Prolog
Cinta, bagi Kirana, adalah sepasang tangan yang menanam benih bersama. Menyiramnya dengan sabar, menunggunya tumbuh, meski musim sering kali tak berpihak.
Ia percaya, selama tangan itu tetap bergenggaman, bunga akan mekar pada waktunya.
Namun, hari itu ia berdiri di depan vas kaca. Setangkai bunga kering bersandar di sana—rapuh, menguning, dan tinggal menunggu waktu untuk luruh menjadi serpihan debu.
Kirana meraihnya perlahan. Jemarinya menyentuh kelopak yang nyaris runtuh, seperti menyentuh kenangan yang pernah indah, sebelum akhirnya layu.
Tak ada yang benar-benar siap melihat bunga yang dirawatnya dengan cinta gugur begitu saja. Tapi Kirana tahu, ada luka yang tak bisa disembuhkan hanya dengan bertahan.
Terkadang, cinta juga tentang keberanian melepaskan.
Dan di antara serpihan kelopak yang luruh, Kirana mulai mengerti—mungkin yang ia butuhkan bukan sekadar bunga yang mekar, melainkan maaf yang bisa mengembalikan dirinya sendiri.
____
Halo guys, semoga suka dengan cerita baruku ini. Judulnya Bunga Maaf, tidak ada kaitannya dengan cerita Bunga Abadi. Hanya saja keduanya sama-sama terinspirasi dari sebuah lagu.
Mungkin teman-teman sekalian bisa kasih saran dan masukan untuk novel-novelku yang lain, termasuk Bunga Maaf.
Mari kita bersama-sama menelusuri kisah hidup pasangan Kirana dan Aksa dalam bahatera rumah tangga mereka yang penuh gejolak.
Sampai bertemu di bab 1!!!