Ular jatuh menjuntai menutupi mata Ratu. Beberapa kali ratu harus mengembalikan letak ular tersebut, menyimpannya tepat di bagian atas kepala, meski pada akhirnya ular itu kembali jatuh tepat di depan hidungnya.
Ratu memutar matanya malas, ditiupnya kepala ular itu meski tetap saja ular itu enggan kembali naik.
“Jadi bagaimana?” tanyanya seraya tangannya bergerak membenarkan kembali letak sang ular.
Raja Warsana tidak menjawab. Wajahnya gelisah. Kaki kanannya naik ke atas kursi dengan tangan kanan bertengger di atasnya. Ia mendekus, giginya masih gemeretak.
“Kau belum mendapatkan kabar dari para prajurit abal-abalmu?” tanya kembali sang ratu seakan sengaja menyulut amarah Raja Warsana.
Raja Warsana bangun dari singgasana. Dia berjalan ke kanan ke kiri, tampak sekali kegelisahan di wajahnya masih menumpuk.
“Sebaiknya ikuti saja usulku.” Ratu berkata sambil meniup-niup kukunya yang berwarna merah marun.
“Diam!!!” sentak Raja Warsana. Ia muak jika sang ratu sudah mulai menggiringnya kembali untuk kembali menghisap darah rusa. Sejak ia memulai semua ritual, tak ada lagi kata mundur. Ia berjanji tak lagi meminum darah rusa karena itu artinya bisa membuat semua usahanya untuk mendapat kekelan menjadi sia-sia.
“Rasanya masih segar. Kau tidak berniat kembali nostalgia, sayang?” goda Ratu. Dia bangkit dari kursi kebesarannya. Berdiri menghadap Raja Warsana lalu bergelayut manja di tangan suaminya.
Raja Warsana mencebik. “Kau tak pernah tau nikmatnya rasa darah manusia.”
“Tidak buruk. Aku pernah mencobanya. Tapi tetap saja lebih enak darah rusa,” akunya. “Kau harus mencobanya kembali, raja.”
“Itu karena darah yang kau hisap darah seorang mayat,” tukasnya.
“Dia masih bernapas,” sangkal Ratu.
“Dia sekarat,” tegas Raja Warsana tak ingin kalah.
“Artinya manusia malang itu belum mati dan berubah menjadi mayat.”
“Ah sial. Mulutmu berisik sekali.” Gerak gelisah ke sana- ke marinya terhenti. Mengerang marah pada sang ratu. Terlebih ratu yang terus menggelayut manja semakin membuat Raja Warsana naik pitam.
“Kau dengar anakku? Bapakmu sungguh pemarah.” Ratu bercakap sendiri dengan anak ular yang ikut menjuntai wajahnya. Ia melepaskan tangan suaminya dan kembali duduk di kursi kebesarannya sebagai seorang ratu Kerajaan Wangkara
Suara ringkikan kuda terdengar di luar istana. Wajah muram sang raja berubah cerah seketika. Tawa jemawa kembali menggema. Menggetarkan sekeliling istana.
Raja Warsana sudah membayangkan bagaimana manisnya darah korban terakhirnya. Manis, sedap dan segar, seperti yang Lotung sampaikan. Korban ke tujuh sebagai pelengkap ritualnya untuk mendapatkan kehidupan kekal di dunia siluman. Sebentar lagi, ya sebentar lagi. Tinggal menunggu gerhana bulan muncul maka ritual saji darah akan terlaksana lalu semua kehidupan dunia siluman berada di bawa kungkungannya selamanya.
Sepanjang para prajurit memasuki karpet merah menuju singgasana Raja Warsana tak hentinya tertawa. Ia menutup matanya untuk menghirup darah manusia tak ubahnya seperti manusia menghirup bau daging panggang terlezat.
Namun geraknya terhenti. Ia menoleh ke semua arah hanya untuk mendapati bau spesifik darah manusia. Kepalanya bergerak-gerak mengendus, tangannya bergerak di udara dengan gerakan mengipas. Namun, nihil. Raja Warsana tidak mencium bau darah anak manusia sama sekali.
Kekecewaannya semakin diperkuat mana kala Raja Warsana melihat wajah lesu dari ke empat prajuritnya.
Mereka sampai di depan singgasana. Ketua prajurit duduk berlutut dengan lutut kanan berada di atas dan kedua telapak tangan menyatu di atas kepala yang menunduk.
“Hampura Raja. Anak manusia itu tidak berhasil kami temukan,” lapornya. Wajah mereka penuh penyesalan dan ketakutan akan kemurkaan rajanya. Benar saja karena tak lama rahang Raja Warsana menegang seketika. Ia berdiri tegap lalu mengibaskan jubah kebesarannya, seperti yang ia sering lakukan untuk memperlihatkan ketinggian martabatnya.
Rahangnya terlihat semakin mengetat hingga memperlihatkan beberapa urat lehernya. Matanya berkobar merah dengan kilat-kilat merah darah. Tangannya mencengkeram kuat pada pilar singgasana.
Wajahnya yang semula tampak normal berubah menjadi berbulu di beberapa bagian juga taring gigi yang kontan memanjang seketika. Ia mengerang. Kepalanya meliuk ke kanan-ke kiri. Bersamaan dengan keluar ekor panjang dengan bulu hitam legam bergerak ke kanan-ke kiri searah gerak kepalanya.
“Apa kau bilang?!” Suara serak berat khas siluman menggema. Napasnya memburu.
Para dayang yang semula khusyuk mengipas-ngipas raja dengan kipas bulu besar, serempak menghentikan geraknya. Perlahan mereka mundur seakan tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Ratu sendiri hanya mencebik. Tidak ada yang perlu dia lakukan. Sebelumnya dia sudah sering memperingatkan R Warsana untuk hidup kembali berdasarkan kodrat mereka. Jika sudah begini sang Ratu hanya akan menjadi penonton tanpa berniat melakukan sesuatu.
Ketenangan ratu tak dimiliki oleh empat orang yang bersimpuh di bawah sana. Mereka tak sama sekali berniat menengadahkan kepala. Kecuali mereka siap mati.
“Siapa yang meminta kalian pulang?” ucapnya dengan suara yang sesekali mengerang di beberapa penggalan kalimat. “Kalian ingin menggantikan posisi gadis itu, hah?” geretaknya.
“Kami berjanji untuk menemukan gadis itu. Beri kami kesempatan lagi yang mulia.” Pintanya untuk kesempatan kedua. Mereka belum siap mati konyol. Mereka masih ingin menggunakan keistimewaannya yang didapatkan dari Raja Warsana yaitu kilat laser merah di mata yang bisa menjadikan mereka algojo kematian untuk para siluman.
“Pergi atau kalian akan mati di tanganku hari ini!!!” perintahnya. Telunjuknya gemetar menunjuk ke luar sana.
“Baik raja.” Semua prajurit serempak menjawab. Mereka bangkit setengah badan dari persimpuhan tanpa berusaha menengadahkan kepala.
Para prajurit berjalan mundur dengan pandangan tetap ke bawah karpet merah. Namun gerakan mereka kontak berhenti saat salah satu dari mereka— prajurit berompi merah— memekik. Keringat sang pemimpin turun dari pelipisnya, tapi ia hanya bisa bergeming tanpa berani menolong rekannya tersebut. Meski ia tahu apa yang sudah terjadi.
Prajurit berompi Merah memegang bagian tangan yang terkena laser merah. Ia meringis pelan. Bukan karena tidak terasa sakit, tapi jika ia meringis melebihi suara kipas-kipas angin para dayang niscaya Raja Warsana tidak hanya akan melukai tangannya, tapi bisa membuat jantungnya berlubang lalu lenyap dari dunia siluman.
Luka yang prajurit itu terima hanya peringatan kecil dari raja angkuh itu.
Mereka kembali bergerak mundur dengan Prajurit berompi memegang bahu yang terluka.
Seperginya kelompok para prajurit utusannya, Raja Warsana mengembalikan bentuk tubuhnya, membuat jubah yang ikut melebar kembali jatuh menjuntai menutupi tubuh.
Raja Warsana berdiri lalu beranjak seraya kembali mengibaskan baju kebesarannya.
Ditatap oleh ratu tak menjadikan Raja Warsana memberhentikan langkahnya. Ia terus turun dari singgasana dengan langkah lebar. Menuju ke sebuah tempat.
“Oh sayang lihatlah. Ayahmu sungguh pemarah.” Sang ratu mengambil satu ular di atas kepala. Ia mengelus-elus kepala sang ular. Namun bak tidak tahu terima kasih, si ular justru menggigit sang ratu.
Taring ratu keluar bersama suara desisan khas ular. Ia mencekik ular itu sampai tak bernyawa. Lalu dilemparnya ular itu tanpa kasih sayang.
“Tak ada yang boleh menyakitiku, kecuali ingin ikut mati seperti ular itu. Kalian dengar?” teriaknya membuat para dayang menunduk serempak.
Sungguh sikap yang kontradiksi ketika ia meminta raja untuk bersikap normal selayaknya siluman pada umumnya.
***
Tak terdengar apa pun selain suara ketukan jemari pada papan meja— dari jemari milik Nyimas— di tengah-tengah mereka.
Sanjaya sendiri sudah sangat jengah dan segera ingin pergi dari kumpulan manusia dan siluman absurd ini. Ia memindahkan tatapannya dan menatap tajam pada lelaki yang tak memiliki rasa bersalah sama sekali.
Gendala selaku terdakwa malah mengangkat bahunya. Membuat Sanjaya ingin mencekik dirinya saat ini juga.
“Jadi dia manusia?” Interogasi masih berlanjut.
Sanjaya tak menjawab. Dilihat dari arah mana pun jelas Gendis adalah manusia. Seharusnya tidak perlu lagi dipertanyakan kebenarannya.
“Jadi—“
“Jadi aku mencuri pakaianmu untuk memberikan baumu pada wanita itu,” aku Sanjaya, dagunya naik untuk mengarah ke arah Gendis.
Gendis merasa jengah. Sudah ia duga. Kebaya yang katanya mahal tak lain ternyata kebaya seorang siluman cantik di hadapannya. Tapi untuk apa Sanjaya melakukan hal itu?
Dan apa tadi? Agar baunya menular pada Gendis?
“Prajurit Warsana mencarinya,” jelas Sanjaya pada kedua temannya.
“Omo?” Gendala memekik dengan aksen ala opa-opa Korea. Hal itu membuat Gendis menganga seketika.
Ia memegang kepalanya yang terasa berkedut lalu meremas rambutnya. Sebenarnya ada di mana Gendis berada? Kenapa semua makhluk di sini beraneka ragam. Ada yang berperilaku seperti zaman kerajaan kuno, ada juga berlaku orang Korea. Ah tidak, yang betul adalah berlaku ala aktor drakor karena kedua tangan Gendala sekarang sedang memegang pipinya dengan manik mata melebar, menampilkan ekspresi terkejut yang justru terlihat tidak natural.
Berbeda dengan Gendis yang tampak sangat syok. Sanjaya dan Nyimas malah bersikap biasa saja. Seperti sudah biasa melihat tingkah Gendala seperti tadi.
“Dia persembahan raja terakhir,” lanjut Sanjaya.
Nyimas tampak berpikir. Telunjuknya berada tepat di kening sebelah kanan. “Jadi artinya hasil rituan kakek banggot itu ada pada wanita ini?” Nyimas melirik Gendis sejenak lalu kembali berbicara pada Sanjaya. “Jadi artinya kita harus menyelamatkan wanita itu?”
“Tidak juga. Aku tidak peduli dia mati atau hidup.” Sanjaya menoleh sekilas pada Gendis. Membuat Gendis ingin mencolok matanya itu. “Aku hanya peduli pada masa depan kita,” imbuhnya.
“Ya. Aku paham. Warsana memang tidak boleh mendapatkan kekekalan abadi. Namun masalahnya, tidak mudah menyembunyikan wanita itu selama dirinya masih ada di dunia kita.” Gendala yang sedari tadi tak banyak bicara membuka suara.
Ucapan Sanjaya memberikan asa harap pada Gendis. Rasanya ada angin sepoi masuk lewat sela-sela bilik bambu.
“Warsana tak sehebat seperti yang dilihat banyak kaum kita. Dia lemah. Dia bersembunyi di satu kitab mantra.”
“Kita harus merebut segera kitab itu.” Nyimas berusul.
“Sulit. Kecuali jika kau ingin mati bunuh diri.” Sanjaya menimpali.
“Jadi kita harus mengembalikan manusia ini?” tanya Nyimas.
“Sulit. Tapi ada cara lain." Sanjaya memberi seringainya kembali. Seringai yang membuat harapan Gendis menguap seketika.
“Membunuhnya?” tanya Nyimas.
Sanjaya, Nyimas dan Gendala menoleh bersamaan ke arah Gendis. Membuat gadis itu memundurkan tubuhnya beberapa langkah.
“A—apa?” gagapnya. Tubuhnya menabrak dinding anyaman bambu. Dia terjerembap dengan keringat dingin kembali membanjiri.
Mungkinkan kali ini benar-benar akhir kisah hidupnya?