Nisa terhenyak ketika mendengar suara seorang pria yang dia kenali. Ya, Nisa mengenali siapa pemilik suara tersebut dan dengan cepat dia menatap arah datangnya suara. Seketika matanya membulat ketika penglihatan mendapati sosok yang sudah lama tak dia jumpa dan meninggalkan kenangan yang tak baik. “Ryan!” gumam Nisa sangat pelan dengan mata menatap tak berkedip di mana sosok Ryan berada. Di sofa berwarna hitam tak jauh dari ranjang besar di mana Nisa sedang duduk dengan raut bingung, senyuman geli terukir jelas di bibir Ryan yang melihat ekspresi Nisa sangat terkejut. Terdengar kekekan geli dari Ryan yang menatap tajam pada Nisa dan hanya bergeming. Perlahan juga pasti, Ryan bangun dari duduknya dan berdiri tanpa mengalihkan pandangannya sambil berkacah pinggang. “Iya, Sayang. Ini aku,

