“Apa kita beneran harus kaya gini?” Gendis bangun saat Sanjaya secara tiba-tiba ikut merebahkan diri di sampingnya.
Bale-bale itu tak bisa dibilang kecil, tapi bukan berarti leluasa untuk ukuran dua orang.
“Seharusnya aku yang harus bilang seperti itu. Haruskah kamu tidur di tempat tidurku?”
“Dari kemarin aku tidur di sini. Ingat?!” Telunjuk Gendis naik ke atas. Memperingati.
Sanjaya berdecih. “Justru karena dari kemarin kamu sudah memboikot tempat tidurku, seharusnya kamu harus tahu diri.” Sanjaya meluruskan kakinya yang sempat terjeda karena Gendis yang secara tiba-tiba memekik. “Sekarang pilih, mau tidur di sini atau pergi dari sini. Seharusnya kamu lebih tahu diri atas siapa tuan rumah di sini.”
Tidak mungkin, kan Gendis tidur berdua dengan laki-laki? Baiklah, meski notabenenya Sanjaya itu siluman, tapi bukan berarti menjadi pembenaran seorang dengan gender perempuan tidur bersama dengan sesiluman lelaki. Lagi pun, Gendis tak bisa menjamin jikalau Sanjaya tak memiliki alat reproduksi laki-laki selayaknya manusia. Ini jelas bahaya untuknya!
Dirinya menoleh ke segala arah, mencari tempat yang kiranya bisa menjadi alas tidurnya dibanding berada satu dalam satu bale-bale dengan Sanjaya.
Namun sialnya yang Gendis temukan hanya tanah lembap yang sebagiannya telah ditumbuhi rumput liar.
Gendis meringis. Tak mungkin, kan dia harus tidur di atas rumput yang ia diperkirakan basah, itu? Gendis tak lupa jika semalam hujan deras, sudah pasti berdampak pada benda-benda di atas gubuk yang hanya berdindingkah bilik anyaman ini. Dan rumput itu jelas tak akan luput.
“Pergilah. Gerakanmu mengganggu ketenteramanku.” Gendis terpaksa menoleh ke sumber suara. Menatapnya dengan tatapan permusuhan.
“Apa laki-laki di sini punya toxic masculinity?” hardik gendis.
Alis Sanjaya bertaut. Mana paham dirinya dengan bahasa-bahasa ilmiah semacam itu.
“Apa itu?”
Gendis memutar matanya malas. “Udahlah. Lupain.” Tangannya mengibas-ibas di udara.
Sanjaya juga tampak tak peduli. Tak ada perdebatan agar Gendis menjelaskan lebih lanjut. Lelaki itu memilih memindahkan tangannya ke bawa kepala, menjadikannya sebagai bantalan.
“Jadi kita harus gimana? Masa bobo berdua si?” Sepasang mata indahnya melihat ke langit-langit gubuk. Otaknya berpikir keras untuk bagaimana caranya agar mereka tidur terpisah tanpa dia harus tidur di tempat yang tak layak. Berbicara layak tak layak, ia kira bale-bale pun tak bisa dia kategorikan sebagai layak.
Lagi pun bukannya beberapa malam ini Gendis rasa ia tidur sendirian. Gendis tak tahu Sanjaya tidur di mana. Lalu kenapa kini secara tiba-tiba lelaki itu datang malam ini seolah Gendis adalah pelaku kenapa dirinya tidur di luar selama ini?
Namun tunggu! Mata Gendis melebar. Ia tak percaya terhadap ingatannya yang sungguh luar biasa ini.
“Siluman tak butuh tidur!” sergahnya. “Jadi jangan cari alasan ya buat kamu punya kesempatan tidur sama aku.”
Sepasang mata Sanjaya mendelik. Tak percaya pada kepercayaan Gendis yang terlalu tinggi.
“Aku denger malam itu temanmu bilang kaum kalian tak butuh tidur. Ingatanku enggak lemah ya!”
Itu berlaku untuk Nyimas, Gendala serta seluruh makhluk siluman original lainnya. Tapi tidak untuk Sanjaya. Jangan lupakan bahwa Sanjaya tidak sepenuhnya siluman. Sebagian jiwa manusianya membutuhkan tidur meski tak senormal tidur manusia pada umumnya.
“Terserah.” Sanjaya enggan menjelaskan. Lebih tepatnya tak ingin menjelaskan. “Pilihanmu hanya ada dua. Tidur di sini atau silakan keluar,” tegasnya.
Perasaan Gendis gundah gulana. Mendadak tubuhnya menjadi bersuhu panas. Pikirannya berperang riuh.
Seumur hidupnya ia tak pernah tidur bersama laki-laki. Tapi di sisi lain dia tak mungkin tidur di atas tanah tanpa alas.
Terpaksa Gendis mengambil keputusan merebahkan tubuhnya di samping Gendis. Mereka berbaring bersampingan dengan tatapan yang sama-sama ke atas langit-langit.
Ada doa yang kencang Gendis sematkan di dalam batinnya ketimbang meredamkan riuh di otaknya, yakni semoga Sanjaya tak mendengar detak jantungnya.
Gendis memaksa dirinya untuk memejamkan mata, meski rasanya terlalu sulit, terlebih saat tak sengaja kulit tangannya bersentuhan dengan biseps berotot milik Sanjaya.
Ia semakin diserang panik akan hal itu. Dan celakanya hal itu membuat gadis berkebaya navy tersebut semakin tidak bisa mengontrol degup jantungnya. Ini benar-benar perasaan yang aneh untuknya. Namun anehnya, Gendis menikmati akan hal itu.
“Ka—kamu udah biasa kaya gini?” tanyanya dengan suara bercicit karena napasnya tersengal akibat pompaan darah normal.
“Maksudmu?”
“Tidur bareng sama wanita.”
Wajah Sanjaya kontan menoleh padanya. Membuat pergerakan yang sama pula atas dirinya. Tatapan mereka bertemu. Gendis merasakan Saliva terasa kering di tenggorokan.
Jangan salahkan dirinya. Salahkan mata Sanjaya yang begitu menghipnotis dirinya. Dan... salahkan senyum pria itu yang membius tubuhnya menjadi sekaku kayu.
“Kenapa? Ini kali pertama kau melakukannya?” Sanjaya balik bertanya.
Sekuat tenaga Gendis menggelengkan kepala. Lalu membuang wajahnya ke sembarang arah. Ke mana saja, asal jangan tetap bertatapan dengan manik indah itu.
Galengan kepala Gendis diartikan berbeda oleh Sanjaya.
“Begitu? Kau sering tidur dengan lelaki lain?”
“Hah? Kapan aku bilang gitu?”
“Kepalamu menggeleng.”
“Itu bukan jawaban.”
“Lantas?”
“Lupain,” kembali Gendis mengibaskan tangannya ke udara. “Ini udah nggk benar,” gumamnya.
“Jadi, bisakah kita tidur dengan tenang?” pinta Sanjaya.
“Tentu.” Jawab Gendis singkat. Kemudian ia memilih memunggungi Sanjaya dari pada harus kecolongan jika wajah Gendis sekarang sudah bersemu merah.
***
Suara burung berkicau, Juga sinar matahari yang mengintip di sela-sela bilik membuat sepasang mata Gendis terpaksa membuka meski kantuk masih menggelayuti.
Ia terbangun. Tubuhnya terasa remuk. Malah ke empat dengan tidur beralaskan bale yang berasal dari susunan bambu, jauh sekali dari kata nyaman belum lagi dirinya yang meringkuk memojok untuk meminimalisir pergerakan agar tak menyentuh kembali seseorang di belakangnya.
Namun ketika ia membuka mata tak ada Sanjaya di sampingnya, juga posisi dia yang mendominasi seluruh bale-bale.
Seperti biasa. Sanjaya menghilang!
Tak ambil pusing. Pun gadis itu sudah terbiasa akan hal itu. Sanjaya akan menghilang pagi hari dan kembali pada siang hari. Gendis sendiri tak pengangguran bertanya ke mana siluman pria tersebut.
Gendis pun berniat melihat pemandangan ke sekelilingnya. Saat ia membuka pintu, sejenak dirinya tertegun akan kondisi sawah di depannya.
Banyak sekali petani yang sedang menggarap sawah mereka. Hal itu membuat Gendis bersorak gembira. Akhirnya ia bisa meminta tolong dan bebas.
Namun niatannya sirna seketika saat ia mengingat kembali sepenggal ucapan Sanjaya bahwa mereka tak bisa melihat Gendis.
Meski begitu tak ada salahnya mencoba. Gendis tetap melangkahkan kakinya menuju pesawahan. Susah payah dia melewati jalan setapak pembatas sawah, beberapa kali melewati pohon pisang yang menghalangi jalannya lalu ia sampai di depan petani terdekat dengan keberadaan dia sebelumnya.
Pertama-tama Gendis mengucapkan salam tapi tak ada jawaban. Petani itu acuh, seolah tak ada siapa-siapa di sampingnya.
Percobaan kedua ia memegang bahu petani itu. Tapi lagi, tak ada reaksi apa pun dari petani tersebut selain bulu kuduknya yang secara tiba-tiba berdiri.
Wajah gadis itu kembali merenggut masam. Benar-benar takdir tak memberinya jalan pulang untuk saat ini. Membuat dia hanya bisa bergantung pada Sanjaya. Menunggu janji Sanjaya akan malam bulan purnama yang dia janjikan.
Gendis kembali dengan langkah lunglai. Wajahnya terus menunduk ke bawah sampai pada akhirnya dia menemukan satu bungkusnya yang dia kenal.
Setengah bungkusan itu sudah terbuka menampilkan penampilan yang berhasil mengocok perutnya.
Gendis berlari menjauhi bungkusnya itu seraya terus memegang perutnya yang tak hentinya berusaha mengocok isi dalam lambung.
Ini kah alasan Sanjaya membuang makanannya kemarin?
Napas Gendis terengah begitu sampai di depan gubuk. Jika benar apa yang dilihatnya tadi bukan ilusi artinya pasar kemarin itu bukan pasar sembarangan
Oke, dia tahu jika pasar itu bukan pasar normal, tapi setidaknya dia tidak berpikir bahwa semua yang dia lihat di saat itu memanipulasi matanya.
Gerak tangan seseorang menepuk bahunya. Membuat Gendis melonjak kaget.