Memulai hidup baru, terbebas dari bayang-bayang Aksa. Kirana memutuskan untuk menjual rumah yang dulu menampung cintanya bersama Aksa. Dia tidak ingin kebahagiaannya suatu saat akan terbelenggu kisah melankolis di setiap sudut rumah.
Kirana berdiri di depan rumah itu, tangannya menggenggam pagar besi yang kini tampak sedikit berkarat. Cat putihnya mulai pudar, beberapa bagian terkelupas, memberi kesan lusuh yang tak ia kenali.
Padahal, dulu rumah ini selalu tampak hidup—pintu kayunya menyambut hangat, dan jendela besar di ruang tamu memantulkan cahaya pagi dengan riang. Kini, seakan rumah itu ikut menua, menanggung luka waktu seperti hatinya.
Angin sore membawa aroma bunga kamboja dari halaman tetangga. Kirana menarik napas dalam-dalam, membiarkan kenangan menyerbu tanpa permisi.
Di sudut teras, ia masih bisa membayangkan dirinya duduk dengan Aksa, menyeruput teh melati sambil bercerita tentang hari-hari yang melelahkan. Tawa mereka berkelindan dengan suara burung gereja yang hinggap di pagar. Kala itu, bahagia terasa sederhana.
Ia mengingat momen ketika mereka pertama kali menanam bunga-bunga kecil di halaman ini. Aksa menanam mawar merah, Kirana memilih melati putih. Mereka tertawa karena tangan Aksa belepotan tanah, sementara Kirana justru mencemaskan kucing liar yang mengintai pot bunga mereka.
Hari itu, Aksa mencium keningnya, berbisik, “Semoga rumah ini selalu harum oleh bunga-bunga dan cinta kita.”
Tapi cinta itu kini telah gugur, seperti bunga-bunga yang tak lagi mekar di halaman.
Pintu rumah terbuka. Seorang perempuan muda keluar, menggendong bayi kecil yang tertidur lelap. Perempuan itu tersenyum ramah ke arah Kirana, barangkali mengira ia tetangga yang sedang lewat. Kirana membalas dengan anggukan tipis, lalu bergegas menunduk, seolah takut dirinya dikenali oleh rumah itu.
Ia berjalan perlahan menyusuri trotoar di sepanjang kompleks. Matahari sore mulai meredup, membentuk bayangan panjang di aspal yang retak.
Di kejauhan, suara anak-anak kecil bermain bola mengisi udara. Kirana teringat pernah mengkhayalkan suara seperti itu mengisi rumahnya. Suara tawa seorang anak yang akan ia dan Aksa besarkan bersama. Namun, harapan itu hanya tinggal bayang-bayang.
Langkahnya terhenti di tikungan. Ia menoleh sekali lagi ke arah rumah itu, lalu menatap jauh ke halaman tempat vas bunga dulu selalu diletakkan di meja kecil. Vas itu menjadi simbol harapan mereka, yang setiap minggu diisi bunga segar oleh Aksa.
Saat pernikahan mereka mulai retak, vas itu kosong lebih lama daripada biasanya. Hingga akhirnya, bunga terakhir yang ia letakkan di sana adalah bunga mawar putih—hari ketika ia mengetahui dirinya hamil, sebelum semuanya hancur.
Hari itu seharusnya menjadi permulaan baru, namun berakhir sebagai titik akhir.
Dari kejauhan, Aksa berdiri di dalam mobil, memandangi sosok Kirana yang berdiri di depan rumah lama mereka. Ia mengenal siluet itu—bahkan dari kejauhan, bahkan setelah semua tahun berlalu. Tubuhnya bergetar, bukan karena dingin, tapi karena rasa bersalah yang terus menghantui.
Setiap kali ia melewati rumah ini, rasa sesak itu kembali menyergap. Ia ingat bagaimana ia pernah mengecat pagar itu bersama Kirana, tertawa karena catnya menempel di pipi istrinya.
