Doa Gendis

1763 Kata
“Di sini.” Hidung sang pemimpin mengendus, wajahnya menghadap ke atas dengan posisi berjalan setengah merangkak. Kondisi tubuh mereka tampak masih utuh, tapi bentuk kepala sudah berubah menjadi serigala juga deretan gigi tajam di mulut. Gigi itu beberapa kali gemeretak, matanya memancarkan kilatan merah. Perlahan kuku-kukunya memanjang beberapa cm lalu menjadi lebih meruncing dan keras. Gerakan mengendus diikuti oleh beberapa anak buahnya. Mereka sempat terpencar sampai akhirnya —berdasarkan analisis indra penciuman mereka—mereka bersatu pada titik yang sama. Berada di tempat yang sama. Mata mereka serentak tertuju pada gubuk kecil dengan kuda hitam legam di depannya yang diikat pada salah satu pohon. Ketiganya saling tatap dan akhirnya mengangguk satu sama lain. Di dalam gubuk Sanjaya masih dengan posisi memeluk erat tubuh Gendis. Matanya matanya tertutup seraya mulutnya bergerak merapalkan mantra. Tanpa gendis ketahui, cahaya berwarna ungu cerah mengelilinginya. Lalu cahaya itu hilang bersamaan dengan dilepaskannya rengkuhan itu. Gendis masih tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Yang ia rasakan saat itu hanya tubuhnya memiliki energi setelah sejauh ini ia merasakan lemas akibat degup jantung yang tidak stabil. “Siapa pun yang datang. Diam!” tegasnya. Jemari terangkat lalu menempel di bibirnya. “Ken—“ “Diam!!!” Gendis membungkam mulutnya rapat-rapat. Dari air wajah Sanjaya Gendis mulai menyadari ada sesuatu yang terjadi. Sanjaya menatap lekat pada manik mata coklat di hadapannya. Seolah dirinya sedang mentransfer sesuatu yang membuat mata Gendis memiliki warna mata yang sama dengan Sanjaya, warna ungu safir. Di saat itulah Gendis baru menyadari warna mata Sanjaya berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia. Sanjaya memegang tangan Gendis. Lalu ditariknya tangan itu agar mengikuti langkahnya. Ke empat prajurit sudah bersiap membuka paksa pintu itu, tapi Sanjaya sudah terlebih dahulu membuka pintunya. Ketiga prajurit itu mundur selangkah. Wajah serigala perlahan berganti dengan wajah manusia. “Wilujeng sumping, Kisanak.” Sanjaya tersenyum. “Adakah yang kiranya kami bantu?” tawarnya sopan. Para prajurit saling bertatap sebelum akhirnya sang pemimpin bersuara. “Keluarkan persembahan raja!” Dadanya membusung angkuh. Kedua tangan berada pada ujung rompi, semakin memperlihatkan keangkuhan yang dia miliki. Sanjaya menyunggingkan senyumnya. “Hapunten Kisanak. Saya tidak mengerti maksud kisanak.” Sanjaya merendahkan kepalanya sedikit. Wajahnya tampak sangat tenang berbanding terbalik dengan wajah gusar Gendis. Tatapan ke empat prajurit itu beralih pada Gendis. Gendis menyadari tatapan intimidasi itu lantas mengeratkan tangan pada pergelangan tangan Sanjaya. Memberi isyarat atas ketakutannya. “Jangan bermain-main dengan kami. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau berani menyembunyikan persembahan untuk raja?” “Aku sama sekali tidak paham sembahan apa yang Kisanak ucapkan. Di sini hanya ada aku dan istriku,” jelasnya. Mata Sanjaya menatap lurus pada wajah Gendis. Kedua sudutnya tertarik membuat Gendis masuk dalam pusara pesonanya. Dalam kondisi seperti ini, sempat-sempatnya Gendis terjerat oleh pesona pria itu. Seolah suara Sanjaya adalah angin lalu. Sang pemimpin prajurit memilih maju, mendengus aroma Gendis dari dekat tanpa izin. Alisnya bertaut lalu kemudian mengulangi hal yang sama di beberapa bagian. Hingga tepat di ceruk leher Gendis membuat gadis itu menahan gemetar tubuhnya. Gendis memejamkan matanya. Untuk ketiga kalinya ia mengalami hal serupa. Ketua prajurit kembali menarik tubuhnya. Tak ada bau manusia di tubuh Gendis. Namun, rasa penasaran terus membuatnya menatap gendis lamat-lamat. Ketua prajurit itu cukup yakin jika gendis adalah manusia. Tapi bagaimana membuktikannya jika bau manusia tak ada sama sekali dalam tubuh Gendis. Wajah mereka masih sengit. Sampai ketua prajurit menggerakkan tangan memberi isyarat untuk pergi. Gendis baru saja