"Apa boleh aku mengatakan kalau sepertinya kamu berjodoh dengan Jeremy,Sky?" kekeh Lea membuat sahabatnya itu langsung cemberut.
"Berjodoh dengan lelaki menyebalkan seperti dia?" Sky menggelengkan kepalanya cepat, "Memangnya stok lelaki di dunia ini sudah menipis dan hanya dia saja yang tersisa. Aku tidak sudi!"
Lea berdecak, menghabiskan redwine-nya dalam satu kali minum, "Hati-hati Sky sayang. Mulutmu harimaumu. Kalau kalian nanti bersama, aku yang akan jadi orang pertama yang memberimu ucapan selamat berbahagia."
"Dalam mimpi. Cih!" Sky nampak kesal dan menghabiskan minumannya.
Lea memanggil kembali bartender dan meminta anggur merahnya diisi kembali. Dia butuh menenangkan pikiran dan hatinya yang berkecamuk akibat pertemuannya dengan si w***********g, Alexandra.
"Jadi Valen Ackerman tidak cukup menarik untuk menjadi calon pacarmu selanjutnya?"
Lea menoleh, melihat Sky menatapnya dengan kilat jahil seraya menggoyangkan gelas minumannya. Lea jengah dan meletakkan gelasnya yang sudah terisi ke atas meja bar tidak jadi meminumnya.
"Apa menurutmu, lelaki berondong seperti dia menarik?"
"Uhh, kamu menanyakan pendapatku? Jelas saja aku melihat seorang Valen sangat menarik. Sikapnya manis dan manly sangat berbeda dengan vokalisnya yang menyebalkan itu. Aku rasa Valen cukup bisa diperhitungkan."
"Tidak...tidak….tidak. Aku merasa aneh aja kalau harus mencoba membuka hubungan baru dengan lelaki yang umurnya lebih muda dariku. Empat tahun sky? bayangkan saja!"
"Apa kita tidak terlalu berpikiran sempit. Tidak selamanya lelaki berondong itu kekanak-kanakan bukan?"
Lea terdiam dan teringat dengan semua nasihat Abangnya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan lelaki yang lebih muda tapi egonya mengatakan kalau seharusnya dia mencari lelaki yang lebih dari mantannya itu bukannya malah jatuh ke yang lebih muda.
"Entahlah." Hanya itu yang bisa dikatakannya.
Sky menatapnya sesaat lalu menghela napas dan mengusap punggungnya, "Aku ikut prihatin dengan kejadian tadi. Dia memang wanita berbisa."
"Sangat berbisa. Mungkin si Valen selama acara tadi memandangi tubuh semok nan gempal si jalang itu yang sangat tidak tahu cara berpakaian yang sopan."
"Aku tidak melihatnya seperti itu tadi. Selama acara, Valen lebih banyak mengarahkan tatapannya ke kamu." Lea memutar bola mata tidak percaya. Sky mendengkus, "Aku harap aku tidak lagi berjumpa dengan si Jeremy itu!!"
Lea nampak tertarik, "Kalau kalian harus bertemu lagi bagaimana? Aku akan anggap kalian benar-benar berjodoh walaupun sifatnya hampir mirip denganmu. Menjengkelkan dan meledak-ledak seperti kembang api tapi siapa yang tahu mungkin dia lelaki hot yang bisa mengimbangimu?"
"Apa kita harus berdebat di sini? Aku tidak mau memikirkan sampai sejauh itu."
"Okelah kita sudahi saja obrolan tentang mereka dan berharap bahwa kita tidak akan dipertemukan lagi dengan dua anggota band itu. Aku sudah cukup dipermalukan oleh Alexandra dan harus melihat Valen lagi membuatku merasa aneh."
Sky tertawa, "Semoga saja. Aku juga tidak sudi bertemu dengan Jeremy setelah aku menyiramkan segelas jus jeruk ke wajahnya yang menyebalkan itu."
"Aku tidak bisa membayangkan ekspresi wajah Jeremy saat kamu melakukan itu dan juga jangan lupakan ada Virgo di sana." Setelah mengatakannya Lea tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Itu hiburan tersendiri buatku dan ah ya Lea, aku harus mengingatkan sekuat apapun kamu menghindari Valen, kalian tetap akan bertemu di pesta ulang keponakanmu."
Lea menepuk dahinya dengan tatapan frustasi."Aku lupa."
Sky langsung tertawa dan menepuk pundak Lea. Mereka lalu mengobrol dan bergosip tentang pekerjaan dan segala macamnya di temani dengan music jazz dan segelas redwine.
Mereka baru keluar dari bar mendekati tengah malam dan pulang ke rumah masing -masing.
***
"Selamat siang Lea."
Lea menganggukkan kepalanya saat Keenan berdiri menyambutnya di salah satu meja restoran untuk makan siang dan menarik mundur satu kursi untuk Lea.
"Selamat siang Pak Keenan," sapa Lea ramah setelah meletakkan tas Channel-nya di atas meja.
Keenan tertawa dan duduk di hadapannya, "Jangan memanggilku dengan embel-embel Pak. Keenan saja."
“Oh oke, baiklah.” Asistennya tadi pagi menelepon dan mengatakan Keenan Smith ingin membuat janji makan siang sekaligus ingin membeli salah satu rancangan exclusive miliknya.
"Aku harap aku tidak mengacaukan jadwal kerjamu hari ini."
Lea menggeleng anggun, "Tidak apa-apa walaupun aku sedikit kaget." Keenan tertawa renyah.
Keluarga Smith menjadi salah satu pengusaha terkaya di Amerika juga Indonesia karena dari yang Lea dengar, Nyonya Smith asli wanita Indonesia. Jadi tidak heran kalau anak-anaknya yang rupawan ini berwajah blasteran.
Kalau di bandingkan saudaranya, Kellan Smith tunangannya Jenna, Keenan Smith yang ada di hadapannya ini memang lebih dewasa dan memiliki pembawaan yang tenang sekaligus mengintimidasi. Dia tidak perlu terlalu banyak berusaha menarik perhatian karena tidak akan ada wanita atau bahkan relasi bisnisnya yang akan mengabaikan tatapan mata itu.
"Jadi apa yang bisa aku bantu?"
Keenan tertawa dan menatap Lea intens, "Apa kita tidak bisa mengobrol santai dulu dan makan siang. Aku ingin mengenalmu. Jujur saja, mungkin karena aku lebih sering berada di Amerika, aku jadi tidak mengetahui bahwa di tanah kelahiranku ini ada seorang wanita anggun berbakat yang sangat cantik sepertimu."
“Kamu terlalu berlebihan. Aku yakin kesibukanmu menjadi salah satu keturunan Smith pastilah tidak mempunyai banyak waktu menonton acara gosip di televisi."
Keenan hanya tersenyum. Lea membalas senyuman itu tepat saat seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan mereka.
"Jadi kamu masih sendiri?"
Keenan membuka pembicaraan setelah pelayan berlalu dengan pesanan mereka. Lea hanya tersenyum tipis, "Begitulah."
Keenan mengangguk, "Aku sangat menyesali hal itu. Laki-laki yang meninggalkanmu pasti otaknya tidak benar."
Lea tertawa, "Mungkin aku tidak semenarik itu. Jangan melebih-lebihkan."
"Aku hanya berbicara apa adanya. Aku seorang pengusaha. Mengamati, mendalami, melihat, menyimpulkan, semuanya aku kuasai. Jadi aku bisa melihat karakter seseorang."
"Aku harap kamu tidak selalu menggunakannya untuk memikat wanita," kekeh Lea.
Keenan tertawa dan menggelengkan kepala, "Kebanyakan untuk memikat para relasi bisnis yang gila uang. Kalau untuk memikat wanita aku rasa sebuket bunga rose pink cukup untuk mengutarakan kekaguman."
Lea menahan napasnya bersamaan dengan datangnya seorang pelayan membawa sebuket bunga cantik dan memberikannya ke Keenan. Lelaki itu berdiri dan menyerahkan bunga rose pink itu untuk Lea yang terperangah.
"Beautifull flower for beautifull lady."
Lea blushing dan dengan ragu-ragu mengambil alih bunga itu dari Keenan dan mencium harumnya. Lea menatap Keenan dengan senyuman tulus, "Terima kasih banyak."
"Your welcome."
Lea tersenyum dan kembali mencium bunga itu lalu meletakkannya di dalam tasnya.
Keenan meletakkan kedua lengannya di atas meja di samping dua ponsel canggih dan kunci mobil Mustangnya seraya memandangi Lea, "Jangan pernah berpikiran bahwa aku seorang penggombal ulung. Ini semua di luar kebiasaanku. Aku hanya berharap bahwa kamu, yang namanya secantik bunga memang pantas untuk di puja."
"Terima kasih banyak pujiannya tapi semua itu terlalu berlebihan."
Pelayan lalu datang dan membawakan pesanan mereka. Lea tergugah seleranya menatap steak mahal yang ada di hadapannya.
"Silahkan di nikmati Lea."
"Kamu juga, Keenan."
Lea mulai memakannya perlahan bersamaan dengan Keenan yang juga menyantap steak miliknya. Lea mengunyahnya dengan anggun dan bertatapan mata dengan Keenan yang sedang menyesap redwine nya.
"Saat Jenna memberitahuku kalau kamu sering tampil di televisi, aku yang sekarang memilih menyibukkan diri di Indonesia jadi penasaran ingin melihat. Aku kemarin melihat reality show yang kamu hadiri."
Lea hampir tersedak makanannya dan dengan cepat menyesap anggurnya dan tersenyum di paksakaan untuk Keenan.
"Ahh wow, kamu tidak perlu seniat itu untuk melihatku."
Lelaki itu menatapnya sesaat dan meletakkan pisau dan garpunya lalu mengaitkan kedua tangannya menopang dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus menggoda iman itu, "Well aku melihatnya. Sepertinya kamu nampak tidak nyaman dengan model yang satunya lagi. Siapa namanya? Alexandra ya. Kalian rival?"
Lea memaksakan seulas senyuman tipis, "Bukan sesuatu yang menarik untuk di bahas. Percayalah."
"Bagiku itu sesuatu yang menarik. Belakangan baru aku ketahui kalau ternyata Alexandra tunangannya Jordan Arta Mehesa, mantan kekasihmu."
Lea sempurna membeku dan membuang pandangannya. Nafsu makannya menguap setelah Keenan menyebutkan nama lelaki yang tidak mau lagi diingatnya itu. Efeknya masih sama. Menyakitkan.
"Maafkan aku,Lea."
Lea kembali menatap Keenan dengan pandangan sendu, "Lebih baik kita tidak usah membahasnya."
Keenan tersenyum tipis dan memilih menghabiskan minumannya masih dengan tatapan mata yang memperhatikan ketidaknyamanan Lea di depannya. Dia menghela napas dan meletakkan gelas itu dan mengulurkan tangannya menggapai tangan Lea yang berada di atas meja membuat wanita itu terkesiap kaget tidak menyangka.
"Maaf membuatmu mengingatnya tapi aku tidak tahan untuk tidak bertanya dan melihat sendiri bagaimana reaksimu.” Lea hanya diam masih kaget dengan genggaman tangan Keenan. "Jordan itu rival-ku. Kamu tahu artinya kan tanpa perlu aku jelaskan."
Lea terperangah dan tidak tahu harus menjawab apa, menarik tangannya dan kembali memakan steak nya dalam diam. Keenan membiarkannya saja lalu mencoba mencairkannya dengan membicarakan perihal gaun malam yang ingin dipesannya untuk Mamanya hingga mereka melupakan obrolan canggung yang tadi sempat membuat Lea bungkam.
Setengah jam mereka habiskan untuk berbincang hingga waktunya Lea harus kembali ke butik. Keenan berdiri dan menatap Lea penuh binar, "Terima kasih banyak sudah memenuhi undangan makan siangku."
"Sama-sama. Aku akan memberitahu jika gaunnya sudah siap untuk di ambil."
"Tentu. Hubungi aku kapanpun kamu mau bahkan untuk urusan yang lain juga tidak masalah."
Lea tertawa seraya mengambil tas dan memeluk buket bunganya, "Mengganggu seorang Keenan Smith untuk hal-hal yang tidak penting sepertinya kurang bijaksana."
"Tidak perlu memikirkan itu. Aku akan selalu merespon panggilanmu. Percayalah."
Lea menatap kesungguhan di mata abu-abu Keenan lalu mengangguk, "Baiklah jika kamu memaksa."
"Aku antar kembali ke butik."
Lea tersenyum, "Tentu. Jika kamu tidak keberatan."
Keenan mengambil kedua ponsel dan kunci mobilnya lalu mengambil tangan Lea dan meletakkannya di lekukan lengannya dan tersenyum, "Kalau begitu ayo."
Lea yang blushing hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah tegap lelaki yang digandengnya itu. Ralat – dipaksa menggandengnya – untuk keluar dari restoran seperti sepasang kekasih yang baru saja selesai pergi kencan.
Mendekati pintu keluar, ada sekitar lima orang lelaki yang rata-rata masih muda dan seorang wanita sedang berjalan masuk sambil bercanda dari arah luar membuat Keenan dan Lea harus menunggu sebentar di ambang pintu. Keenan mengubah posisinya di samping Lea dan merangkul bahu wanita itu dan membiarkannya berjalan duluan di depan saat lelaki terakhir masuk melalui pintu.
Lea terdiam menatap lelaki yang masuk paling akhir itu dengan pandangan tidak percaya ketika mendapati Valen Ackerman juga kaget dan menatapnya intens sambil tetap berjalan melewatinya. Tatapan matanya turun ke arah rangkulan Keenan di bahunya lalu ke buket bunganya dan langsung memasang ekspresi keras di wajahnya.
Kenapa dia harus bertemu lagi dengan lelaki itu di saat seperti ini?
***
Lea malam ini memilih untuk berdiam diri di dalam apartemennya yang nyaman. Hujan di luar menambah lengkap alasannya untuk duduk di depan kaca apartemennya di lantai sepuluh memandangi kerlipan lampu gedung pencakar langit di antara bulir-bulir air yang mengalir.
Segelas coklat panas di genggaman tangannya, iPad dan lantunan lagu dalam bahasa Jepang yang dinyanyikan salah satu penyanyi korea favoritnya mengalun lembut di sekitarnya. Syahdu dan mendayu-dayu. Memaksa Lea untuk memikirkan banyak hal.
Pertemuannya dengan lelaki bernama Keenan Smith. Dia adalah wujud nyata seseorang yang diinginkan Lea untuk di bawa ke hadapan publik sebagai seorang kekasih. Tampan, mempesona dan memiliki segalanya. Dia jelas lebih segala-galanya dari Jordan. Tapi tatapan mata seorang Valen Ackerman mengganggu pikirannya lebih dari yang seharusnya.
Keenan mengingatkannya akan seorang Jordan. Lelaki yang memiliki magnet lebih besar untuk menarik sekumpulan unggas lapar untuk kembali menghancurkan hubungannya. Lea masih merasa takut kalau Keenan sama seperti Jordan. Dia belum siap dihancurkan untuk yang kedua kalinya.
Sedangkan Valen, Lea sama sekali tidak bisa menjelaskannya secara gamblang. Dibalik tatapan tajam dan umurnya yang masih muda, Lea mendapati sesuatu yang lain. Rasa menggelora dan ketertarikan yang besar.
Lea memijit pelipisnya dan menghembuskan napasnya dengan berat. Kenapa dia jadi menyamakan Keenan dengan Jordan dan memikirkan seorang berondong seperti Valen. Otaknya lebih dari bermasalah sepertinya.
Lea menyesap coklat panasnya saat mendengar suara bel pintu apartemennya berbunyi. Lea menoleh sesaat lalu beranjak berdiri, meletakkan cangkirnya di sebelah lampu hias dan mengikat rambut panjangnya seraya berjalan mendekati pintu.
Lea mengerjapkan mata kaget mendapati buket mawar merah dalam jumlah yang banyak berada di depan pintunya.
"Azalea Chou."
Seseorang yang berada di balik bunga itu bersuara. Lea keluar dari apartemennya mencoba untuk melihat lebih jelas sang pengantar bunga.
"Ya."
"Kiriman bunga. Boleh saya bawa masuk ke dalam?"
"Oh oke."
Lelaki itu dengan agak susah payah masuk ke dalam dan meletakkan buket bunga itu di atas sofa lalu tersenyum padanya, menyodorkan kertas untuk ditanda tangani dan keluar dari sana.
Lea menutup pintu apartemennya dengan wajah bingung. Bunga mawar itu lebih banyak dari yang seharusnya dan dia belum pernah mendapat bunga sebanyak itu. Lea mendekat, mencoba mengangkatnya dan lumayan berat. Di bawanya bunga itu kembali ke sofa panjang di depan kaca apartemennya dan memeriksa kartu yang terjuntai di sana.
Lea meletakkan bunga itu di depannya dan melipat kedua kakinya di atas sofa dan membuka kartu berwarna merah itu.
Tidak ada bunga yang lebih indah dari seorang wanita cantik bernama Azalea. Aku pikir sebuket bunga pink tidak cukup kuat untuk menggambarkan kekaguman. Aku memberimu 300 tangkai bunga mawar merah. Agar kamu mengingatnya.
Aku yang memperhatikanmu.
Selamat malam cantik
- V -
Lea ternganga memandangi tidak percaya antara buket bunga berjumlah 300 tangkai itu dan kartu di tangannya.
Valen Ackerman.
ASTAGA !!
***