"Selamat pagi Jenna. Maaf aku datang terlambat. Traffic di Jakarta selalu padat saat jam-jam sibuk seperti ini."
Jenna, anak pengusaha tambang yang berwajah tirus dan cantik seperti barbie duduk anggun di depan meja kerja Lea seraya tersenyum, "Tidak apa-apa Lea. Aku juga merasakannya setiap hari. Seharusnya aku yang minta maaf melakukan janji temu denganmu secara mendadak seperti ini. Semalam aku tidak bisa menghubungimu jadi aku memutuskan langsung datang.”
Pagi ini pegawainya di butik menelepon untuk segera datang karena salah seorang pecinta gaun malam langganannya sekaligus teman dekatnya, tiba-tiba saja meminta bertemu tanpa membuat janji terlebih dahulu.
Lea meletakkan tas Prada-nya dan menggelengkan kepala, "Semalam sepertinya aku kelelahan dan tidur nyenyak setelah pulang dari Bandung. Aku memiliki waktu kosong saat ini. Jadwalku dimulai nanti siang." Setelah memberitahu pegawainya untuk menyiapkan jamuan, Lea duduk santai di balik meja kerjanya dan tersenyum anggun untuk tamu pertamanya pagi ini. "Jadi, apakah akan ada pesta lagi?"
Jenna tertawa, rambut coklat pirang bergelombangnya terayun saat dia menganggukkan kepala. "Banyak sekali pesta yang harus aku hadiri sejak bertunangan dengan Kellan."
Lea mengangguk, "Jadi pesta seperti apa?"
"Hmm, hanya jamuan makan malam seperti biasa tidak ada bedanya."
Lea mengangguk dan mulai membuatkan sebuah sketsa gaun yang biasanya menjadi kegemaran Jenna. Gadis berusia 25 tahun di hadapannya ini memiliki hidup yang akan Lea labeli dengan predikat "beruntung". Bagaimana tidak, Jenna lulusan S2 di Oxford University berpredikat Cumlaude untuk jurusan Bisnis. Memiliki beberapa usaha milik sendiri yang lebih banyak bergelut di bidang kecantikan. Orang tuanya kaya raya dan sangat menyayanginya. Seakan semua itu belum sempurna, Tuhan menghadiahkan gadis cantik bermata bulat di hadapannya ini dengan kehadiran calon suami berpredikat pengusaha tampan rupawan bernama Kellan Smith. Salah seorang keturunan Smith Corporation yang memiliki banyak perusahaan. Kurang beruntung apa coba kehidupan si barbie yang tengah serius memperhatikan setiap goresan pensil milik Lea di atas buku sketsanya.
Tidak!! Lea sama sekali tidak iri. Hanya saja Jenna benar-benar sangat beruntung.
"Bagaimana kabarnya Kellan?”
"Ya begitulah. Masih tetap lelaki posesif yang menyebalkan."
Lea menatap Jenna sekilas dengan senyuman, "Jangan pernah sia-siakan lelaki yang sangat mengenalmu lebih dari dirinya sendiri,Jen. Tidak banyak lelaki yang seperti dia. Kamu The Lucky Woman yang memilik satu seperti itu."
"Aku akan mendoakan agar kamu juga memiliki satu seperti itu."
Lea tertawa, "Semoga saja tapi aku tidak mau banyak berharap."
Jenna menatap Lea dengan pandangan sendu, "Makan malam terakhir, aku bertemu mereka." Goresan pensil Lea terhenti sesaat namun dia hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan. "Aku sama sekali tidak menyukai Alexandra. Dia bermuka tebal, penjilat, penggoda—"
"Bisa kita hantikan pembicaraan sia-sia tentang mereka. Lebih baik fokus saja dengan desain baru yang aku buatkan untukmu ini. Keberatan tidak, kalau aku menggunakan warna hitam metalik. Tubuhmu yang putih akan sangat berkilau sekali."
Jenna terdiam sesaat lalu menghela napas dan memperhatikan desain yang ditunjukkan Lea dan langsung berbinar melihatnya.
"Perfect."
Sebuah gaun anggun berpotongan sederhana dan seksi tapi tidak terkesan menggoda tergambar sempurna di sana.
Pegawai datang membawakan makanan kecil dan minuman. Lea memang sudah mengenal Jenna sangat lama dari salah seorang teman di agensi modelnya. Sejak mengetahui bahwa Lea juga membuat gaun malam, dia adalah langganan tetap butiknya sampai sekarang.
Mereka lalu membicarakan pelengkap gaun itu dengan heboh selama setengah jam. Jenna yang sudah puas berdiri dari duduknya dan menatap Lea dengan binar, "Kamu benar-benar berbakat."
"Terima kasih pujiannya. Andai saja Kellan memiliki saudara lelaki ya?" kata Lea dengan nada bercanda ketika menemani Jenna keluar dari ruang kerjanya dan turun melalui tangga putih yang ada di sana.
Jenna menghentikan langkah kakinya di satu tangga terbawah, berbalik dan menatap serius Lea, "Wah, kamu beruntung kali ini."
"Apanya?" tanyanya dengan bingung.
Jenna berbisik, "Ajaibnya, kakak pertama Kellan ada di sini untuk menjemputku dan coba tebak, dia seorang duda hot yang sangat-sangat berkelas."
"DUDA!!!"
Lea menutup mulutnya setelah pekikan kagetnya tadi dan setelah itu terbelalak maksimal saat seorang lelaki tampan, matang dan pembawaanya yang menghipnotis tiba-tiba muncul dan berdiri menjulang di depan mereka membuat Lea seketika tidak sanggup berkata-kata.
"Ya, duda yang masih bisa di perhitungkan untuk menjadi suami," katanya dengan senyuman.
***
“Kita harus pergi ke stasiun televisi untuk talk show demi menghindari kemacetan," ucap Ricko.
Lea mengangguk, "Iya aku tahu."
Saat akan keluar, Lea mendengar adanya perdebatan kecil dari ruangan di mana terdapat banyak koleksi gaun pengantinya. Lea langsung berbelok dan berjalan menghampiri seorang penjaga tokonya yang terlihat kewalahan menangani dua pelanggan di dalam ruangan elegan yang sangat berkelas di butiknya.
Lea menyapa dengan senyuman ramahnya, "Selamat pagi semuanya. Ada yang bisa saya bantu untuk kalian?"
Wanita itu dan seorang ibu paruh baya berbalik menghadapnya lalu terkesima saat melihatnya. Wanita itu bahkan mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Saya Azalea. Apa yang terjadi?" katanya sopan.
"Azalea Chou, pemilik butik ini?" tanyanya tidak percaya.
Lea tersenyum, "Ya dan satu-satunya."
"Astaga!! Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan desainer berkelas sepertimu."
Azalea tertawa renyah lalu menyalami kedua wanita itu yang langsung membalasnya dengan antusias.
"Arinda dan ini Mama saya, Stella."
"Halo Arinda dan Tante Stella. Silahkan duduk dulu, kita bicarakan apa masalah kalian tadi." Lea menoleh ke pegawainya. "Buatkan mereka teh hijau ya."
Pegawainya mengangguk. Ricko memilih untuk menunggu di mobil.
"Putri pertama saya ini memaksa sekali untuk memilih gaun itu, hanya saja ukurannya tidak pas untuk badannya yang melar ini," sindir Stella.
"Mam, jangan begitu."
"Memang kenyataannya. Kamu sebentar lagi mau menikah tapi tidak mau diet sedikit saja. Seperti ini kan jadinya."
Azalea mengikuti pertengkaran kecil mereka dengan senyuman. Saat melihat Arinda cemberut, Lea langsung mengambil alih.
"Saya rasa tidak masalah kalau Arinda nyaman dengan bentuk tubuhnya selama calon suaminya tidak keberatan."
Arianda semakin menatap Azalea dengan terkesima. Stella mengangguk, "Ah, kamu memang benar."
"Kalau begitu, kamu sangat ingin gaun yang modelnya seperti ini." Lea menunjuk manekin tidak jauh dari tempatnya yang mengenakan gaun rancangan terbarunya. Gaun sederhana yang menurut Lea akan sangat cantik di kenakan Arinda.
"Aku suka semuanya terutama detailnya." Arianda menatap gaun itu dengan binar lalu menoleh ke Lea. "Sudah lama aku berharap bisa mengenakan gaun rancanganmu. Jadi aku datang jauh-jauh dari Bandung ke sini untuk jatuh cinta dengan gaun ini."
Lea tertawa, "Kamu pintar sekali memilih. Seperti yang dikatakan pegawai saya tadi, gaun ini hanya memiliki satu ukuran." Arinda menghela napas dengan tatapan kecewa. Lea tersenyum, "Tapi karena Arinda sudah jauh-jauh datang dan sangat menginginkannya maka aku akan memodifikasinya sesuai dengan ukuranmu."
"Benarkah?"
Lea mengangguk. Arinda jelas tersenyum bahagia begitu juga Stella saat Ricko kembali masuk dan menunjuk jam di tangannya.
"Tapi maaf kalau aku harus pergi sekarang. Bagaimana kalau kalian datang dua hari lagi agar aku bisa mengukurnya. Kalian keberatan?"
Arinda menggeleng, "Sama sekali tidak. Terima kasih banyak atas bantuanmu, Azalea.”
Lea berdiri dan mengangguk. "Sama-sama. Saya tahu memilih gaun untuk pernikahan seumur hidup itu tidaklah mudah. Arinda beruntung tahu dengan pasti apa yang diinginkannya. Jadi saya tidak keberatan untuk mewujudkannya."
Arinda tersenyum, "Terima kasih karena mengerti.”
"Kalau begitu sampai jumpa lagi Arinda dan Tante Stella."
***
Kamu sudah siap kan?" tanya Ganesh yang berjalan bersisian dengan Lea sejak keluar dari ruang ganti tadi.
Lea tersenyum, "Tentu. Hanya membahas tentang peluncuran koleksi terbaruku dan sedikit mengintip isi wardrobe-ku di apartemen kan?"
"Er, ya." Ganesh nampak berhati-hati.
Lea berhenti sejenak dengan mata menyimpit tajam "Katakan apa yang harus aku ketahui sebelum aku naik ke atas sana?"
Ganesh menghela napas lalu berdiri menjulang di depan Lea. Sosok Ganesh memang bukan orang asing di hidup Lea karena mereka pernah satu sekolah saat TK. Sekarang dia bekerja sebagai produser acara Talk Show Seleb yang dipandu oleh Ruben Onsu. Mereka sering melakukan kerja sama dalam berbagai acara yang mengundang Lea sebagai tamunya. Kali ini Lea mencium sesuatu yang buruk.
"Maafkan aku. Mungkin ini akan sedikit ekstrim hanya saja ini bukan kemauanku. Jadi—"
"Tidak usah bertele-tele jadi tolong sekarang katakan siapa saja bintang tamu hari ini selain aku?"
Lea melipat kedua tangannya di d**a menunggu Ganesh berbicara.
"Kami mengundang dua orang tamu yang lain. Dengan bahasan topik yang berbeda. Pertama yang tampil adalah Valen Acker—"
"Tunggu!!!" Lea menjulurkan telapak tangannya di depan Ganesh yang langsung diam. "Maksudmu drummer TheHasky, Valen Ackerman?"
"Iya. Kamu tentu tidak masalah bukan. Dia akan berbicara sedikit tentang fashion para pemain band masa kini."
Lea tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Keinginannya sama sekali tidak terkabul dan sekarang dia harus berhadapan dengan cowok itu lagi lebih cepat. "Alexandra akan—"
"Ergghh!"
Lea menggerang, kembali berjalan meninggalkan Ganesh di belakang. Merutuki kebodohannya hari ini yang berlipat ganda. Semoga saja dia tahan untuk duduk diam tanpa mencoba mencakar wajah w***********g itu. Kalau ada Sky, dia dengan senang hati akan menyuruh sahabatnya itu untuk melakukannya.
"Lea, maafkan aku. Team tiba-tiba saja tidak bisa menghubungi Nicole dan mereka menggantinya dengan Alexandra yang satu agensi dengan mereka."
"Kamu akan menerima akibatnya setelah ini Ganesh. Ingat kata-kataku!!"
Genesh terdiam, tahu bahwa ini tidak akan berjalan lancar. Lea memantapkan hati masuk ke dalam live studio tempat di mana mereka kan melakukan shooting. Acara sudah berlangsung selama lima belas menit dengan sosok brondong tampan, Valen Ackerman yang nampak angkuh di atas sana membicarakan perihal fashion anak muda terutama anak band masa kini. Lalu setelah jeda iklan, giliran Lea yang harus masuk ke sana.
"Baiklah. Kita akan beralih ke bintang tamu kita yang sudah sangat tidak asing lagi. Wanita cantik nan anggun yang pernah menjadi salah satu model untuk pagelaran bergengsi Paris Fashion Week dan sekarang lebih memilih menjadi seorang desainer. Kita sambut si cantik, Azalea Chou."
Tepuk tangan terdengar dari tribun penonton.
Lea menghembuskan napasnya perlahan dan menatap tajam Ganesh tidak jauh darinya dengan sangar yang di balas cowok itu dengan cengiran. Lea naik dengan senyuman dan menjabat tangan Ruben serta memeluknya sebentar.
"Woh selalu fashionable." Lea hanya tertawa renyah. "Sudah kenal dengan Valen Ackerman, Lea?" tanyanya kemudian seraya menunjuk Valen yang sudah berdiri dan mendekat.
Lea tersenyum sopan, "Bandnya sedang naik daun, memangnya siapa yang tidak kenal TheHasky."
Lea menjabat tangan Valen yang terasa besar dan mantap itu sampai suara bariton milik cowok itu terdengar menyapanya, "Kita bertemu lagi Azalea."
Lea hanya tersenyum singkat. Ruben yang mendengarnya langsung tersenyum lebar. "Wah, kalian sepertinya pernah bertemu secara pribadi," Ruben bertanya dengan nada bercanda yang disambut sorakan penonton.
Lea langsung menarik tangannya, "Jangan bercanda Ruben, aku tidak pernah punya urusan dengan anak band."
"Hmm benar juga sih, kecuali kamu berminat menjadi salah satu model dalam video musik terbaru mereka."
"Oh tidak. Aku sama sekali tidak berminat."
Lea tertawa dan duduk cantik di sofa tunggal di area tengah tidak jauh dari Valen yang bisa dia rasakan sedang menatapnya. Lea tidak mau merasa terintimidasi karena walaupun cowok itu lebih muda darinya, dia mendapati bahwa ada jiwa lelaki matang di sana tapi mungkin itu hanya perasaannya saja. Dia memilih untuk tidak terlalu lama menatapnya.
"Mungkin suatu hari nanti kita bisa bekerja sama berdua, miss Azalea?"
Ruben dan Lea serempak menoleh ke Valen yang tersenyum tipis di sana.
"Wow, udangan terbuka sepertinya. Oke, kamu bisa melanjutkan usahamu lagi nanti anak muda karena kita memiliki sesuatu yang harus di bahas di sini. Apalagi kalau bukan tentang rancangan terbaru Lea yang bertema "PinkPioniesCollection". Benar kan?"
"Iya benar."
"Apa semua bajunya berwarna pink?"
Lea tersenyum, “Tidak semua pink tapi juga warna lain yang soft. Warna-warna girly yang coba aku combine dengan warna lain."
"Sangat perempuan sekali ya," canda Ruben.
"Oh ayolah, ini tentang fashion yang di pakai oleh wanita jadi wajar kalau seperti itu. Sesuatu yang akan menampilkan sisi feminim siapapun yang memakainya."
"Iya betul juga sih. Kalau begitu coba kita lihat beberapa rancangan yang dikeluarkan oleh Lea awal bulan kemarin. Bukan gaun malam atau gaun pengantin ya tapi jenis gaun santai."
"Aku menyebutnya Spring Dress. Gaun santai yang bisa di pakai untuk berbagai macam kegiatan."
"Oke coba kita lihat."
Layar menampilkan beberapa gaun miliknya untuk diperlihatkan ke seluruh warga Indonesia yang menontonnya.
"Sangat cantik ya. Bagaimana Valen? Setuju denganku?"
"Setuju tapi lebih bagus lagi kalau desainernya yang pakai gaun itu. Pasti sangat cantik."
Semua penonton bersorak dengan kalimat frontal Valen begitu juga dengan Ruben. Lea hanya diam saja mendengar gurauan Vallen.
"Kamu gak lagi modus kan?" Ruben menggoda.
"Enggak lah. Walaupun ya ada sih sedikit."
Ekspresi wajah cowok itu serius dan cool. Nampak tidak bercanda.
"Kalau Lea sih pakai apa saja pasti cantik tapi sepertinya gaya berbusana Lea lebih mengikuti tren wanita Korea ya?"
"Begitulah tapi tidak tentu juga. Kebanyakan sih."
"Valen, mungkin nanti kalau kamu punya pacar dan bingung nyari gaun cantik di mana silahkan datang ke Azalea."
Valen tersenyum, "Tentu. Aku pasti akan datang dengan senang hati."
Lea menoleh dan menemukan tatapan mata yang tajam tapi terkesan hangat itu.
"Oke, sekarang kita mengintip sedikit isi dari wardrobe milik Lea di apartemen. Sepertinya kalau gaun tidak perlu diperlihatkan karena pasti ada ribuan di sana," Ruben tertawa.
"Tidak sebanyak itu," Lea ikut tertawa.
"Kita lihat koleksi sepatu dan aksesoriesnya aja yuk."
Layar menampilkan koleksi sepatunya yang memang ada beberapa rak dengan jenis yang berbeda-beda. Tersusun rapi dan cantik di sana.
"Oh oke ini luar biasa sekali."
"Itu dipakai semua atau cuma di pajang doang?" tiba-tiba Valen menimpali.
Ruben tertawa dan Lea menatap Velen sesaat sebelum menjawab, "Ya di pakai lah. Sesuai keperluan."
"Kuatin dulu kamu punya modal kalau mau jadi kekasihnya Lea," Ruben terkekeh.
"Siap!!! Aku orangnya pekerja keras kok. Tidak masalah," ucapannya serius.
Penonton kembali menyoraki. Lea bengong sedangkan Ruben sudah tertawa membahana.
"Ku suka gayamu, broh," kata Ruben lagi. Valen mengacungkan jempolnya dengan gaya cool.
Lea berdecak. Ruben melanjutkan, "Oke ada satu gambar lagi sebelum kita memanggil bintang tamu berikutnya."
Tanpa sadar Lea menghela napas. Layar menampilkan keseluruhan ruangan wardrobe-nya yang cantik karena bernuansa pink dan penuh dengan barang-barangnya.
"Benar-benar sangat berkelas ya."
Lea tersenyum, "Itu semua aku pikir seimbang ya. Aku kerja keras dan menikmati hasilnya dengan membeli barang-barang yang aku butuhkan bukan yang aku inginkan saja karena keinginan itu banyak dan yang disukai itu pasti lebih banyak. Kita harus selektif karena tidak selamanya kita hidup untuk membeli itu semua."
"Benar sekali. Itu juga tuntutan pekerjaan agar tampil selalu cantik. Oke, sekali lagi terima kasih untuk Azalea Chou karena berkenan untuk berbincang singkat di sini. Kalau begitu kita langsung saja panggilkan tamu selanjutnya, seorang model dan brand ambasaddor produk kecantikan ternama, Alexandra Debby."
Seorang wanita berbaju seksi yang menampilkan lekukan tubuh sintalnya, rambut coklat bergelombang yang indah dan heels 15 cm yang menambah tinggi penampilannya terlihat tersenyum genit dan melambaikan tangan ke arah penonton. Seketika Lea muak melihatnya.
Lea memiringkan duduknya tanpa sadar menghadap ke Valen yang jelas memperhatikan perubahan ekspresi Lea yang keruh. Dipandanginya bergantian antara wanita cantik di sebelahnya dangan wanita yang sedang berjalan gemulai ke arah mereka yang lebih mirip manekin berjalan dengan satu pemahaman.
Valen berdiri dengan gentle seraya tersenyum membuat Lea sempat kaget.
"Lea , kita tukaran tempat duduk ya?"
Lea terdiam sesaat kemudian mengangguk. Menggeser duduknya ke ujung sofa dan Valen duduk di tengah diapit dua wanita. Ruben tersenyum melihatnya.
"Wah, Valen. Kamu sangat peka," ujarnya.
"Apa sekarang selera Azalea sudah beralih ke berondong? Jangan jadi wanita yang putus asa begitu Lea,” sela wanita ular itu.
Lea mati-matian untuk menahan kegeramannya, tidak mau terhasut hingga mempermalukan dirinya sendiri. SIALAN GANESH !!
***