"Aku sudah mencari tahu tentang Valen.” Lea mendelik, Ricko mengabaikan, fokus menyetir mobil menuju ke agensi model yang akan mengenakan rancangan gaun Lea dalam pagelaran fashion amal beberapa bulan lagi. “Searching sedikit lah. Dia lelaki yang tidak memiliki kelakuan minus di depan publik. Aku membaca semua review bandnya terutama untuk fans-fans Valen. Walaupun memang sih dia kelihatan cool, cuek dan juga terkesan sombong tapi dia anggota TheHasky yang paling ramah dengan fansnya. Jadi tidak heran kalau dia memiliki lebih banyak fans kalangan remaja dan juga wanita dewasa—" Ricko menekankan kata wanita dewasa seraya mengerling ke arah Lea yang mendengus sebal dan memilih diam saja mendengarkan. "Ternyata dia pernah juga kena gosip dekat dengan salah satu bintang iklan, hmm, aku lupa namanya siapa. Kamu pernah tidak sih melihat Valen Ackerman main drum?"
Lea langsung menggeleng cepat, Ricko mendengus, "Seharusnya kamu melototin youtube ketika salah seorang anak band mendekatimu. Lihat aksinya di atas panggung."
"Kenapa memangnya? Hanya main drum doang kan?" Lea nampak bingung dengan sikap antusias Ricko.
"Performanya tidak hanya digambarkan dengan kata 'doang' seperti ucapanmu tadi. Lebih baik kalau sedang senggang, kamu lihat dan saksikan sendiri," dengus Ricko.
"Kenapa penampilannya?"
Ricko tersenyum sedikit, "Super hot, memukau dan keren banget."
"Lebay," Lea tertawa.
"Coba aja sana lihat sendiri!!!" Lea hanya diam tidak menanggapi sampai Ricko kembali bersuara, "Aku akui dia macho dan terkesan cool berbeda dengan Keenan yang kharismatik. Mereka jelas mempesona dengan cara mereka masing-masing."
"Kamu pikir aku tertarik dengan Valen?" Lea nampak tidak terima.
Ricko mengeryit heran, "Memangnya salah?"
Lea menggelengkan kepala dan melipat tangannya menghadap ke depan, "Jelas salah. Aku bahkan tidak pernah membayangkan di masa depan memiliki pengganti Jordan seperti dia."
"Jadi maksudmu, kamu lebih memilih Keenan yang duda?"
Lea menoleh, "Why not? Itu pilihan yang lebih bijak."
Ricko tertawa terbahak membuat Lea kesal dan memukul lengan lelaki itu dengan majalah Marie Claire edisi terbaru yang belum sempat di bacanya.
"Tidak ada yang salah dengan cowok itu selain masalah umur kan? Aku tahu dia memang bukan seseorang yang akan kamu pertimbangkan untuk menjadi calon suami tapi tidak ada salahnya mencoba mengenal."
"Menurutmu Valen menyukaiku?"
Ricko tergelak. Lea merengut. Asisten yang menyebalkan.
"Jadi kamu ingin tahu penilaianku terhadap perasaan cowok itu?"
"Tidak."
"Yakin?"
"Hentikan saja perdebatan sialan ini. Aku tidak mau capek-capek memikirkannya."
Ricko berdecak, "Keras kepala."
"Aku hanya mencoba tetap berada di jalanku seperti yang selama ini aku lakukan."
"Oh ya. Tetap berada dalam populasi gagal move on maksudmu?"
"Sial kamu Ricko!!” teriaknya.
"Seriusan Lea. Sudah saatnya kamu membuka hati. Mantanmu saja sudah mengumumkan pernikahannya dan hanya tinggal menunggu hari besarnya sedangkan kamu—" Ricko menoleh ke Lea dengan tatapan prihatin, "masih saja tetap seperti ini. Sendirian. Menurutku lebih baik kamu memiliki pasangan meskipun semuda Valen Ackerman dari pada berhadapan dengannya dalam keadaan sendirian. Itu terkesan desparate."
"Astaga, semerana itu kah kamu melihatku?"
"Ya kira-kira begitu."
"Akan aku pertimbangkan."
Ricko menoleh cepat, "Maksudmu?"
Lea tersenyum tipis. Ricko menepikan mobilnya di area parkir agensi model Sexier dan menghadap ke Lea dengan wajah serius, "Kamu akan mempertimbangkan Valen Ackerman?"
Lea mengambil tasnya di kursi belakang dan meletakkan majalahnya di dasbord mengabaikan tatapan menuntut perhatian Ricko. Tangan Lea sudah akan membuka pintu saat dia menoleh, "Tentu saja tidak. Aku tidak mau terlibat gosip atau skandal dengan seorang anak band. Aku akan mempertimbangkan Keenan Smith." Ricko terdiam lalu menghela napas. Lea tersenyum, "Lelaki itu mengajakku kencan nanti malam. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak bukan?"
Ricko terkejut, Lea keluar dari mobil seraya tertawa.
***
“Silahkan, Beautifull Lady.”
Lea tersenyum ke arah Keenan yang membukakan pintu mobil mewahnya tepat di depan restoran bintang lima. Keenan membalas senyumannya dan mengulurkan tangan nampak memandangi Lea dengan penuh binar.
"Kamu memang cantik," pujinya.
"Terima kasih pujiannya."
Keenan memeluk pinggangnya membuat Lea mengerjap kaget karena kedekatan mereka. "Siap untuk makan malam denganku?"
"Tentu saja."
Keenan menggenggam tangan Lea dan mengecup punggung tangannya. Benar-benar lelaki yang tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita dengan anggun. Mereka langsung masuk ke dalam dan duduk di salah satu meja yang sudah dipesan oleh Keenan.
"Jadi, bagaimana kabarmu hari ini?"
Lea tertawa, "Tentu saja baik. Tadi sore aku bertemu dengan Jenna."
"Aku senang sekali melihat kalian akrab.”
Lea tersenyum lalu pelayan datang membawakan redwine terbaik pilihan Keenan.
"Aku sudah menyiapkan ini semua untukmu Lea."
Lea yang menyesap winenya tersedak sesaat, "Dalam rangka apa?"
"Tentu saja sebagai permulaan hubungan kita yang ingin aku resmikan secara serius."
Lea memandangi Keenan tidak percaya, "Bagaimana bisa? Kita bahkan baru bertemu beberapa hari yang lalu. Apa kamu tidak terlalu cepat memutuskan?"
Keenan menatapnya intens. "Jujur saja melihatmu membuatku tidak bisa duduk diam menunggu. Aku duda dan tidak terlibat hubungan yang main-main. Walaupun dua kali mengalami gagal berumah tangga hanya saja itu tidak terlalu mempengaruhiku. Hidup tetap harus berjalan bukan?"
Lea hanya diam dan menatap Keenan yang terlihat serius. Lalu pertanyaan itu meluncur dengan sendirinya dari mulutnya, "Maaf, kalau boleh tahu kenapa rumah tanggamu bisa berakhir?"
Keenan terdiam, Lea langsung kelabakan, "Ahh, maafkan aku yang tidak sopan—"
"Tidak apa-apa. Aku yang menceraikan mereka semua karena tidak bisa mengikuti kehendakku. Aku bertindak sebagai suami dan tentu saja seorang istri harus menuruti semua kemauanku kan tapi mereka selalu saja tidak terima aku atur." Lea menelan salivanya. Keenan tersenyum, "Aku hanya ingin kamu tahu karena aku sudah memutuskan untuk mengejarmu dan aku juga tahu tidak ada lelaki lain yang pantas mendampingimu untuk berhadapan dengan mantan terindahmu itu selain aku."
Lea merasa seperti kehabisan kata-kata. keenan mengulurkan tangan dan mengecup punggung tangannya lembut, "Jadi, coba buka hatimu buatku?"
Lea menarik tangannya lebih karena reflek. Keenan nampak sedikit terkejut tapi langsung bersikap tenang dan duduk santai.
"Maaf, aku butuh waktu. Ini terlalu cepat bagiku."
Keenan tersenyum, "Tidak apa-apa. Aku akan menunggu. Kalau begtu aku ke toilet sebentar ya."
Lea mengangguk dan mengambil minumannya dan meneguknya sampai habis memikirkan ucapan laki-laki itu.
"Azalea."
Lea terdiam kaku ketika mendengar sapaan yang berasal dari belakang punggungnya. Dia sangat mengenal suara itu. Lea hanya diam sampai lelaki itu sendiri yang akhirnya menampakkan wujudnya di hadapan Lea setelah sekian lama mereka tidak pernah bertemu. Lea berdiri dari duduknya, menatap nanar lelaki yang tengah tersenyum itu dengan pandangan hangat. Sial!!!
Sungguh Lea belum siap untuk kembali bertatap muka dengan lelaki itu.
"Lama kita tidak pernah bertemu," sapanya kemudian.
Lea mencoba untuk bersikap tenang dan membalas sapaan cowok itu dengan bersikap santai.
"Hai, Jordan."
***