Prolog
Jakarta, 10 Februari 2024 pukul 23:00 WIB
Gemerlap lampu kota terpancar indah seperti kunang-kunang. Cahaya lampu dari bangunan tinggi mengelilingi Nana seakan dunia saat ini berpusat padanya.
Setiap hari Sabtu, dimulai pukul delapan malam Nana menyendiri di tepian pantai. Duduk di atas batu besar sembari menyesap teh hangat kesukaannya. Namun kali ini terasa berbeda.
"Gua rindu sama lu, bego!" teriak Nana seraya melempar batu kecil ke arah ombak pantai.
Cangkir teh yang berada di genggamannya terlepas dan tumpah mengenai sweter hijau yang dipakainya. Hangat teh merembah pada kulit, ada getaran hebat yang memusat pada emosi.
"Kenapa lu harus semanis itu sama gua kalau pada akhirnya meninggalkan." Helai rambut yang semula rapi, kini berterbangan menutupi sebagian wajahnya. "I was stupid!"
Semilir angin menerpa kulit wajah. Helaian rambut cokelat gelap berhamburan seiring mata angin berhembus. Basahan air mata merembah pada pipi tirusnya. Sejak kejadian waktu itu, nafsu makan berkurang. Tubuh Nana semakin kurus, baju yang biasanya ia pakai kini tampak kebesaran. Putus cinta adalah program diet paling ampuh.
TING!
Nana terkesiap, ponselnya berdenting tanda notifikasi pengingat. Setelah membuka pola kunci ponsel, ia melihat ada satu pesan tertera.
'Merayakan tujuh tahun kesendirian bodoh itu!'
Nana tertawa kecil, dia sengaja menuliskan pesan itu sebagai pengingat di setiap tanggal sepuluh Februari. Kemudian jemarinya lancang membuka galeri, membuka video lama yang pernah dikirimkan oleh seseorang dari masa lalu.
"Bahkan sudah dikecewakan begitu parah, ditinggalkan begitu lama, kenapa gua masih aja jatuh cinta setiap kali keingat lu."