Suasana bising dengan manusia tumpah ruang di mana-mana. Ya, manusia andai Gendis tak mengetahui faktanya. Sayangnya dirinya mengetahui akan kondisi yang sebenarnya. Bahwa mereka hanya sekelompok siluman yang sedang melakukan aktivitas manusia.
Ada yang berbelanja lalu tak luput tawar menawarnya. Ada yang menikmati santapan di sisi-sisi tenda sebelah selatan. Dan seperti yang Gendis lihat kemarin, ada pula yang melakukan sabung ular. Terdengar aneh, tapi faktanya mereka memang melakukan.
Atmosfernya, Gendis sudah mulai Mengenalnya, hawa dingin seperti biasanya. Semakin banyak siluman dinginnya semakin menggigit.
Tangan Gendis menyelusup masuk ke dalam kain yang Gendala berikan sebelumnya.
“Bagaimana?” tanya Gendala. Gendis tak menjawab, matanya masih sibuk mengamati semua aktivitas yang terangkum di Indra penglihatannya.
“Kamu masih syok?” Gendala kembali melemparkan tanya. Tangannya memegang bahu Gendis sehingga langkah wanita itu ikut terhenti.
“Hah kenapa?” Gendis menoleh pada Sanjaya.
“Kamu masih syok sama aku yang tadi ngagetin kamu?”
Gendis menggelengkan kepala. “Nggak! Aku udah nggak kaget. Udah nggak usah dipikirin, itung-itung senam jantung.”
“Baguslah.”
Dua pasang kaki itu kembali menyusur membelah lautan siluman. Sayup-sayup suara gamelan Sunda terdengar di ujung timur.
“Semakin dingin ya.” Telapak tangannya di angkat lalu ditiupnya Angin di mulut pada telapak tangan itu. Berharap sedikit mengurangi rasa dingin.
“Artinya kami makin banyak di tempat ini.”
“Apa nggak ada yang curiga sama aku?” tanya Gendis. Ia kembali menghentikan langkahnya. Gendis baru menyadari jika semakin banyak bukankah akan semakin bahaya untuknya.
“Harusnya itu yang kamu tanyakan pada dirimu sendiri saat kemarin ke tempat ini sendiri.”
“Kemarin aku lapar tau!” belanya.
“Berbicara tentang lapar, aku sedang merasakannya. Bagaimana kalau kita makan dulu. Ada kedai terlezat di pasar ini.” Tak membutuhkan izin darinya, Gendala meraih tangan Gendis agar mengikuti langkahnya.
Mereka sampai di kedai dengan atap saung dari janur kuning kelapa. Di ke empat pilarnya masing-masing terdapat pisang yang sengaja digantung. Pemandangan itu mengingatkan Gendis situasi pernikahan di kampung-kampung. Terlebih suara gamelan menambah hikmat suasana.
Tapi tak lantas membuat Gendis melupakan makanan apa yang tersaji di kedai-kedai yang ada di pasar ini. Tapi tak masalah, selama wujud aslinya tak ia lihat.
“kamu mau makan apa? Biar aku yang bayar.” Dua alisnya bergerak naik turun. Begitu bangganya Gendala bisa mentraktir anak manusia.
“Sayangnya aku sudah tau makanan apa yang ada di sini.” Alis gendis mengikuti gerakan serupa dengan Gendala.
Bahu Gendala merosot. Bibirnya maju. Mungkin maksudnya agar terlihat imut, tapi yang ada Gendis malah melihatnya amit-amit.
“Padahal ini makanan terenak.”
“Untuk kalian, tapi nggak buat aku,” timpal Gendis.
“Ck. Kamu nggak asik.”
Pikiran Gendis tergelitik untuk menanyakan banyak hal yang Belum dia ketahui.
Kedua tangannya menopang dagu, tubuhnya sedikit mencondong maju. “Ada banyak hal yang pengen aku tau.”
“Kamu percaya sama aku, hm?” Gendala memasuki daging yang ditusuk dilumuri saus hitam dengan nikmat. Sampai-sampai begitu daging panggang itu masuk, lelaki tersebut sampai memejamkan matanya.
“Itu,” telunjuknya menunjuk pada sate milik Gendala. “Kenapa aku melihat itu nikmat sekali.”
Gendala tergelak. “Kau mau?” Ia menyerahkan satu tusuk sate yang jelas Gendis tolak.
“Nggak,” tanganya mengibas. “Aku cuma penasaran kenapa aku melihat itu sebagai makanan normal. Maksudnya, am maaf. Kamu tau, itu tidak seperti yang aku lihat tadi pagi. Makanan yang sudah terbuang di depan gubuk.” Gendis menghela napas sebelum akhirnya dia melanjutkan kembali ucapannya, “Kamu nggak harus bilang karena makanannya sudah busuk atau itu bukan makanan yang sama dengan makanan yang aku beli. Aku masih ingat bungkusnya. Ya, meski isinya jelas berbeda.” Gendis tak bisa menjelaskan apa yang dia lihat. Yang pasti itu membuat ia ingin memuntahkan semua isi perutnya. Pun semisal apa yang Gendala makan saat itu juga sama hal penampakanny dengan makanan yang dilihat pagi tadi mungkin ia juga akan muntah saat ini juga. Tapi tetap saja semua itu menggelitik akal sehatnya. Bagaimana jika memang makanan itu sama dengan makanannya kemarin? Artinya apa yang dia lihat tak sama dengan kenyataannya.
“Kamu sedang ada di dunia siluman. Apa yang kamu lihat terlihat seperti selazimnya yang ada di duniamu.”
“Lalu kenapa aku bisa lihat hal yang berbeda sama makanan tadi pagi”
“Energi dunia siluman dan duniamu masih saling tarik menarik.” Begitulah penjelasan singkat Gendala yang sama sekali tak memuaskan untuknya.
Gendis menghela napas berat. Tapi alih-alih menghentikan investigasi, dirinya kembali mengeluarkan sebuah pertanyaan.
“Satu lagi. Kenapa bahasamu tak kaku seperti mereka?”
“Maksudmu Sanjaya dan Nyimas?” tebak Gendala seraya di mulutnya tak henti mengunyah sate.
Gendala tak langsung menjawabnya. Ia memilih untuk cepat-cepat menghabiskan susukan terakhirnya. Kemudian menegak air putih lalu duduk tegap, wajahnya berubah serius.
“Kamu tau para siluman itu belajar dari manusia?”
Gendis menggeleng.
“Ya. Kami belajar dari kaum dirimu. Sejak tahun Masehi kami sudah ada, dan belajar dari literatur budaya kerajaan kuno. Jadi kamu lihat mereka.” Telunjuk Gendis menunjuk ke segerombolan orang yang sedang berjalan hilir mudik. Gendis mengikuti arah pandang Gendala.
“Pakaian kami mengadopsi dari pakaian kerajaan kuno,” jelasnya.”Begitupun dengan bahasa, gaya berbicara kami.”
Untuk satu itu Gendis mengerti. Belajar sebagai mahasiswa fakultas sejarah membuatnya banyak belajar tentang masa-masa sejarah
Tapi masalahnya dia bukan sedang berada di beberapa Masehi terdahulu. Dia berada di masa sekarang yang notabene kehidupannya menggunakan budaya zaman dulu. Jika begini mungkinkah ilmu yang dia miliki bisa membantu dirinya?
“Lalu kamu. Bagaimana gaya bahasa kamu bisa berbeda?”
“karena aku siluman yang dinamis. Aku belajar banyak hal. Bahasamu? Ah sudah biasa. Aku sudah biasa gaul sama anak-anak manusia yang indigo. Jadi ketika lihat kamu aku nggak kaget.”
“Kamu belajar belajar Korea dari para indigo?”
“Tidak. Mereka tidak mengajariku. Aku belajar sendiri. Diam-diam aku ikut mereka nonton drakor.”
Gendis ber- oh panjang. Akhirnya sekarang dia tahu dari mana Gendala mendapatkan bahasa-bahasa gahol.
Sesaat setelah dia ber-oh panjang. Tiba-tiba dia tersentak oleh apa yang tadi Gendala ucapkan.
Indigo?
“Kamu suka komunikasi sama Indigo? Bisa nggak bantuin aku?”
Tidak ada jawaban. Gendala memilih bangun dari duduknya kemudian malah mengajak Gendis meneruskan perjalanannya menyusuri riuhnya pasar. Kening Gendis berkerut.
“Kamu tau, ada yang lebih menarik di pasar ini.” Jelas dia sedang mengalihkan pembicaraan.
“Apa itu?”
Tangan Gendis ditarik oleh Sanjaya menuju sebuah tempat. Di sebelah timur tepat di sampingnya anggota seni gamelan terdengar ada sebuah gua batu kecil. Sanjaya membawanya ke dalam
Suasananya gelap, sangat gelap. Gendis mengeratkan pegangan pada pergelangan tangan Gendala. Jika dibandingkan dengan hawa dingin di dalam pasar, di dalam hutan ini justru terasa lebih hangat. Tapi tak lantas membuat degup jantung Gendis lebih baik.
Gendala dan Sanjaya terus berjalan. Mata gendis tak hentinya mengawasi. Terdapat banyak tengkorak yang sengaja digantung di dinding gua. Seketika tubuh Gendis meremang. Tengkorak itu jelas merupakan tengkorak manusia.
Otaknya kemudian sadar. Bagaimana jika Gendala sengaja membawanya ke tempatku ini hanya untuk menjadikannya berakhir seperti para tengkorak itu. Pegangan tangan Gendis mendadak mengendur. Ia bersiap menarik diri dari dalam gua. Walau bagaimana pun Gendis sadar Gendala bukanlah Sanjaya.
Kebodohan ke sekian kalinya yakni percaya akan ajaknya ke pasar berjalan ini juga masuk ke dalam gua ini.
Menyadari pegangan tangan Gendis mengendur, Sanjaya lekas menahan bahu Gendis dari belakang kontan membuat keringat Gendis mengucur dingin di atas pelipis. Tangannya gemetar seolah sentuhan Gendala merupakan bahaya untuknya.
“Kamu nggak akan keluar dari tempat ini sebelum kamu bertemu sama seseorang?” Suaranya Gendala menggema. Membuat suasana semakin menenggangkan. Bau-bau kemenyan berhasil menyusup di indra penciuman.
Seseorang?
Kenapa harus menggunakan kalimat seseorang sedangkan semua penghuni di hutan ini merupakan siluman.
Rasa penasaran membuat Gendis kembali membalikkan badannya.
“Sekali pun kamu keluar. Kamu tak akan berhasil. Kau tau di atas sana.” Dagu Sanjaya mengarah pada satu tengkorak tepat di depan wajahnya. “Itu karena dia pergi sebelum pemilih gua ini selesai bermain. Tentunya kamu nggak akan mau berakhir seperti itu bukan?” Samar bulan sabit terlihat di bibir Gendala di tengah cahaya temaram gua.
Sanjaya menggiring Gendis semakin masuk hingga ke ujung sana. Tak menghiraukan ketakutan wanita itu. Gendis sendiri tak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti lebih lanjut permainan yang Gendala ucapkan.
Kalau mata gendis tak bermasalah, di ujung sana seorang wanita menggunakan pakaian gaun berwarna hitam dengan ratusan Payet berwarna silver sedang duduk tepekur memandangi bola ajaib di atas mejanya.
Tak kala ia mendengar suara derap mendekat ia mendongak, tampak wajahnya berubah semringah. Gegas ia berdiri, memperlihatkan bagaimana menjuntai ya gaun hitam itu. Rambutnya di sanggul Bun semakin memperlihatkan elegan gaya wanita itu. Sangat kontrak dengan gua tempatnya berada.
Wanita itu menghampiri Gendis dan Gendala lalu mengulurkan tangannya tak lepas senyum merekah membuat ukuran tangannya terlihat hangat.
“Selamat datang. Akhirnya kamu membawa seorang anak manusia, Gendala.” Tangan itu terulur kepada Gendala.
Pikiran jelek terus berkecamuk.
Akhirnya membawa anak manusia?
Gendala.
Seolah Gendala sering membawa anak manusia.