Ia ingat bagaimana Kirana bersandar di bahunya, membicarakan nama-nama untuk anak yang belum ada. Dan ia ingat, bagaimana semua mimpi itu berakhir di tangannya sendiri.
Hari itu, saat Kirana mengulurkan hasil tes kehamilan dengan mata berkaca-kaca, ia seharusnya memeluknya. Ia seharusnya mencium perut Kirana dan berjanji akan menjadi ayah yang baik.
Tapi yang ia lakukan justru membiarkan luka lebih dalam menganga. Kata-kata Tiara tentang kehamilan menyusup di sela kebahagiaan Kirana. Dua kehidupan yang baru tumbuh di rahim dua perempuan yang sama-sama mencintainya—tetapi ia tak memilih dengan hati, ia memilih dengan pelarian.
Aksa menghela napas panjang. Di kursi belakang mobil, ada bunga mawar putih yang ia beli tanpa tahu kenapa. Mungkin itu sisa refleks dari masa lalu, atau mungkin harapan yang tak berani ia ucapkan.
Namun, bunga itu kini tampak layu di tangkai, seperti cintanya yang dulu begitu mekar bersama Kirana.
Ia ingin keluar dari mobil, memanggil nama Kirana, meminta waktu untuk bicara. Tapi apa gunanya? Kata-kata telah terucap, janji telah diingkari, kehidupan telah berjalan.
Kirana duduk di bangku taman tak jauh dari rumah itu. Ia menatap langit yang mulai jingga. Di sampingnya, seorang anak kecil berlarian mengejar kupu-kupu, tawa riangnya mengisi udara. Kirana tersenyum tipis.
Ia mengeluarkan selembar foto dari dompet kecilnya—foto lama, dirinya dan Aksa berdiri di depan rumah itu, memegang pot bunga pertama yang mereka beli. Wajah mereka tampak penuh harapan. Ia mengusap foto itu perlahan, lalu menyimpannya kembali.
Hari ini, ia datang bukan untuk meratapi, tapi untuk berdamai. Rumah itu bukan lagi miliknya, sama seperti Aksa bukan lagi bagian dari hidupnya.
Namun, kenangan itu tetap ada—dan ia memilih untuk tidak membencinya. Karena di sana, pernah tumbuh cinta yang indah. Meski kini bunga itu telah gugur, tanah tempat ia tumbuh tetap menyimpan cerita.
Raka mengirim pesan:
“Kirana, aku jemput nanti malam? Kita coba kafe baru yang kamu ceritakan kemarin.”
Kirana tersenyum kecil, membalas singkat:
“Iya, aku tunggu.”
Ia melangkah pergi dari taman itu dengan hati yang lebih ringan.
Aksa masih duduk di dalam mobil. Ia melihat Kirana meninggalkan taman, berjalan perlahan dengan punggung tegak. Perempuan yang dulu ia sakiti itu kini terlihat lebih kuat, lebih tenang. Ia tahu Kirana sudah melangkah maju, sementara dirinya masih terjebak di masa lalu.
Tatapannya jatuh lagi pada bunga mawar putih yang sudah hampir kering. Ia teringat saat terakhir kali Kirana mengisi vas bunga di rumah lama mereka. Hari itu, ia mencium aroma mawar yang bercampur dengan wewangian tubuh Kirana.
Waktu seakan berhenti sesaat, dan ia sadar, cinta itu sebenarnya tak pernah pergi. Tapi, saat ia menyadari semua itu, semuanya sudah terlambat.
Bunga yang gugur tak akan mekar kembali. Namun, Kirana telah memilih tumbuh. Sementara ia, Aksa, hanya bisa menatap dari kejauhan, menyesali kelopak-kelopak cinta yang tak sempat ia jaga.
Angin sore berembus perlahan, membawa guguran daun kering di sekitar rumah itu—rumah yang tak lagi menjadi rumah mereka.