Berbeda Karakter

1482 Kata
Raja Warsana berjalan memasuki lorong. Ia sampai pada suatu kamar dengan pintu berwarna perak, serta corak rumit di bagian atas daun pintu. Ia membuka paksa pintu itu. Tampak Lotung sedang menikmati sesajen yang diberikan oleh Raja Warsana. Lotung menghentikan kegiatannya. Ia mendadak menengadahkan kepala dari cabikan santapannya. Ia mengerang tak suka. Siapa pun yang mengganggu santapannya tak akan ia beri toleransi. Sekalipun seorang pengganggu itu adalah seorang Warsana Lotung bangkit. Ia berjalan ke arah Warsana di ambang pintu. Tubuhnya bergerak seirama dengan gerak bulu hitamnya yang mengkilat. Mulutnya terbuka dengan darah pekat di lidahnya. Taringnya gemeretak seolah memberi ultimatum atas apa yang sudah raja Warsana lakukan. Ia marah. Sungguh marah. “Kau mengganggu makanku, Warsana,” amuknya. Tak ada embel-ebel Raja. Lotung begitu marah. Dan raja Warsana tahu akan hal itu, tapi ia akan tetap melakukannya karena saat ini keberadaan Gendis lebih penting dibanding marahnya Lotung. “Kau mengkhianatiku?” Raja Warsana menajamkan matanya, terlihat kobaran angkara di kedua matanya. Keduanya kini saling berhadapan. Bersitegang. “Aku membenci ketika ada yang mengganggu ritual santapanku.” Lotung semakin mendekat, tubuhnya membesar dari ukuran yang sebelumnya. “Ini terjadi karena kau membohongiku, Lotung.” “Aku sudah memberikanmu tumbal yang setimpal. Tidak ada yang aku lewatkan atas kewajibanku,” akunya. “Gadis itu menghilang. Kau tak benar-benar mendapatkannya. Begitu caramu mengabdikan dirimu? Kau berbohong?!” Raja Warsana merangsek maju. Melewati begitu saja siluman di hadapannya. Netranya memerhatikan ornamen di semua sudut kamar dengan nuansa merah. Terlalu megah untuk sesiluman seperti Lotung. “Aku sesudah memberimu apa yang kau mau. Dan ini balasannya?” tegasnya seraya terus mengelilingi isi kamar. Kemudian raja Warsana duduk di satu kursi yang dilapisi kain satin berwarna merah. Warna yang tampak kontrak dengan kondisi kamar yang gelap gulita. Lotung terkikik geli. “Aku seperti sedang difitnah setelah aku berhasil menggiring hasil tangkapanku ke dunia siluman. Warsana, bukankah kau Raja terhebat di dunia siluman ini? Begitu katamu pada semua siluman di sini. Seharusnya mudah bagi raja hebat sepertimu untuk mengetahui keberadaan mangsanya yang kabur,” celetuknya seperti sebuah ejekan untuk Raja Warsana. “Kau....” Rahang Raja Warsana mengetat. “Kedatanganmu ke sini justru memperlihatkan kelemahanmu. Tidakkah kau menyadari itu? Kedatangannya sama dengan pengakuan kalau kau tidak bisa mencari keberadaan manusia itu akibat kau yang memang tak memiliki kekuatan apa pun.” Lotung kembali mengayunkan ke empat kakinya untuk masuk, mengikuti keberadaan Raja Warsana. Tepat di depan Raja Warsana, ia memposisikan kepalanya tepat di depan Warsana. Sehingga mereka tampak saling berperang dalam pandangan mata mereka masing-masing. “Kau tidak menghormatiku, Lotung. Kau tak memanggilku 'Raja'. Kau tau apa yang akan—“ “Tidak akan,” sela Lotung. “Semua hal yang kau gertakan pada semua penduduk dunia siluman tak berarti bagiku. Ingat, posisi kita di sini saling bekerja sama. Aku tak punya kewajiban untuk menghargaimu. Apalagi menyembahmu,” tegas Lotung. Raja Warsana bangun lalu mengibaskan jubahnya. Ia merasa pembicaraan ini amat menghinanya. Rahangnya semakin bertambah mengetat. Ada gelegak kemurkaan yang tidak bisa ia keluarkan. Terlepas dari apa yang ia inginkan. Ucapan Lotung yang sayangnya adalah kebenaran. Sejak awal hubungan mereka adalah saling bekerja sama. Lotung menginginkan kan santapan terlezat dari Raja Warsana. Sedangkan, Raja Warsana menginginkan darah anak manusia Untuk keperluan upacara pengekalannya. Raja Warsana sadar, yang bisa lintas dunia manusia dan siluman hanya Lotung dan juga anak hasil perkawinan siluman dan manusia. Lotung cukup tahu bahwa Raja Warsana tak memiliki kemampuan apa pun. Keunggulannya hanya ada pada kesombongannya. Tidak peduli akan hal itu, karena baginya tawaran santapan yang Raja Warsana berikan cukup menggiurkan. “Jangan berlagak lebih di depanku, Warsana. Kau tau selain kamu yang mengetahui letak kitab itu, aku pun tahu di mana kitab itu tersimpan. Berani kau mengangkat kepalamu tinggi-tinggi, akan kupastikan kau akan binasa bersama kejemawaanmu,” peringat Lotung. Tubuh raja warsana menegang. Tapi ia tak bisa melakukan apa pun. Membunuh Lotung saat ini juga? Oh sungguh, Raja Warsana sangat ingin melakukan itu. Seharusnya tak ada yang perlu ia khawatirkan karena genap sudah syarat jumlah korbannya. Tapi tak semudah itu. Lotung tak semudah itu untuk ditumbangkan. Ia cukup sadar ketika lawannya sudah mulai bermain licik. Lotung siluman serupa lembu itu adalah siluman yang cerdas. Raja Warsana gegas pergi meninggalkan Lotung. Ia begitu marah hingga takut terjerembap dalam emosi ya dan membuat semuanya kacau. Kalau pun harus menumbangkan Lotung, bukan sekarang saatnya. Seperginya Raja Warsana. Lotung mengembalikan ukuran tubuhnya. Ia berjalan pada tempat santapannya dan kembali menyantap makanannya tanpa gangguan. *** Tubuh Gendis menggigil. Dia bergetar ketika Sanjaya melangkah dengan pasti ke arahnya. Mengikis jarak mereka hingga tersisa satu langkah lagi. “Aku ingin merasakannya juga,” celetuk Nyimas yang kemudian ditanggapi oleh Gendala lewat tertawaannya. “Rasanya tidak terlalu enak,” timpal Gendala. Mata Nyimas melebar. “Kau pernah memakan darah manusia?” Namun sedetik kemudian Nyimas mulai menyesali pertanyaannya. Sejak kapan ia percaya pada semua omong kosong Gendala. Tak ada kebenaran dari mulut Gendal terkecuali jika sudah diiming-imingi sesuatu seperti saat ia memberi beberapa darah burung hutan padanya untuk mengorek keberadaan Sanjaya. Untuk urusan keahlian selayaknya detektif, Gendala memang ahlinya. Entah dari mana kemampuannya, siluman harimau berjenis kelamin pria tersebut Selalu akurat untuk urusan tebak menebak. Sanjaya terus merengsek maju hingga tak ada lagi jarak di antaranya dengan gendis. Ia duduk menyejajarkan dirinya dengan Gendis yang sejak tadi sudah melorot jatuh. Tangannya terangkat. Lutut gendis semakin gemetar. Ia merasa kalau ini benar-benar akan menjadi hari terakhirnya. Seharusnya ia tak percaya diri bahwa lelaki itu memiliki karakter lebih baik dibanding makhluk-makhluk di sini. Ayolah, hanya wanita yang bodoh yang berpikir seseorang itu baik hanya karena insting dirinya mengatakan demikian. Pasrah. Satu kata itu yang ada di benak Gendis. Dia memejamkan matanya erat. Bibirnya gemetar ketika hendak membuka suara “To—tolong. Bunuh aku dengan cara terbaik yang kau punya,” pintanya dengan suara parau mencicit. “Contohnya?” tanya Sanjaya. Pura-pura bodoh. Mata elang Sanjaya begitu tajam merangkum setiap sudut wajah Gendis. Dalam ketakutan, mana sempat Gendis memikirkan metode apa yang cocok untuk acara kematiannya. Ia memilih menggelengkan kepala. Otaknya terlalu buntu hingga yang tersisa hanya anak sungai sudah bergulir deras di pipinya. Sanjaya menikmati wajah ketakutan di hadapannya. Wajah manusia itu sungguh membuatnya semakin ingin melakukan lebih dari sekedar apa yang dia lakukan. “Tidak ingin meminta untuk hari terakhirmu?” “Bolehkah?” “Hm.” “Aku ingin pulaaaaang.” Pecah sudah tangis Gendis. Bak anak kecil yang merengek. Kaki gendis menendang-nendang tak jelas. “Diam! Atau kau akan mati secara menyakitkan.” Dalam sesenggukan yang masih tersisa, gendis menahan tangisnya sekuat tenaga. Matanya sudah bengkak akibat air bah yang terus keluar di mata indahnya. Walau bagaimanapun ia harus tenang atau apa yang Sanjaya perintahkan tadi menjadi kenyataan. Mati dengan cara paling mengerikan. Itu tak pernah masuk dalam kamus kehidupan gendis. Ya, walaupun tak ada yang bisa meminta bagaimana cara mereka mati. Setidaknya Gendis menjadi manusia yang terus berdoa, meminta meninggal dalam keadaan baik. Sungguh kontradiksi sekali dengan imannya yang anjlok. Beberapa saat kemudian hanya hening yang menggulung. Napas panas Sanjaya menerpa kulit wajah Gendis. Dan hal paling absurd yang pernah gendis lakukan adalah. Di saat ia di ambang kematian, secara tiba-tiba otaknya memproyeksikan lelaki di hadapannya itu sedang melakukan aksi kissing padanya. Sebagai healing agar getar tubuhnya berhenti. Biar saja Sanjaya tidak memberi apa yang dia minta barusan. Yang pasti dirinya sendiri yang bisa menciptakan kematian menyenangkan. Namun belum sempat sesuatu terjadi. Semacam Sanjaya menggigit lehernya atau kuku tajam Sanjaya mengoyak lehernya. Tabrakan panas sebuah tangan menyapa kulit pipinya. Kontan kepala Gendis menoleh ke arah Kanan seketika. Ia membuka matanya, mulutnya terbuka. “Aku tidak mengerti. Kenapa para nyamuk suka sekali dengan darah manusia. Padahal darah manusia tidak enak.” Tangan Sanjaya terangkat, menampakan bercak darah di telapak tangannya. Darah nyamuk! Dan Sanjaya membual. Sesungguhnya Sanjaya tidak pernah merasakan sama sekali bagaimana rasa darah manusia. Bagaimana bisa dia mencicipi darah dari keturunannya sendiri? Wajah Gendis berubah merah. Antara marah atau malu karena merasa dinistakan. Rasa perih di pipinya masih terasa. Andai gendis memiliki cermin, ia akan melihat bagaimana cap lima jari itu terlukis jelas di pipinya. Suasana mendadak riuh. Tawa Gendala dan Nyimas terdengar menggema memenuhi ruangan. Gendala sampai harus memegang perutnya lalu beralih memukul-mukul permukaan bale-bale. Nyimas tetap dengan kikikan cantiknya. Tapi Gendis tetap merasa terhina meski hanya dengan tawa yang ditutupi tangan. “Astagfirullah. Lihat tadi mukanya. Aku tak tahan.” Gendala meracau. Tangannya tetap berada di perutnya yang terasa terpilin akibat tawa yang terlalu berlebihan. Tawa Nyimas seketika surut. Menyadari itu, Gendala memberhentikan tawanya. Ia memberanikan diri melirik pada Nyimas. Tampak wajah Nyimas yang tak bersahabat. Gendala memperlihatkan deretan giginya. “Maaf. Panas ya? Lupa.” Sanjaya tidak banyak bicara dia hanya menyunggingkan senyumnya setelah melakukan hal paling membuat seorang gadis manusia malu. Dari semua tontonannya. Satu yang menggelitik rasa penasaran Gendis sehingga mengabaikan rasa malunya. Yakni cara komunikasi mereka yang kontras membuat Gendis semakin penasaran. Dari mana mereka dapat perbedaan karakter ini? Dan kenapa mereka berbeda?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN