Bab 3 – Retak Halus di Balik Senyum

980 Kata
Jam dinding di kantor berdetak perlahan, seolah ikut menghitung jarak waktu yang membentang antara Kirana dan Aksa. Ruangan itu dipenuhi suara tuts keyboard dan obrolan ringan rekan kerja. Namun, di meja Kirana, hanya ada kesunyian yang sama seperti di rumah. Tumpukan berkas tersusun rapi, seakan menjadi pelarian dari pikiran yang selalu mengintai: kapan ia akan menjadi seorang ibu? “Hari ini kamu kok kelihatan murung, Ran?” suara Sinta, rekan kerjanya, membuyarkan lamunannya. Kirana tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Sin. Cuma capek aja.” Sinta duduk di tepi meja, matanya menelisik lebih dalam. Mereka sudah lama bekerja bersama, dan Sinta tahu, ada sesuatu yang Kirana sembunyikan. “Kamu masih kepikiran soal… itu?” Sinta memilih kata-katanya hati-hati. Kirana mengangguk pelan. Ia tahu apa yang dimaksud Sinta: kehamilan yang tak kunjung datang, doa yang setiap malam ia panjatkan, tangan Aksa yang dulu selalu menggenggamnya penuh harap—kini mulai terasa dingin. “Kemarin, aku denger kabar teman SMA-ku cerai. Gara-gara masalah yang sama…” Sinta menunduk. “Suaminya menikah lagi. Mereka sudah sepuluh tahun menikah, tapi nggak dikaruniai anak.” Kirana terdiam. Kata-kata itu menyusup seperti angin dingin, menelusup ke celah hatinya yang mulai rapuh. “Kadang… aku takut, Sin.” Suaranya lirih. Sinta meraih tangan Kirana, menggenggamnya hangat. “Pernikahan itu lebih dari sekadar anak, Ran. Tapi aku ngerti perasaan kamu.” Kirana mengangguk, meski hatinya tahu, dalam realitas yang dijalaninya, cinta bisa berubah jadi luka ketika harapan-harapan kecil tak juga terwujud. “Tapi, belakangan ini sejak anniversary ke-10 bulan lalu, kondisi rumah jadi hampa.” Kirana menelan salivanya. “Masih hangat, namun seolah tak ada gairah, ada pembatas transparan yang menghalangi,” ujarnya parau. Sinta tak merespons, dia melebarkan kedua tangannya dan kemudian mendekap Kirana. Terkadang, pelukan menjadi obat paling ampuh menyembuhkan luka. Sepulang kerja, Aksa duduk di ruang meeting sebuah hotel. Presentasi rekan bisnisnya tengah berlangsung, tetapi pikirannya melayang ke perempuan yang duduk di seberangnya: Tiara. Perempuan dengan tawa renyah, rambut sebahu yang ditata rapi, dan tatapan yang seperti selalu penuh semangat. Setelah presentasi usai, Tiara mengajak mereka semua makan malam. Meja panjang diisi gelak tawa, cerita lepas tanpa beban. Aksa merasa terbawa arus itu. Tiara bercerita tentang petualangannya mendaki gunung, tentang perjalanannya keliling Indonesia. “Kalau Mas Aksa, suka ke mana?” Aksa terdiam sejenak. “Aku… dulu suka jalan-jalan. Sama istri.” Tiara tersenyum. “Sekarang kenapa nggak?” Aksa mengangkat bahu. “Mungkin… hidup semakin penuh tanggung jawab.” “Pelarian dari tanggung jawab sesekali juga dibutuhkan,” celetuk Tiara. Bak tersengat listrik, perkataan Tiara menjadi cambukan di pikiran Aksa. Selama ini dia bak terkurung dalam perasaan tanggung jawab. “Contohnya?” tanya Aksa ragu. Tiara mengedikan bahu, lalu obrolan itu ditutup dengan senyuman manis Tiara, seolah dia memberi sinyal agar Aksa memikirkan pelariannya sendiri. Hingga keduanya hanyut ke dalam obrolan ringan, tetapi Aksa merasa seperti menghirup udara segar. Ada dunia lain di luar sana, dunia yang tidak berputar pada jadwal konsultasi dokter kandungan atau sindiran tentang keturunan. Saat pulang ke rumah malam itu, Kirana menunggunya di ruang tengah. “Kamu kelihatan capek,” katanya pelan. Aksa mengangguk, lalu duduk di sebelahnya. Mereka berbicara tentang pekerjaan sejenak, sebelum akhirnya Kirana mengungkapkan sesuatu yang telah lama ia pikirkan. “Aku kepikiran… kalau kita adopsi anak, kamu mau nggak?” Aksa tertegun. Kata-kata itu terasa asing baginya. Selama ini, Kirana begitu yakin ingin memiliki anak kandung. “Kamu beneran siap?” Kirana menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Aku nggak tahu, Mas… Aku cuma takut… takut kita nggak akan punya anak selamanya.” Aksa menggenggam tangan Kirana, tetapi ada jeda di sana—seperti keraguan yang muncul di antara kehangatan. “Mungkin kita perlu waktu buat mikirin itu.” Pembicaraan itu berakhir tanpa keputusan. Setelah itu, mereka hanya duduk bersebelahan, menonton televisi dengan pikiran masing-masing. Di meja, vas bunga kering itu tetap berdiri. Kelopaknya yang mulai luruh seolah menjadi cerminan percakapan mereka: cinta yang mulai kehilangan warnanya. Esok harinya, Kirana pergi bersama Sinta untuk makan siang. Di sudut kafe, Sinta berbicara tentang komunitas perempuan yang sering ia ikuti—tempat mereka berbagi kisah rumah tangga, luka, dan cara bangkit. “Kamu mau ikut kapan-kapan?” tanya Sinta. Kirana tersenyum samar. “Aku pikirin dulu ya, Sin.” Di sisi lain kota, Aksa kembali bertemu Tiara. Kali ini, urusan pekerjaan selesai lebih cepat. Mereka duduk di lobi hotel, menikmati kopi sore sambil berbincang. “Mas Aksa, aku lihat Mas itu orang yang sayang banget sama keluarga. Jarang ada laki-laki kayak gitu sekarang.” Aksa tertawa kecil. “Kadang… aku juga ngerasa gagal.” Tiara menatapnya dalam. “Nggak ada pernikahan yang sempurna. Aku aja gagal, kan?” “Tapi setiap orang berharap punya pernikahan yang sempurna, bukan?” Tiara menggelengkan kepala. “Tidak juga. Terlalu lelah untuk mengejar kesempurnaan. Masih ingat soal pelarian? Itu kadang dibutuhkan, biar pernikahan gak terasa membosankan.” Percakapan itu berlanjut hingga senja, ketika Aksa menyadari bahwa bersama Tiara, ia bisa menjadi dirinya sendiri—tanpa tekanan, tanpa harus menjelaskan mengapa Kirana belum hamil, tanpa rasa bersalah setiap kali ia pulang membawa kabar buruk dari dokter. Malam itu, Kirana menyiapkan makan malam seperti biasa. Aksa pulang terlambat, wajahnya letih, tetapi ada sesuatu di matanya yang berbeda. “Kita ngobrol soal punya anak, kapan-kapan ya,” kata Aksa pelan, nadanya datar seakan muak dengan topik tersebut. Kirana tersenyum, tetapi ia tahu, ada sesuatu yang mulai berubah. Di kamar tidur, mereka berbaring berdampingan, tetapi saling membelakangi. Kirana menatap langit-langit, sementara Aksa memejamkan mata, tetapi pikirannya melayang pada Tiara. Keheningan menyelimuti kamar itu, seperti udara yang menggantung tanpa angin. Di meja sudut, vas bunga kering itu berdiri, kelopaknya jatuh satu lagi ke lantai—tanpa suara, tanpa disadari siapa pun. Di luar, hujan turun perlahan. Tidak deras, hanya gerimis—seperti air mata yang enggan tumpah, tetapi terus menekan d**a. Dan di tengah heningnya malam itu, retakan kecil mulai menjalar di antara mereka, meski belum ada yang berani mengakuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN