Bab 19 – Bunga yang Mekar di Hati Kirana

910 Kata
Angin sore mengusap lembut rambut Kirana saat ia melangkah perlahan di antara hamparan bunga yang mekar di taman kota. Warna-warni kelopak itu menyeruak seperti melodi diam, bergetar di sela-sela dedaunan yang menari perlahan. Ia berhenti di tepi jalan setapak yang dikelilingi mawar merah muda. Kakinya ragu sesaat, sebelum suara hangat dari samping membuyarkan lamunannya. “Cantik, ya?” Raka berdiri di sebelahnya, tangan dimasukkan ke saku celana, senyum kecil menghiasi wajahnya. Mata Raka menatap bunga-bunga itu, tetapi Kirana tahu, sesungguhnya pria itu tengah memperhatikannya. Dengan cara yang halus, tanpa memaksa, seperti cahaya matahari pagi yang masuk perlahan melalui celah tirai. Kirana tersenyum tipis. “Iya, cantik sekali.” Ia memandang bunga-bunga itu. Rasanya seperti melihat dirinya sendiri—dulu kering, layu, nyaris mati. Tetapi hari ini, ia berdiri di antara kehidupan yang mekar. Udara yang ia hirup terasa lebih ringan. Tidak ada lagi dinding gelap yang membelenggu dadanya. Ia bebas. Setelah bertahun-tahun terperangkap dalam kerangkeng perasaan, akhirnya ia bisa berjalan tanpa menoleh ke belakang dengan sesak di d**a. Raka melangkah lebih dekat. Jemarinya perlahan menyentuh punggung tangan Kirana. Bukan genggaman yang erat, bukan cengkeraman penuh gairah, tetapi kehangatan yang bersahaja. Sentuhan yang mengajak, bukan menyeret. Kirana membiarkan. Ia tidak menarik tangannya. Di bawah cahaya senja, rasa hangat itu merambat ke seluruh tubuhnya. Mereka berjalan beriringan di antara bunga-bunga. Langkah Raka selalu sedikit lebih panjang, tetapi ia memperlambat langkahnya agar sejajar dengan Kirana. Hal-hal kecil seperti itu yang membuat Kirana merasa dihargai. Dulu, ia sering berlari mengejar. Berusaha sejajar dengan seseorang yang selalu berjalan lebih cepat darinya. Kini, ada orang yang memilih menyesuaikan langkah demi dirinya. “Kamu tahu?” Raka membuka suara. “Aku dulu selalu berpikir, cinta itu harus besar, harus membakar. Kayak di film-film. Tapi makin ke sini, aku sadar… cinta yang bertahan itu justru yang tumbuh pelan-pelan.” Kirana menoleh, melihat senyum Raka yang samar. Ada ketulusan di sana. “Kayak bunga,” lanjut Raka. “Dia nggak langsung mekar, kan? Pelan, perlahan… tapi pas mekar, indah banget.” Kirana terdiam. Kata-kata itu menyentuh sesuatu di dalam dirinya—bekas luka yang perlahan sembuh. Ia teringat masa-masa saat ia memupuk harapan dengan Aksa. Menanti cinta itu berbunga dengan hadirnya seorang anak. Tetapi, alih-alih mekar, bunga itu gugur sebelum sempat menunjukkan warnanya. Yang tersisa hanya batang kering dan daun yang rontok. Tetapi hari ini, Kirana sadar. Bunga lain bisa tumbuh. Di tanah yang sama. Dengan cahaya yang berbeda. “Kamu nggak takut?” tanya Kirana pelan. “Kalau nanti kita tanam bunga lagi, terus layu sebelum mekar?” Raka menghela napas. Ia berhenti berjalan. Menatap Kirana lekat-lekat. “Takut,” jawabnya jujur. “Tapi aku lebih takut kalau kita nggak berani nanam lagi.” Jawaban itu membuat d**a Kirana menghangat. Sesuatu di dalam dirinya mengembang perlahan. Raka bukan orang yang menjanjikan kebahagiaan abadi. Ia bukan pria yang berkata ‘aku pasti membuatmu bahagia.’ Tetapi ia adalah orang yang berkata, ‘aku akan berjalan bersamamu, apa pun yang terjadi.’ Langit mulai berubah jingga. Di kejauhan, suara anak-anak bermain terdengar samar. Kirana dan Raka duduk di bangku kayu yang sedikit lapuk. Raka mengeluarkan botol air mineral dari tas kecilnya, lalu menyodorkan kepada Kirana. “Terima kasih,” kata Kirana. “Udah mulai nyaman di komunitas?” tanya Raka kemudian. Kirana mengangguk. “Iya. Sinta banyak bantu aku. Dulu aku pikir aku sendirian. Tapi ternyata banyak perempuan yang… terluka, sama kayak aku. Ada yang lebih parah malah. Tapi mereka bisa bangkit. Jadi aku juga pengen.” Raka tersenyum. “Kamu kuat. Lebih kuat dari yang kamu kira.” Kirana menatap jauh ke depan. Ia mengingat hari-hari gelap itu—ketika ia duduk sendirian di kamar bayi yang tak pernah terisi. Menatap dinding putih polos yang sepi. Menangisi nama-nama bayi yang pernah ia khayalkan bersama Aksa. Menyaksikan lelaki yang dulu ia cintai, memilih pergi ke pelukan orang lain. Bahkan setelah semuanya, ia tetap berdiri di sini. Ia masih hidup. Dan hari ini, ia merasa hidup. “Raka…” Kirana mengucapkan nama itu perlahan. “Aku belum tahu… aku bisa mulai lagi atau nggak. Maksudku… aku suka kamu. Tapi aku masih takut.” Raka menggenggam tangannya. Kali ini lebih erat. Bukan untuk menarik, tetapi untuk meyakinkan. “Aku nggak minta jawaban sekarang,” katanya lembut. “Aku cuma mau nemenin kamu. Kita jalan pelan-pelan aja.” Mata Kirana memanas. Ia hampir lupa bagaimana rasanya dihargai seperti ini. Tidak didesak. Tidak dituntut. Tidak diukur dari kemampuan rahimnya untuk melahirkan anak. Cinta, ternyata bisa sesederhana ini. Bunga-bunga di sekeliling mereka tertiup angin, kelopaknya bergetar, tetapi tetap tegak. Tidak jatuh. Tidak patah. Saat matahari mulai tenggelam, Raka mengantar Kirana pulang. Di depan rumahnya, Raka menatapnya sekali lagi. “Kamu nggak sendiri, Kirana.” Kalimat itu sederhana, tapi membekas dalam. Kirana tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum itu benar-benar muncul dari hatinya. Setelah Raka pergi, Kirana masuk ke rumah. Ia berjalan ke jendela, melihat pot bunga yang dulu kering. Ternyata, di sela-sela tanah yang pecah, ada tunas kecil mulai tumbuh. Kirana tersenyum. Ia menyentuh tunas itu perlahan, seperti menyentuh harapan yang baru saja lahir di hatinya. Bunga itu belum mekar. Tetapi, kali ini, Kirana tahu—ia akan menunggunya. Dengan sabar. Dengan cinta. Sebab ia paham, bunga yang tumbuh perlahan justru yang paling kuat. Dan ia juga tahu, dirinya telah mekar—meski tanpa Aksa, tanpa anak. Ia tetap utuh. Sebab cinta yang sejati, pertama-tama, harus dimulai dengan mencintai diri sendiri. Di luar jendela, langit senja perlahan berubah menjadi malam. Tetapi di hati Kirana, matahari baru saja terbit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN