bc

Terbitlah Kekasih Hidupku

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
mystery
like
intro-logo
Uraian

Kisah Tomi yang sedang meminta kepastian pada pacarnya yang sudah ia pacari selama bertahun-tahun

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 : Meminta Kepastian
Di suatu taman. Ada sepasang kekasih yang duduk berdua di bangku taman dipayungi pohon-pohon yang rindang serta tiupan angin yang berembus menerbangkan dedauanan yang berjatuhan. Gerimis pun datang. Seperti tahu suasana hati mereka yang sedang pilu. Hari ini, Tomi akan meminta kepastian dari wanita yang ia pacari selama belasan tahun ini. Meminta kepastian. Ini bukan pertama kalinya. Mungkin sudah ribuan kali, bahkan tak terhingga. Tomi lelaki yang sabar dan sangat setia tetapi ia bukan terlahir dari keluarga yang kaya. Juga bukan sarjana seperti Tiara, sang kekasih hatinya. Karena itu Tiara memintanya untuk menjalin hubungan secara diam-diam. Karena Tiara tahu orang tuanya pasti tidak akan merestui hubungan mereka. "Kalian tidak sederajat!" Kalimat itu selalu terngiang di telinga Tiara. Itu kata-kata yang diucapkan oleh ibu Tiara Saat ibunya murka karena tahu anak gadisnya diam-diam menjalin hubungan dengan lelaki yang terbilang biasa saja. Tomi sudah menduga dari awal. Namun rasa sayangnya yang tulus pada Tiara membuatnya terus bertahan. Tomi bertanya pada tiara dengan nada yang serius tidak seperti hari-hari sebelumnya. "Aku butuh kepastian. Kamu serius enggak sama aku? mau nikah enggak sama aku?" "Iya, tentu saja aku serius. Aku mau kok nikah sama kamu," jawab Tiara dengan datar seperti sebelumnya. "Oke, kalau gitu besok ijinkan aku main ke rumah kamu!" Tomi meminta ijin karena 11 tahun ini selalu saja Tiara melarangnya untuk menginjakkan kaki kerumahnya. "Haduh ... jangan sekarang. Orang tuaku pasti tanya yang enggak-enggak. Aku gak mau kamu sakit hati. Nanti ya? kalau kamu sudah mapan.” Sama seperti hari-hari sebelumnya juga, Tiara selalu takut dan melarang Tomi ke rumah menemui orang tuanya. "Aku sudah berusaha sabar belasan tahun ini dan menuruti juga selalu mengerti segala keadaan kamu. Aku mohon, sekali saja, kamu tolong mengerti perasaanku. Kamu mungkin tidak tahu. Bahkan tidak sadar kalau banyak cacian yang menerpaku dan keluargaku. Belasan tahun kita menjalin hubungan, tapi belum juga menikah. Maaf! kali ini aku harus tegas. Aku tidak bisa lagi seperti kemarin yang selalu pasrah dan menuruti semua permainan kehidupan seperti yang kamu mau. Kalau hari ini kamu tidak memberi kepastian. Aku mundur saja, bukan karena tidak sayang tapi karena orang tuaku sudah sepuh dan ingin segera menimang cucu. Umur tidak ada yang tau, aku tidak ingin menyesal di kemudian hari. Tidak ingin melihat orang tuaku pergi untuk selamanya sebelum memiliki cucu." Tomi mengeluh panjang lebar tentang perasaannya, berharap Tiara mengerti keadaanya.m Tiara seketika mengeluarkan air mata. Suara isakkaan tangis terdengar dan disambut mesra oleh hujan yang sangat deras sesekali terdengar suara petir menyambar. Namun tidak membuatnya takut. Karena kenyataan hidup Tiara lebih menakutkan dibanding suara petir. Tiara berpikir sangat dalam. Logikanya terus bermain, rasanya mereka tidak mungkin bersatu. Ia sangat tahu watak keras ayah dan ibunya. Sampai kapan pun pasti mereka tidak akan mendapat restu. *** Tiara masih membisu. Tomi hanya bisa memberi waktu sebulan. Tomi akan bersabar kembali menunggu kepastian itu. Sementara Tiara hanya bisa pasrah. Bagai buah si malakama. Ia sangat dilema. Harus memilih orang tua atau kekasih hatinya. Mereka pun pulang dengan menembus hujan deras. Membiarkan air yang jatuh dari langit itu membasahi tubuh mereka hingga basah kuyup. Rasa dingin dan sakit seperti menusuk tulang. Namun mereka berdua hanya bisa terdiam. Berharap ini mimpi buruk dan mereka berharap bisa cepat terbangun. Di atas motor butut milik Tomi. Tiara memeluk erat tubuh Tomi seperti tidak ingin kehilangan. Ia hanya diberi waktu satu bulan untuk memberi kepastian. Pilih Tomi atau orang tua? hanya kata-kata itu yang menari-nari di kepalanya, dibenaknya, dipikirannya, dihidupnya. Tiara berharap masa-masa sulit ini akan segera terlewati. Tidak terasa sudah sampai di depan gang menuju arah rumah Tiara. Tomi sengaja menurunkannya disini. Karena itu permintaan Tiara sebelas tahun ini. Tomi hanya boleh mengantar dan menjemput Tiara di gang ini. Tiara tidak mau kalau Tomi mampir ke rumahnya. Alasannya sama, karena takut ia dicaci maki oleh orang tuanya dan ia takut Tomi sakit hati kemudian akhirnya meninggalkannya. Padahal berulang kali Tomi meyakinkan. Bahwa dirinya tidak akan ambil hati dan tidak akan pergi meninggalkannya. Tetap saja Tiara kekeh pada prinsipnya. Ia hanya ingin menjalin hubungan secara diam-diam. Backstreet. Karena ia lebih nyaman sperti itu. Memang egois. Tapi ia nyaman. "Makasih ya, sudah mengantarkan aku pulang. Kamu hati-hati dijalan, jangan ngebut karena jalanan licin dan masih hujan deras! aku mencintaimu," ucap Tiara pada kekasihnya. Tomi hanya mengangguk. Sedetik kemudian motor bututnya melaju pergi meninggalkan Tiara. *** Tiara adalah cinta pertama dan pacar pertama bagi Tomi. Mereka dipertemukan Tuhan saat masih menggunakan seragam merah putih. Tepat di ruang pendaftaran sekolah menengah pertama. Saat itu orang tua mereka sedang sibuk mendaftarkan anak-anaknya. Sementara Tiara dan Tomi duduk di ruang tunggu. Mereka berkenalan lalu tersenyum satu sama lain dan mulai akrab. "Perkenalkan nama aku Tomi dan aku dari SDN 3,” ucap Tomi memperkenalkan diri, “Nama kamu siapa?" "Namaku Tiara. Aku dari SDN 1." Tomi yang masih ingusan itu, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Tentu saja, Tiara yang memiliki paras imut dan putih serta matanya yang sipit kecil seperti seorang artis Korea mampu membuat Tomi jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka berdua berbincang seru dan saling bertanya seputar keluarga. Rupanya Tiara adalah anak semata wayang. Penampilannya yang mewah, terlihat dari tas, sepatu, jam tangan dan aksesoris bermerek yang dikenakannya. Dia orang kaya! Keseruan perbincangan mereka terpotong. Ibu Tiara menarik tangan kanannya dan berkata, "Ayo pulang! Jangan bergaul dengan orang miskin. Setelah aktif pembelajaran. Kamu harus pandai-pandai memilih teman, ya!" Memang benar. Baju yang dikenakan Tomi sangat lusuh seperti baju bekas. Pantas saja ibu Tiara langsung mengklaim kalau Tomi orang miskin. Tiara sangat merasa tidak enak hati pada Tomi atas ucapan ibunya barusan. Dia langsung meminta maaf dan pamit pulang. Esok harinya. Saat Tomi melihat papan informasi, tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat namanya dan nama Tiara berurutan. Takdir begitu indah. Tidak disangka Tuhan menakdirkan mereka dalam satu kelas. Tomi merasa sangat bahagia yang artinya ia bisa setiap hari memandangi paras imut Tiara. Di sinilah kisah cinta pertama Tomi pun di mulai. Semakin hari bocah ingusan ini semakin jatuh cinta kepada Tiara.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.1K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook