Bau masakan menguar membuat Gendis harus sedikit menguatkan otot Indra penciumannya. Pandangannya menyusur pada tubuhnya sendiri, ia mendapati tubuhnya terbaring dengan selimut merah berbahan satin. Lalu kemudian tatapannya beralih ke sebelah kiri. Terdapat alat masak yang disangga dua batu di sisi kanan kiri. Di bawahnya terdapat kayu yang sebagiannya sudah menjadi bara lalu menyisakan sedikit asap yang mengepul tak sampai memenuhi ruangan.
Seingat Gendis, baik di gubuk pertama ataupun gubuk yang ini, dia tidak menemukan satu pun alat masak. Gendis hanya melihat bale-bale, satu meja juga beberapa kendi untuk tempat air minum. Dan mungkin sebagai pembedanya, di sini ada sebuah kursi yang saat ini kursi itu dikenakan oleh Sanjaya sambil memegang sebuah mangkuk—dari batok kelapa yang sudah di buat halus hingga estetik untuk bisa dikatakan sebagai mangkuk— yang ia simpan di atas meja.
Pergerakan Gendis menyadarkan Sanjaya lalu membuat lelaki itu menoleh padanya. Sesaat pandangan mereka bertemu, Gendis tertegun untuk beberapa detik sebelum kemudian Sanjaya kembali mengalihkan pandangannya pada mangkuk di tangannya.
Kiranya mangkuk itu sudah tidak lagi mengeluarkan kepulan asap Sanjaya membawa mangkuk berisi bubur dengan beberapa potong daging untuk ia bawa menuju bale-bale pesakitan.
“Makanlah.” Sanjaya menyodorkan mangkuknya. “Kupastikan sudah dingin.”
Alis Gendis bertaut, tapi bibirnya masih bungkam. Pikirannya melayang sesaat pada waktu ia tak sadarkan diri. Sanjaya merebut paksa makanannya lalu sekarang ia memberi Gendis makanan. Apakah memang tujuannya ingin menyiksanya atau sebaliknya?
Sungguh pemikiran siluman tak dapat ia mengerti.
“Makan sendiri atau—” Mendadak tenggorokannya seperti dimasuki sesuatu. Rasa penyesalan tak sampai butuh beberapa menit karena hanya hitungan detik saja ia sudah menyadari atas kebodohannya yang satu ini. Namun masalahnya ia tak bisa lagi mengelak kala wajah Gendis mempertanyakan atas kelanjutan ucapannya. “Disuapi.” Sial! Ia geli pada tawarannya sendiri.
Tubuhnya masih terasa lemah, tapi tak mungkin Gendis menerima tawaran Sanjaya meski terdengar menarik. Sanjaya memiliki paras yang tampan dan pelukabel. Untuk ukuran Sanjaya yang bernilai di angka 8 ke atas seharusnya tak pantas tawaran emas macam itu ia abaikan, tapi ia sadar Sanjaya bukanlah manusia sehingga setampan apa pun laki-laki itu tak akan mengubah apa pun akan status lelaki itu.
Gendis menaikkan sedikit tubuhnya, duduk menyandar pada dinding bilik. “Aku makan sendiri aja.”
Dengan senang hati Sanjaya memberikannya. Lalu berlanjut dengan dirinya yang melangkah mundur, duduk di meja.
“Aku pikir kamu mau membunuhku. Dua kali dong gue di prank, ck,” celetuknya, suaranya terdengar parau dan putus asa. Tak membutuhkan jawaban dari Sanjaya, ucapannya hanya sebagai monolog. Ia memilih memandangi buburnya sambil sesekali menyesap bubur tersebut dibanding melihat ke arah Sanjaya.
Di sela-sela setelah menyesap bubur, Maya Gendis terpejam sejenak. Merasakan betapa hambarnya masakan di tangannya ini. Meski begitu tak bisa dikatakan buruk mengingat bubur itu berguna mengembalikan tenaganya.
“Kenapa?” tanya Sanjaya. Ia menyadari wajah tidak nyaman yang ada pada Gendis.
Mungkinkah ia melakukan hal yang sama seperti saat dia remaja. Memberikan makanan tak enak pada seorang manusia yang sempat ia sukai.
“Di dimensi siluman nggak ada micin y?” tanyanya yang tentu saja hanya dalam hatinya. Gendis tahu membahas micin hanya akan membuat Sanjaya bertanya tentang zat penyedap itu dan berakhir dengan dirinya yang menjadi ahli dapur dadakan.
“Nggak kenapa-kenapa,” jawabnya berbohong sambil kembali menyesap bubur. Kali ini ia menyesap hampir ¼ isi bubur menandakan betapa ingin selesainya ia menghadapi penderitaan semangkuk bubur. Dan setelah tenaganya pulih, ia bisa memikirkan bagaimana caranya keluar dari dimensi siluman.
“Aku tadi ngelihat petani di tengah sawah sedang berjalan ke arahku. Sepertinya mereka mau nolong aku,” tuturnya. Wajah Gendis menengadah lalu menatap Sanjaya meminta jawaban.
“Dia tidak sedang membantumu,” jelasnya. Kemudian Sanjaya bangkit, kembali melangkah lalu duduk di samping Gendis.
“Maksudmu?”
“Petani tadi benar manusia.”
Semua manusia?
Mata Gendis terbelalak. Seperti ada angin segar. Segenggam harapan seperti menyemai ketika mendengar penuturan Sanjaya barusan.
“Tapi dia tidak bisa melihatmu,” imbuhnya
Tubuh Gendis menegang seketika. Hanya ada satu hal yang dia tahu kenapa manusia tidak bisa dilihat oleh manusia lagi, yakni saat jiwanya tak lagi bersama raga, dalam artian dia telah tiada. Mulutnya ternganga, beberapa kali ia menggelengkan kepala, menghalau prasangka ya tentang kematian dirinya.
“Aku sudah meninggal?”
“Jiwa dan ragamu sedang terpisah,” jelasnya.
“Ya. Maksudmu aku mati?” Mata Gendis berkaca-kaca.
Melihat bagaimana manik indah itu berembun membuat Sanjaya merasa hatinya tak karuan. Perasaan yang jarang yang ia miliki. Mungkinkan ini reaksi ketika jiwa manusianya berhadapan dengan manusia sesungguhnya
“Tidak seburuk itu. Ini untuk sementara.”
“Jika aku pulang,” sela gendis. “Benar?” sudutnya. “Lalu bagaimana jika aku tak pulang?”
“Sampai bulan purnama tiba.” Sanjaya membuang wajahnya. Pikirannya melayang memproyeksikan kolase malam purnama berdarah.
Malam pertama di mana Raja Warsana begitu menginginkan darahnya yang istimewa. Namun raja gadungan itu terlalu bodoh karena sampai saat ini dia tak mampu menemukan Sanjaya hanya karena dia menggunakan penciuman untuk mengenali siapa dirinya. Jelas bau tubuh semua siluman sama begitu pun Sanjaya sehingga tak tampak keistimewaan apa pun untuk sesiluman seperti dia.
Malam itu menorehkan luka yang begitu sulit ia sembuhkan. Birunya menghitam hingga Sanjaya sendiri tak mengerti bagaimana caranya menghilangkan warna itu. Hingga yang ia inginkan hanya Raja Warsana bisa ia tumbangkan lalu semua siluman di dunianya bersorak gembira atas kelenyapan seorang Warsana.
“Malam purnama,” lidahnya tercekat “kau akan kembali,” lanjutnya. “Tapi tentu tak mudah,” tambahnya membuat simpul bulan di bibir gendis yang semula mengembang kembali menyusut.
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Ikuti aturan mainku. Dengarkan perintahku.”
“Untuk mendengar perintahnya aku harus percaya sama kamu. Bagaimana caranya aku bisa percaya sama kamu?”
“Itu urusanmu, bukan urusanku,” timpal Sanjaya.
“Nggak. Ini urusan kita. Dalam kehidupan manusia ada yang namanya usaha untuk bisa dipercaya.”
Sanjaya mendengkus sebal. “Jangan menuntut apa pun padaku!” tegasnya
“Lindungi aku. Jangan bikin aku takut lagi maka kepercayaan itu akan tumbuh,” tutur Gendis.
Sanjaya bergeming sesaat. Menatap lekat pada Gendis membuat gadis itu terserang kikuk seketika. Pandangan Sanjaya begitu dingin, membuat gendis tak bisa menebak arah pikiran lawan bicaranya itu.