Mendadak Tidur.

1454 Kata
Gendis merasakan tangan dingin seseorang menyentuh pipinya. Matanya yang semula rapat dicobanya untuk ia buka meski rasanya sulit sekali. Ketika berhasil membuka Indra penglihatannya, Gendis melihat Gendala tepat di depan wajahnya. Wajah lelaki itu terlihat kebingungan. Gendis terbangun dari posisi pipi yang menempel pada dinginnya permukaan meja makan. Kedua tangannya dipakai untuk mengucek matanya, mengembalikan semua pandangannya yang mengabur hingga tampak kontras. “Ada apa?” tanyanya. Cara melihat Gendala padanya sungguh tak membuat ia nyaman. Gendala memundurkan tubuh, kedua tangannya bersedekap di depan d**a. “Harusnya aku yang tanya sama kamu. Apa yang kamu lakukan?” baliknya bertanya. Gendis kebingungan sendiri. Memangnya apa yang dirinya lakukan? Tapi jelas ia ingat bagaimana dirinya bangun tadi menyadarkannya bahwa dia tertidur. Mata Gendis menelisik. Mencoba mencari tahu situasi. Tapi ternyata kondisi sudah jauh berbeda. Pasar yang semula tumpah ruah dan gaduh kini sudah sepi, menyisakan beberapa kedai saja, itu pun mereka sudah bersiap untuk menggulung dagangan mereka. Beberapa siluman berjalan di sampingnya, satu siluman mengumpat karena uang mereka habis digunakan untuk taruhan dan temannya yang lain mentertawakan siluman yang sibuk mengacak-acak rambutnya. Pada intinya pasar sudah hampir bubar. Dan selama itu pula Gendis tertidur pulas. “Jadi tadi aku mimpi?” Ia bergumam sangat pelan. Mencoba kembali mengingat mimpinya. Masuk ke dalam gua bersama Gendala. Menemani penyihir yang kesepian dan sedikit melakukan permainan lalu berakhir dengan dirinya yang keluar dari gua lalu terbangun. Ini aneh. Pasalnya Gendis bukan tipe manusia yang pelor (nempel molor). Oke, suasana di pasar ini memang sangat dingin untuk kulit tubuh manusia sepertinya. Tapi jika dingin adalah acuannya, tentu saat ia memperkecil volume pendingin udara di kamarnya ia tak akan beberapa kali mengalami insomnia. Atau kalau ini efek dari kelelahan, rasanya tidurnya sudah cukup. Terlalu mendadak untuk ukuran manusia yang kelelahan. Tidurnya mirip seperti dihipnotis. Tanpa tedeng aling-aling dia tertidur lalu masuk ke dunia mimpi, mengabaikan riuh yang seharusnya tak membuat gendang telinganya nyaman. Walau bagaimanapun Gendis tak memiliki tidur di tengah kegaduhan. “Aku sedang berbicara kepadamu. Tapi ternyata kamu ketiduran.” Gendala protes. “Maaf.” Gendis mencoba melihat ke sana ke mari. “Berapa lama aku tidur?” “Entah, kami tak peduli dengan waktu. Tak ada gunanya. Kamu bergerak tanpa henti setiap saat. Menurutmu apa kami butuh untuk menghitung waktu?” jelasnya. Gendis mengangkat bahu. Tapi kemudian dia ingat sesuatu. “Apa kamu yakin nggak tidur sama sekali?” “Jangan menyangsikan kami para siluman, Nyai. Apa kamu mau melakukan sayembara sama kaum kami?” Wajah Gendala tidak sedang bercanda atau pun membual. Ia begitu yakin akan apa yang dia ungkapkan. “Tapi, Sanjaya tidur,” gumamnya. Gumaman itu terdengar ke telinga Gendala. Ia terpaku sejenak. Mencoba menerka apa yang dia dengar dalam samar benar adanya atau memang dirinya yang salah tangkap. Sehingga lelaki itu memilih mengabaikannya. Tidak mungkin Sanjaya tidur, pikirnya. “Baiklah, ayo kita pulang.” Gendala sudah lebih dulu bangun. Ia meringis ketika pemilik Kedang memasang wajah tak nyaman akibat dirinya dan Gendis yang duduk terlalu lama. Gendis menurut. Ia turut bangun dan melangkah pergi meninggalkan pasar yang setengahnya sudah bubar. “Gendala,” panggil Gendis. “Hm?” “Kenapa pasar itu berpindah-pindah. Maksudnya, kemarin ada di dekat gubuk. Sekarang ada di sebelah utara hutan,” tanya gendis. Sebenarnya beban pikiran gendis berjejal. Sampai-sampai beberapa kali ia harus tersandung oleh beberapa akar yang menghalangi jalannya. Jadi seharunya ini jadi kesempatan emas untuk mendapatkan banyak informasi tentang tempat ini. Sanjaya tak memberinya banyak informasi. Dibanding Sanjaya, rasanya Gendala lebih terlihat tidak begitu serius. Seharusnya tak sulit mendapatkan jawaban atas pertanyaannya pada lelaki di sampingnya itu. “Namanya juga pasar berjalan. Mereka melakukan perpindahan ke mana saja, kapan saja. Terserah mereka mau ke mana. Kita sebagai konsumen hanya datang berdasarkan suara undangan dari suara gamelan tadi.” Gendis menganggukkan kepalanya. Akhirnya ia sekarang mengerti kenapa sekelompok siluman seniman itu tak luput dari keberadaan pasar itu. Rupanya berbeda dengan kondisi pengamen di dunia manusia. Di dunia siluman pemusik tak melakukannya untuk yang. Pertunjukan sudah seperti paket dalam sebuah pasar. Sepanjang perjalanan Gendis melewati banyak pohon besar. Ada satu pohon beringin yang membuat ia teringat pada pohon berbicara. “Apa semua pohon di sini bisa berbicara?” tanya Gendis. “Kamu pernah bertemu pohon bicara?” Gendis mengangguk “Mereka seperti siput. Jika ada siluman yang lain mereka menyembunyikan diri. Tapi mendengar mereka menyapa manusia. Ini cukup menarik.” Untuk ke sekian kalinya Gendis mengangguk. “Gendala.” Gundahnya belum usai. “Ya.” “Apa semua siluman di sini baik seperti Sanjaya dan kalian?” Secara tiba-tiba Gendala menghentikan langkahnya. Tubuhnya berbalik menghadap Gendis. Gendis yang merasa salah bicara kemudian ikut memberhentikan tungkainya. “Nyai, apa manusia sepolos dirimu? Kenapa kamu bertanya yang jawabannya ada di kaummu sendiri. Jika manusia bisa memiliki dua sisi, maka begitu pun kami. Apa yang kamu lihat tidak selamanya benar. Mereka yang di pasar tadi, mungkin tak menerkammu akibat bau dari baju Nyimas yang kamu pakai. Tapi jangan salah paham, andai pakaianmu bukan itu, aku nggak jamin kamu akan hidup sampai saat ini.” Pernyataan Gendala jelas salah. Bukan bagian bagaimana kaum siluman tidak menerkamnya akibat bau. Pasalnya, sebelum dia menggunakan pakaian Nyimas, Gendis sudah lebih dulu membelah kerumunan pasar. “Mereka tidak menerkam waktu pertama kali aku masuk ke dimensi ini.” Gendala menyunggingkan senyumnya. Kedua tangannya dimasukkan di dalam saku baju pantai berwarna putih lalu kembali melangkahkan kaki, meninggalkan Gendis. Gendis mengikuti Gendala segera. Menyamakan pergerakan mereka hingga mereka berjalan beriringan. “Karena kamu santapan Warsana. Mereka nggak mau mati konyol cuma karena mengambil santapan Warsana.” “Sehebat apa Warsana?” “Dia nggak hebat. Tapi semua tunduk patuh padanya hanya karena nyawa kami bisa dia renggut dengan sekejap saja.” Perbincangan terus bergulir sampai tidak terasa mereka sudah sampai di depan gubuk. Di depan sana, Sanjaya baru saja menyimpan sebuah kelinci yang diikat. Gendis melihat lelaki itu tampak terkejut dengan kehadirannya bersama gendala. Tak lama Sanjaya bangun dari posisinya setelah menyimpan mangsanya. Alis Gendis berkerut. Mungkinkah itu makanan Sanjaya? Seekor kelinci. Dirinya khawatir jikalau Sanjaya melakukan aksi debus di depannya. Sanjaya memang tidak melukai dirinya. Tapi bukan artinya dia bisa tampak biasa saja kala melihat sesuatu terjadi di luar nalar manusia. Sanjaya berjalan mendekat. Ia menatap Gendala setengah merekahkan senyumnya. “Kupikir kau ada di gubuk. Tapi aku malah bertemu sama Nyai Gendis. Jadi aku membawanya ke pasar berjalan.” Gendala bersuara lebih dulu. “Tidak masalah. Kau tak perlu meminta izin atau apa pun itu. Dia hanya orang lain.” Sepasang manik mata yang akhir-akhir ini Gendis kagumi meliriknya sekilas. Dan sialnya lirikan itu kembali memberikan setruman kecil di dadanya. “Jadi karena aku sudah mengantarkannya. Aku pamit undur diri,” ucapnya sopan. Sanjaya tak mengatakan apa pun sampai akhirnya Gendala membalikkan diri, berjalan menjauh. Lalu seperti biasa, sebuah cahaya putih menyedot dirinya masuk dan menghilang. *** Selepas kepergian Gendala. Gendis dan Sanjaya diserang hening. Sanjaya lebih memilih fokus pada daging kelinci yang ia gulingkan di atas api kecil. Sedangkan Gendis sendiri sibuk dengan pikirannya sendiri. Gendis merasa suasana mereka mendadak canggung. Ke teridaman Sanjaya, terasa aneh untuknya. Sanjaya memang bukan tipe lelaki yang hangat, tapi antahlah, rasanya tetap saja aneh. Dan segumpal perasaan bersalah menggelayutinya. Gendis semula berpikir jika kelinci itu akan dimakan dengan cara paling tidak manusiawi, nyatanya Sanjaya tidak melakukan itu. Ia justru memanggangnya. Gendis berdehem. Berusaha memecah keheningan. “Kamu makan daging kelinci?” tanya Gendis basa-basi. Sanjaya tak menjawab. Ia mengangkat daging kelinci panggang tersebut, menyimpannya pada sehelai daun pisang lalu memberikannya pada Gendis. Membuat gendis terpaku sejenak. “Untukku?” Mulutnya belum terkatup seraya menunjuk dirinya sendiri. “Tidak mau?” Alis Sanjaya terangkat satu. “Tidak masalah, bisa untuk kumakan.” “Ah nggak...” Gendis segera merebut daging itu dari tangan Sanjaya yang hampir menarik kembali pemberiannya. “Aku makan.” Tangannya mengacungkan daging saat daging itu sudah berpindah tangan. Sanjaya melihat bagaimana Gendis memakan santapannya dengan lahap. Cara makan gadis itu sungguh menyedihkan, dia seperti tak makan sudah beberapa hari sampai menandaskan semua daging. Tanpa Gendis ketahui, Sanjaya menarik sedikit ujung bibirnya. Namun senyumnya menyusut ketika tak sengaja melihat Gendis menitikkan air mata. Bukan hanya menitikkan air mata, tangan Gendis yang sedang memegang sisaan tulang bergetar. Bagaimana seharusnya siluman lelaki memperlakukan anak manusia yang sedang bersedih. Tapi nalurinya mengatakan bahwa dia harus merengkuh gadis malang itu. Geraknya terbata, begitu tangan lebarnya menangkup tubuh mungil itu. Tapi saat Gendis sendiri memilih membalas rengkuhannya dan menyembunyikan wajahnya yang sudah basah di d**a Sanjaya, Sanjaya kemudian menambah pelukannya menjadi lebih erat. Tak lepas sebuah tepukan halus di punggung Gendis, Sanjaya berikan. Berharap bisa menenangkan kegundahan wanita itu. “Aku kangen,” Isaknya dalam pelukan Sanjaya. Sanjaya tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya yang terjadi hanya keheningan di tengah-tengah senguk tangis Gendis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN