bc

Pria Luar Angkasa

book_age18+
5
IKUTI
1K
BACA
space
arrogant
drama
heavy
kicking
genius
high-tech world
another world
enimies to lovers
expirenced
like
intro-logo
Uraian

Tujuan hidup seorang klon hanya ada dua: bertingkah seperti Manusia sejati, dan mencari cara agar tidak tertangkap ketika berkeliaran di Bumi. Sebagai salah satu klon dengan prestasi paling cemerlang, Airuz menganggap tugas yang ia lakukan akan semudah membalikkan telapak tangan. Setidaknya… itulah apa yang ia pikirkan pada awalnya.

Pikiran Airuz berubah semenjak ia ditugaskan untuk menjalankan sebuah misi yang mengancam nyawa di Indonesia. Akan tetapi, saking sempurnanya kemiripan yang ia miliki dengan Manusia, lambat laun ia mulai melupakan identitasnya sebagai seorang klon dari luar angkasa.

Airuz terlibat cinta segitiga dengan pribumi. Kemudian menjadi buronan para polisi. Semua kemalangan yang menimpanya diperkeruh oleh ikut campurnya seorang dokter forensik yang berhasil mengidentifikasi bahwa Airuz bukanlah penduduk asli Bumi.

Akankah ia memilih untuk kembali ke planetnya dan mempertaruhkan reputasinya sebagai klon terbaik? Ataukah Airuz akan memilih untuk tinggal lebih lama di Bumi untuk memperbaiki kesalahannya—sekalipun itu berarti mengorbankan nyawanya sendiri?

chap-preview
Pratinjau gratis
Manusia Bertangan Empat
Ketika pertama kali mendengar kata ‘Manusia’ terlontar dari mulut salah seorang guru biologiku, yang terlintas di benakku adalah makhluk berkepala dua dan bertangan empat. Yang aku ketahui tentang manusia pada saat itu memang begitu minim. Mau bagaimana lagi, ketika topik ini dibahas di sekolah, aku masih sangat belia—bayangan tentang Manusia yang ada di benakku pun ternyata jauh berbeda dengan kenyataan yang ada. Sejatinya ini dikarenakan sebuah buku yang tanpa sengaja aku temukan di perpustakaan antik institusi. Aku ingat betul bahwa ada sebuah karya yang menyebut kata ‘Manusia’—satu kata yang kala itu masih asing di telingaku. Si penulis buku menjelaskan bahwa makhluk ini awalnya berkepala dua dan bertangan empat. Yang dengan sengaja dipisahkan oleh suatu kekuatan—yang tidak disebutkan apa—karena mereka terlampau kuat untuk ditampung seisi alam semesta. Sejak saat itu kepalaku dipenuhi oleh kekagumanku akan makhluk ekstraterestrial bernama Manusia ini. Aku pun mulai melakukan riset kecil-kecilanku sendiri hanya untuk dikecewakan pada akhirnya. Manusia ternyata tidaklah berkepala dua dan bertangan empat—rupanya aku sudah belajar dari sebuah buku yang salah. Nyatanya, Manusia memiliki satu kepala, dua tangan, dan dua kaki. Kaki adalah organ yang mereka gunakan untuk berjalan. Strukturnya menarik bagiku karena kaki-kaki mereka terlihat begitu sederhana, tetapi efektif. Yang paling menarik adalah wajah. Wajah mereka menjadi satu hal vital bagi kelangsungan hidup mereka. Berdasarkan sebuah teori, semakin menarik wajah mereka, semakin mudah pula kelangsungan hidup mereka di antara pada manusia lain. Bentuk tubuh mereka pun bermacam-macam sekalipun mereka berasal dari satu species. Terakhir kali aku lihat melalui satelit mata-mata, ada manusia yang bahkan lebih besar daripada seonggok lumba-lumba! Keterangan: Lumba-lumba adalah species lain yang berhabitatkan di bumi. Lalu, apa saut pautnya Manusia denganku? Semua tentangku nyatanya berkaitan dengan makhluk tersebut. Tidak ada siapa pun yang memahami mereka lebih daripada aku. Aku adalah klon Manusia ciptaan sebuah laboratorium. “Airuz,” seseorang memanggil namaku. Aku menoleh untuk menemukan Xyra yang tengah berjalan cepat ke arahku. Aku melempar senyum. “Selamat pagi.” Pria itu terbahak. “Kau sungguh sudah sangat terlihat dan terkesan lebih manusiawi sejak terakhir kita bertemu,” katanya. “Kapan itu? Tiga ezonth yang lalu?” “Maksudmu ‘tahun’, bukan ezonth?” Ezonth adalah bahasa ibu kami yang menandakan sistem perkalendaran yang kami miliki. Dalam bahasa manusia, ezonth adalah tahun, zyxqis adalah bulan, dan feirs adalah hari. Sedangkan jam itu vrexis, menit adalah hoer, dan detik adalah kubols. Di dalam fasilitas ini haram hukumnya bagi semua penghuni untuk menggunakan istilah ibu kami sendiri. Berdasarkan penelitian, ini dapat membantu semua murid-murid klon untuk lebih cepat membiasakan diri dengan aturan-aturan sepele di Bumi. Agak aneh rasanya begitu menyadari guru dan salah satu alumnus terbaik Institusi Clone Cell alias ICC—fasilitas di mana semua klon menuntut ilmu—justru malah menggunakan istilah kaum kami sendiri. Xyra hanya bisa mendengus geli. “Hanya mengetes,” ujarnya dengan logat Manusia yang begitu fasih. “Aku datang secara khusus untuk melihat tesmu hari ini.” Aku memutar bola mata—salah satu gestur yang paling kusuka dari bahasa tubuh Manusia. “Kau datang karena ingin menemui Ciray.” Kusebut salah satu klon baru yang baru aktif beroperasi di ICC beberapa bulan lalu. Kudengar Xyra berusaha mendekatinya melalui platform klon dari i********: yang kami kembangkan sendiri: PixT. “Yah, kau tidak salah mengenai hal itu,” ujarnya dengan cengiran lebar. “Omong-omong, apa kau sudah tahu di negara mana kau akan dikirim?” Intonasi Xyra mendadak saja jadi serius. Semua orang tahu bahwa pria ini menjadi salah satu klon pertama yang ditempatkan di Kutub Utara, Bumi. Itu merupakan tugas yang sangat sulit untuk dilakukan mengingat betapa ekstrim iklim yang ada di sana. Fisik kami sebagai klon pun belum tentu bisa bertahan. Kepulangan Xyra akhirnya disambut oleh gegap gempita para peneliti ICC. Tubuhnya berhasil melalui hal-hal yang kami pikir tidak akan bisa kami lalui. Itu sebabnya Xyra dipilih menjadi pengajar klon di sini. Lebih tepatnya menjadi Spesialis Kebertahanan yang memfokuskan kepada bagaimana agar kami tetap bisa hidup sekalipun berhadapan dengan kondisi-kondisi ekstrim seperti apa yang telah dia lalui. Aku menjawab singkat, “Indonesia.” Kedua mata Xyra langsung berbinar-binar. “Sialan, kau lebih beruntung dariku!” katanya. “Mengapa pula kau ditempatkan di sana? Ada banyak negara lain yang lebih menantang yang bisa kau tuju. Mengapa Indonesia?” Aku menghembuskan napas lelah. “Kau tahu bahwa itu bukan keputusanku,” jawabku enggan. Dia bukan satu-satunya orang yang kecewa dengan keputusan Majelis. “Aku sudah berusaha menegosiasikan ini, tetapi permintaanku selalu ditolak.” “Majelis menolak permintaanmu?” ujar Xyra tak percaya. “Tunggu, prestasi yang kau punya itu bukan karena kau tidur dengan Axrie, kan? Prestasimu organik, kan?” Ia terbahak. Aku mengulum lidah. “Candaan yang bagus.” “Namun, aku serius.” Xyra menyetopku dengan cara meraih salah satu bahuku. “Jika dengan semua pretasimu saja kau masih ditolak, aku rasa mereka pasti memiliki alasan tersendiri.” Seberapa keras aku memikirkan apa yang Xyra katakan, semakin sedikit yang aku tahu. Aku sadar bahwa aku telah menjadi murid yang selalu menduduki peringkat paling tinggi di seluruh angkatan. Aku pun awalnya berpikir kalau aku akan ditempatkan di lokasi yang setidaknya mirip dengan Xyra—menantang dan mengujiku untuk menemukan solusi-solusi baru. Akan tetapi, pengumuman beberapa tahun lalu mengatakan bahwa aku dilokasikan di sebuah negara di Asia Tenggara yang bernama Indonesia. Negara yang menurutku jauh lebih cocok untuk murid-murid yang tidak serius dengan prestasi akademik mereka. Tentu saja karena iklim dan budaya yang Manusia miliki di sana mudah untuk kami ikuti. Tidak seperti Kutub Utara. Ternyata Majelis malah melakukan yang sebaliknya. Indonesia akan menjadi pangkalanku selama kurang lebih lima tahun ke depan. Aku hanya bisa berharap aku akan ditempatkan di sebuah lokasi yang setidaknya menantangku secara fisik dan mental. Aku menepis uluran tangan Xyra dan kembali melangkah. “Aku akan terlambat untuk mengikuti tes,” ujarku. “Sampai ketemu lain kali.” * Tes kelulusan terakhir yang harus kulalui justru merupakan sebuah tes yang terlihat sepele. Ujian sebelum-sebelumnya mengetes kemampuanku dalam menggunakan tubuh manusiaku untuk memanjat tebing, angkat beban, berlari, dan melompat. Tes selanjutnya adalah kefasihan bahasa. Selanjutnya cara menavigasikan teknologi Manusia yang masih jadul. Hal-hal remeh temeh seperti cara membaca bahasa tubuh juga diuji. Yang menjadi tes terakhir—yang juga merupakan tes yang akan dijalankan dengan waktu yang paling lama—adalah ujian berinteraksi dengan Manusia asli. Bukan klon atau robot tiruan yang kami kembangkan, tetapi Manusia yang sesungguhnya. Jangan tanya kepadaku bagaimana kami bisa memiliki Manusia pribumi asli di fasilitas. Maksudku, semua orang sudah mengetahui alasannya. Ini sudah layaknya rahasia publik yang tabu untuk para murid bicarakan—dan aku juga tidak ingin membahasnya. Yang aku tahu adalah kami semua sedang pengupayakan yang terbaik agar krisis sumber daya yang mendera planet kami tidak semakin memburuk. Setidaknya menyadari hal tersebut membuat beban moral yang kumiliki terasa jauh lebih ringan. Karena jika aku tidak melihat situasi ini dari sudut pandang tersebut, aku yakin aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri setelahnya. Aku melakukan yang terbaik untuk kaumku. Itulah tujuan hidupku. Setelah berpisah jalan dengan Xyra di persimpangan koridor, aku bergegas pergi ke ruangan tes. Salah satu bagian fasilitas yang memang dibangun secara khusus untuk menunjang setiap ujian yang kami hadapi. Dan untuk ujian terakhir ini, tempat yang kutuju lumayan jauh dari hall gedung— tempat kami biasanya berkumpul dengan satu sama lain tanpa memandang level akademis. Ruangan yang menjadi tujuanku ini dijaga ketat oleh banyak petugas keamanan. Kami pun harus menjadi murid tingkat akhir untuk memiliki kartu akses agar bisa