mau menarik oksigennya karena bisa terlepas dari kecurigaan mereka, tapi kemudian napasnya kembali tersengal kala Semua prajurit justru menyerang Sanjaya secara mendadak. Sanjaya sigap akan serangan. Dia bukan lelaki tak terlatih. Zamalik berani bersumpah jika Sanjaya bukan pemuda yang biasa saja. Kemampuannya, juga keistimewaannya hidup di antara dua dunia membuat pemuda itu memiliki kekuatan yang tidak pernah lu diragukan. Dengan gerak silat, Sanjaya menangkis semua gerak serangan. Sebenarnya tak sulit untuknya menumbangkan lawan. Cukup laser ungu keluar dari manik safirnya, sekelas prajurit raja Warsana akan tumbang. Namun hal itu justru yang Sanjaya sembunyikan. Ia tak sama sekali memperlihatkan warna cahaya di matanya. Belum saatnya. Semua terpental satu demi satu hanya dengan satu tendangan Sanjaya. Prajurit mengerang marah, tak terima ada siluman di dunia yang bisa membuat mereka tumbang. Lemah, tetaplah lemah. Kala mereka tak bisa memiliki cara lain untuk menumbangkan musuhnya. Ketua prajurit mengeluarkan laser merah. Sanjaya terperangah. Dengan gerak cekatan tangannya meraih pinggang Gendis lalu membawa Gendis melakukan teleportasi. Mengikut sertakan menghilangnya kuda hitam milik Sanjaya. Seperginya mereka para prajurit mengumpat. Mereka kehilangan jejak. Sedangkan Gendis sendiri, jantungnya seakan melompat dari tempat tertinggi ketika ia masuk pada dimensi hitam yang membawa tubuh mereka pada satu haluan. *** Pintu didobrak oleh satu kaki jenjang. Gendis dan Sanjaya terperanjat bersamaan. Detik kemudian seorang Wanita muncul dari daun pintu menampakkan wanita cantik berpakaian kebaya merah. Gendis memerhatikan ke elokan yang disungguhkan dari wanita dengan. Kulitnya seputih salju, yang mungkin bila wanita itu ada di antara pekatnya malam, kulit cerahnya bisa memancarkan sinar. Tubuhnya jenjang seperti model-model profesional di dunia manusia. Beberapa bunga mawar menghiasi rambutnya yang diikat menggulung. Dia terlihat seperti boneka Barbie. Sungguh Gendis tak berbohong. “Lagi?” Wanita itu mencebik. “Bodoh!” secara tiba-tiba dia memaki. Sanjaya tak sama sekali menjawab ocehan wanita itu. Ia lebih senang bermain dengan kumpulan asap di mulutnya. Dilihat dari bagaimana seringnya ia menghabiskan kelintingan cerutu, gendis menebak jika Sanjaya merupakan perokok akut. Gendis sendiri memilih bungkam akibat tak mengerti siapa wanita itu. Kenapa wanita itu memaki. Ah, memang apa yang Gendis ketahui di sini. Bahkan setelah secara mendadak dirinya diajak berteleportasi. Tidak gila saja sudah beruntung. Mata wanita cantik itu memicing. Melihat Gendis dengan arah tatapan dari atas ke bawah dan berulang dengan gerak sebaliknya. “Siapa dia?” tanyanya. Gendis menggigit pipi dalamnya. Kenapa dia merasa bahwa dia sedang dilabrak oleh pasangan lelaki di sampingnya. “Ada apa, Nyimas?” Sanjaya berdiri. Berjalan membuka jendela dan menatap hamparan pohon jati di depannya. “Masih bertanya? Cih. Ada apa lagi? Kau berpindah lagi? Ada sesuatu yang terjadi?” Wanita bernama Nyimas gegas mendekat. “Dari mana kau dapat informasi kepindahanku?” Nyimas memutar mata malas. “Gendala masih setia menjadi mata-mataku. Kau tau, bukan, kalau dia masih tergila-gila padaku. Hanya sekedar mendapatkan informasi tentangmu itu mudah bagiku,” akunya bangga Sanjaya berdecak, wajahnya masih menghadap ke seberang sana, memerhatikan kuda hitam yang sibuk melahap rumput-rumput di sekitarnya. Abainya Sanjaya membuat Gendis bertanya dalam hati. Apakah Sanjaya tidak sedikit pun tergiur pada paras ayu Nyimas? Lelaki gila mana yang tidak tergoda oleh paras secantik Nyimas? “Sudah kubilang. Hentikan jual mahalmu, Kang Mas. Karena kapan pun aku bisa saja menjadi milik orang lain.” Gendis menahan tawanya. Ia seperti melihat sahabatnya Vivi yang terus memaksa seseorang untuk mengakui cinta padanya. Padahal dilihat dari mana pun, tak ada indikator sedikit pun yang merujuk bahwa lelaki itu menyukai Vivi. Akankah Nyimas merasakan hal serupa dengan Vivi. Ditolak dengan cara paling mengenaskan. Tapi tentu berbeda dengan Vivi. Nyimas tak punya satu celah pun untuk menjadi alasan sebuah penolakan. Andai ada Vivi, dia akan bertaruh seratus ribu tentang akhir hubungan dua pasangan siluman ini. “Aku berdoa akan hal itu,” jawab Sanjaya telak. Yang benar saja! Gendis semakin ingin menyemburkan tawa. Hal itu dilihat oleh Nyimas. Nyimas menatap tajam wanita yang kini membuang wajahnya ke atap-atap berbahan kan tumpukan jerami. “Tunggu.” Nyimas memicingkan mata. Dia mengendurkan sedikit hidungnya. “Baumu bukan dari bangsa kami.” Kontan wajah Gendis mendadak pucat. Sedangkan Sanjaya yang tidak sengaja menolehkan wajah ke arah mereka memilih diam tak melakukan apa pun. Kiranya Nyimas akan melakukan hal serupa dengan Lotung, atau ketua prajurit tadi. Justru teriakan yang membuat Gendis harus menutup telinganya rapat-rapat. “Kau mencuri bajuku, hah?!” Nyimas memekik. Gendis ternganga. “Baju?” Pada akhirnya gendis mengerti. Ia segera melemparkan tatapan tajam pada Sanjaya. “Oh, ini pakaian yang dibeli dengan harga mahal?”sindir Gendis. Sanjaya menelan Salivanya. Skak! “Apa maksudmu?” Nyimas mengerutkan keningnya. “Nyai, anda bisa tanyakan pada pemuda tamvhan di sana. Dari mana dia bisa dapat baju kebaya dengan harga mahal ini.” Nyimas menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia menggeleng-gelengkan kepala. “Benar dugaanku. Kamu menyukaiku. Maka dari itu kamu mencuri bajuku lalu memberikannya pada wanita ini agar kau bisa melihat aku pada wanita ini. Tapi—“ Nyimas memeriksa Gendis dari atas hingga bawah. “Seleramu menjadikan gadis ini sebagai bahan raga untukmu membayangkanku sangat buruk. Oh lihat. Bajuku yang bagus bahkan terlihat tak lagi berkelas ketika dia yang memakainya. Oh ayolah Sanjaya, aku tidak akan menolaknya andai kau berkata jujur. Tak perlu menjadikan orang lain untuk mengenang diriku.” Mulut Gendis ternganga. Bukan karena deretan kalimat sepanjang kereta api. Tapi pada penghinaannya yang dia tak terima. Apakah semua siluman, sialan, di sini memiliki mulut serupa tuba?! “Hah yang benar saja,” gumam gendis. Ia membuang napas kasar Beberapa kali gendis menarik napasnya agar bisa menstabilkan emosi. Sejujurnya ia ingin melawan, tapi gadis itu cukup tahu diri dengan kapasitas kemampuannya sebagai manusia. Melawan siluman? Gila! Dia masih waras. Yang bisa Gendis lakukan hanya berdiri. Memosisikan tubuhnya di tengah-tengah Nyimas dan Sanjaya. “Kalau kalian sepasang kekasih. Tolong selesaikan urusan kalian berdua. Aku tekankan di sini. Aku bukan alat raga pencapai kepuasan. Menurut kalian aku boneka hangat?” “Boneka hangat?” Nyimas menyela. “Ya. Aku bukan benda itu!” sengit Gendis. “Boneka hangat? Boleh kamu gambarkan yang seperti apa itu?” wajah polos Nyimas membuat perut Gendis mendadak mual. Gendis gelagapan. Meskipun jomlowati kelas kakap bukan berarti dia sepolos itu. Dia cukup tahu apa boneka hangat yang di katakan barusan. Tapi tak lantas ia harus menjelaskan pada dua makhluk di depannya yang tampak masih terlihat... polos. “Ah, lupakan. Pokoknya boneka hangat.” “Maksudmu boneka yang disimpan di depan perapian.” Lumayan untuk jadi alibi pengalihan topik pembicaraan. “Iya betul.” Jawabnya. “Biar cepetlah. Pusing aing,” tambahnya dalam hati. “Dan satu lagi perlu anda ketahui Nyai cantik yang moleknya tiada tara. Aku bukan pelakor. Jadi—“ “Pelakor? Apa lagi itu?” selanya lagi. Rasanya gendis ingin menangis saat ini juga. Kenapa mulutnya selalu membawa kata-kata kekinian yang tak mereka pahami. “Ya Allah. Maafkan hamba jika hamba selama ini banyak dosa.” Kedua tangan Gendis menengadah bersama dengan wajahnya. “Mohon ya Allah hamba cuma pengen hidup normal. Janji deh udah ini nggk akan lagi ngakunya puasa sama Mama padahal udah makan bakso semangkok di warung bakso Mang Udin.” Tubuh Gendis melorot bersama air matanya yang terurai di pelupuk mata. Sanjaya juga Nyimas yang melihat itu saling menatap kebingungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN