangguk, ia berjalan menghampiri Doni.”Apa kabar?” “Baik. Kenapa tuh hidung merah?” tanya Doni. “Lagi flu, enggak enak badan..kemarin kehujanan. Pas kebetulan bawanya motor lagi.” Dimas duduk di sofa sambil menyeka hidungnya yang gatal. “Sengaja ya bawa motor,,,bar nempel gitu sama cewek yang di belakang.” Dimas menggeleng.”Eggak, ah.” "Yang kemaren sama kamu itu siapa, Dim?" "Namira." "Gebetan?" Dimas menggeleng."Bukan. Anaknya temen Mama. Kebetulan aja ketemu, terus dia minta tolong dianterin ke rumah budenya gitulah.” "Cantik ya...kalem banget orangnya." Doni mulai mengingat wajah Namira. "Mau kukenalin? Jomlo loh dia." "Masa?" Doni langsung bersemangat. Dimas mengangguk dengan pasti."Iya. Mau enggak?" "Ya maulah...udah lama nih enggak punya pacar." Dimas tertawa."Kasihan amat. Ya udah...kapan mau kutemuin sama Namira?" "Secepatnya." Dimas berpikir sejenak."Ya udah nanti aku cari waktu dulu buat ajak dia keluar. Oh ya... gimana kalau aku ajak dia keluar. Terus nanti...kita pura-pura enggak sengaja ketemu. Nah, di sana aku tinggalin kalian berdua. Gimana?" "Sip. Oke, bro!" Doni mengacungkan jempol. “Sebenarnya hari ini aku ada janji sih sama Dara, tapi...kayaknya nanti aja deh. Lagi enggak enak badan gini.” “Dara?” Kening doni berkerut. “Adara...arsitek yang kemarin. Hari ini mau deal soal desainnya. Jadi, bisa secepatnya aku bangun tuh rumah.” Doni mengangguk-angguk.”Memangnya dia mau kalau weekend begini? Ini lagi sudah mau sore.” “Maulah.” Dimas tersenyum penuh arti. Doni menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Wah, dapat mangsa baru dong?” “Bukan mangsa, lah...mau kuseriusin nih. Capek juga kalau main-main terus,” balas Diams. “Betul, Dim, aku juga mau cari untuk yang serius nih. Mudah-mudahan...wanita itu Namira. Aku ngerasa...nyaman banget walau Cuma lihat wajahnya.” “Gampanglah, nanti kukabari masalah Namira.” “Jangan lama-lama ya?” Dimas mengangguk. Kemudian ia membalas pesan dari Dara yang baru masuk. Wanita itu mengajaknya ketemu malam ini. Sebenarnya Dimas ingin menolak karena sepertinya ia akan sakit. Tapi, ia juga senang kalau bertemu daengan Dara. Akhirnya ia menyetujui pertemuan mereka. Setelah satu jam lebih di coffe shop itu, Dimas pamit pulang. Ia berniat tidur untuk mengurangi rasa sakit kepalanya. Jadi, malam ini ia bisa keluar menemui Dara.           Ponsel Dimas berbunyi berkali-kali. Dimas bangun dan langsung mengangkatnya dengan kepala yang berdenyut. “Halo?” “Dimas kamu dimana? Aku udah nyampe nih setengah jam yang lalu,” kata Dara di seberang sana. “Hah? Nyampe mana, Ra?” Dimas melirik jam dindingnya.”Astaga sudah jam delapan. Maaf, Ra...aku ketiduran.” “Suara kamu kok begitu? Kamu kenapa?” “Aku lagi enggak enak badan sih, Ra kemarin kehujanan. Sekarang juga pusing banget. Maaf ya...boleh enggak dicancel. Maaf banget,” kata Dimas. “Ya udah, kamu kirimin alamat apartemen kamu sekarang ya. Aku ke sana. Ditunggu, aku jalan sekarang.” Dara memutuskan sambungan. Dimas menatap ponselnya kebingungan. Ia segera mengirimkan alamatnya pada Dara, lalu kembali tidur. Sekitar lima belas menit, bel berbunyi. Dimas berusaha bangkit untuk membukakan pintu. "Masuk, Ra,"kata Dimas sedikit serak. "Kamu kenapa, Mas?" tanya Dara khawatir. Apa lahi wajah Dimas terlihat pucat. "Lagi enggak enak badan aja. Sorry berantakan." Dimas menutup pintu dan duduk di sofa. Dara duduk perlahan."Desainnya udah selesai." Dimas mengangguk."Iya sini kulihat." Dara menyodorkan beberapa lembar kertas. Dimas memerhatikan dengan serius. "Oke, deal." "Serius?" Dimas mengangguk."Iya. Aku percaya kamu akan memberikan yang terbaik.  Nanti aku transfer sisanya ya." "O...oke." Dimas merasa perutnya tidak enak dan kembung, ia langsung berlari ke wastafel di dapur untuk memuntahkan isi perutnya. Dara terkejut, ia berlari mengusap tengkuk dan punggung Dimas. "Kamu belum makan ya?" Dimas menggeleng, sambil menyeka mulutnya. "Aku pesenin makanan dulu buat kamu. Kamu istirahat aja di kamar." Dara membukakan pintu kamar. "Thanks, Ra." "Ya udah aku pesenin makanan dulu, ya." Dara keluar kamar, menghubungi sebuah restoran untuk delivery makanan. Setelah makanan datang, Dara menyuapi Dimas sampai makanan itu habis. Dimas pun memang belum kana sejak siang. Ia hanya minum kopi bersama Doni. Mungkin itu membuat perutnya kembung dan muntah. “Sudah selesai. Aku balikin piring ini ke dapur dulu.” Dara keluar dari kamar. Tak lama kemudian ia kembali lagi dan duduk di sisi tempat tidur. “Makasih ya, Ra...untung ada kamu. Kalau enggak...ya gini aja terus deh sampai pagi.” Dimas menatap Dara dengan tatapan mesa. Dara tertunduk malu.”Ya enggak apa-apalah, Mas...kamu kan klien aku. Jadi, enggak ada salahnya aku datang ke sini karena khawatir sama kondisi kamu.” Dimas terkekeh.”Sorry ya...kamu udah nunggu lama banget tadi.” “Enggak apa-apa, kamu kan sakit. Makanya lain kali jangan main hujan,” balas Dara geli. “Iya..aku lemah banget nih, kena hujan aja sakit.”  "Kamu cuma masuk angin aja. Kurang istirahat kali." "Iya kebanyakan mikir, lupa makan." "Mikirin apa?" "Mikirin kamu," balas Dimas yang kemudian menarik Dara dalam pelukannya. "Eh, Mas...mas...apaan ini." Dara mendorong d**a Dimas pelan. Kini mereka bertatapan. "Mau kupeluk, Dara." "Kenapa harus dipeluk?" Dimas tersenyum, ia mengecup bibir Dara."Kalau enggak kupeluk ya kucium aja." Dara berusaha bangkit, namun Dimas menahan tubuh gadis itu. Ia semakin menarik Dara ke pelukannya. Tubuh Dara terasa begitu kaku hingga Dimas harus menghempaskan tubuh wanita itu ke tempat tidur, dan menindihnya. "Dim...mas." Dara terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu. Sekarang, Dimas tengah menatapnya dengan mesra. Dimas melumat bibir Dara dengan lembut. Rasanya begitu memabukkan sampai Dara terhanyut dalam suasana itu. Ditambah tempat tidur yang empuk dengan sprei berbahan katun yang lembut, udara dingin dari AC, Dara semakin kehilangan kontrol. Dimas melucuti pakaian Dara dan juga pakaiannya. Ia memandang buah d**a Dara dengan takjub, kemudian melumatnya dengan rakus. Dara meremas rambut Dimas. Perlahan terdengar suara desahan dari mulutnya. Dimas melumat bibir Dara dengan gemas, desahan itu sungguh membuatnya tidak bisa menahan hasrat lebih lama lagi. "Dimas...kamu...." Dara terlihat panik. Dimas menahan Dara bergerak, seolah ia melakukan semua ini dengan sengaja. "Apa yang kamu lakukan?" Mata Dara berkaca-kaca. "Aku menghamilimu." Dara mendorong tubuh Dimas dengan keras, kemudian memunguti pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. "Dara!" Dimas menarik tangan Dara. "Lepas, Mas...lepas!" teriak Dara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN