Awan malam memang selalu pekat. Tapi tak ada yang lebih pekat selain langit tepat di atas istana Raja Warsana.
Hawa tubuh siluman memang selalu dingin. Tapi tak ada yang lebih dingin dari sekumpulan siluman di istana Raja Warsana. Kedua elemen itu tak akan pernah terpisahkan pada atmosfer istana Wangkara.
Di tengah pekat dan dingin. Lelaki berjalan berjinjit nyaris tak meninggalkan denyit suara. Embusan angin pada rumput dan daun kering seolah memberi restu untuk senyap sejenak. Hanya ada suara jangkrik bernyanyi menghimpun simponi indah.
Sanjaya mengendap pada ujung selatan Istana. Di istana ini ia tak bisa melakukan teleportasi sebagaimana semestinya sebagian para siluman lakukan. Medan Istana terlalu besar.
Ah salah!
Bukan pengaruh Istana, tapi pengaruh akan kitab yang tersimpan di dalamnya.
Istana Wangkara berbentuk seperti labirin di bagian luarnya, berlapis-lapis dengan banyak pintu di setiap lekuk lingkarannya. Kemudian terdapat satu istana berbentuk kastil dengan Kuba berwarna silver bertakhta di atasnya. Terdapat empat pintu masuk. Masing-masing pintu dilapisi emas perak juga dua prajurit berjaga berserta d**a-d**a bidang mereka yang terekspos seolah menekankan akan bagaimana gagahnya istana Wangkara.
Pintu sebelah Utara adalah pintu utama yang menghubungkan langsung pada singgasana melalui hanpran-hamparan karpet merah. Pintu timur, pintu yang tidak terlalu berfungsi, tapi tetap mengalami penjagaan ketat, pintu barat merupakan pintu sakral yang hanya boleh di masuki oleh keluarga Raja Warsana, dijaga ketat oleh prajurit berompi khusus. Dan terakhir pintu Selatan, pintu yang jelas terlarang karena di sana lah kitab tersebut berada.
Di tangannya Sanjaya terdapat sebuah pedang berwarna emas dengan motif rumit pada pangkal pedang lalu menjulur hingga ujung. Sambil memegang gagah Pedang itu, Punggung Sanjaya menempel pada dinginnya batu dinding yang disusun bak candi. Menggunakan cadar yang menutup wajahnya Wajah, manik itu memandang awas ke semua arah, melihat pergerakan dari semua penjaga.
Para penjaga begitu tenang berjaga memegang tombak-tombak di tangannya. Dua prajurit lainnya berdiri di depan pintu istana dengan tombak yang berdiri tersilang. Wajah mereka sangar dengan d**a
Kaki Sanjaya membentuk kuda-kuda. Sanjaya melangkah terhitung, membuat setiap geraknya luput dari pandangan banyak penjaga berompi merah.
Gesit tak ubahnya angit. Tubuh Sanjaya melesat dari satu titik ke titik yang lain. Hingga akhirnya ia sampai di ujung di satu titik. Banyak siluman bilang tempat itu adalah tempat kematian para siluman. Sesiluman bertubuh binatang berjaga lebih ketat dibanding para prajurit yang sedari tadi hanya nampak hilir mudik saja.
Peduli apa, Sanjaya sudah sejauh ini berjalan. Ia tak peduli berapa kali ia akan gagal.
Sanjaya melakukannya secara berhati-hati. Ia mengendap lalu menanjak tembok setinggi 3 meter lalu melompat dan menapakkan kaki di bawa tanah berbatu.
Suara debuman sandal bakiak beradu tanah hampir membangunkan dua prajurit berperut buncit, penunggu salah satu pintu masuk istana. Mereka mengerjakan sesaat, mengucek mata lalu mengindai kondisi sekitar. Tak ada apa-apa, hanya ada desau angin yang terperangkap di tengah-dengah tembok. Mereka tidak akan menemukan keberadaan Sanjaya karena Sanajya sudah berada di lapisan tembok berikutnya.
Konon, burung di sini memiliki sepuluh mata. Dalam arti harfiahnya istana Raja Warsana memiliki pengwasan yang ketat dari berbagai kalangan siluman penghamba. Luar biasa bukan. Raja Warsana memiliki penjagaan dari darat hingga darat. Atas hal itu, sehebat dan seistimewa apa pun kemampuan Sanjaya. Ia harus tetap berhati-hati karena jika dia lengah, Warsana akan mengetahui keberadaan, Yang justru akan menjadi Bumerang untuk Sanjaya sendiri.
Kita kuno dalam kuasa Raja Warsana dan kehadiran Sanjaya adalah perpaduan sempurna untuk mengeluarkan sebuah negeri yang senang hati Raja Warsana ambil.
Tak mendapati apa pun, prajurit yang semula terjaga kembali menyandarkan punggung di atas kursi. Matanya terpejam dan bibirnya terbuka, tak lama suara dengkuran kasar terdengar.
Sanjaya terus berjalan, naik satu demi satu tembok penghalang seperti ninja. Hingga sampai di dalam bagian selatan, dengan mata awas dan mata berjinjit ia menerobos masuk memasuki pintu berukir dengan warna perak.
Dibukanya pintu itu. Pelan, sangat pelan. Namun, bukan Lotong—sang pemilik area bagian tersebut—namanya, jika tak memiliki sensitivitas tinggi luar biasa terhadap gerakan sedikit apa pun.
Merasa terusik, bulu berbulu yang semula tepekur melingkar seperti kucing kemudian membesarkan tubuhnya, menampakkan kilat di antara bulunya yang pekat.
Berbaur bersama temaram semula Sanjaya tidak menyadari hingga suara geraman menggema.
***
“Sudah lama kau berendam, sayang.” Ratu berjalan mendekat. Menggunakan baju berbulu dengan bagian d**a rendah, ia duduk di samping bak raja Warsana yang terbuat dari batu pualam. Membuat batu dan kulit sang Ratu menyatu sempurna, tanpa cacat.
Mata Raja Warsana memejam. Menghirup bau amis yang menurutnya amat ia gilai.
Mandi darah sudah menjadi ritual wajib di setiap malam Jumat. Menggunakan sisaan darah korban ke keenam. Darah itu di bagi ke dalam beberapa kendi untuk kemudian dicampur bersama air mandi.
Menurut kitab kuno. Hal tersebut dia lakukan agar mempertahannya intensitas kekuatan atas semua ritual yang di lakukan.
“Kau sudah mendapatkan kabar dari mereka?” Raja Warsana membuka mata. Ia sedikit menaikkan tubuhnya yang semula setengah rebah.
“Menurutmu?” wajah Ratu bergerak mendekat, punggungnya membungkuk hingga wajahnya berada dekat di depan wajah sang suami. Ia lalu mengecup bibir Raja Warsana, meninggalkan warna merah di bibir lelaki tersebut. “Kedatanganku tak melulu tentang semua urusan kekelanmu. Ada urusan yang lebih penting dibanding hal itu.” Ratu menyimpan satu demi satu anak-anak ular di atas kepala, hingga memperlihatkan surai hitam panjang yang tampak indah.
“Lagi pun apa yang bisa kau andalkan dari mereka. Sudah kubilang, mereka bodoh.” Kaki kanan Ratu naik, tercelup air berwarna merah.
“Sial! Kau menggodaku.”
“Tidak. Ini kewajibanku.”
Raja Warsana mendengkus. “Hentikan, belum saatnya. Otakku terlalu berat memikirkan santapanku yang pergi entah ke mana,” tolaknya.
Sekarang Ratu sudah berendam sempurna di bak mandi yang sama. Tangannya memainkan air, mengambilnya menggunakan kedua tangan yang dibentuk mangkuk lalu mencium aroma dengan posisi didekatkan pada hidung.
“Tidak buruk. Korbannya kemarin memiliki aroma darah yang menarik.”
Raja Warsana tak berniat menanggapi istrinya. Ia tetap setia dengan menempelkan punggung pada bak mandi. Matanya kembali terpejam.
“Kau benar-benar ingin melewati hidangan utama malam ini?” Ratu mendekat. Memainkan telunjuk di d**a suaminya, jangan lupa tatapan mata nakalnya adalah daya tarik yang kapan pun tak mampu Raja Warsana tolak.
Sang raja tergoda. Matanya kembali terjaga. Wajah Ratu sudah dekat, sangat dekat hingga deru napasnya sudah terasa dingin di kulit wajahnya.
“Kau jalang yang sesungguhnya.”
“Terima kasih. Aku sangat tersentuh atas pujian itu.”
Ratu semakin mendekat hingga tak ada lagi jarak di antara keduanya. Keduanya hanyut pada sajian yang Ratu sediakan.
Namun sebelum sampai pada menu utama, Raja Warsana melepas pungutannya. Suara erangan Lotung membuat ia bangun dari rendamannya. Di atas meja tersampir jubah mandi.
Warsana mengambil kasar jubah tersebut, melilitkah pada tubuh dan berjalan meninggalkan Ratu, termangu seorang diri.
Sial!
Wajah Ratu sudah merah padam mengalahkan merahnya air darah tempat ia berendam saat ini. Tangannya memukul permukaan air hingga menciprat ke seluruh kepala Ratu. Kemarahannya sudah di atas ubun-ubun.
Raja Warsana mengabaikan itu. Ia tidak peduli akan semarah apa Ratunya, dan memang begitu dia selalu memperlakukan istrinya. Ia terus berjalan, membuka pintu. Darah dan air yang menyatu berceceran membentuk titik-titik yang jatuh di bawah sana.
Begitu ia sampai di tempat yang dituju. Matanya sudah disajikan dengan pemandangan menarik. Pertarungan antara lelaki berpakaian pangsi dengan cadar di wajah, yang lebih tampak seperti ninja.
Lotung sudah membesarkan ukuran, tentu menjadi indikator semarah apa dirinya. Sanjaya sendiri memasang kuda-kuda dengan pedang posisi siap bertempur. Mereka saling berputar menemukan momen di mana masing-masing dari keduanya menemukan celah lawah untuk menyerang.
Peperangan ini mengingatkannya kembali pada saat pertama kali dirinya bertemu Lotung. Hewan siluman itu membesarkan tubuh kala tak terima anak panah menusuk tepat di bagian bahu.
Tapi tentunya jika Lotung tak hilang ingatan ia akan tahu kala itu siapa yang memenangkan pertarungan.
Sanjaya gentar?
Tidak sama sekali!
Di kala Lotung terlebih dulu menyerang, Sanjaya tak tinggal diam. Menggunakan keahlian yang dia asah dari latihan bersama Kakek Zamalik setiap gerak Lotung mampu dia baca.
Pedangnya menari indah di atas tubuh Lotung yang menggeliat menghindar. Suara erangan juga tabrakan antara kuku baja dengan pedang sesekali terdengar sebagai hiburan untuk Raja Warsana.
Di depan pintu sana, Raja Warsana tak sama sekali melewati apa yang terjadi
Memang apa yang bisa dia lakukan? Lotung tak bisa dihentikan ketika marah. Tapi dibanding tertarik dengan siapa yang akan menang pada akhirnya. Warsana lebih tertarik pada siapa pria yang berani masuk pada istana Wangkara.
Satu sama lain begitu lihai menyerang serta melindungi diri. Pertandingan semakin dibuat menarik karenanya.
Namun ketenangan Raja Warsana sirna seketika saat pakaian Sanjaya—tepat di bahu bagian kiri— berhasil dikoyak oleh cakar baja milik Lotung.
Di bahu Sanjaya menampilkan tanda berwarna merah keunguan. Raja Warsana tentu tahu tanda apa itu.
Seperti menemukan sebuah lotre. Matanya membesar lalu ia gegas beranjak dari area pertandingan.
“Sial!” Sanjaya mengumpat seraya memegang bahunya yang terluka.
Melihat kepergian Raja Warsana, tentu Sanjaya ketahui maksud dari kepergiannya.
Dirinya tak boleh membiarkan Warsana mengumandangkan mantra di saat ini. Ia harus pergi dari lingkungan istana saat ini juga.
Celakanya, di saat dirinya hendak pergi menyelamatkan diri. Di sanalah Lotung memanfaatkan kelemahan Sanjaya.
Sanjaya terluka sangat parah sehingga membuat ia berjalan tertatih lalu memanjat tembok demi tembok seraya memegang lukanya yang semakin parah.