Dulu Sekali, Gendis pernah berpikir untuk kabur dari rumahnya, terlebih ketika ibunya sudah banyak menuntutnya ini dan itu. Dan dulu sekali, di saat ia memeriksa beberapa arca kemudian ia berpikir ia akan berteleportasi ke dimensi kerajaan kuno, menghindari segala polemik dengan ibunya.
Seharusnya dia bersenang. Meski tak sepenuhnya berada di dimensi kuno, ia berhasil masuk pada dimensi siluman yang mengadopsi kehidupan kerajaan kuno. Tapi mungkin ke bersyukurannya itu akan terealisasi jika kehidupannya lebih baik dari pada hidup di bawah ibunya yang ia nilai otoriter.
Di bawah pohon tempat ia melepaskan segala kesesakan lewat senguk tangis, Gendis mulai menyadari segala mimpi belakanya tak memiliki nilai sama sekali.
Walau bagaimanapun ia sering bersitegang dengan ibunya, ibunya akan tetap memberikan dia sup hangat di kala ia pulang setelah basah kuyup kehujanan. Juga sarapan roti telur dengan s**u rendah lemak di pagi hari untuk sarapan.
Gendis menengadahkan kepala, menatap ke atas langit berwarna biru cerah. Warna langit yang bisa membuat hatinya membaik dari segala lebam biru yang tertinggal. Tapi kini seperti tak ada efek apa pun, langit hanya sebuah langit, benda yang menyelimuti di cakrawala. Terlalu biasa.
Dirinya mendesah. Sampai sejauh apa dia bisa bertahan?
Apakah kehidupannya di sini berakhir dengan kematian?
Atau justru dia bisa pulang dan kembali menjalani kehidupannya seperti semula?
Beberapa jam lalu, semangatnya yang mengerdil sempat tumbuh meski tak banyak. Tapi melihat bagaimana Sanjaya yang kiranya bisa ia percaya untuk membantunya menjadikan dirinya sebagai badut, juga teman-temannya yang mencemooh. Mengerut sudah asanya. Membuat ia melupakan rasa lapar dan hanya menyisakan lemasnya tubuh yang setia menemani kebiruan hidupnya.
Dari samping, Gendis melihat Gendala juga Nyimas melangkah pergi dari gubuk. Langkah Nyimas sendiri terhenti sejenak di saat ia melihat Gendis menatap ke arahnya. Gendis melihat ada sorot benci padanya, tapi siapa peduli. Ketika kita tidak memiliki apa pun untuk dipertahankan, apa yang perlu di takutkan?
Nyimas kembali melangkah pergi sebelum barusan ia membuang wajahnya. Diikuti Gendala, mereka pergi ke sebelah timur, berjalan bersama lalu bentuknya tubuh mereka berubah seputih air dan kemudian menghilang bersamaan seperti sebuah embun yang menguap karena tersinari matahari.
Gendis tak lagi terperangah atau pun bergetar karena takut. Setelah semua yang dia lalui hal semacam itu sudah biasa dia lihat dan dirinya mencoba untuk menerima segala keanehan apa pun di dunia ini.
Gendis kembali melayangkan pandangannya pada hamparan sawah. Disebut sawah jika yang ditanam adalah padi. Dalam artian seharusnya ada yang menanam. Pertanyaan besar muncul. Mungkinkah para siluman melakukannya?
Untuk apa?
Bukankah mereka tak perlu makan makanan manusia?
Semua pertanyaan berkumpul di benak Gendis yang tentu saja ia sendiri tak mengetahui jawabannya.
Hari belum sore, kabut hutan seharusnya belum datang, tapi pandangan Gendis sudah mengabur. Ia terkekeh sumbang, menertawakan dirinya sendiri. Mungkin saja sebentar lagi ia akan kembali tak sadarkan diri seperti beberapa kali sebelumnya. Tapi sebelum itu ia perlu berdoa untuk agar Tuhan mau memaafkan segala kesalahannya terlepas dari keberadaannya setalah ini, entah di akhirat atau kembali ke dunia nyata. Dan semoga bukan masih di dunia ini
Di tengah pandangannya yang mengabur, seorang lelaki mengenakan cetok sedang memegang cangkul berjalan menyusuri tanggul sawah. Mengenakan celana pendek dengan kaus lusuh berwarna coklat yang di beberapa bagiannya tampak kotor oleh tanah. Bapak-bapak itu tampak menghampirinya. Di tengah ketidak berdayaannya, gadis itu tersenyum. Ia masih memiliki harapan.
Seketika ia teringat daging yang ia simpan di dalam sakunya. Dengan tangan gemetar ia mengambil daging itu. Gendis berniat untuk menyantapnya, mengisi energi untuk bisa menyelamatkan dirinya bersama petani tersebut.
Namun, manakala ia membuka mulutnya dan sebelum ia berhasil memasukkan daging itu, seseorang merebutnya, melemparnya begitu saja.
Gendis menengadah, Sanjaya ada di sampingnya, tatapannya dingin, ia berdiri tegap. Dan tanpa aba-aba sepasang tangan kekar lelaki itu menggendongnya lalu membawanya dengan langkah yang lebar.
***
Gendala bukan sepenuhnya siluman. Ia merupakan turunan manusia dengan siluman. Ibunya yang merupakan manusia kemudian jatuh cinta pada bapaknya sang siluman. Tentu saja percintaan mereka terlarang, terlepas dari dunia siluman atau dimensi sendiri.
Mengingat takdirnya yang merupakan anak campuran. Dia terkadang marah pada keadaan. Jika boleh memilih ia ingin orang tuanya tidak perlu melakukan perkawinan ilegal itu. Karena pada intinya dia yang akan menjadi korban atas tindakan egoisme mereka. Namun tentu saja Sanjaya tak benar-benar ingin membenci mereka, terlebih di saat Sanjaya tak sempat melihat ibu dan bapaknya akibat dari perbuatan yang mereka lakukan.
Bangsa siluman menghempaskan keduanya dan itu sudah takdir alamnya. Mereka tak bisa memilih pilihan, yang ada hanya sebuah kematian atas nama cinta.
Sanjaya bayi diasuh oleh dua pasangan siluman yang berhati bersih setelah mereka menemukan Sanjaya di atas rerumputan di tengah hutan. Mereka mengurus Sanjaya dengan penuh kasih sayang.
Seiring berjalannya waktu, orang tua asuhnya mulai mengetahui keistimewaan yang dimiliki Sanjaya. Karena hal itu mereka sadar Sanjaya ada dalam bahaya.
Identitas Sanjaya disembunyikan. Mereka melarang Sanjaya untuk memperlihatkan laser ungu yang merupakan keistimewaan Sanjaya pada semua siluman, termasuk teman-temannya. Itu pula yang membuat Sanjaya tak memperlihatkan jati diri kepada Nyimas dan Gendala.
Hal itu pula yang membuat kedua orang tua Sanjaya mati karena prajurit Raja Warsana membunuhnya kalau Raja Warsana mulai mencium keistimewaan dirinya.
Maka atas segala identitas yang ia miliki, rasa empatinya sebagai manusia dapat ia rasakan di saat melihat Gendis terlihat putus asa.
Sanjaya tidak bisa mengukur apakah dirinya jahat atau baik. Dia menggunakan Gendis sebagai tawanan agar Raja Warsana tak memiliki santapan istimewanya. Tapi, di sisi lain ia tak segera mengembalikan Gendis.
Di tatapnya Gendis dari jauh, Sanjaya menghela napas. Netranya menabrak pada segumpal makanan di tangan Gendis. Ia mengetahui apa yang ada di tangan wanita itu, kontan Sanjaya berjalan dengan langkah lebar, menghalau Gendis untuk tidak memakan makanan tersebut.
Di tangan Gendis yang lemah, ia merebut makanannya dan dibuang dengan sembarang. Gendis menatapnya dengan tatapan sayu juga putus asa. Mulutnya terkatup seperti ingin protes tapi tak jua terbuka.
Sanjaya segera membawa Gendis kembali. Ke dalam gubuk sebelum ia benar-benar mati.
Gendala menidurkan Gendis di atas bale-bale. Tubuh Gendis selemah jelly sehingga ia harus segera melakukan sesuatu.
Gegas Sanjaya pergi ke ladang di belakang gubuk.
Di hutan terlebih sebagai siluman. Tak ada hak milik tanah. Semua berhak mendirikan bangunnanya di mana saja. Lagi pun mereka tak benar-benar membutuhkan tempat tinggal. Ini sebabnya Gendala bisa berpindah gubuk sesuka hati.
Jika dipertanyakan mengapa harus di pinggir sawah. Jawabannya tentu karena Raja Warsana tak akan menemukannya di sini.
Sebagian besar makhluk siluman tidak pernah ingin berpikir hidup di samping pemukiman manusia.
Sudah Sanjaya sebutkan bahwasanya Raja Warsana adalah siluman yang bodoh. Tak ada kehormatan apa pun padanya selain rasa takut yang dimiliki oleh semua penduduk siluman padanya.