“Apa lagi kelakuannya kali ini?” Nyimas menyindir. Tubuhnya menyender di sebuah punggung kursi. Menatap Gendis— yang baru saja masuk ke dalam gubuk bersama Sanjaya—dari atas hingga bawah dengan tatapan sinis.
Gendala hanya tergelak. Ia sendiri lebih tampak tak ingin ikut campur pada dua perempuan yang sekarang sedang adu tatap.
“Dia pergi ke pasar berjalan.” Sanjaya yang menjawab. Dirinya ikut melirik ke arah perempuan mungil di sebelahnya. Dagunya diangkat, menunjuk pada sebuah kursi kayu. “Duduk di sana,” perintahnya pada Gendis.
Kesal. Gendis mengentak-entakkan kakinya. Terpaksa ia mengikuti semua titah ketiga makhluk aneh tersebut. “Aku seperti tawanan kalian, ”gumamnya seraya melangkah dan kemudian duduk. “Padahal aku Cuma pengen pulang!”
Gendis tak menyangka jika seseorang yang membekapnya tadi adalah Sanjaya. Ia kira setelah dirinya kembali tak sadarkan diri, dimensi membawanya kembali pada dunia dia yang sebenarnya. Tapi nyatanya? Lagi-lagi Gendis harus menelan kecewa.
“Ke akhirat?” sindir Gendala. Wajah menyebalkannya membuat Gendis ingin menendang bokongnya saat itu juga.
“KE RUMAH. KE DUNIAKU!!!” Gendis memekik kesal. Joke Gendala merupakan joke paling garing yang pernah dia dengar.
Mereka menatap Gendis, minus Gendala yang kembali memilih menghisap cerutu lalu memainkan asapnya. Persis seperti yang Sanjaya lakukan kemarin. Apa semua siluman berjenis kelamin laki-laki senang merokok?
“Lalu apa yang terjadi?” tanya Gendala penasaran. Ia kemudian bangkit, membuang cerutunya ke tanah kemudian menginjaknya menggunakan sendal bakiak yang dia pakai.
Sanjaya duduk di atas bale-bale. Punggungnya di sandarkan pada pilar bambu di salah satu sudut bilik, tangannya melipat di d**a.
“Sesiluman mengejarnya,” jawab Sanjaya santai. Padangan tajam Sanjaya masih melekat pada wajah Gendis, membuat Gendis meringis ngeri.
“Seharusnya biarkan saja siluman itu menyantapnya. Itu lebih bagus. Karena artinya kita tidak usah repot-repot memikirkan bagaimana cara menyingkirkan manusia ini,” sarkas Nyimas.
Gendis mendelik. Dosa apa dirinya? Sejauh mereka bertemu, rasa-rasanya Gendis tidak merugikan wanita itu sedikit pun. Tapi genderang permusuhan begitu gencar Nyimas perlihatkan.
Nyimas kembali membuka selembar kertas berwarna putih semu coklat. Ia membentangkan kertas itu di atas meja. Serempak Sanjaya dan Gendala yang mendekatkan diri tanpa diminta. Mereka berkeliling di meja tempat kertas itu dibentangkan.
“Lanjut?” tanya Nyimas. Ia menatap Gendala dan Sanjaya berbarengan.
Sanjaya mengangguk sedangkan Gendala memilih menaikkan alisnya. Kiranya semua setuju Nyimas bisa kembali memulai perencanaan mereka.
“Ya, seharusnya memang sudah selesai jika tak ada orang yang tiba-tiba saja hilang.”
Tiba-tiba hilang?
Merasa tak terima, gadis itu berdiri lalu merangsek maju. Ia Berdiri di antara mereka yang memutar meja. Matanya menatap tajam ke arah Nyimas. “Maksudmu, aku?!” tanya Gendis tak kalah sarkasme.
“Memangnya siapa lagi? Ck.” Nyimas berdecak.
“Kalian tak perlu mencariku. Aku tak meminta kalian untuk mencariku! Kalian tak punya kewajiban untuk mencariku!” nafasnya terangah. “Kalian yang meninggalkanku. Jadi gimana ceritanya aku yang dituduh menghilang. Kalian yang menghilang! Jadi jangan salahkan aku kalau kalian yang meninggalkanku!” belanya.
Sebagai seorang wanita kemenangan adalah hal mutlak. Mana kala ia merasa di salahkan ia tak akan terima. Jelas Gendis membela diri.
“Kami tidak menghilang, Nyai. Kami hanya berpindah sementara. Kau tahu? Suara tidurmu berisik sekali. Itu mengganggu konsentrasi kami,” pungkas Gendala.
Maksudnya ngorok, gitu? Tak perlu dipertanyakan lagi bagaimana merah wajah Gendis.
“Kalian bukan manusia! Kalian tak mengerti dari mana manusia mendapatkan sumber energi. Menurut kalian aku harus mati menahan lapar hanya karena menunggu tiga makhluk siluman?!” Setelah mengeluarkan perasaannya, wanita itu memilih mengangkat kaki, dari pada harus menumpahkan tangis di hadapan ketiga siluman itu.
Walau bagaimanapun Gendis tidak menjamin ketiga makhluk itu memiliki empati serupa manusia.
Gendis membuka pintu dengan kasar lalu menutupnya setengah membanting.
Ia berlari menuju samping persawahan. Duduk di antara gundukan tanah— tanggul aliran air. Gadis itu duduk, menekuk lutut dan menyembunyikan wajahnya di kedua lutut yang tertekuk.
Gendis tak pernah menyesali apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Tapi kali ini dia sangat menyesal. Andai saja dia tak senaif itu menerima batu dari orang yang tidak ia kenal, hanya karena bentuk batu itu sangat indah, tentu dirinya tak akan sampai pada dunia sialan, ini!
Dia akan tetap hidup tenang. Tidur di kasur yang empuk dengan aroma jasmin kesukaannya di temani poster aktor drakor kesukaannya. Makan makanan kesukaannya. Mengerjakan tugas akhirnya yang sebentar lagi akan masuk meja sidang.
Setelah ini bagaimana nasibnya?
Bagaimana perasaan orang tuanya? Sahabatnya?
Apakah mereka mengkhawatirnya?
Pikiran Gendis semakin kalut. Gelegak perih kembali menyumpal dadanya.
Di dalam gubuk, netra Sanjaya menatap lurus ke luar melalui jendela kayu yang telah usang. Hatinya mencelus melihat bagaimana terpukulnya gadis tersebut.
Gendis mungkin wanita yang tanggung. Tapi ia tetaplah wanita yang memiliki jiwa yang rapuh. Berusaha seperti apa pun dia untuk menerima, faktanya sisi manusianya tak akan mudah menerima itu semua. Tak perlu melihat perasaan manusia dari referensi yang mana. Sanjaya sendiri mengerti akan hal itu kala jiwa manusianya tiba-tiba saja hadir.
Sanjaya memilih untuk membuang pandangannya lalu kembali memerhatikan pada dua sahabatnya. Perjalanan belum selesai. Empatinya belum harus muncul untuk saat ini. Dia harus menekan sisi manusianya atau semua usahanya akan hancur.
Menyadari arah padangan Sanjaya pandangan Nyimas seketika mendingin. “Dia tak akan pergi lagi. Terkecuali dia memilih mati,” celetuknya.
Sanjaya menghela napas panjang. Berusaha untuk tampak tak peduli.
Gendala yang merasa penasaran dengan pembicaraan mereka lantas mengikuti arah pandang Nyimas.
“Lebih baik kita kembali membahas ini.” Tangan Sanjaya mengetuk meja. Membuat semuanya kembali memfokuskan padangan.
Gendala menggambar sebuah peta. Di dunia siluman sesungguhnya mereka tidak memiliki peta yang spesifik. Sejauh apa dunia membentang, di sanalah ujung dari dunianya. Untuk transportasi mereka berupa teleportasi tak akan sulit untuk mereka berpindah dari ujung dunia ke ujung yang lain.
Namun kali ini Gendala membuat semuanya lebih ringkas. Ia hanya menggambar hutan di mana tempat mereka tinggal sekarang. Hutan yang jarang manusia jamah. Hutan yang di mana Raja Warsana membangun istana dan membuat semua makhluk dari kalangan mereka sebagai hamba sahayanya.
Mereka—para siluman— tak memiliki pilihan utuk menolak karena kekuatan Raja Warsana yang memiliki laser merah cukup membuat takut para siluman jika laser itu mengenai organ mereka dan berakhir dengan enyahnya hidup mereka.
“Di sini kemungkinan kitab kuno itu berada.” Telunjuk Gendala menunjuk pada salah satu titik peta, lebih tepatnya pada bagian sebelah selatan istana. “Namun tak mudah mendapatkan kitab tersebut,” jelas Gendala. Jangan pernah lupakan siapa Gendala. Di dunia manusia, dibanding disebut dengan seorang detektif, Gendala mungkin lebih cocok disebut dengan tukang gibah dan tukang pencuri informasi.
“Malam ini aku akan coba beraksi.” Sanjaya begitu bersemangat memulai aksi yang sudah lama ia tunggu.
“Kakek Zamalik sudah memberiku mandat?” tanya Nyimas. Wajahnya tampak khawatir.
“Umurku sudah memenuhi syarat,” jawabnya tegas.
“Ini sulit Sanjaya. Kau bisa saja tidak selamat. Apa lebih baik kita singkirkan saja calon santapan Warsana?”
“Lalu setelah itu Warsana akan mendapatkan korban barunya kembali? Dan dia akan berhasil mendapatkan tujuannya?” Sanjaya menggelengkan kepalanya. “Tidak! Kalau begitu, kita hanya akan mengulang hal yang sama.”
“Tapi—“
“Nyimas. Cepat atau lambat kita harus menumbangkan istana Warsana. Tidak cukupkan kita melihat semua siluman di sini ketakutan karena laser merah yang kapan saja bisa menjadi perenggut nyawa mereka?”
“Bukan itu tujuanmu,” ucapnya telak.
Sejenak Sanjaya terdiam. Ia tahu maksud Nyimas, beberapa kali wanita itu berusaha menghentikan langkahnya.
“Ya. Memang bukan itu. Kau tau ini untuk siapa. Ambu dan abah,” jelasnya.
Nyimas merasa dia sudah salah bicara. Bibirnya mengatup. Raut wajah memperlihatkan rasa bersalah. “Sanjaya bukan maksudku. Am, aku hanya takut kau terluka. Kau tahu itu.”
“Jadi ini acara pengungkapan perasaan?” Gendala menyela di antara keduanya. “Oh sungguh, jika benar aku sangat patah hati. Jadi sebelum hatiku terlanjur porak-poranda. Bagaimana kalau kita lanjutkan saja, hm?”
Mereka terdiam cukup lama sehingga Gendala terpaksa mulai mengambil alih suasana. Ia kembali menyebutkan titik demi titik yang harus mereka lalui sebelum bisa menembus tembok istana.
“Sepertinya kita harus membunuh Lotung terlebih dahulu,” usul Nyimas.
Gendala tertawa. “Itu ide yang buruk, cantik. Lotung lebih tanggung dari pada Warsana.”
“Kalau begitu kenapa tidak Lotung yang berambisi jadi Raja?”
“Karena dia tidak menginginkannya,” jawab Sanjaya.
Seperti hal nya Sanjaya. Ia tak menginginkannya meski takdir tak bisa menyangkal Sanjaya bisa menjadi Raja andai dia ingin.
Tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Termasuk dua siluman di hadapannya. Mereka hanya tau Sanjaya bagian dari mereka. Meski apa yang mereka ketahui tak salah, tapi tak juga sepenuhnya benar.
Setelah Gendala selesai menjelaskan. Saatnya Sanjaya yang berpikir keras untuk memahami, karena di sini Sanjayalah yang akan beraksi.
“Kakek Zamalik. Bagaimana kalau kau membutuhkannya?” Gendala bertanya. Ia mulai ingat atas kebutuhan Sanjaya akan kakek tua satu itu.
“Aku akan mencarinya jika butuh.”
“Lereng gunung tak bisa dilalui lewat teleportasi.”
“Aku akan melakukannya lewat perjalanan kaki.”
Gendala mengangguk.
“Baiklah semua sudah selesai. Aku kira kami harus pulang.”
Berat hati Nyimas pergi melangkah. Dari awal mengenal Sanjaya rasa tertarik tak hanya atas dasar ketampanan lelaki itu. Tapi lebih dari itu, ada suatu yang tidak bisa Nyimas sebutkan. Yang pasti, penyebab ia bisa terlibat sampai sejauh ini karena ada keterikatan. Ia ingin Sanjaya bahagia, tapi di sisi lain dia takut Sanjaya terluka. Kondisi kontradiksi itu yang membuat dirinya terus bergelut dengan perasaan tak menentu.
Jadi ketika ia harus ikut menyusun strategi, ia berdoa pula agar semuanya gagal.