masuk ke dalam. Kami pun maklum dengan kehadiran para penjaga yang ada di setiap sudut fasilitas di bagian ini. Lagipula, ditugaskannya mereka di sana sangatlah beralasan. Tentu tidak ada yang ingin mendapati seorang Manusia asli yang mendadak melenggang bebas keluar dari institusi dan merusak semua rencana yang kami punya. Selama beberapa dasawarsa terakhir, sama sekali tidak ada insiden semacam itu yang terjadi. Yang menjadi pertanda bahwa ICC telah melakukan tugasnya dengan baik. Dengan hati dag-dig-dug, aku mulai memasuki kawasan yang dijaga ketat oleh para penjaga. Ketika mereka melihatku, aku menganggukan kepala pelan sebagai tanda hormat. Mereka melakukan hal yang sama. Kemudian aku mendaratkan p****t ke salah satu kursi tunggu yang ada. Di depanku kini sudah ada layar LED yang menampilkan urutan nama murid yang akan menjalani tes akhir hari ini. Namaku berada di tingkat paling atas. Salah satu penjaga menghampiriku. “Nama?” Aku menunjuk ke layar di depanku, “Airuz. Airuz 8990.” Kukeluarkan kartu akses yang kumiliki dan petugas itu tampak memangut-mangutkan kepala. Ia memintaku untuk berdiri dan mengarahkanku ke salah satu mesin yang ada di sana. Bentuknya kotak dan menempel ke dinding yang ada di baliknya. Petugas tadi menempelkan kartu aksesku ke mesin tersebut. Sekonyong-konyong pendar kebiruan menghujamku tanpa malu—mesin sedang memindai wajahku untuk memastikan bahwa struktur wajah dan pupil mataku memang sesuai dengan apa yang ada di database fasilitas. Tak lama mesin pun mengeluarkan bunyi ‘bing’ yang terdengar terlalu menggemaskan untuk berada di tempat seperti ini. Petugas tadi pun memberikan kartu aksesku kembali dan mempersilakanku untuk terus berjalan. Aku menurut. Aku meninggalkan dua petugas itu dan beberapa kali di sapa oleh petugas jaga lain yang ada di sepanjang koridor. Mereka hanya berdiri di sana tanpa menoleh ataupun melirik selagi aku bolak-balik menempelkan kartuku untuk membuka sekat-sekat kaca yang membagi koridor ini. Sekalipun lagakku tenang, sejatinya aku resah bukan kepalang. Sama sekali tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan tesku kali ini. Ujian-ujian sebelumnya memiliki kisi-kisi yang jelas. Bahkan kami pun memiliki target tertentu untuk dicapai agar bisa dianggap lulus. Aku pun menghabiskan satu tahun belakangan untuk sepenuhnya mempersiapkan diri. Akan tetapi, tes ini berbeda. Tidak ada satu pun murid yang tahu apa yang akan terjadi selama tes. Guru-guru kami pun hanya mengatakan hal-hal yang senada seperti, “Kalian akan berinteraksi dengan pribumi asli.” Ketika kami bertanya ujian macam apa lebih tepatnya, para guru hanya bisa bungkam. Seluruh alumnus yang sering bermain-main ke institusi pun tidak bisa berkunjung secara sembarangan. Mereka harus menandatangani kontrak yang menyatakan bahwa mereka tidak akan membahas apa pun yang berhubungan dengan Tes Imersi—begitulah kami menyebut satu ujian paling ‘angker’ ini. Terakhir kali ada alumnus yang kepergok bekerja sama dengan murid tingkat akhir, semua yang terlibat dalam skandal itu langsung dinonaktifkan. Ya, hanya butuh satu jentikan jari untuk ‘mematikan’ klon-klon yang ada di sini. Para peneliti menciptakan metode keji ini dengan dalih agar bisa menerapkan elemen kontrol. Supaya kami, para murid, tidak melupakan bahwa kami hanyalah sekadar alat untuk mencapai kesuksesan negeri. Bagi mereka, eksistensi kami tidak lebih daripada bagian strategi anti kepunahan. Berbelok ke kiri—sesuai dengan arahan petugas yang terakhir kutemui—aku disambut oleh beberapa peneliti yang sepertinya sengaja menunggu kedatanganku. Mereka melempar senyum dan menggiringku masuk ke sebuah ruangan untuk melakukan tes kesehatan terakhir. Salah seorang dokter langsung mendudukkanku ke bangsal yang ada. Ia memintaku untuk melepaskan atasan yang kukenakan dan aku menurut. Dari jendela pintu yang sudah tertutup, aku menyaksikan Harvel memerhatikanku dalam diam. Wajahnya datar, tak terbaca sebagaimana layaknya rumor yang tersebar tentang pria tersebut. Hal tersebut membuatku bertanya-tanya pada diri sendiri. Untuk apa CEO ICC berada di sini? *

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook