Nisa menggeleng kuat dengan tangan memegang lengan Ryan guna mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan jambakan tangan Ryan pada rambutnya karena terasa perih. Tanpa ragu, Ryan kembali melumat bibir Nisa yang bengkak. Tangan Nisa terus memukul d**a bidang itu bersamaan tangan Ryan yang kembali bergerilya di tubuhnya dan merobek apa pun yang ditemui. Nisa menangis dan terus memohon, meskipun terus diabaikan. Hatinya mulai putus asa ketika tangan Ryan sudah berhasil melepas semua dres Nisa hingga tak bersisa. Tinggallah Nisa hanya mengenakan pakaian dalam membalut tubuh rampingnya yang selama ini diincar oleh Ryan. “Aku mohon jangan lakukan ini padaku, Yan! Kumohon, hiks … hiks …," rajuk Nisa dengan suara lirih dan terisak. Ryan menatap tajam mata Nisa yang telah basah. Dia pandangi wajah wani

