Yuk Bangun, Yuk.

1797 Kata
Berakhir sudah penderitaannya, Gendis gegas menyimpan mangkuk kosong. Sepasang manik sayu itu memandang balik Sanjaya. Ia menurunkan kaki dari atas perebahan, menjuntaikan di atas bale-bale. Kedua tangannya berada di samping memegang sisi anyaman bale. Gendis menarik napas lalu berkata “Jadi kita mulai dari mana?” Sanjaya berdecak lalu memilih mengabaikan gadis itu dan kemudian ia membuang wajahnya pada cerutu di tangannya. “Jadi kamu pengen kasih tau aku kalau kamu perokok berat?” tanya gendis, matanya mengarah pada cerutu yang diapit oleh telunjuk serta jari tengah Sanjaya. Sanjaya semakin terkekeh mengejek, “Kau terlalu percaya diri seolah apa yang aku lakukan salah sebagai cara aku mengenalkan dirimu padamu. Tidak, Nyai. Kau terlalu percaya diri.” “Kalau di manusia zaman gahol sekarang istilah terlalu percaya diri itu namanya kepedean,” jelasnya. “Aku tak peduli!” “Tapi sayangnya kamu harus peduli. Karena ke depannya aku mau pake bahasa manusia. Tau nggak si? Ngomong bahasa kaku kaya gini nggak asyik banget. Kamu harus belajar bahasa gahol biar kamu punya hidup yang lebih berwarna,” tuturnya. “Dan supaya muka kalian nggk cepet tua karen terlalu serius,” tambahnya dalam hati. “Hentikan pembicaraan omong kosongmu “ tegas Sanjaya. Gendis memajukan bibirnya. “Oke, tapi aku serius, bagaimana kalau kita saling kenal terlebih dahulu.” “Untuk apa?” Gendis turun dan melangkah menuju Sanjaya. Ia berdiri di samping Sanjaya. “Sudah kubilang, untuk bisa mendengar sebuah perintah, manusia perlu untuk percaya terlebih dahulu. Kami namai ini simbiosis mutualisme.” “Mundur!” titahnya, Sanjaya tak nyaman atas keberadaan Gendis yang begitu dekat. “Aku tidak akan menggigitmu.” “Aku yang akan melakukannya.” “Kaya kemarin? Aku Cuma ngerasain deru napas kamu. Bukan gigitan.” “Kau menantang?” “Silakan. Aku pengen tahu apakah setelah ini aku bakal mati atau tidak.” “Aku tak suka ditantang.” “Lakukan saja.” Gendis mendekatkan lehernya tepat di wajah Sanjaya. “Aku nggak akan gemetar kaya kemarin. Setidaknya aku sudah tahu makhluk seperti apa kau setelah ini.” Sanjaya bergeming. Ia hanya menatap kosong pada leher jenjang di hadapannya. Menyadari keterpaduan keduanya Gendis segera menarik diri. Ia menghela napas kasar lalu menjauhkan diri untuk kemudian mendaratkan pantatnya kembali di atas bale-bale. “Cerita sama aku. Makluk seperti apa kamu itu? Maksudku kamu tampan, aku sampai nggak bisa lihat kamu sebagai seorang siluman dari segi mana pun.” Sanjaya merasa tak perlu dan tak memiliki kewajiban untuk menjelaskan kepada Gendis. Ia berniat untuk beranjak dari tempatnya dari pada terus dipaksa untuk menyebutkan sesuatu yang haram ia sebutkan. Namun sebelum dirinya berhasil meloloskan diri, Gendis sudah terlebih dulu membuat keonaran. Gendis memecahkan kendi lalu pecahan itu ia gunakan untuk melukai dirinya hingga darah mengucur deras di salah satu jarinya. Gendis kembali mendekat, berjalan seraya mengajukan jari dengan tetes darah yang berjatuhan ke tanah. Ini adalah hal terbodoh yang ia lakukan. Gendis bisa saja mati karena telah menggoda seorang Sanjaya dengan darah. Membangunkan macam yang sedang tertidur. Serupa Raja Warsana yang menginginkan darah. Mungkin itu juga berlaku untuk Sanjaya. Namun semua ia lakukan hanya untuk membuat dirinya percaya bahwa Sanjaya tak akan pernah melukainya. Sehingga berapa kali pun Sanjaya berlagak seolah akan melukainya, ia tak akan lagi takut. Sanjaya mengerang marah. Ia mendekati Gendis. Ini lah ujung dari ketentuan hidup matinya seorang Gendis. Ketika ia berhasil menghidupkan kobaran api yang setengah mati Sanjaya padamkan. Sanjaya berubah beringas. Tangan kekar menangkup kasar rahang Gendis, membuat gadis itu mendongkah dan terpaksa menatap mata nyalang Sanjaya. Sanjaya mendorongnya hingga ke sudut bilik, membuat punggung Gendis menempel, merasakan dinginnya bilik anyaman bambu di belakangnya. Kilatan mata Sanjaya terpancar sesekali. Untuk kali pertama dia melihat bagaimana mata indah itu berwarna seperti kilat berwarna indah. Gendis takut? Sayangnya ia menikmati keindahan warna ungu yang dibalut dengan tatapan kemarahan. Gendis bergeming, menunggu apa lagi yang selanjutnya Sanjaya akan lakukan. Sampai akhirnya Taring Sanjaya keluar memenuhi mulutnya lalu terbuka dan ia perlihatkan nyata di depan Gendis. Gendis tetap bergeming. “Jangan takutin aku. Percuma aku udah nggak takut mati.” Kembali Gendis menantang. “Bagus, kalau begitu aku bisa leluasa membunuhmu.” Gemeretak taring terdengar semakin mengetat. Begitu pun cengkeraman di rahang Gendis semakin ketat terasa. Belum sempat taring itu benar-benar terealisasi menancap di lehernya. Sanjaya sudah lebih dulu melepasnya. Membuat Gendis merasakan perih bekas tekanan kuat di rahangnya. Gendis kira Sanjaya akan pergi begitu saja. Rupanya lelaki itu menarik paksa pergelangan Gendis, menyuruhnya untuk ikut langkahnya dengan spontan. Ia membawa Gendis untuk kembali duduk di atas bale-bale. Sanjaya menyobek sedikit dari ujung kain di atas meja. Dan itu berhasil membuat Gendis kembali bertanya. Sejak kapan kain itu ada di atas mejanya? Semua secara tiba-tiba bisa aja di gubuk ini ada tanpa ia ketahui keberadaannya sebelumnya. Namun, tunggu! Gendis seolah mengenal kain itu. Kain katun berwarna merah muda dengan gambar bunga lili. Motif kesukaannya. “Seperti milikku,” gumamanya. “Angkat jarimu!” perintah Sanjaya dengan nada bicara yang tak bersahabat. Bak kerbau di cocok hidungnya. Gendis mengikuti perintah Sanjaya tanpa sama sekali berniat mempertanyakan maksud dari perintahnya. Seraya menyerahkan jemarinya, tatapan dirinya tak lepas dari kain yang sebagian kecilnya sudah disobek. Sanjaya melingkarkan kain itu pada jari gendis yang berdarah setelah sebelumnya jari itu ditekan terlebih dahulu oleh jempol Sanjaya Tatapan Gendis dari jemarinya berganti pada Sanjaya. Lelaki itu masih menunduk membenarkan tali ikatan yang belum benar. Dilihat dari sudut mana pun, dia tak membual. Sanjaya memang tampan. Ini adalah kali kedua bagi Sanjaya memegang tangan seorang manusia. Ingatannya tak buruk untuk mengingat masa lalunya. Memorinya menampilkan dengan jelas bagaimana dulu dirinya melakukan hal yang sama. Namun bukan pada jemari melainkan pada bahu anak manusia. Kala itu untuk pertama kalinya Sanjaya ingin mengetahui bagaimana dunia manusia. Berbekal keistimewaannya yang bisa menembus hijab di antara dimensi dunia dan siluman, Sanjaya berhasil sampai di dunia manusia. Lebih tepatnya manusia berhasil melihatnya. Dan tentu saja tanpa sepengetahuan Satria juga istrinya. Saat itu untuk pertama kalinya pula manusia yang dia temukan adalah seorang anak perempuan berusia kurang lebih 5 tahun. Gadis itu naik ke pohon mangga dan berakhir jatuh lalu bahunya terluka terkena ranting kering. Goresannya menciptakan sebuah luka, membuat gadis itu memekik kesakitan. Sanjaya yang kala itu berusia 7 tahun lantas membantu anak malang tersebut. Dibantunya gadis itu menggunakan keistimewaannya. Jika laser merah milik Raja Warsana bisa membunuh manusia. Maka laser ungu yang keluar dari mata Sanjaya bisa membantu menyembuhkan luka. “Waw kekuatan kamu luar biasa. Gimana si caranya sembuhin lukaku? Pake itu.” Gadis itu menunjuk ke mata Sanjaya. “Kok bisa keluar ungu-ungu gitu?” Bibir gadis tersebut membentuk bulan sabit di bibirnya. Dan anehnya senyum tersebut terasa seperti hujan di tengah Padang Savana bagi Sanjaya. “Siapa namamu?” tanyanya. Gadis itu mengulurkan tangannya. Namun belum sempat Sanjaya menjawab. Suara menggelegar seseorang memanggil nama gadis itu. Samar, Sanjaya tak mendengar jelas siapa nama gadis itu karena setelahnya Sanjaya segera berlari kembali menarik diri dari dunia manusia. Sanjaya tak begitu siap bertemu manusia. Untuk memori itu, Sanjaya dewasa menyadari jika gadis pemilik mata indah itu adalah manusia pertama yang mampu menciptakan mimpi-mimpi indah untuk Sanjaya setelahnya. “Ini sudah cukup. “Secara tiba-tiba Gendis yang sedari tadi mengatupkan mulutnya membuka suara, membuat Sanjaya mendongakkan kepala lalu membuyarkan lamunannya. “Aku percaya kamu nggak akan nyakitin aku,” tambahnya. Tangan Sanjaya segera melepas jari Gendis. Ia tak menjawab dan memilih berdiri. Masih menampakkan wajah acuh sebelum akhirnya ia memilih keluar dari dari dalam sana. *** Suasana kamar tampak hening. Tak lagi ada teriakan di pagi hari. Ibunya pun tak bisa lagi mengacungkan sapu hanya agar wanita yang tertidur pulas di atas ranjang terbangun. Yang ada kini hanya ada tatapan kosong dari ibunda, menatap ke arah seorang gadis yang sudah berhari-hari tak bangunkan diri. Gadis itu hanya terbujur dengan penampakan d**a yang naik turun menandakan gadis itu masih bernafas. Tak ada lagi sup hangat kesukaannya karena kini diganti dengan selang infus untuk memenuhi nutrisinya. Decit terdengar pada daun pintu yang terbuka. Wanita mengenakan kacamata tebal melenggang masuk sambil menenteng bungkusan menggunakan plastik berwarna hitam. Vivi mengelus lembut punggung wanita yang kini terlihat tak lagi memiliki semangat. “Tante, makan dulu, ya. Ini aku bawain bubur. Tante suka kan bubur yang pake sambelnya banyak?” Tak ada sahutan apa pun. Membuat Vivi akhirnya menyimpan bungkusannya di atas nakas lalu menarik kursi untuk ia letakkan di samping wanita itu dan mendaratkan pantatnya di sana “Anak bodoh ini di tempat itu makan apa si, Vi? Sampai bisa kaya gini,” keluhnya. Matanya sayu. Masih tampak di kedua matanya bekas tangis yang membuat kedua kelopaknya bengkak. Vivi menarik tangan ibunya Gendis. “Tante yang sabar ya. Mungkin Gendis kecapean aja. Nanti juga bangun. Kata dokter kan nggak ada masalah. Kita juga udah cek lab, tapi ahsilnya semua baik.” “Justru itu. Kalau semua baik. Kenapa anak bodoh ini nggak bangun-bangun. Dia marah sama Tante karena setiap pagi Tante bangunin tidur dia?” tanyanya yang sebenarnya tak membutuhkan jawaban. Vivi menarik napasnya panjang. Dia sendiri tak tahu harus melakukan apa. Semenjak kepulangan mereka, memang banyak sekali keanehan yang terjadi. Namun begitu, Vivi hanya menganggap semua itu bukan hal yang perlu ia pikirkan sekalipun saat itu wajah Gendis seperti kebingungan. Dan saat ini Bibi merasa bersalah akibat abainya dirinya pada sahabatnya. Seharusnya saat itu dirinya bertanya lebih lanjut tentang hal apa yang dialami Gendis. Lalu di saat seperti ini, di saat Gendis tertidur dalam jangka yang tak tentu, rasa bersalah itu terus menggedor-gedor dirinya. “Tante makan ya. Vivi mohon. Udah gitu Tante istirahat. Biarin aku yang gantiin jagain Gendis, ya.” Pinta Vivi. Ibunya Gendis berdiri. Tak mengeluarkan sepatah kata apa pun. Ia keluar begitu saja begitu Vivi memaksanya membawa bubur yang ia bawa untuk ibunya Gendis makan. “Lo kenapa si Neng? Tidur lama banget. Bikin gue nambah stres aja tau nggak!” omel wanita berkaca mata itu. “Jangan gini si, Dis. Kalau Lo kaya gini yang bantuin tugas akhir gue siapa? Lo kan tau otak gue pas-pasan. Lo juga tau alasan gue ambil jurusan itu. Itu karena Lo. Lo ambil itu dan Lo tau gue sama Lo udah kaya kembar siam. Meski jurusan itu bukan jiwa gue, tapi ya mana mau gue ditinggal jauh sama Lo. Tuh gimana nggak cocwit coba gue.” Vivi meracau. Sejujurnya ia tak setenang itu. Matanya susah berembun. Tangannya meremas lembut tangan Gendis. “Cepet bangun ya, Neng. Jangan kaya gini ah. Aneh tau nggk. Males si boleh, tapi Lo over tau nggk?!” imbuhnya. “Kalau nanti sore Lo belum bangun awas aja, ya Lo. Gue cubit ginjal Lo.” Vivi tertawa sumbang diiringi tetasan air di pelupuk matanya. “Ah elah apa lagi ini?” tangannya mengusap matanya. “Gue udah kaya apa aja tau nggk ah, Dis. Yuk bangun yuk. Apa kaga pegel tuh leher Lo tiduran mulu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN