Jam menunjukan tepat sudah jam delapan pagi, mentari sudah menunjukkan salam hangatnya. Sinarnya memasuki sela - sela jendela Alona. Terdengar suara kelambu kamarnya dibuka. Suara salah satu asisten rumah tangga, Mbok Mirah, membawakan sarapan pagi buat Alona.
"Non... bangun, udah jam sembilan, non nggak berangkat kuliah, ini sarapannya, udah mbok buatin s**u cokelat sama roti keju."
Alona terkejut tiba - tiba dia sudah berada di kamarnya.
"Hah! Mbok, koq bisa Mbok ada di sini, ngapain?"
"Non... koq gitu ngomongnya, ya jelas Mbok ada di sini lah, ini kan rumahnya Non Alona."
"Ehh bukan gitu mbok, saya perasaan ada di rumah Pak Victor, emang iya saya udah di rumah sendiri."
"Non ini ngelindur apa masih kangen sama Pak Dosen ganteng itu."
"Lho koq mbok tahu, aduh saya bingung deh ah."
"Ya Non itu tepat jam tiga pagi udah dianterin sama Pak Dosen pulang ke rumah sini."
"Pake apa dia nganterinnya?"
"Nggak tahu Mbok, cuman bilang mau anterin Non pulang aja."
"Perasaan aku masih makan, semalam itu, aku nggak ngerasa tidur deh."
"Non itu digendong sama Pak Dosen, untung aja Non, lagi nggak ada Bapak dan Ibu, lagi tugas ke Jepang, coba kalau Bapak dan Ibu tahu, bisa heboh."
"Lah Papah sama Mamah ke Jepang berarti Mbok?"
"Ya sore berangkatnya, katanya udah coba telepon Non, tetapi ponselnya Non susah ditelponnya."
"Hah! Masa sich, ponsel saya hidup koq Mbok, aktif nggak pernah mati, sinyal mungkin, pas saya lagi di jalan sama Pak Victor."
"Oh namanya Pak Victor, eh Non, kenapa nggak pacaran aja sama Pak Dosennya, ganteng banget Non, kayak apa ya kayak Dewa di film - film orang luar Non."
"Ya Mbok, masih pagi kali, ngomongin pacaran aja, Mbok kan tahu, aku ini masih apa - apa lupa, kadang ceroboh, mana ada yang suka sama aku Mbok."
"Sabar aja Non, tetapi ya kalau mbok lihat, Pak Dosennya itu kayak perduli banget sama Non Alona."
"Mbok udah deh, balik ke dapur aja, saya nggak kuliah Mbok, hari ini tanggal merah."
"Oh ya sudah Mbok mau siapin makan siang dulu, mau lanjutin masak, Non kalau masih capek, tidur aja."
"Nggak Mbok, aku mau pergi dulu kayaknya, mau nyari cemilan, eh tapi dompet aku ketinggalan di kampus lagi, ya ampun."
"Ini dompetnya Non, tadi Pak Dosen yang kasih, sama tasnya Non udah di meja itu."
"Hah! Koq bisa ada di dia, perasaan waktu berangkat masih di dalam kelas tas akunya, kapan dia ngambilnya?"
"Ya Mbok mana tahu, itu kan Pak Dosennya Non, mungkin dia udah sayang sama Non, jadi apa aja diurusin."
"ih Mbok apaan sich, mulai deh, dia bukan pacar aku Mbok, udah deh, Mbok ke dapur aja, masak yang enak ya."
"Haha Non ini selain cantik banget, juga jago ngeles kayak bajai."
"Ehh nggak Mbok, ah ngarang Mbok mah."
"Non, mbok ini kenal banget Non itu gimana, Non itu keliatan wajahnya kayak berseri - seri."
"Ah itu mah perasaan Mbok aja kali, aku sama Pak Dosen nggak ada hubungan apa - apa."
"Ya udah Mbok mau ke dapur dulu ya, Non sarapan dulu sana, nanti masuk angin."
Saat Alona sedang menikmati sarapan paginya, ponselnya berdering dan bertuliskan
*Vero Calling*
Tetapi tidak begitu dihiraukan sama Alona, yang masih kesal dengan temannya yang nggak mau menolongnya di saat dia salah bawa buku pelajaran. Saat dia sudah merasa kenyang, tiba - tiba hujan deras, dengan terpaan angin yang mulai kencang. Alona bingung, mengapa cuaca tiba - tiba berubah dan mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia menutup jendelanya, dan tampilan langit tiba - tiba semakin gelap, Alona terbawa suasana, dan dia pun tertidur pulas. Saat Alona sudah tidur dengan sangat pulas, tiba - tiba bayangan siluet hitam datang, dan membentuk zat yang padat, lelaki itu makin lama makin dekat, dengan baju jubah hitam.
*Duduk di ranjang Alona, lelaki itu datang lagi untuk kedua kalinya, menatap Alona begitu dalam, membelai lembut bibir, rambut dan wajah cantiknya, setelah beberapa saat Alona tersadar, bangun dengan mata yang masih mengantuk, dia dibuat tidak bisa berkata apa - apa, lelaki itu langsung mencumbu dengan mesra Alona*
"Kamu... ternyata?" ucap Alona yang sulit berkata apa - apa
"Sssttt kamu akhirnya tahu siapa aku kan?"
"Ya, kamu datang lagi."
"Aku sayang sama kamu, kamu beneran kangen sama aku?"
"Tetapi kenapa kamu sampai harus merenggut kesucianku, aku salah apa, tetapi kamu seperti..."
"Ssstt.. diam tenang, malam ini aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat, tempat di mana semestinya kamu berada."
"Tetapi... berarti selama ini kamu...itu"
"Ssstt udah, cukup kamu aja yang tahu ya, udah jangan takut, kamu nggak akan kenapa - napa. Maaf masalah kesucianmu, semua aku lakukan karena memang aku sayang banget sama kamu, aku mau kamu tidak dimiliki orang lain."
"Hah! Nanti kalau aku hamil bagaimana?" tanya Alona dengan penuh kebingungan namun dia seperti terhipnotis, tidak bisa marah, magnetnya begitu kuat.
"Nggak akan kamu bisa hamil, jika aku tidak mengijinkannya, belum saatnya kamu hamil, karena aku tahu kamu masih harus meneruskan kuliahmu." jawabnya sembari memberikan kecupan lembut di kening Alona
"Terus aku harus manggil kamu siapa?"
"Vlad... tetapi tidak di setiap kondisi ya, kau bisa memanggilku Vlad, saat aku datang menemuimu, dan ingat kamu sudah menjadi milikku selamanya."
"Ya..baik aku paham maksudmu."
"Tidak perlu lagi takut dengan apapun, aku pasti datang jika kamu merasa ketakutan, karena aku selalu memantaumu, walau semua orang nggak bisa lihat wujud asliku ini."
"Tetapi kenapa tiba - tiba tanganmu dingin, apa kamu sudah bukan manusia lagi?"
"Ehmm ya memang aku bukan manusia, dulu aku manusia, sekarang usiaku sudah ribuan tahun, aku datang karena kamu itu memang milikku, siapapun yang berniat menganggumu, semua akan selesai di tanganku."
"Terus kamu dari bangsa apa sekarang?" tanya Alona sembari menyentuh wajah Vlad
"Aku Drakula."
"Tetapi bagaimana jika ..."
"Ssttt sudah belum saatnya aku menerangkan semuanya, yang terpenting kau sudah tahu siapa diriku, dan hanya kau yang tahu siapa aku di dunia nyata, siapa aku di dunia lain."
"Lalu mengapa saat itu kamu nggak..?"
Ucapan Alona terhenti, karena Vlad seketika, memberikan kecupan mesra pada Alona dan mereka pun kembali dalam romansa gelap penuh romantis, dengan kekuatan dan kenikmatan yang belum pernah ada di alam dunia nyata. Saat Alona terlena, Vlad pun tiba - tiba menghilang lagi, dan meninggalkan sekuntum bunga mawar hitam, dan bertuliskan;
*Kaulah permaisuri, aku mencintaimu selamanya dengan cinta yang abadi tidak akan pernah mati*