Suara denting gamelan begitu dekat terdengar, diikuti tembang dari sinden yang suaranya melengking merdu.
Gendis yang merasa terganggu lantas membuka kelopak matanya. Dan lagi, ia mendapati dirinya bangun dalam keadaan sendiri seperti kemarin.
Gendis mengingat-ingat lagi kembali kejadian kemarin. Mencoba menggali akan keyakinannya bahwa malam tadi ia tak sendiri.
Semalam ia tidur sebuah gubuk di tengah persawahan— Gubuk baru setelah kemarin Sanjaya mengajaknya berteleportasi dari gubuk sebelumnya.
Sanjaya menyuruhnya untuk tidur. Tak ada alasan menolak, karena saat itu Gendis memang benar-benar diserang kantuk.
Berbeda dengan Gendis yang langsung terlelap tidur, Sanjaya dan kawan-kawan justru terjaga karena memang mereka tidak pernah tidur seumur hidupnya meski dunia siluman mengalami siang dan malam.
Benar. Gendis yakin dirinya tak sendiri. Namun kenapa justru sekarang faktanya dia sendiri. Ke mana perginya ketiga siluman itu?
Gendis mengerjapkan matanya dalam perebahan . Bukan untuk mengurai semua ke tidak normalan ini. Dia sudah begitu lelah dengan semua perang di otaknya. Dalam artian dia sudah menerima kenyataan, meski bukan berarti dia tidak perlu mencari jalan keluar.
Dingin seketika meningkat seiring semakin riuh suara gamelan yang bertalu. Alis Gendis menyatu. Kenapa selalu suara yang membuatnya terbangun. Kemarin suara talunan dari kayu yang dipotong, sekarang lebih aneh lagi. Suara pentas Seni gamelan? Mangkinkah benar ada pentas di depan gubuk ini?
Perlahan Gendis bangun. Dijuntaikannya kakinya dari atas bale-bale lalu kemudian ia menginjak kaki ke tanah yang di atasnya ditumbuhi rumput di beberapa bagiannya. Gendis melangkah untuk mencari tahu suara apa itu. Ia berjalan ke luar, Tepat di depan daun pintu, Gendis membuka sedikit dan mengintip di celah yang tak sampai melebihi satu cm.
Dan didapatinya sekelompok manusia sedang memukul gamelan menggunakan pakaian seragam berwarna hitam. Mirip seperti yang Sanjaya kenakan.
Gendis menyipitkan matanya untuk menajamkan pandangannya. Ia berpikir Sanjaya ada di antara mereka. Mana tahu Sanjaya memang salah satu pelakon di antara kelompok seniman itu. Namun tak ada Sanjaya di sana, meski dua kali Gendis mencoba menyisir satu demi satu wajah Sanjaya di antara mereka. Ia menarik wajahnya kembali.
Benarkah mereka Benar-benar meninggalkan Gendis? Bolehkah Gendis marah karena rupanya kemarin dia hanya dijadikan badut untuk membuat mereka tertawa.
Sial!
Kenapa pula hatinya jadi sekecewa ini.
Rasa penasaran masih mengguyur. Gendis kembali menyembulkan sedikit wajahnya. Melihat lebih banyak dari berbagai sudut. Sejenak ia tertegun kala ia tak hanya melihat kelompok orang memainkan gamelan dan seorang sinden, Gendis juga menemukan sebuah pasar tak jauh dari sana, dipenuhi oleh orang-orang berlalu lalang.
Apakah dirinya sedang berhalusinasi?
Tapi kemudian ia tersadar atas keberadaannya. Di sini apa yang tidak mungkin. Pasar dadakan? Bahkan dia pernah menemukan pohon bicara yang lebih aneh dari sekedar bunyi gamelan di tengah riuhnya pasar.
Perut Gendis berbunyi. Ia mengingat-ingat kapan terakhir kali makanan mengisi lambungnya. Lantas ia tersadar seharian ini ia tak makan sama sekali. Pantas saja tubuhnya sangat terasa lemah.
Keluar mencari makanan di pasar siluman. Atau mati kelaparan di dalam gubuk seorang diri. Tak ada yang lebih baik, sehingga ia harus memilih satu di antaranya.
Diputuskannya untuk gadis itu keluar. Tangan lemahnya membuka pintu. Ia mengayunkan kaki dengan langkah tak yakin.
Gendis mulai memasuki area pasar. Bau semerbak daging panggang dengan kotoran unggas menyapa Indra penciumannya. Perlahan ia berjalan menyusuri jalannya pasar.
Berbeda dengan saat pertama kali ia memasuki pasar gaib. Sekarang Gendis tak lagi dijadikan bahan tontonan. Sepanjang ia mendapatkan kaki, pandangan mereka tampak tak memedulikannya. Hal itu membuat Kecemasannya perlahan mengendur.
Gendis bisa bernapas lega. Mungkin ini akibat dari kebaya Nyimas yang ia kenakan. Namun langkahnya seketika berhenti, ia teringat kejadian kemarin ketika para prajurit mencium tubuhnya. Ia memilih menarik wajahnya karena Gendis tak memiliki bau yang dia cari. Apakah ini juga termasuk dari alasan mereka yang ada di sini acuh pada Gendis. Karena kini bau gendis bukanlah bau manusia.
Peduli apa! Gendis tak mau tahu. Ia kembali melanjutkan perjalanan akibat pikirannya yang tiba-tiba itu. Cacing diperutnya sudah ramai berkonser. Tak ada waktu memikirkan tentang per-bauan tubuhnya karena saat ini fokusnya adalah mencari makanan.
Mata Gendis menangkap kerumunan yang lebih ramai dari tempat yang lain. Dirinya menghampiri kerumunan itu, tampak dua sesiluman mengadukan hewan peliharaannya. Bukan ayam yang biasa manusia sabung. Yang mereka adu adalah dua ekor ular kobra. Kedua ular itu menegakkan kepala mereka masing-masing, mengembangkan lehernya, lidahnya menjulur dan mengeluarkan suara desisan khasnya. Mereka saling mematuk satu sama lain, lalu saling melilit tubuh musuh mereka masing-masing.
Gendis hanya bisa menggelengkan kepala. Ternyata selain manusia yang tidak punya pekerjaan. Makhluk macam mereka juga suka sekali dengan hiburan yang terlihat sangat aneh ini.
Mana kala salah satu di antara ular itu terpatuk oleh lawannya mereka bersorak. Selanjutnya Gendis tak mengetahui lagi apa yang terjadi dengan kedua ular itu karena ia sudah beranjak menjauhi kerumunan karena dirinya mencium bau daging panggang yang menggoda.
Gendis sampai di satu saung yang menjual sesuatu. Tampak asap mengepul di atas panggangannya. Ia mendekat, mencari tahu makanan apa yang membuat cacing perutnya semakin berontak.
Sebuah daging, yang entah daging apa. Gendis hanya melihat daging itu sudah matang dan siap disantap.
“Ini daging apa ya Bu?” tanya Gendis begitu berhasil berada tepat di depan saung.
“Daging lezat, Nyai,” jawabnya.
Gendis menggigit bibir bawahnya. Ya, ia tahu jika semua daging itu lezat. Tapi tak bisa, kah penjual ini menyebutkan lebih spesifik.
Tak ada waktu untuk penasaran. Gadis itu langsung saja memilih untuk membelinya. Rasa laparnya sudah tidak bisa dikompromikan.
“Berapa, Buk?” Gendis merogoh saku lalu baru ia sadari tak ada satu lembar pun uang yang ia bawa di dunia siluman ini.
Celaka!
“Saya yang bayar.” Suara lelaki di samping Gendis terdengar menjadi penolong. Seperti ada angin sepoi yang menghempas tubuhnya di Padang Savana.
Gadis itu menengok ke arahnya. Hanya sekilas karena si penjual langsung memberikan daging panggang yang dilapisi daun pisang sehingga Gendis harus menerima uluran barang itu dan tak melihat dengan jelas siapa lelaki itu.
Tangan lelaki itu mengulur, memberikan beberapa buah perak berbentuk bundar ke tangan sang penjual.
Setelah Gendis menerima makanannya. Ia kembali menolehkan wajah pada lelaki dermawan itu dan betapa terkejutnya dia saat yang ia lihat adalah lelaki siluman ular yang hendak menjadikannya target santapan saat di pasar kemarin.
Perlahan gendis mundur teratur menjauhi lelaki yang sudah memberikannya makanan, sampai-sampai Gendis harus menabrak beberapa orang di belakangnya.
Mungkin para prajurit bisa tidak mengenali baunya sebagai manusia. Tapi siluman ular di depannya memiliki daya ingat yang tinggi. Dia ingat siapa Gendis meski baunya sudah berubah.
Siluman ular itu menyeringai. Taringnya tampak keluar dari setengah panjangnya. Ia mengikuti Gendis dari belakang. Mengetahui itu Gendis jelas kalang kabut membelah kerumunan.
Gendis terus berlari hingga tak ia sadari justru kini ia terjebak di dalam hutan dengan karakteristik pohon-pohon yang rapat . Gendis tak bisa berlari kencang. Selain dari tenaganya yang sudah habis juga karena ia harus berhati-hati atau jika tidak, rotan kering yang tajam bisa menusuk kakinya.
Napasnya semakin tersengal. Oksigennya semakin menipis di paru-paru. Gendis melihat di depan sana ada sebuah pohon beser yang berpotensi menjadi tempat persembunyian. Ia segera berlari untuk bisa cepat sampai pada pohon tersebut.
Tapi seseorang di belakangnya membekap mulutnya kemudian membuat Gendis tak menyadari apa yang terjadi padanya setelahnya.