Setelah selesai sarapan, mereka berdua kembali pulang ke rumah. Adrian memilih untuk tidak bekerja lagi hari ini untuk menemani Naira yang terkadang masih sering melamun saat sedang sendirian. “Halo, Ta…” Naira menelepon Amita, sahabatnya. Dia berniat menceritakan apa yang sudah terjadi kemarin, karena teman - teman Naira belum ada yang tahu bahwa ayahnya sudah meninggal. “Iya, Nai… Apa kabar? Kamu dimana? Vanilla bilang, dia dikasih tahu Iyank kalau papah kamu masuk rumah sakit ya? Gimana kondisinya? Aku temenin kamu ya, buat jagain papah kamu..” Semua pertanyaan dari Amita menguap begitu saja, hanya melewati gendang telinganya, tanpa membekas sedikitpun. Naira bahkan tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Amita. Dia hanya ingin mengatakan pada sahabatnya itu bahwa ayahnya sudah tiad

