bc

Bunga Abadi

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
age gap
second chance
heir/heiress
drama
sweet
office/work place
small town
childhood crush
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Bunga Abadi (inspired song by Bunga Abadi - Rio Clappy)---"Aku bisa lihat kalau kamu suka bunga," ucap Daru pelan. "Setiap kali kamu datang, selalu cerita soal bunga."Larinda terkekeh. "Mungkin karena bunga nggak pernah menuntut apa-apa. Mereka hanya tumbuh. Kadang layu, kadang mekar. Tapi mereka nggak pernah berhenti mencoba hidup."Kata-kata itu meluncur begitu saja, namun Daru seperti terpukul oleh sesuatu. la menutup buku yang dipegangnya, menarik napas panjang. Larinda bisa merasakan udara di antara mereka menjadi lebih berat."Kamu sendiri suka bunga?" tanya Larinda hati-hati.Daru menatap meja, seolah mencari jawaban di antara serat kayunya. "Ratih... istriku... dia suka bunga."Suara Daru lirih, seperti gumam yang nyaris hilang ditelan angin. Nama itu melayang di udara—Ratih. Untuk pertama kalinya, Larinda mendengar nama itu keluar langsung dari bibir Daru.---

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Di dalam hatinya, ada sebuah taman sunyi yang dulu penuh warna. Mawar-mawar merah yang ia tanam bersama istrinya dulu mekar begitu indah, merebakkan wangi kebahagiaan. Namun, waktu adalah angin dingin yang pelan-pelan menggugurkan kelopak itu satu per satu. Hingga hari itu tiba—saat wanita yang ia cintai pergi untuk selamanya—taman itu berubah menjadi tanah yang bisu. Dedaunan kering berserakan, dan mawar-mawar itu layu. Di tengah reruntuhan itu, ada satu bunga abadi yang tetap berdiri. Bunga yang tak pernah mati—cinta untuk istrinya. Bertahun-tahun, ia menjaga bunga itu. Ia menyiramnya dengan air matanya sendiri, berbicara padanya setiap pagi, meyakini bahwa meski tubuh istrinya telah menyatu dengan tanah, cinta mereka tetap hidup dalam kelopak abadi itu. Lalu, di suatu senja, angin membawa benih baru. Tunas kecil muncul di sudut taman yang selama ini ia abaikan. Seorang wanita lain hadir dengan hangatnya. Tunas itu mulai tumbuh pelan-pelan, menghadirkan warna yang dulu sempat ia lupakan. Namun, ia gemetar. Tangannya ragu menyentuh daun muda itu. "Bukankah aku telah berjanji menjaga bunga abadi ini? Akankah aku mengkhianatinya dengan membiarkan bunga lain tumbuh di sini?" Ia takut. Takut jika memberi ruang bagi tunas baru, ia akan mengabaikan bunga abadi yang selama ini ia rawat dengan seluruh hidupnya. Tapi, bukankah cinta yang sejati tidak meminta taman itu kosong selamanya? Bukankah bunga abadi itu tidak menuntut agar ia menutup hatinya rapat-rapat? Mungkin, bunga abadi itu bukan untuk merantai, melainkan untuk menjadi saksi—bahwa cinta bisa hidup berdampingan dengan cinta yang baru. Bahwa hati yang pernah patah tetap bisa mekar kembali.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.4K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.2K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook