SCANDAL - 01.02

856 Kata
"Tumben kamu nggak bareng sama Sky?" tanya Erza. Lea menoleh dengan kedua kaki yang terjuntai masuk ke dalam air dari pinggir kolam renang. Erza duduk bersila di sebelahnya dan menyerahkan satu kaleng softdrink dingin yang dibawanya. Kegiatan favorit Lea yang selalu dilakukannya dengan abang pertamanya ini. "Dia lagi menikmati waktu bersantainya di rumah.” Erza tersenyum, mengacak rambut adiknya dengan sayang lalu menatap hamparan bintang di langit. "Efraim titip salam.” Lea mengangguk, Erza melanjutkan bicaranya, "Mama nggak bermaksud buat ngedesak kamu. Mama hanya takut kalau kamu itu gak berani membuka diri lagi. Lelaki itu ada di luar sana berada satu dunia sama kamu. Infotaiment juga masih sering nyangkutin nama kamu sama dia. Abang juga sebenarnya khawatir." Lea sangat-sangat mengerti. Digengamnya tangan Erza dengan sayang, "Abang nggak perlu sekhawatir itu karena Lea akan baik-baik saja." Erza memperhatikan wajahnya mencoba mencari sedikit saja keraguan, kemudian berubah rileks. Dirapikan rambutnya dan menepuk tangan Lea sebelum melepaskannya, "Aku tahu kamu wanita yang mandiri dan tahu dengan jelas apa yang kamu inginkan." Lea tersenyum, merasa ada yang terusik di dalam sana. "Tapi aku ingatkan Lea. Mau seseorang itu lebih muda ataupun tua dari kamu, kedewasaan tidak selalu diukur dari sana. Banyak faktor luar yang juga mempengaruhi. Jangan pernah menyamaratakan semua lelaki seperti itu." "Tapi bang—" "Dengarkan abang dulu." Lea bungkam.  Erza tersenyum, "Temukan seseorang yang membuatmu nyaman. Ubah sikapmu yang nampak tidak perdulian itu. Kalau memang cinta, selalu tunjukkan jangan termakan oleh gengsi seperti kebanyakan orang lainnya. Lelaki kadang juga butuh di yakinkan bukan hanya kamu wanita." Lea sempurna terdiam. Kata-kata Erza begitu menohok hatinya. Selama ini bukannya dia tidak perdulian hanya saja seharusnya lelaki bisa selalu peka dengan tatapan mata perempuan. Tahu mana yang benar-benar mencintai mereka. "Abang hanya berharap kamu bahagia. Seperti yang lainnya. Jadi tolong jangan terbebani ya." Lea tersenyum dan memeluk abangnya itu dengan sayang. Setidaknya masih ada keluarga dan sahabat yang menemaninya tanpa harus menorehkan sebuah luka. *** Keesokan paginya, disaat Lea sedang asyik membuat sketsa rancangan  gaun malam request spesial dari teman sosialitanya, Stephie yang baru saja selesai mandi masuk ke kamar dan duduk di sampingnya memperhatikan. Matanya membulat sempurna melihat apa yang sedang dia gambar. “Gaun-gaun yang Tante buat selalu spektakuler. Ah, aku sudah gak sabar untuk memakai gaun ulang tahunku sendiri.” Lea tersenyum melihat kebahagiaan keponakannya. “Apalagi saat pesta ulang tahunku minggu depan akan ada tamu istimewa yang hadir.” Lea menutup lembar sketsanya dan merubah duduknya menghadap ke Stephie dengan wajah serius, "Siapa?” “Salah satu personil band favorit aku bakalan datang." Lea menaikkan alisnya, "Band apa?" "TheHasky." Lea berpikir sebentar, mencoba mengingat kapan dia pernah mendengar nama band itu. Stephie yang tahu gelagat Tantenya mendengus sebal, "Jangan bilang kalau Tante gak tahu band TheHasky.” Lea menggelang. Stephie menepuk dahinya. "Memangnya mereka terkenal?" "Yang sering seliweran di televisi itu kan Tante, kenapa sampai gak tahu ada band yang lagi melejit itu. Tidak update." "Oke, Tante memang agak kudet sepertinya tapi seriusan kenapa kamu bisa mendapatkan kesempatan emas itu kalau mereka benar-benar band terkenal?" Stephie tersenyum penuh rahasia. Lea menyimpitkan mata. "Itu semua karena Rey sepupuan sama drummer-nya." Lea berdecak, "Oh ternyata begitu. Pantas saja dia mau datang. Pasti kamu melakukan bujuk rayumu ke Rey dan cowok itu gantian membujuk pamannya itu untuk datang." "Ishh, kok paman sih. Dia masih muda kali Tan." "Ah masa?" "Iya. Pantasnya itu di panggil Om," Stephie tertawa. Lea mengacaknya, "Memang berapa umurnya?" Stephie nampak berpikir, "Dari majalah yang aku baca sih umurnya baru 24 tahun." Lea tertawa. Ternyata masih sangat-sangat muda. Pantas saja sedang naik daun. Mereka pasti tipe-tipe penebar pesona ke semua abg-abg labil yang ada di Indonesia. "Kalau Tante ketemu sama dia, Stephie yakin Tante bakalan suka." "Ah sok tahu kamu." "Loh seriusan ini. Tante belum pernah lihat kan?" Lea menggelengkan kepala membuat Stephie berdecak kesal. Lea tersenyum dan mengelus kepala Stephie penuh sayang. Jarak umur antara dirinya dengan Erza memang lumayan jauh sehingga dia bisa memiliki keponakan sebesar ini. Lea bersyukur Mamanya memiliki cucu-cucu yang bisa menghiburnya di rumah. "Aku kasih lihat fotonya ya?” Lea berpikir sesaat, "Hmm boleh deh." Stephie berdiri lalu keluar dari kamar Lea. Tidak berapa lama gadis itu kembali membawa majalah gosip di tangannya seraya mencari-cari lembaran yang mungkin memuat band itu. "Aku sih suka sama drummernya aja,Tan. Jadi kebanyakan aku mengoleksi berita tentang dia.” "Kamu beruntung banget dapat pacar masih saudaraan sama dia." Stephie mengedipkan sebelah matanya membuat Lea tertawa. "Nah ini dia. Namanya Valen Ackerman. Cowok paling ganteng sejagat raya setelah Kakek, Papa, Om Efraim, Arza dan Rey." Lea tertawa geli seraya mengambil alih majalah itu ke pangkuannya. Setelah melihat dengan seksama, matanya serasa loncat keluar. Tidak menyangka. "Ini siapa namanya?" tanya Lea tanpa mengalihkan tatapan dari sosok cowok tampan berbaju hitam yang duduk di belakang drum memegang stik di kedua tangannya di samping tulisan yang memuat profil cowok itu. Wajah tampannya angkuh dan terkesan sombong. Tatapan matanya tajam. Padahal namanya sudah sangat jelas tertera di sana. Stephie memutar bola matanya dan menunjuk nama cowok itu dengan telunjuknya dan berbisik tepat di telinganya. "Valen Ackerman.” Lea menatap wajah cowok itu dalam diam. Tipe-tipe cowok penebar pesona sama seperti saat mereka bertemu sebulan yang bulan lalu di restoran Sky. ASTAGAA, BERONDONG !! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN