Bab 10

1121 Kata
Follow Akunnya dan jangan lupa tap Lover ceritanya ya Kak! Uhuyy *** "Nona Muda, sepertinya anda begitu menyukai tanaman." Anya tersentak saat melihat salah satu asisten rumah tangga keluarga Pak Jeremy, tiba-tiba menyapa. Dia sedikit mundur dan tersenyum kecil. "Ah, maaf karena telah membuat Nona terkejut," ujarnya seraya membungkuk hormat. Anya segera menggelengkan kepalanya. Merasa tidak enak karena akhir-akhir sering terkejut, mungkin karena dia merasa sangat gelisah. "Tidak apa-apa, saya hanya sedikit terkejut." "Nona ingin camilan, sembari minum teh?" Anya kembali menggelengkan kepalanya, "tidak perlu, saya hanya ingin memperbaiki taman ini. Indah, hanya saja terlihat tidak cukup hidup." Asisten rumah tangga itu---sebut saja namanya Morin, salah satu asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengan keluarga ini kurang lebih 12 tahun lamanya---mengatakan pada Anya, kalau taman bunga mini itu adalah taman yang dibangun mendiang istri Tuan besar. "Mendiang Nyonya besar sangat menyukai bunga yang berwarna merah muda. Katanya warnanya cukup indah dan cantik." Anya tersenyum lembut, kemudian dia mendadak sadar kalau Yohan menyukai warna merah muda. Apa karena mendiang Mamanya menyukai warna itu? "Saya percaya, mendiang Nyonya besar pasti orang yang lembut dan sopan," ujar Anya. "Itu memang benar, hanya saja Nyonya besar pernah keguguran setelah tuan muda lahir. Hal itu yang membuat Nyonya besar berubah sakit-sakitan." Jadi ... Dulu Yohan sempat punya adik? Tapi Mamanya keguguran, sehingga membuat Mamanya sakit-sakitan. Ucapan Bu Morin tadi membuat Anya sadar. Mungkin saja Yohan sebenarnya gak setengil itu. Dia masih punya rasa manusiawi yang belum Anya lihat, eh ... Saat dipikirkan sepertinya Anya pernah melihat Yohan tersenyum, sekali. Drrt ... Ketika Anya merasa ponselnya bergetar, dia akhirnya sadar dan segera mengambil ponsel itu dari dalam saku bajunya. Yohan is calling ... Yohan? Batin Anya bergemuruh dia segera menekan tombol berwarna hijau dan mencoba berbicara di sana. Namun saat mendengar balasannya, suaranya bahkan berbeda dari Yohan. "Halo Kak Anya, saya Eros. Teman Yohan yang kemarin datang waktu pernikahan Kakak." "Ada apa?" Tanya Anya to the poin. Perasaannya gelisah daritadi, tapi gak tau kenapa? "Kakak bisa ke rumah sakit sekarang?" Tanpa pikir panjang Anya mengambil cardigan rajut yang dia sampirkan di atas sofa, kemudian mengambil kunci mobil dan bergegas keluar. Bu Morin memanggilnya namun Anya mengabaikan. Dengan cepat dia masuk ke dalam garasi dan memilih mobil berwarna silver, kemudian membawanya melaju dengan kencang. Sementara itu Yohan melirik tajam ke arah Eros, saat pemuda itu kembali setelah menghubungi Kak Anya. Yohan sudah katakan pada Eros, kalau dia tidak ingin Kak Anya atau keluarganya tau tentang kecelakaan ini. "Gak usah telpon-telpon Kak Anya, aku bisa urus diriku sendiri!" Ujar Yohan galak. Eros memutar bolamatanya jengah, kemudian Eric datang membawakan Yohan roti dan air mineral tanggung. "Gak usah telpon gimana? Gak lihat ya, kaki kamu cedera parah. Gak bisa jalan buat satu sampai dua bulan ini. Kalau bukan istri kamu Kak Anya, siapa yang mau ngurus kamu? Masa Erik sih?" Balas Eros tidak mau kalah. Erik yang merasa namanya dipanggil segera menoleh dengan tatapan heran, "apa-apaan bawa namaku. Udah deh, bilang aja kamu yang mau ngelakuin hal itu ros." Stefan menggeleng pelan, "yang dibilang Eros apa, dijawab apa? Dasar manusia." "Gendut diem aja deh!" Ujar Eros tidak terima. Yohan segera menggeleng dan mendorong Eros untuk menjauh darinya. Membuat Eros menggerutu sebal. "Untung muka kamu gak bonyok. Cuma tangan yang terkilir sama cedera kaki, gak sampe di amputasi," sahut Stefan. "Dut, kok aku rasa omongan kamu makin kesini