Bab 6 – Pelarian yang Manis

1057 Kata
Hari-hari berlalu, rumah mulai terasa seperti ruang tunggu. Kirana duduk di sofa, merapikan rajutan yang tak kunjung selesai. Jari-jarinya bergerak, tetapi pikirannya berkelana. Sepi merayap di sela-sela dinding rumah yang dulunya hangat oleh tawa. Aksa semakin jarang pulang tepat waktu. Jika pun pulang, ia lebih banyak diam. Televisi menyala sekadar pengisi suara, namun tak pernah benar-benar ditonton. Jam dinding berdetak pelan, mencatat kesunyian. Di atas meja, vas bunga kering masih berdiri di tempatnya. Kirana sering menatapnya lama-lama, seolah menunggu keajaiban, menanti kelopaknya mekar kembali. Aksa, di sisi lain, menemukan pelariannya. Tiara adalah tawa yang cerah, seperti mentari yang muncul setelah hujan. Awalnya hanya urusan pekerjaan—pertemuan di kafe, diskusi kontrak, atau sekadar laporan bulanan. Namun, perlahan obrolan mereka merambat ke hal-hal lain. Tiara bercerita tentang pernikahan yang karam di usia muda. Tentang mimpinya yang sempat patah, lalu ia bangun kembali. Ada kekuatan dalam kisahnya, tetapi juga kesepian yang terselip di sela-sela senyumnya. Suatu siang, seusai makan siang bersama di restoran Jepang, Tiara tertawa lepas setelah Aksa menceritakan kekonyolan masa kecilnya. Gelas teh hijau di tangan Tiara berembun, seperti hati Aksa yang mulai menyimpan sesuatu yang tak seharusnya. “Sering-sering aja cerita kayak gitu, Mas Aksa. Biar aku nggak lupa kalau hidup ini nggak selalu berat,” ujar Tiara, matanya berbinar. Aksa tersenyum. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya, sesuatu yang membuatnya lupa tentang Kirana yang menunggunya di rumah. Kirana mulai menyadari perubahan itu. Pulang semakin malam, alasan pekerjaan yang terlalu sering diulang. Bau parfum berbeda yang samar-samar melekat di kemeja. Senyum Aksa yang terasa dipaksa. Namun, ia memilih menepis semua. Mungkin hanya pikirannya yang berlebihan. Suatu sore, Sinta datang ke rumah membawa sepotong brownies dan cerita-cerita ringan. Namun, dalam jeda obrolan, ada kekhawatiran tersirat. “Kamu baik-baik aja, Ran? Kamu kelihatan capek,” tanya Sinta pelan. Kirana tersenyum tipis. “Aku baik, Sin. Cuma… mungkin lagi jenuh.” Sinta menatapnya lekat, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi ia menahan diri. “Kalau kamu butuh teman cerita, aku selalu ada. Oh iya, aku lagi ikut komunitas perempuan yang punya cerita tentang rumah tangga. Isinya ibu-ibu kuat semua. Kamu mau ikut?” Kirana ragu sejenak. “Mungkin nanti. Aku… masih bisa bertahan.” Kalimat itu lebih ditujukan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Malam itu, Aksa pulang lebih larut dari biasanya. Kirana menunggunya di ruang tengah, setengah mengantuk. Aksa masuk dengan langkah tergesa, melepas sepatu tanpa suara. Ketika melihat Kirana masih terjaga, ia tampak terkejut. “Belum tidur?” tanya Aksa. “Lagi nunggu kamu,” jawab Kirana, suaranya lembut, tapi ada getar samar di sana. Aksa duduk di sebelahnya, jarak di antara mereka seakan lebih lebar daripada panjang sofa itu. Kirana ingin bercerita tentang rasa cemasnya, tentang ketakutan yang mulai menggerogoti hatinya. Namun, ketika ia membuka mulut, Aksa lebih dulu berbicara. “Kamu masih kepikiran soal anak, ya?” Aksa mencoba memulai. Kirana terdiam. Ia mengangguk pelan. “Aku cuma… kadang merasa kita terlalu keras sama diri sendiri. Mungkin… kita harus mulai menerima kalau…” Aksa menggantungkan kalimat itu, seolah takut menyelesaikannya. Kirana menelan ludah. “Aku masih percaya kita bisa, Mas. Aku belum mau menyerah.” Aksa mengangguk, tetapi sorot matanya redup. Kirana merasakan sesuatu yang lain. Bukan sekadar rasa lelah, tetapi seperti ada pintu di hati Aksa yang perlahan tertutup untuknya. “Kamu percaya kan?” tanya Kirana memastikan. Aksa mengangguk, kemudian dia mengecup dahi Kirana. “Suatu saat, pasti, kita akan bahagia. Aku percaya kita akan punya anak, hanya perlu sabar.” Malam itu, mereka tidur saling berpelukan, setelah sekian lama kehangatan itu memberi sedikit debar di d**a Kirana. Tangan Kirana meraba-raba d**a Aksa, sentuhan itu pun disambut baik olehnya. Kirana dan Aksa kembali mencoba, kali ini berpasrah diri, tak ingin berandai apalagi menuntut kepada Tuhan. Hubungan malam ini dilandasi rasa ikhlas yang mendalam. Semoga. Esoknya, Aksa kembali menemui Tiara. Mereka duduk di pojok sebuah kafe yang temaram. Tiara bercerita tentang keinginannya memulai bisnis kue kecil-kecilan. Aksa mendengarkan, tetapi sesungguhnya ia menikmati suara Tiara lebih daripada isi pembicaraan itu. “Kamu bahagia, Mas Aksa?” tanya Tiara tiba-tiba. Aksa terdiam. Pertanyaan sederhana itu seperti tamparan. “Bahagia… Aku nggak tahu. Mungkin pernah. Tapi sekarang… aku nggak yakin.” Tiara menatapnya lama. “Kamu laki-laki baik, Mas. Aku bisa lihat itu. Tapi… kadang orang baik pun tersesat.” Aksa menunduk. Ia tahu dirinya sedang melangkah di jalur yang keliru. Tapi, di sisi lain, pelarian ini terasa begitu manis. Sebelum berpisah, Tiara menggenggam tangannya. Hangat. Aksa tidak menariknya. Saat itu, ia membiarkan dirinya hanyut. Malam berikutnya, Aksa pulang lebih larut lagi. Kirana yang menunggunya di meja makan mulai lelah menebak-nebak. Ia membawa dua cangkir teh hangat ke ruang tamu, berharap bisa berbincang, mengembalikan sedikit saja kehangatan mereka. Namun, Aksa pulang dengan raut wajah berbeda. Kemejanya kusut, matanya sembab. Ada kelelahan, ada sesuatu yang ia sembunyikan. “Kerjaan makin berat ya?” tanya Kirana, mencoba membuka percakapan. Aksa hanya mengangguk sambil melepas dasi. Ia duduk, mengambil cangkir teh itu, tetapi tidak meminumnya. “Mungkin… kita memang terlalu ngotot soal punya anak,” ujar Aksa pelan. Kirana terdiam. Lagi-lagi soal itu. Seperti belati tumpul yang terus menggores luka yang sama. “Aku cuma… ingin kita bahagia, Kirana. Tapi aku nggak tahu, bahagia itu seperti apa sekarang.” Suara Aksa lirih, nyaris seperti gumaman. Kirana menatapnya, matanya berkaca-kaca. Ia ingin mengatakan bahwa bahagianya adalah Aksa. Bahwa rumah ini cukup. Bahwa mereka bisa melewati semuanya. Tapi, ia merasa tembok di antara mereka semakin tebal. “Kalau aku nggak bisa kasih anak… kamu tetap mau sama aku?” tanya Kirana tiba-tiba. Aksa tertegun. Ada jeda panjang sebelum ia menjawab. “Tentu, Ran. Aku sayang kamu.” Namun, dalam tatapan Aksa, Kirana melihat keraguan. Dan itu lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun. Malam itu, setelah Aksa terlelap, Kirana menangis pelan. Ia berjalan ke kamar yang pernah mereka rancang untuk calon bayi. Ruangan itu masih kosong. Dindingnya berwarna biru muda, dengan gambar awan di sudutnya. Harapan yang dulu begitu besar, kini terasa seperti ejekan. Kirana meraba perutnya yang masih datar. Ia berbisik pelan, entah pada dirinya sendiri, entah pada angin malam: “Kalau aku nggak bisa jadi ibu… aku tetap berhak bahagia, kan?” Namun, jawaban itu tak pernah datang. Di kamar sebelah, Aksa tertidur. Dalam mimpinya, senyum Tiara lebih nyata daripada rumah yang ia bangun bersama Kirana. Di rumah itu, dua hati yang pernah bertaut, kini perlahan menjauh—seperti bunga yang gugur sebelum mekar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN