🔞 KONTEN DEWASA 🔞CERITA INI MENGANDUNG MUATAN DEWASA. BAGI PEMBACA YANG BELUM CUKUP UMUR, ATAU TIDAK NYAMAN DENGAN KONTEN DEWASA, DIANJURKAN UNTUK TIDAK MEMBACANYA.^^"Hanya perlu kamu ketahui saja, kamu itu rapuh seperti balon, tapi, apa yang bisa dilakukan seekor landak sepertiku? Membiarkanmu terbang akan membuatmu sengsara dalam ketidakpastian. Merengkuhmu? Hanya akan membuatmu tersepai.Pada akhirnya, adakah cara agar kita tidak sama-sama terluka?"__
Bunga Maaf (inspired song by Bunga Maaf - The Lantis)____Kirana merawat cinta seperti merawat bunga-penuh sabar, penuh harap.Namun, apa yang ia tanam tak selalu mekar. Sebab, tak semua bunga tumbuh di tanah yang sama, dan tak semua cinta berakar di hati yang setia.Saat kelopak-kelopak harapan mulai berguguran, Kirana dihadapkan pada pilihan: terus bertahan di taman yang layu, atau melangkah pergi mencari sinar yang baru.Akankah ia menemukan bunga yang mampu mekar kembali di hatinya? Ataukah ia harus belajar menerima bahwa beberapa bunga memang ditakdirkan untuk gugur sebelum sempat bermekaran?____
Bunga Abadi (inspired song by Bunga Abadi - Rio Clappy)---"Aku bisa lihat kalau kamu suka bunga," ucap Daru pelan. "Setiap kali kamu datang, selalu cerita soal bunga."Larinda terkekeh. "Mungkin karena bunga nggak pernah menuntut apa-apa. Mereka hanya tumbuh. Kadang layu, kadang mekar. Tapi mereka nggak pernah berhenti mencoba hidup."Kata-kata itu meluncur begitu saja, namun Daru seperti terpukul oleh sesuatu. la menutup buku yang dipegangnya, menarik napas panjang. Larinda bisa merasakan udara di antara mereka menjadi lebih berat."Kamu sendiri suka bunga?" tanya Larinda hati-hati.Daru menatap meja, seolah mencari jawaban di antara serat kayunya. "Ratih... istriku... dia suka bunga."Suara Daru lirih, seperti gumam yang nyaris hilang ditelan angin. Nama itu melayang di udara—Ratih. Untuk pertama kalinya, Larinda mendengar nama itu keluar langsung dari bibir Daru.---