Sudah satu jam berlalu dan pintu ruangan Erlan belum juga terbuka. Di dalam sana masih ada Raka yang menggantikannya untuk memijat Erlan. Bukan ia khawatir akan Raka, tetapi ia lebih was-was akan bosnya. Siwi hapal betul tabiat Raka bila sedang marah. Yah, walaupun ia tidak yakin lelaki itu tengah marah atau melindunginya, yang jelas perasaannya saat ini begitu resah. Cklek Pintu terbuka lebar dan Siwi bangun dari duduknya. Ia melihat Raka menutup kembali pintu itu dengan pelan. Lalu berjalan seperti biasa dengan kain lap disampir di pundak kanannya. "Pak Erlan sudah tertidur. Sepertinya lelaki itu memang menyukai pijatan. Tapi memijat lelaki yang sedang mabuk bukanlah suatu pekerjaan mudah untuk perempuan. Berhati-hatilah lain kali. Saya permisi, Bu." Raka berjalan semakin menjauh dan

