"Dara...Dara!" Dimas menepuk pipi Dara. Sedari tadi wanita itu berteriak, membuatnya terbangun. Mereka sama-sama tertidur tadi. Dara tersentak kaget saat membuka matanya. Dimas menatapnya bingung."Kamu kenapa, Ra? Mimpi?" "Hah?" Dara melihat sekelilingnya, lalu ke arah pakaiannya yang masih lengkap. Ternyata yang tadi itu hanyalah mimpi. Tapi, entah kenapa rasanya begitu nyata. "Kamu ketiduran juga, ya. Maaf." Dimas memegang pelipisnya. "Iya, Mas. Aku...kayaknya harus pulang." Dara merapikan rambutnya. Dimas hanya bisa mengangguk."Ya udah. Tapi, aku enggak bisa antarin ya. Kepalaku masih pusing." Dara menatap Dimas dengan iba. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan lelaki itu dalam kondisi yang sedang tidak sehat."Aku antar ke rumah Mama kamu aja ya, Mas. Biar kamu ada yang jaga." "P

