Jangan berbicara tentang rasa hambar. Apa yang diharapkan dari daging rasa orisinal? Karena bukan itu alasan Gendis menangis.
Begitu rasa daging menyapa lidahnya. Kilatan ingatan akan kolase dirinya di rumah, menikmati sepotong steik buatan ibunya menyembul sedikit-demi sedikit. Menciptakan gelegak kerinduan yang tak bisa ia tuntaskan.
Gendis hanya bisa menangis dalam diam. Andai waktu bisa diputar. Ya andai... tak perlu lagi dirinya mengatakan kembali akan berbagai penyesalannya.
Ketika pelukan hangat d**a Sanjaya membungkus kesedihan menjadi lebih hangat. Di sanalah tumpah ruang semua kegundahannya. Semata-mata karena gelegak itu bisa ia keluarkan lewat rengkuhan lelaki itu.
Air mata terus bergulir sampai akhirnya ia tak bisa mengeluarkan air mata lagi. Gendis menarik diri, menyusut sisa-sisa air yang membuat matanya membengkak.
Perlahan Gendis mulai menyadari akan hal yang baru saja mereka lakukan. Seperti halnya robot, gerak keduanya kikuk. Gendis meremas tangannya yang basah. Sanjaya sendiri memilih membanting jangkaunya jauh ke arah lain.
Deham terdengar, Gendis berusaha mencoba mencairkan suasana. “Maaf,” katanya. Sejatinya bukan sebuah penyesalan. Semburat merah di pipi jelas bukan sebuah bukti ketidak inginan.
Sanjaya menoleh. Senyum mengembang perlahan, seperti pegas yang macet, tapi ia paksakan. Tatapan mereka bertemu sesaat. Ada yang membuat lelaki itu terpaku, tapi entah apa.
Bukan kecantikan. Berbicara tentang cantik, barang tentu Nyimas jauh lebih cantik. Kulit seputih pualam dengan rambut coklat kemerahan bergelombang membuatnya terlihat seperti Noni Belanda dibanding siluman lokal. Dan jelas itu menekankan, ia tak tertarik akan Gendis karena gadis itu tak sama sekali menarik. Tapi sekarang apa yang membuat tatapan gadis itu seperti magnet yang membuat dirinya enggan beranjak dalam bias mata coklatnya.
“Aku kangen,” ungkap Gendis ulang.
Bukan sekedar ungkapan. Sanjaya tahu ini lebih dari ungkapan kerinduan, yakni usahanya untuk kembali.
“Tunggu sampai bulan purnama,” jawab Sanjaya. Ia mengambil sebuah batu kerikil di bawah bakiaknya, lalu kemudian memainkannya, dilempar, kembali ia ambil dan begitu seterusnya. Gerak tubuhnya seakan memberi tahu akan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Gendis tak sepintar itu untuk menyadari perasaan Sanjaya. Ataupun pikirannya. Gadis itu tersenyum lebar seperti menemukan sebuah harta Karun. Untuk kedua kalinya dia mendapatkan kelakar yang sama dan konsisten. Itu membuat Gendis semakin yakin dan memiliki kekuatan.
Pikiran Gendala melayang beberapa puluh tahun ke belakang. Saat temaram begitu mencekam, saat burung camar terasa mengejeknya setiap hari. Saat kesendirian menyayat sukma tiada henti.
Semua itu sudah berlalu, terkecuali rasa dendam yang masih abadi bersemayam. Sialnya, perasaan sendiri itu kembali hadir. Kenapa?
“Aku serius,” ucap Gendis tiba-tiba, “aku pengen tau tentang diri dan dunia kalian.”
“Tak ada yang menarik,” sebaliknya Sanjaya mengira dunia manusia jauh lebih menarik. Dunia yang seharusnya juga bisa menjadi miliknya.
“Ini bukan masalah menarik atau nggak menarik. Ini masalah perkenalan. Aku nggak bisa berjalan kalau nggak tau dunia apa yang sedang aku pijaki sekarang.”
“Gendala sudah memberi tahumu banyak, bukan?”
Gendis tersentak. Tak banyak yang dia dapat. Tapi Sanjaya cerdas, dia tahu Gendis tak mungkin tak dapat informasi barang sedikit pun dari siluman bermulut bocor itu.
“Tentang pohon bicara, dan... Ya nggak banyak.”
“Itu sudah cukup,” takarnya.
“Belum,” sergah Gendis. “Aku belum mendapatkan informasi apa pun tentang Raja Warsana.”
“Warsana. Dia bukan raja.”
Gendis menghela napas sejenak. Tidak peduli sematan raja atau apalah itu. Sejujurnya gendis tak terlalu memedulikannya. “Ya baik, Warsana. Apa kamu bisa menjelaskannya.”
“Dia hanya siluman serakah yang kebetulan beruntung karena menemukan sebuah kitab yang memberinya kekuatan.” Wajah Sanjaya berubah muram. Ia mengeluarkan cerutu di sakunya, memantiknya dengan api di atas perapian lalu menyesapnya hingga mengeluarkan kepulan asap di mulut dan sebagian lagi di hidungnya.
“Kekuatan apa yang dia punya?”
“Laser merah. Laser yang kalau terkena organ dalam siluman bisa membinasakannya.”
“Lalu apa yang membuat dia menginginkan darahku?”
“Tujuh darah manusia bisa membuat kehidupannya kekal. Kebetulan kau darah terakhir,” jelasnya. Kembali asap dikepulkan membentuk huruf o di udara.
“Artinya aku ujung tombaknya.”
“Bisa dibilang seperti itu.”
“Kamu perokok akut?”
Sanjaya berdecak. “Bukannya manusia banyak melakukannya? Apa ini aneh?”
“Dari mana kalian dapat benda itu?” Mata Gendis menatap pada sebatang cerutu yang sedikit lagi tandas.
Bukan pertanyaan penting. Sanjaya memilih mengabaikannya. “Sebelum bulan purnama tiba, kami harus sudah mengetahui keberadaan kitab itu. Lalu kemudian kita bisa mengembalikanmu.”
“Apa itu lama?” Sanjaya menatap langit. Matahari sudah berada di atas kepala. “Mungkin sebentar lagi,” jelasnya.
“Kamu tau, aku sangat ingin kembali,” gumam gendis.
Sanjaya terbangun. Tak perlu ada lagi yang perlu mereka bicarakan. Karena ada intinya Gendis hanya ingin kembali. Ia Membersihkan celana bagian b****g yang terkena daun-daun kering yang menempel. Dia akan kembali pergi, tapi sebelum itu Sanjaya membalikkan tubuh terlebih dulu dan berkata, “jangan pergi ke mana pun kalau tidak aku.”
Oh sungguh, jika di drakor jelas Gendis akan melompat-lompat mendapat perlindungan semacam ini. Tapi, ia harus sadar ultimatum Sanjaya berarti sesuatu.
Gendis terdiam dan mengangguk setuju.
“Tunggu!” Gendis tiba-tiba teringat sesuatu. Ia beranjak mendekati Sanjaya. “Tadi saat di pasar aku tiba-tiba tertidur. Apa ini bagian dari mekanisme tubuhku kalau di duniamu?”
Seketika tubuh Sanjaya menegang seketika.
***
Suara benturan membuat Gendis terjaga. Dalam samar Gendis melihat seseorang berjalan terhuyung ke arahnya. Darahnya menetes melewati pergelangan tangannya. Gendis ternganga melihat pemandangan di hadapannya.
Gendis gegas beranjak, menghampiri sang pemilik luka. “Ada apa?” tanya Gendis, ia tampak panik. Ia lantas segera membopong Sanjaya menuju bale-bale.
Darah? Aneh. Kenapa Sanjaya memiliki darah. Apa memang begitu mekanisme tubuh siluman?
Bukan saatnya bertanya. Mata Gendis lebih sibuk mencari benda apa yang bisa meredakan rembesan darah itu. Ia kemudian berpikir merobek kain satin di atas bale, membentuknya sekian rupa agar bisa menutupi dan menahan darah di luka Sanjaya.
“Ada masalah?” tanya Gendis ulang. Tangannya masih sibuk merapikan ikatan di tangan Sanjaya. Persis ketika Sanjaya mengobati luka di jarinya.
“Bukan masalah besar. Ini hanya sebagian dari misi.”
Gerakan Gendis terhenti tepat di saat perban itu sudah rampung. Dia tercenung sejenak. Sebesar ini misi hingga berpotensi memberikan luka?
Tapi ada yang lebih menggelitik. Apa yang melatar belakangi Sanjaya melakukan semua ini. Untuk dirinya? Tidak mungkin, bukan?
Sanjaya meringis saat rasa perih menerjangnya sesekali. Membuat Gendis mengingat bibir saat melihatnya.
“Sakit?”
“Sedikit.”
“Aku nggak tau gimana cara sembuhin luka. Maaf, aku bukan orang medis.” Lagi pun apa sama penanganan manusia dan siluman yang terluka.
“Luka ini akan sembuh dengan sendirinya.” Jelasnya. “tidurlah.”
Sanjaya merebahkan diri lebih dulu, menghadap sebelah kiri, membuat mau tak mau posisi mereka mungkin akan berhadapan atau tidak jika Gendis memilih membelakanginya. Tapi sulit, Gendis tak bisa tidur menghadap ke arah kiri.
Ragu, Gendis merebahkan diri perlahan. Degup jantung sialannya tak juga bisa diajak berkompromi. Ini bukan malam pertama, tapi ayolah betapa mengganggu perasaan itu.
“Ada yang pengen aku tanya lagi,” tanya Gendis. Dirinya tidur menghadap langit-langit atap dengan tangan memegang perutnya. Tangan lainnya meremas kain yang sebagiannya sudah terkoyak, ia pakai untuk menyelimuti sebagian tubuhnya.
Sanjaya tidak menjawab. Gendis berpikir Sanjaya sudah tidur. Ia memilih membalikkan tubuh menghadap Sanjaya.
Wajah oriental, dengan kulit sawo matang khas Indonesia. Hidunya tegas, dan bibir tebal. Mengapa bisa menjadi perpaduan sempurna. Dalam diam, kembali Gendis menyimpan jutaaan kekaguman pada pria di depannya.
Dalam kehanyutannya menulis lekuk demi lekuk wajah Sanjaya, Sanjaya tiba-tiba membuka mata. Membuat Gendis menarik diri ke belakang secara spontan. Tubuhnya hampir terjerembap. Ah tidak, akhirnya memang dia terjermbap. Tak sendiri, melainkan dengan Sanjaya—yang berusaha menolongnya— berguling tepat di atas tubuhnya.
Posisi mereka memalukan. Pipi gadis itu mengeluarkan semburat merah jambu. Pun Sanjaya yang terpaku melihat bagaimana Gendis tersipu karenanya.