makin kejam ya?" Balas Erik. Yohan menghela nafas, ketiga kawannya ini membuat Yohan jengah sendiri. Memilih untuk berbaring dan memejamkan matanya dengan cepat. "Eh kak Anya udah dateng," ujar Eros. Dengan cepat Yohan bangkit pelan, namun saat dia menatap sekitar. Yohan baru sadar kalau Eros menjebakknya. "Jiahh, katanya gak mau Kak Anya dateng. Tapi denger nama Kak Anya dipanggil langsung bangun, Han." "Berisik!" *** Yohan memilih untuk di rawat di rumah setelah tiga hari berada di rumah sakit. Kedatangan Anya bersama sang Papa membuat Yohan tidak bisa berkutik saat sang Papa memberinya ceramah. Semenjak itu Yohan jadi malas melihat Kak Anya, dia hanya akan membuat laporan pada Yohan. Pemuda itu tidak masuk sekolah untuk beberapa hari ini, sebelum keadaannya benar-benar pulih. Beruntung saat itu pernah terjadi sebuah pandemi di negara mereka, sehingga kelas online masih diterapkan bagi siswa yang ada kendala seperti sakit. Anya datang tanpa mengetuk pintu. Dia membawakan Yohan sarapan, mengingat Yohan baru saja bangun, dan tidak bisa ikut sarapan bersama. "Han, kamu makan dulu." Yohan hanya diam dan fokus pada gawai canggih yang dia mainkan. Hal itu membuat Anya menghela nafas gusar. "Kamu gak mau sarapan?" Hening tidak ada jawaban. Anya berusaha untuk sabar dan duduk di tepi ranjang kemudian meletakkan nampan itu diatas nakas. "Yohan, saya bertanya pada kamu." Yohan menghentikan aktivitasnya, kemudian melirik dengan malas ke arah Anya. Tidak ingin banyak berdebat dan berusaha meraih makanan itu. Anya yang melihat Yohan hendak meraih sarapannya, menghela nafas panjang, "kamu kalau mau makan, bilang aja kenapa sih?" "Kamu masih kesal sama saya? Karena saya memberitahu Papa kamu tentang kecelakaan yang kamu alami ini?" Yohan terdiam, tatapannya kini beralih pada Anya yang terlihat kesal. Wanita itu mengambil nampan yang berada di atas nakas, kemudian meletakkannya tepat di depan Yohan. "Saya tau, kamu pasti kesal sama saya. Tapi saya juga harus melaporkan kejadian ini sama Papa kamu. Masih untung Tuhan kasih kamu kesempatan buat hidup, kalau kamu kenapa-napa terus Papa kamu gak tau ... Kamu pernah mikir bagaimana perasaan Papa kamu yang hancur?" Anya memilih untuk bangkit, mukanya merah menahan marah. Anya emang sedikit emosional kalau menyangkut orangtua. Dia sangat menghormati orang tua, karena dia tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya. "Terserah apa yang kamu pikirkan tentang saya, tapi ingat Yohan. Saya tidak akan menutupi apapun dari Papa kamu tentang kamu!" Tegas Anya sekali lagi. Setelah itu memilih untuk pergi, namun saat Yohan hendak mengambil sendok. Terdengar suaranya yang meringis kecil. Anya segera berbalik dan menghentikan niatnya yang hendak pergi meninggalkan Yohan. "Astaga Han! Lihat, kamu makan aja masih susah. Beruntung teman kamu memberitahu saya kalau kamu kecelakaan. Siapa yang mau mengurus kamu kalau sudah begini?" Yohan terdiam sejenak, kemudian menatap Anya dengan tatapan kesal. Dia menahan tangan Anya saat wanita itu hendak menyuapinya. "Kak Anya ... Bisa berhenti mengomel sebentar?" Pinta Yohan jengah. "Kak Anya selalu mengomel setiap aku membuat Papa kecewa. Kak Anya suka sama Papa ya?" Anya meletakkan kembali sendok yang ada di tangannya tadi, "kamu pikir saya bakalan suka sama Papa kamu?" "Saya tanya kamu sekarang ...." "Saya ini istri kamu atau istri papa kamu?" Yohan terdiam sejenak kemudian menjawab, "jadi kakak cinta sama aku?" Bagaimana cara dia membuat Yohan ini paham, kalau dia sama sekali gak berminat buat merebut Papanya, disaat dia udah jadi menantu dari Papanya sendiri?! Anya jadi gregetan sendiri sama Yohan. "Terserah kamu han, saya nyerah. Sini kamu makan dulu." Yohan berdecak sebal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN