"Selamat siang Azalea."
Sapaan hangat itu terdengar dari arah pintu. Lea menoleh dan mendapati Arinda berdiri cantik di sana. "Silahkan masuk calon pengantin."
Arinda tertawa, "Aku membawa seseorang. Apa boleh dia ikut bergabung dengan kita?"
Lea menaikkan alisnya dan menatap ke belakang punggung Arinda yang kosong. Wanita itu tertawa seraya menghampirinya, "Dia masih di bawah dihadang oleh fansnya."
Lea tersenyum tidak mau terlalu mengambil pusing apa maksud perkataan Arinda, "Kalau begitu lebih baik kita duduk dulu. Bagaimana kabarmu?"
Mereka saling berpelukan singkat dan duduk di sofa saling bersebrangan. Arinda meletakkan tas Prada miliknya di samping tubuhnya dan menghela napas, nampak lelah, "Semua persiapan pernikahan ini membuatku kewalahan. Semakin menggila mendekati hari pernikahan. Gugup, takut dan perasaan semacamnya."
"Ah, itu wajar. Nanti ketika akhirnya kalian resmi menjadi sepasang suami istri, aku yakin perasaan itu akan langsung menghilang seakan-akan kamu tidak pernah merasakannya."
Tahu apa Lea hingga mengatakan omong kosong seperti itu. Dia sendiri bahkan belum pernah sampai ke tahap itu.
"Aku tahu. Hanya saja sulit dihilangkan saat ini. Aku rasanya sudah tidak sabar untuk mengenakan gaun rancanganmu dan menjadi istri sah dari kekasihku."
"Aku ikut berbahagia."
"Terima kasih banyak. Bantuanmu ini begitu berarti untukku Azalae."
"Panggil Lea saja." Arinda mengangguk. Lea melanjutkan. "Bagaimana—"
"Permisi."
Perkataan Lea terhenti dan reflek menoleh ke arah sumber suara lalu ternganga saat melihat seseorang dalam balutan pakaian casualnya yang menampilkan otot di sepanjang lengan tangannya masuk dan tersenyum ke arahnya. Lea mengerjapkan matanya bingung. Ini bukan halusinasikan.
"Kalian sudah saling kenal kan?" Arinda terlihat memanggil cowok macho itu mendekat. Belum ada suara yang bisa dihasilkan oleh mulutnya saat cowok itu akhirnya duduk di samping Arinda tepat di depannya dan menatapnya intens.
"Kalian—" Lea mendengar suaranya seperti cicit tikus, dia langsung berdeham menguasai kekagetannya. "Dia calon suamimu Arinda?" tanyanya akhirnya.
Arinda tertawa tapi cowok itu hanya mengulas senyum tipis mematikan yang membuat jantung Lea meloncat keluar.
"Kalau dia calon suamiku, infotaiment sudah pasti heboh membicarakannya. Valen Ackerman, idola gadis remaja masa kini akan mengakhiri masa lajangnya di usia dua puluh empat tahun. Itu sungguh berita yang pasti menggemparkan." Lea tidak tahu harus menjawab apa. Arinda yang melihat kebingungan di mata Lea tersenyum, "Dia adik bungsuku. Valen Ackerman."
Oh, ini sesuatu yang mengejutkan Lea.
"Hai Lea, kita bertemu lagi. Bagaimana kiriman bunga mawarku?"
Arinda menoleh cepat ke adiknya dengan heran membuat Lea hanya bisa terdiam. Mimpi apa dia semalam bisa bertemu lagi dengan cowok ini beberapa hari berturut-turut.
Lea berusaha bersikap setenang mungkin. Jadi diulasnya senyum sopan dan berusaha kuat menatap mata hitam yang menghanyutkan itu, "Terima kasih bunganya tapi itu terlalu berlebihan."
"Tentu saja tidak. Aku pikir tiga ratus tangkai masih kurang."
"Wow, kamu benar-benar serius dengan ucapanmu kemarin Valen?" Arinda juga nampak kaget dengan sikap agresif adiknya yang baru kali ini di jumpainya.
Valen hanya mengangkat bahunya dan duduk nyaman di sana. Lea menghela napas pelan dan fokus ke Arinda yang menatapnya dengan sorot mata—hmm— menakutkan, sangat berbinar.
"Bagaimana kalau kita langsung saja menyelesaikan urusan gaun ini. Aku yakin kamu pasti juga ingin gaun itu bisa sampai padamu tepat waktu."
Arinda langsung sumringah dan duduk tegak di tempatnya, "Tentu saja Lea."
Lea hanya mengangguk dan mulai melakukan tugasnya. Melakukan pengepasan ulang dan menyesuaikannya dengan gaun pengantin di bawah tatapan intens Valen Ackerman tidak jauh darinya. Nampak tidak keberatan diacuhkan karena dia asyik dengan kesibukannya sendiri. Mata hitam itu mengikuti setiap pergerakannya dan mengamatinya tanpa jeda sementara Azalea sibuk dengan kakak perempuannya. Cowok itu bahkan sama sekali tidak merasa perlu menyembunyikan semuanya. Mata hitam itu memberinya pandangan baru.
Valen Ackerman jelas tertarik padanya.
Rasanya Lea ingin menghilang saja saat itu juga dan bagaimana bisa cowok berondong itu membuatnya gugup seperti ini?
***
Lea tidak tahu apakah ini sesuatu yang benar dilakukannya ataukah dia akan menyesalinya kemudian.
Dua jam sejak pertemuannya dengan Arinda di butik milikinya, wanita itu membujuknya untuk ikut makan siang bersama keluarganya sebagai ungkapan terima kasih. Awalnya Lea jelas menolak. Dia tidak menduga akan berinteraksi intens dengan keluarga Valen – ini sebelum dia tahu bahwa Arinda kakak tertua si cowok yang bahkan duduk dengan tenang di sebelahnya menikmati makan siangnya dengan santai.
Lea terpaksa menyetujuinya karena keponakannya, entah bagaimana juga berada di sana. Tidak heran karena pacarnya kan saudara dekat Valen. Stephie benar-benar membujuknya habis-habisan.
Sama seperti Lea, Valen juga tiga bersaudara. Bedanya kedua kakaknya cowok tapi Valen memiliki dua kakak cewek, Arinda dan Aneta. Itu sedikit menjelaskan kenapa cowok itu nampak bisa berinteraksi dengan perempuan dengan baik. Lea yakin, Valen-lah yang sering di repotkan dengan kedua kakaknya ini.
Setelah bincang-bincang hangat mereka, Valen mengajaknya mengobrol di salah satu meja yang ternyata sudah di pesan khusus cowok itu di tempat yang privat membuat Lea menelan salivanya gugup karena berduaan saja dengannya.
"Maafkan kalau mereka membuatmu nampak tidak nyaman." Valen mengawali pembicaraan sesaat setelah mereka duduk berhadapan.
"Tidak juga, hanya saja aku tidak pernah makan siang dengan keluarga client seperti ini."
Valen mengangguk dan entah bagaimana senyuman tipis yang nampak di wajahnya yang terkesan angkuh dan sombong itu seperti sebuah little magic. Lea berusaha untuk tidak memikirkan hal gila semacam itu. Jadi dia duduk anggun dan berusaha tenang.
"Aku tahu. Itu menjelaskan penolakanmu tadi dan terpaksa setuju karena ada Stephie di sana."
Lea nampak terpukau, "Bagaimana kamu tahu?"
Valen tersenyum, "Aku cukup peka dengan perempuan."
"Karena Arinda dan Arneta?" Valen mengangguk. "Aku hidup dengan dua kakak cowokku tapi sampai sekarang aku belum sepenuhnya mengerti isi dari otak mereka yang gila selain hal m***m dan juga game online."
Oh, kenapa Lea jadi curhat?
"Mungkin karena kamu tidak pernah menjadi pelampiasan dalam hal dianiaya." Valen tertawa, Lea nampak bingung. "Papaku seorang pilot yang selalu berpergian. Otomatis lelaki yang bisa diandalkan mengurusi tiga wanita yang kadang bisa amat sangat cerewet dan menjengkelkan tapi juga manis ya hanya aku. Jadi aku bertransformasi menjadi sosok yang lebih peka. Aku benar kan saat aku bilang kamu tidak nyaman?" Valen menatap Lea intens.
"Aku tidak akan membantahnya." Lea akhirnya tersenyum.
"I like your smile. Beautifull, you know? Tapi kamu jarang menampakkannya kecuali kamu benar-benar nyaman dengan sesuatu."
Kata-kata Valen membungkamnya dan perlahan senyuman itu memudar.
Valen tertawa, "Jangan terlalu di pikirkan."
"Jadi TheHasky sedang vakum atau bagaimana? Kamu nampak seperti pengangguran."
"'Ah kamu memperhatikan juga ternyata. Kami sedang rehat sekaligus menyiapkan album baru. Nanti saat peluncuran perdananya, aku harap kamu mau menontonnya. Walaupun aku tahu dengan pasti menonton band di antara gadis remaja bukan kebiasaanmu."
Valen tahu banyak hal yang tidak perlu dia ungkapkannya secara gamblang. "Aku tidak perlu menjelaskan lagi."
“Semoga saja ada keajaiban yang membuatmu mau datang,” kekeh Valen membuat Lea tersenyum lalu kaget saat Valen memajukan badannya dengan kedua tangan bertaut di atas meja. Lea reflek menyandarkan tubuhnya mundur.
"Jadi, lelaki yang kemarin siapa?"
Lea menaikkan alisnya heran, "Kenapa? Sepertinya itu bukan urusanmu!!"
"Ya, memang. Itu bukan urusanku. Sekarang. Tapi aku ingin tahu."
"Tidak penting bagimu Valen."
"Siapa dia?"
Pertanyaan itu bernada santai tapi seakan mendesak Lea untuk menjawab. What the hell. Kenapa cowok itu begitu menyebalkan tapi juga begitu amat mempesona di saat yang bersamaan.
"Dia teman. Maybe." Valen nampak tidak puas dengan jawabannya. Lea mengalihkan tatapannya jengah. "Teman yang bisa berubah jadi kekasih. Nanti.”
Penasaran dengan ekspresi Valen, Lea menoleh dan melihat tatapan itu lebih tajam dari sebelumnya. Sekarang wajahnya benar-benar nampak angkuh, sombong dan hot. What!!
Setelah beberapa detik terdiam, Valen akhirnya menarik tubuhnya bersandar pada kursi. "Baiklah. Kita lihat nanti!!"
“Maksudmu ?"
Valen hanya tersenyum misterius nembuat Lea amat penasaran tapi tidak berniat melanjutkan lebih jauh.
"Kenapa kamu memberiku bunga?"
"Sudah jelas bukan. Aku mengagumimu. Apa belum tergambar jelas dari 300 tangkai yang aku kirim. Ahhh, seharusnya aku mengirimkan lebih banyak kemarin." Dia nampak kesal dengan dirinya sendiri.
"Bukan itu maksudku. Tiga ratus tangkai itu lebih dari banyak Valen, aku—"
"Aku suka mendengar kamu memanggil namaku seperti itu. Terdengar hmm—" Valen menelengkan kepalanya dan tersenyum, Lea menahan napasnya, "Seksi."
Lea ternganga. Valen tertawa dan auranya berubah drastis. Hangat, lembut dan sangat tampan. Lea mengerjapkan matanya.
"Jujur saja aku menerima acara bincang-bincang itu karena ingin bertemu denganmu. Sebelumnya jarang sekali aku tampil dalam acara bincang fashion dan terlibat dramamu dengan wanita itu tapi percayalah aku juga sama sekali tidak tahu kalau Arinda benar-benar datang ke butikmu untuk membeli gaun." Valen benar-benar mengatakannya secara gambling hingga membuat Lea terpana.
“Aku juga sama sekali tidak tahu.”
Valen tersenyum dan berdiri. Lea mengangkat wajahnya heran lalu tangan Valen terulur, "Kita harus kembali. Kamu harus bekerja bukan seperti yang kamu katakan sebelumnya."
Lea berdiri tanpa menyambut uluran tangan Valen, "Terima kasih."
Valen menghela napas dan menarik kembali tangannya, "Aku anggap pertemuan kita beberapa hari ini bukan karena kebetulan. Aku sebut ini takdir manis untukku."
“Bullshit!!” Lea memutar bola mata.
“Percayalah, Azalea.”
Tatapan matanya yang intens, seketika membungkam Lea.
***