Rumah itu lengang. Suara tangis bayi yang biasanya menyelinap hingga ke sela-sela dinding pun tak lagi terdengar. Tiara sedang di rumah orang tuanya, membawa anak mereka untuk sementara. Katanya, butuh waktu untuk menenangkan diri setelah pertengkaran terakhir.
Aksa duduk di sudut sofa, menatap layar ponsel yang diam. Nama Kirana masih ada di daftar kontak, tetapi sudah lama tak tersentuh. Ia tak berani mengirim pesan, apalagi menelepon.
Di meja, vas bunga yang diisi mawar segar perlahan layu. Daun-daunnya makin rontok, warnanya cokelat pudar, kelopaknya mengerut, seolah kehabisan napas.
Aksa menghela napas panjang. Waktu telah berjalan jauh, tetapi rasa bersalah itu tak kunjung pudar. Ada luka yang tetap tinggal meski ia sudah berusaha merangkai hidup baru.
Siang itu, ia memberanikan diri menemui Dimas, sahabatnya sejak kuliah. Mereka duduk di sebuah kafe yang dulu sering mereka datangi. Dimas datang dengan wajah datar, tak lagi hangat seperti dulu. Ada jeda panjang sebelum keduanya mulai bicara.
“Kau mau bicara soal apa?” tanya Dimas, tanpa basa-basi.
Aksa meremas gelas kopinya, merasa beku di dalam.
“Aku cuma ingin… tahu kabar Kirana,” ucapnya pelan.
Dimas menatapnya tajam. “Kirana baik. Lebih baik sejak kau tak ada.”
Kata-kata itu menghantam dadanya. Pahit, tapi jujur. Aksa mengangguk pelan.
“Aku tahu aku salah, Dim.”
“Kau tahu setelah semua hancur,” potong Dimas. Matanya berkabut marah yang tertahan. “Kami yang lihat Kirana terpuruk. Kami yang dengar dia menangis. Kami yang tahu dia harus menyerahkan anaknya yang bahkan belum sempat dia lihat. Sementara kau? Kau sibuk dengan kehidupan barumu.”
Aksa diam. Lidahnya kelu. Ada bara di matanya, tapi ia tahan. Ia tak punya hak untuk menangis di depan Dimas.
“Dia pernah bilang sesuatu padaku,” lanjut Dimas. “Saat dia pulang dari rumah sakit setelah aborsi itu. Dia bilang, ‘Aku membuang darahku sendiri, karena aku tak ingin anakku hidup dalam luka seperti aku.’ Kau tahu rasanya mendengar itu? Mendengar seorang ibu memilih menghentikan hidup anaknya karena lelaki yang seharusnya menjadi ayah justru menghancurkan segalanya?”
Aksa menunduk. Dadanya sesak, tapi ia biarkan sesak itu menjadi hukuman.
“Kau mungkin mencintainya,” suara Dimas mulai mereda, tapi dingin, “tapi kau tak menjaganya.”
Aksa hanya mampu mengangguk. Ia tahu, maaf tak akan cukup. Bahkan seribu kali maaf pun tak bisa mengembalikan apa yang telah hilang.
“Aku merindukannya, Dim.”
“Simpan rindumu, biarkan Kirana menjalani harinya dengan tenang. Setidaknya tak berurusan lagi denganmu, Aksa,” tegas Dimas.
Di tempat lain, pada waktu yang hampir bersamaan, Kirana duduk di teras rumah, menyesap teh hangat bersama Sinta. Angin sore mengusap wajahnya perlahan. Ada kerutan samar di ujung matanya yang dulu tak ada. Tapi, senyum itu—meski tak lagi sama seperti dulu—kini lebih jujur.
“Bu Mirna tadi menghubungiku,” ujar Kirana tiba-tiba.
Sinta menoleh, kaget. “Ibunya Aksa?”
Kirana mengangguk. “Dia ingin bertemu.”
“Kamu mau?”
“Aku sudah janji.”
Sinta menatap Kirana dengan ragu. “Kamu yakin? Kamu tak harus, Kirana. Kamu tak berutang apa pun pada mereka.”
Kirana tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi aku juga butuh menutup pintu yang dulu aku biarkan setengah terbuka.”
Malam itu, di sebuah warung kecil, Bu Mirna duduk dengan mata sembab. Tangan keriputnya menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin. Kirana datang dengan langkah tenang, mengenakan blouse putih sederhana dan celana panjang krem. Warna-warna lembut, seperti dirinya yang mulai menemukan ketenangan.
“Kirana…” suara Bu Mirna bergetar saat melihatnya. “Kamu sehat?”
Kirana mengangguk sopan. “Saya baik, Bu.”
Ada jeda panjang. Lalu, Bu Mirna menangis. Tersedu-sedu seperti anak kecil.
“Maafkan saya, Nak. Saya jahat padamu. Saya menekanmu… soal anak, soal keluarga… Saya… saya yang menghancurkanmu… Saya yang buat rumah tanggamu retak…”
Kirana menatap wanita itu. Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan ia tunggu-tunggu. Tapi sekarang, mendengar semua itu, yang ia rasakan hanya keikhlasan.
“Bu, saya sudah memaafkan semuanya,” ucapnya lembut. “Saya memaafkan Ibu. Saya memaafkan Aksa.”
Bu Mirna terisak makin keras.
“Anakku… dia menyesal, Kirana. Dia sering cerita. Dia mencintaimu. Dia bilang, dia yang merusak segalanya.”
Kirana tersenyum tipis, tapi ada air di sudut matanya. “Saya tahu, Bu. Tapi mencintai saja kadang tidak cukup.”
Bu Mirna menggenggam tangan Kirana, hangat. “Saya cuma ingin kamu tahu… kamu berharga. Kamu perempuan kuat.”
Air mata akhirnya jatuh di pipi Kirana. Ia tak berusaha menghapusnya. Ia biarkan itu mengalir, menjadi penanda bahwa luka yang dulu dalam, kini mulai sembuh.
Aksa duduk di kamarnya, memandang foto pernikahan yang tak pernah ia buang. Kirana dalam balutan kebaya putih, tersenyum lebar. Mata itu penuh harapan. Mata yang ia sia-siakan.
Pintu kamar terbuka. Tiara berdiri di sana, dengan wajah letih.
“Kita harus bicara,” ucap Tiara.
Aksa menatapnya, tahu arah pembicaraan ini.
“Kamu belum selesai dengan dia, kan?”
Aksa terdiam.
“Aku tahu sejak awal,” lanjut Tiara. “Tapi aku pikir, waktu akan buat kamu melupakan dia. Aku salah.”
Aksa menarik napas berat. Ia ingin menyangkal, tapi tak bisa.
“Aku capek, Mas,” suara Tiara bergetar. “Aku capek berjuang sendirian di rumah ini. Aku capek merasa cuma jadi pelarian.”
Ada keheningan panjang. Lalu, dengan suara lirih, Aksa berkata, “Aku minta maaf.”
Tiara tersenyum pahit. “Maaf tak selalu bisa perbaiki segalanya, kan?”
Aksa mengangguk. Kata-kata itu terasa akrab. Kirana juga pernah mengatakannya.
Malam itu, Aksa duduk sendiri di teras rumah. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan. Bayangan Kirana terus datang. Senyumnya, tawanya, suaranya yang memanggil namanya dengan lembut.
Dan kemudian, suara tangis Kirana di kamar mandi. Suara pecahan hati di malam pertengkaran. Suara lirih saat Kirana bilang, “Anak kita sudah tiada.”
Aksa menutup wajahnya dengan tangan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menangis tanpa suara. Ia tahu, penyesalan itu akan tinggal selamanya. Seperti bunga yang pernah ia biarkan mekar, lalu ia patahkan dengan tangannya sendiri.
Di meja, bunga kering itu tetap diam. Tak ada lagi yang bisa menyelamatkannya. Seperti cintanya pada Kirana—gugur sebelum sempat mekar sempurna.
Aksa berbisik pelan, kepada dirinya sendiri, kepada malam yang menjadi saksi:
“Andai waktu bisa diulang…”