Jangan Lupa follow akunnya, dan tap love ceritanya ya kakak huhuhu
***
Makan malam hari ini tanpa Yohan, mengingat dia masih tidak boleh banyak bergerak. Kondisinya masih belum stabil, karena kecelakaan yang dialami.
Kini hanya ada Anya dan Papa mertua, alias Pak Jeremy mantan bosnya sendiri yang sekarang malah jadi mertuanya.
"Bagaimana keadaan Yohan?" Tanya Pak Jeremy pada Anya.
Wanita itu segera menghentikan aktivitas makannya, karena sang Papa mertua mulai mengajaknya berbicara. Kemudian tersenyum kecil sebelum menjawab.
"Keadaannya baik-baik saja, hanya sedikit lebih keras kepala dari biasanya," balas Anya.
Pak Jeremy terkekeh pelan, "dia memang keras kepala kalau sedang merasa sakit."
"Terimakasih karena sudah mau merawatnya."
Anya kembali menyunggingkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya dengan pelan, "tidak masalah, sekarang dia adalah suami saya pak."
"Saya percayakan dia padamu. Beruntung kamu juga langsung melaporkan pada saya, apa yang terjadi kepadanya saat itu. Kalau saya tidak tau, mungkin saja dia akan menutupinya sekeras mungkin."
Anya tau kalau Pak Jeremy itu sayang banget ke Yohan. Mana anak semata wayang lagi, dan Anya ngerasa aneh aja kenapa Pak Jeremy malah mempercayakan Anya sebagai istri dari putra tunggalnya itu.
Anya tidak bisa memungkiri kalau ketika Papa dan Anak itu sedang ada masalah, dia pasti memihak dari sudut pandang yang benar. Mungkin gara-gara itu juga Yohan sering mengira kalau dirinya menyukai sang Papa.
"Apa dia pernah membuat kamu kesal?"
Anya terkekeh kecil, "sejauh ini tidak sampai melukai hati saya sih pak. Mungkin saya kesal karena dia terus menuduh saya, kalau saya ini suka sama Bapak."
Pak Jeremy terbahak mendengar ucapan Anya. Bagaimana bisa putranya itu berpikir kalau dia menyukai menantunya sendiri.
"Tapi, saya suka sama kamu sih Nya. Saya suka sama sikap kamu, saya suka bagaimana kamu yang bertanggung jawab, saya suka kalau kamu jadi menantu saya," jelas Pak Jeremy.
Nafas Anya sempat tercekat karena mendengar ucapan Pak Jeremy. Tidak taunya setelah Pak Jeremy melanjutkan, Anya segera menghela nafas lega.
Mereka makan dengan khidmat setelah tadi sempat tertunda karena ada yang harus Pak Jeremy katakan. Namun sebelum Anya kembali ke kamar, Pak Jeremy kembali menahan Anya.
"Saya tau, mungkin pertanyaan saya keterlaluan tapi ... Anya, kamu sudah mencintai anak saya atau belum?"
Anya mengerjabkan matanya beberapa kali, "maaf pak? Maksud bapak?"
"Ya, saya tau kalian menikah tanpa cinta. Tapi saya berharap, kamu maupun Yohan bisa merasakan cinta yang saya maksud."
Anya hanya mengangguk kecil, karena sejujurnya dia juga tidak paham. Seperti apa perasaan cinta itu? Hidupnya selalu dipenuhi dengan prinsip, "bagaimana dia harus hidup kedepannya." Tidak pernah memikirkan apa dia bahagia dengan hidupnya.
Semua menjadi terasa ringan di pikiran Anya. Jika ada yang tidak bisa dia lakukan, maka ada orang lain. Lalu jika Pak Jeremy memberinya perintah, maka dia akan laksanakan.
"Satu lagi, jangan panggil saya bapak."
"Anya ... Kamu sekarang menantu saya, dan dari dulu saya sudah menganggap kamu seperti anak saya sendiri. Jadi saya harap, kamu jangan sungkan pada saya."
Anya menganggukkan kepalanya, dan tersenyum lembut. Merasa Pak Jeremy memang selalu baik padanya. Bahkan Anya berpikir apa menikahi Yohan sudah cukup untuk balas budi.
"Baik, saya tidak ganggu kamu lagi. Silahkan, kamu pergi menemui Yohan."
"Baik pa-- pa."
Pak Jeremy terkekeh pelan sebelum akhirnya membiarkan Anya masuk menemui Yohan.
"Saya sudah percayakan Yohan kepada kamu, semoga kamu bisa saling menjaga satu sama lain," ungkapnya sebelum akhirnya kembali ke kamarnya juga.
Sesampainya Anya di kamar, dia melihat Yohan belum tidur. Masih terjaga dengan melihat sebuah kotak musik berwarna merah muda.
"Belum tidur?"
"Tidak bisa tidur," jawab Yohan cepat.
"Bagus, saya belum membantu kamu mengganti perban."
Anya mengambil perban baru dan juga sebuah alkohol untuk membersihkan. Yohan dibantu Anya untuk bangkit perlahan, kemudian Anya membuka balutan perban di kaki Yohan dengan hati-hati.
Saat Anya sedang sibuk membalut perban baru untuk Yohan, tiba-tiba saja Yohan berkata pada Anya, "Papa sama Mama saling mencintai, bahkan Papa pernah janji sama aku, kalau dia gak akan pernah jatuh cinta lagi setelah Mama pergi."
Anya menyimak dengan seksama, saat Yohan meringis, Anya memelankan caranya untuk membalut kaki Yohan.
"Maaf," ucap Anya.
"Aku harap Kak Anya gak jadi orang ketiga antara Mama dan Papa."
Anya yang hendak membalut tangan Yohan, menghentikan aktivitasnya. Kenapa pemuda di hadapannya ini selalu berburuk sangka padanya?
Anya memilih untuk diam seraya menatap Yohan. Dia sungguh jera dengan ucapan Yohan yang seakan-akan membuatnya berada di dalam posisi yang cukup sulit.
"Yohan stop, saya mohon hentikan dugaan tidak berdasar kamu pada saya."
Yohan mengendikan bahunya acuh, "siapa tau kan, Kak Anya ternyata suka sama hartanya Papa."
"Yohan cukup!"
"Apa serendah itu saya di mata kamu?"
Tatapan Anya menegas, hal itu membuat Yohan sedikit ciut. Dia menunduk, namun masih bisa berdecak sebal.
"Ck, kekanakan sekali."
Anya melilitkan perban di tangan Yohan dengan tidak sabaran, hal itu membuat Yohan meringis menahan sakit.
"Shhh, Kak Anya."
Anya hanya melirik dengan galak, kemudian memalingkan wajahnya, dan merapikan beberapa bekas perban yang masih tercecer.
***
"Pagi Kak Anya," Sapa Eros ramah.
Anya hanya tersenyum sekilas dan membantu Yohan untuk duduk di sofa ruang tengah. Hari ini teman-temannya datang menjenguk, dan Yohan gak mau kalau teman-temannya sampai tau dia suka warna merah muda.
Menurutnya hal itu cukup memalukan, tapi Yohan tidak bisa menghindar dari warna itu. Walau Anya sedang mendiaminya, Yohan tetap mendapat perhatian dari Anya.
Setelah Kak Anya pamit mau pergi belanja bulanan sama Bu Morin, meninggalkan Yohan dan teman-temannya di ruang tengah, barulah Eros berkata.
"Kak Anya makin hari makin cantik ya, gak kepincut kamu Han?" Tanya Eros.
Yohan hanya berdecak, "gak usah muji istri orang di depan suaminya, pilih aja mau kuburan atau rumah sakit?"
Eros tertawa pelan mendengar ancaman Yohan. Melihat kondisi Yohan yang bahkan ke kamar kecil saja masih harus dibantu.
"Tau nih, berani banget mentang-mentang pak Bos kita lagi lemah, letih, lesu, lunglai."
Eros terbahak mendengarnya, hanya sedikit menggoda Yohan. Karena pemuda itu terlihat malu-malu kucing kalau di depan Kak Anya.
"Aku sama Kak Anya habis berantem. Makanya dia diem-dieman kaya orang sariawan."
Stefan mengernyitkan dahinya bingung, "kalau dia lagi berantem sama kamu, kok dia mau ngurus kamu?"
Erik menganggukkan kepalanya paham, "paham, paham, emang masalahnya apa sih han?" Tanya Erik kepo.
"Si k*****t, katanya paham tapi malah nanya lagi."
Erik meringis saat Eros memukul kepalanya dengan tidak estetik. Membuat Erik merasa kepalanya sedikit pusing.
"Tanggung jawab, aku sakit kepala nih."
"Dih, gak mau."
Yohan mendelik ke arah mereka, "ya, emang salah kalau aku cuma memastikan Kak Anya gak punya perasaan sama Papa."
Stefan yang lagi minum langsung nyembur begitu saja saat mendengar ucapan Yohan. Erik dan Eros berhenti berdebat dan menatap Yohan terkejut.
"Wah gila! Bahaya banget han, kenapa kamu tega sih nanyain hal yang gak perlu kamu tanyain ke Kak Anya?"
"Untung Kak Anya masih mau ngurusin kamu."
Yohan mengendikan bahunya acuh, "emang salah ya? Aku cuma mau memastikan, soalnya gak lucu aja gitu kalau tau dia ternyata mau nikah sama aku karena dia suka sama Papa."
Stefan menggeleng pelan, "Ganteng sih ganteng, tapi begonya kebangetan," ujarnya.
Erik berdecak pelan walau sebenarnya dia gak heran mengetahui Yohan bertanya seperti itu, karena pada dasarnya Yohan emang gak punya perasaan kalau di depan cewek.
"Aduh, Kak Anya pasti sakit hati banget. Lagian gak mungkin Kak Anya suka sama Papa kamu han. Kalau dia aja setuju nikah sama kamu," ujar Eros.
"Nih ya han, ibaratnya gini. Kamu dituduh punya perasaan ke Mama mertua kamu, padahal sebenarnya kamu itu sayang sama Kak Anya."
Yohan terdiam sejenak saat mendengar ucapan Erik. Lebih tepatnya sedang mencerna apa yang Erik katakan.
"Gimana paham gak?"
Yohan menggeleng setelah sekian lama diam, "kok bisa sih?"
"Soalnya Kak Anya gak punya orang tua."
Ketiga sahabatnya itu sama-sama menepuk jidat. Yohan kalau di depan musuh sangar, tapi setelah masuk kandang begonya kelihatan.