bc

Sultan di Ranjang Cinta

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
love after marriage
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
kicking
city
office/work place
secrets
love at the first sight
addiction
like
intro-logo
Uraian

"Kalau kamu tidak berhenti berteriak, seluruh Istanbul akan mengira aku sedang melakukan kejahatan internasional di kamar ini!"

Amara tidak pernah menyangka bahwa perjodohannya dengan Kerem Bey, seorang pengusaha muda Turki yang kaku layaknya "Kulkas Dua Pintu", akan membawanya ke dalam petualangan yang mengguncang adrenalin—dan juga Selat Bosphorus.

Kerem memang sempurna: tampan, kaya, dan memiliki "aset" luar biasa yang melampaui imajinasi Amara. Namun, Amara punya satu kelemahan: dia tidak bisa diam.Setiap kali Kerem menunjukkan "kasih sayangnya" yang intens, jeritan Amara selalu sukses memancing kedatangan mulai dari ibu mertua, satuan polisi air Turki, hingga tim renovasi kamar kedap suara.

Di balik kemewahan vila bersejarah di pinggir laut dan romansa balon udara di Cappadocia, ada Yasmin yang terobsesi ingin merebut posisi Amara, serta rahasia-rahasia keluarga yang menanti untuk terungkap.Dapatkan Amara bertahan menghadapi gempuran gairah sang Sultan Turki yang tak kenal lelah?

Dan mampukah Kerem menjaga reputasi keluarganya di tengah jeritan istrinya yang bergema hingga ke penjuru Istanbul?Satu bulan pernikahan, seribu satu malam penuh teriakan. Siapkan dirimu untuk jatuh cinta pada Sultan paling "berbahaya" di Turki!

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 - Takdir yang Salah Alamat
Kalau ada yang bilang jodoh itu jemputannya lewat doa di sepertiga malam, aku setuju. Tapi kalau ada yang bilang jodohku bakal muncul dalam wujud cowok brewok galak yang nyaris bikin aku dideportasi dari Bandara Istanbul, kayaknya aku butuh revisi doa. Namaku Amara. Umur dua puluh empat, hobi rebahan, dan pekerjaan terakhirku adalah admin media sosial yang baru saja resign karena bosnya lebih hobi kasih revisi daripada kasih bonus. Di sinilah aku sekarang, berdiri mematung di Bandara Internasional Istanbul dengan koper oranye mencolok yang rodanya baru saja copot satu. "Aduh, mampus," gumamku sambil memandangi roda koper yang menggelinding pasrah ke arah kaki seorang pria. Pria itu tinggi. Oke, bukan cuma tinggi, tapi menjulang. Dia memakai jaket kulit hitam dengan ekspresi wajah yang seolah-olah baru saja menelan jeruk nipis tanpa gula. Dia melihat ke arah roda koperku, lalu melihat ke arahku dengan alis tebal yang bertaut. "Ini punya kamu?" tanyanya dalam bahasa Inggris dengan aksen Turki yang kental. Berat, serak, dan jujur saja, agak mengintimidasi. "Eh, iya. Sorry, Sir. My luggage is... a bit tired," jawabku ngasal. Asli, otakku langsung nge-blank kalau ketemu orang ganteng tapi galak. Dia cuma mendengus. Bukan ketawa ya, mendengus. Dia memungut roda itu, meletakkannya di atas tanganku tanpa ekspresi, lalu berjalan pergi begitu saja. "Dih, sombong amat. Padahal kan bisa bantu pasangin," gerutuku dalam bahasa Indonesia. Toh, dia nggak bakal ngerti ini. "Dasar brewok kulkas dua pintu!" Aku ke Turki bukan buat cari jodoh. Aku ke sini karena tabunganku cukup buat bertahan hidup tiga bulan di luar negeri sambil menenangkan diri dari pertanyaan "Kapan nikah?" yang makin gencar di grup w******p keluarga. Rencananya simpel: sewa apartemen murah di kawasan Fatih, makan kebab tiap hari, foto-foto estetik buat i********: supaya mantan menyesal, lalu pulang ke Jakarta dengan jiwa yang baru. Tapi rencana tinggal rencana saat aku sampai di depan pintu apartemen yang sudah kupesan lewat aplikasi. "Penuh?" pekikku pada bapak-bapak tua pemilik apartemen. "Full, Kizim (nak). Ada kesalahan sistem. Kamu harus cari tempat lain," katanya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Di luar sudah mulai gelap. Udara Istanbul bulan November itu nggak main-main dinginnya. Aku berdiri di trotoar, memegangi koper pincangku, dan mulai merasa ingin menangis. Di saat itulah, sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depanku. Kacanya turun pelan. Dan tebak siapa yang ada di balik kemudi? Si Kulkas Dua Pintu dari bandara tadi. "Kamu lagi?" Dia melepas kacamata hitamnya. Matanya berwarna cokelat gelap, hampir seperti warna kopi pekat tanpa krimer. "Oh, halo lagi... Mister Brewok?" Dia mengernyit. "Nama saya Kerem. Apa yang kamu lakukan di pinggir jalan jam segini? Di sini tidak aman buat turis sendirian." Aku menghela napas panjang, lalu menceritakan nasib sialku—dari roda koper yang copot sampai apartemen yang penuh. Kerem diam menyimak, tangannya masih mengetuk-ngetuk setir mobil. "Masuk," katanya singkat. "Hah? Apa?" "Masuk ke mobil. Saya tidak bisa membiarkan perempuan asing membeku di depan toko roti. Saya punya kenalan yang menyewakan flat kecil di dekat sini. Lebih aman." Logika di otakku berteriak: Amara, jangan mau! Ini cara main penculik di film-film thriller! Tapi kakiku yang sudah mulai mati rasa karena kedinginan berkata lain: Masuk aja, Ra. Paling nggak lo mati dalam keadaan hangat di mobil mewah. *** Singkat cerita, Kerem membawaku ke sebuah gedung tua tapi terawat di daerah Galata. Flatnya kecil, tapi pemandangannya langsung ke Selat Bosphorus. Cantik banget sampai rasanya aku mau pingsan. "Bayar sewa ke saya tiap bulan. Ini gedung milik keluarga saya," ucap Kerem sambil memberikan kunci. "Loh, katanya punya kenalan?" Dia cuma mengangkat bahu. "Saya pemiliknya. Saya cuma mau memastikan kamu bukan orang jahat sebelum kasih kunci ini." Aku melongo. "Mister, saya ini cuma pengangguran dari Jakarta. Kejahatan terbesar saya cuma pernah nyolong mangga tetangga waktu SD." Untuk pertama kalinya, aku melihat sudut bibirnya terangkat sedikit. Tipis banget, nyaris nggak kelihatan. Tapi entah kenapa, itu bikin jantungku yang tadi deg-degan karena takut, berubah jadi deg-degan karena... ah, nggak tahu. Mungkin karena lapar. "Istirahatlah, Amara. Besok saya antar kamu beli kartu SIM dan keperluan lain. Istanbul itu luas, jangan sampai kamu hilang." Setelah dia pergi, aku menjatuhkan diri ke kasur yang wangi detergen lemon. Aku menatap langit-langit kamar, berpikir betapa anehnya hidup ini. Pagi tadi aku masih di Jakarta yang macet, sekarang aku di Istanbul, di apartemen milik pria Turki yang dinginnya melebihi es serut tapi entah kenapa terasa... peduli? Aku meraih ponsel, membuka grup keluarga yang isinya lagi debat soal menu katering pernikahan sepupuku. Amara: Guys, aku udah sampai. Dan kayaknya... petualanganku bakal lebih ribet dari yang kubayangkan. Aku mematikan ponsel sebelum ibuku sempat membalas dengan pertanyaan "Ada cowok ganteng nggak di sana?". Kalau aku bilang ada, dan dia pemilik apartemenku, bisa-bisa besok ibuku langsung pesan tiket pesawat ke sini bawa rombongan hadroh. Malam itu, aku bermimpi tentang aroma kopi Turki dan jaket kulit hitam. Sepertinya, pelarianku ke Turki bukan sekadar untuk menenangkan diri. Ada sesuatu di kota ini, atau mungkin pada pria bernama Kerem itu, yang perlahan-lahan mulai menggeser fokusku. Tapi satu hal yang pasti: besok aku harus minta dia memperbaiki roda koperku. Jodoh atau bukan, koper pincang tetaplah masalah besar.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
318.4K
bc

Too Late for Regret

read
358.0K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
151.8K
bc

The Lost Pack

read
468.0K
bc

Revenge, served in a black dress

read
158.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook