UNTUK DIA

1022 Kata
Untuk dia yang sedang berada di di alam yang jauh entahlah ini bukan suatu firasat yang buruk atau tidak, namun yang pasti saat ini semuanya akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan mereka. Kini Samantha dengan wajah yang sumringah hanya bisa menatap ke depan dia yakin kalau perjalanan ini akan membawa dampak yang sangat baik bagi mereka, karena di satu sisi mereka dapat memberikan pelajaran hidup yang baik bagi beberapa temannya dan di satu sisi lagi banyak pengalaman yang mereka dapatkan. "Apakah kalian sudah lelah?" Samantha menatap ke depan dia tidak tahu harus melakukan apa lagi, tetapi yang pasti dia sangatlah senang bisa kembali menatap rumahnya namun ada kata berbeda dari senang yaitu dia yang tidak biasa untuk melakukan bersama dengan kedua orang tuanya, dia sangat tidak suka kalau sampai bertemu dengan kedua orang tuanya lagi. Elica dan juga Rachel melihat perubahan wajah yang tengah terjadi kepada wanita itu, entahlah dia adalah spesies wanita yang sangat berbeda bagaimana bisa mereka seperti ini, rasanya tidak adil bagi mereka kalau melihat Samantha yang selalu mencoba dan mencoba untuk memberikan ketenangan kepada mereka namun tidak mereka memberikan ketenangan kepada Samantha. "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Samantha saat dia menoleh ke samping dan melihat ekspresi kedua wajah dari wanita itu. Elica menjawab,"tidak apa hanya saja kamu selalu membuat aku merasa tidak nyaman dengan perilaku yang kamu berikan lantas apakah pantas kalau aku menunjukkan ekspresi seperti ini?" tanyanya. Dengan lembut dan juga dengan nada yang sungkan dia mulai menoleh ke samping dan menjawab pertanyaan konyol macam apa yang di berikan oleh sahabat macam ini. "Apakah yang kamu maksud, Elica? bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku sangatlah senang bersama dengan kalian, rasanya menghabiskan waktu bersama kalian adalah suatu keajaiban dunia yang terjadi kepada kita," ucapnya dengan tenang dan menepuk pundak wanita itu. Tetapi tetap saja dia hanya bisa menenangkan wanita itu bukan hati dan juga pemikirannya dan yang pasti satu hal yang terjadi yaitu dia tidak bisa mengatakan bahwa dia rela untuk membajak semuanya. Terjadi percakapan di antara Samantha dan juga Elica, yah mereka akan terbiasa dengan semua permasalahan yang tiada batas dan hentinya dan yang pasti kali ini diam bukan menjadi pilihan tetapi menjadi sebuah asumsi yang sangatlah besar. "Aku tidak seperti kamu, tetapi aku juga tidak Setega kamu." "Aku juga tidak Setega kamu, yang bisa melihat temannya pergi bermain dengan teman yang lain?" "Aku rasa kamu telah salah menilai aku, Samantha bukankah kita selalu bersama di setiap waktu yang tersisa?" "Tidak, hanya saja ini harus di luruskan siapa yang mau kalau masalahnya ini tambah runyam sekali, dan siapa juga yang tahu bahwa ini akan menjadi satu jawaban bagi perjalanan kita ini." Akhirnya mereka juga menemukan titik kesalahan mereka hingga sampai-sampai kini mereka kembali lagi berdebat kali ini bukan hanya Samantha dan Elica namun mereka juga yang tidak lain adalah Rachel beserta dengan Casikda, terjadi pertempuran yang mungkin akan membawa dampak yang sangat besar bagi mereka nantinya. Entahlah, mungkin itu hanya sekedar rasa penasaran saja atau sekedar rasa yang tidak mampu untuk membalikkan keadaan seperti apa yang tengah mereka lakukan beberapa tahun yang lalu, di mana semuanya masih berjalan dengan begitu baik tidak ada masalah sama sekali bahkan kalau bercakap seperti itu sudah menjadi hal yang tidak mungkin lagi menurut mereka. "Apa yang kamu lakukan sekarang ini bukanlah lebih baik kamu diam?" Elica mengertak dan mengigit bibir bawahnya karena merasa geram dengan apa yang baru saja di katakan oleh Samantha. "Bukan begitu namun apakah kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan? kita hanya seorang manusia biasa dan kamu masih mengatakan bahwa kita ini adalah mahluk yang beda dari pola pikiran kamu?" tanyanya dengan posisi mulut yang belum terbiasa untuk mengatakan kata kasar dengan lembut. "Jangan seperti itu kenapa kalian seperti anak kecil saja, bahkan saya tidak dapat melihat kita yang dahulu lagi, bukankah saat ini kita sudah dewasa? Lantas di mana posisi kedewasaan kita saat ini?" Gertaknya Casilda memberikan arahan kepada kedua orang yang tadi tidak pernah diam. "Bukan begitu, tetapi kenapa dia seakan selalu menyudutkan aku? Sedangkan kamu tahu bukan bahwa saat ini aku juga harus melakukan tugasku, bekerja dan mencari uang," ucap Elica frustasi. Namun kali ini Rachel mencoba untuk membalikkan kembali situasi mulai dari hal yang rumit sampai sekarang ini dia mencoba untuk membalikkan apa yang pernah terjadi di antara mereka dahulu selama masa SMA. Yah meskipun tidak terjadi dengan baik tetapi ada baiknya berkurang rasa egois antara satu sama lain mungkin itu akan lebih baik bukan? Dia menangis dan saat itu mereka bertiga menoleh ke samping dengan raut wajah bersalah mereka mulai melemaskan jari jemarinya mereka rasa ini akan lebih baik bukan? ini akan membawa dampak perubahan pertemanan mereka untuk perjalanan beberapa hari yang lalu dengan segala kesalahan dan juga beberapa hal yang tidak perlu di bawa. "Kenapa kamu menangis?" Tanya Casilda menepuk pundak dari Rachel. Rachel hanya diam lalu setelah lima menit di menoleh ke belakang dan mencoba meyakinkan beberapa sahabat yang selalu bertengkar dengan egois masing-masing itu tentang apa yang ada di dalam pikirannya, dengan nada tertawa dia heran juga kenapa dia bisa memiliki hal yang seperti ini, dia hanya bisa tertawa dan diiringi dengan tangisan yang tampak lebih dalam lagi. "Apakah kalian tahu? kalian lebih dari anak sekolah dasar bahkan saya tidak dapat menjadi selimut bagi kedua orang yang tengah bertengkar dan kedinginan ini," dia tertawa miris dan mengusap tangisnya yang saat itu sudah membanjiri bulu matanya. "Apa maksud kamu, jangan menangis ini hanya sebuah masalah candaan bahkan kami jelas tidak tahu lagi harus mengatakan apa-apa," Samantha yang kali ini menundukkan kepala dan ini adalah pertama kalinya Samantha seperti itu. "Apa? Seorang Samantha rela untuk menundukkan kepala hanya demi masalah yang tidak dia tahu cara untuk menyelesaikan masalah tersebut? hebat sekali seorang Samantha bukan?" Dia bertepuk tangan seakan menyusun drama di tengah teater dia heran dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang itu, sehingga dia harus menyelesaikan semua ini dengan baik sampai ada kata maaf di antara mereka semua. "Saya heran dengan tindakan kalian yang katanya sudah kuliah dan akan menikah menentukan tujuan hidup masing-masing lantas kenapa kalian seperti ini," hampir mengumpat tapi dia takut karena ini adalah beberapa temannya dia hanya bisa tertawa saja dan terdiam itu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN