DIA YANG TERSESAT

1028 Kata
Bukan ini yang dia maksud tetapi bukankah lebih baik jika selalu menatap ke depan tanpa memperdulikan yang lainnya? yah sepertinya itu adalah yang terbaik bukan sebuah alasan. Dia menoleh ke samping dengan tatapan yang sungguh tak tajam lagi mengira bahwa ini adalah satu pasang keajaiban di tengah gejala dunia yang tak akan ada habisnya, dia tahu bahwa kesalahan yang sangat romantis dan kesalahan yang brutal dapat membawa dia ke hal yang lebih mantap lagi. "Kenapa anda harus seperti ini?" tanyanya dengan nada yang sedih. "Iya itu mobil kita," teriak mereka sangatlah histeris karena melihat mobil mereka yang sudah sedikit ber abu. Bukan sedikit berani lagi ini sudah melebihi batas sepertinya abunya tak lagi abu biasa ini sudah luar biasa di selimuti oleh dedaunan yang tampak kering dan juga muda, mereka hampir berlari namun memikirkan kembali kondisi kesehatan mereka lebih baik berjalan dengan pelan mungkin akan lebih baik, bukan? Beberapa menit kemudian mereka sampai dengan langkah kaki yang juga sedikit mereka perlambat ada beberapa percakapan di antara mereka berempat ini akan membuahkan hasil yang baik rupanya. "Apakah kalian percaya akan perkataan Samantha beberapa minggu yang lalu? sejak saat kita memutuskan untuk pergi ke dalam gunung yang telah kita lewati itu," ucap Rachel dengan menunjuk gunung yag telah mereka lewati itu. "Apa memang yang aku katakan?" dia sepertinya telah memakan banyak waktu dalam berpikir sehingga harus berkata seperti itu. "Yah, kamu tahu juga kan bahwa kamu adalah orang yang paling recok saat itu kamu bahkan meminta kami untuk menyimpan kunci di sini, kalau sewaktu-waktu nantinya kita gagal pulang bersama," ucap Rachel ternyata saat itu dia tahu bahwa mereka akan pulang bersama. "Lantas, setelah melewati kalian apakah kalian juga percaya untuk hal ini?" tiba-tiba Casilda membuka mulut dia mengatakan apa yang ada di dalam pikiran dia sedari tadi. "Yah, saya percaya sebagai Samantha yang ternyata memiliki firasat yang salah," ucapnya dengan wajah yang tampak lebih tegar dan itu adalah Elica sendiri. "Kenapa jadi aku yang kalian pojok kan?" Samantha dengan wajah muram kali ini bertanya kepada beberapa orang yang berada di sana tepatnya itu adalah temannya. "Bukankah kamu sendiri yang terlalu takut saat itu?" tawa mereka sembari menutup mulut karena tidak menyenangkan kalau tidak tertawa di situasi yang seperti ini bukan? Selebihnya mereka hanya mencoba untuk mencari hal dan dasar yang paling penting untuk sebuah jalan keselamatan mereka hingga sampai di rumah dengan keadaan yang semangat juga. Bukankah saat ini mereka masuk ke dalam mobil? tetapi kenapa sekarang ini mereka malah menunduk dengan wajah lemas? Apa yang terjadi? sebelumnya mereka membersihkan mobil dengan wajah yang sedikit tenang dan juga tidak takut akan apapun itu, karena sebentar lagi mereka akan sampai di rumah. "Bagaimana kalian membersihkan mobil itu saja? sungguh kepalaku sudah penat sekali kalian buat," keluh Samantha saat dia merasa bahwa kali ini dia harus segera menyudahi percakapan yang tidak masuk akal itu. Dia menoleh ke samping dan melihat posisi batu yang dia buat menjadi tempat dari kunci itu, karena posisinya benar yah lebih baik mereka seperti ini bukan? membersihkan dahulu dan kembali nantinya menaiki mobil kalau sudah benar-benar pergi. Dia memerintah dan ketiga temannya itu benar meninggalkan rangsel di samping Samantha dia juga mengatakan akan lebih tenang lagi dirinya kalau mereka pergi ke tempat yang lebih jauh lagi agar dirinya tenang di alam sananya. "Bolehkan kau saja yang pergi? pasalnya tidak mungkin kalau kami pergi dari sini bukan? dan mengangkat mobilnya ke sana," mereka berucap melawan perkataan dari si wanita itu. Lagi-lagi seharusnya dia harus mengalah dan dia harus mengatakan ini sebuah tanda sedikit pertanda untuk kemenangan dirinya yang akan tidur di dalam mobil. "Ya udah, udah lebih baik saya tidur di sini saja dahulu kalian harus bersih membersihkan itu jangan sampai ada semut di ban dan tanah di atas kanlpot mobil bagus saya," ucapnya dia segera menoleh ke samping dengan tatapan yang tajam bak benda tajam itu. "Apakah yang kamu lihat? ayo segera pergi jangan tatap saya untuk apa kamu menatap wajah saya," bentak Samantha dia terlihat sangat tidak suka untuk beberapa orang yang tidak mengindahkan peraturan yang dia buat. Sepertinya saat ini jalan terbaik bagi sebuah dinasti adalah menerima apa yang dikatakan oleh ketua, mereka bergeser untuk mencari ranting pohon yang daunnya lebat dia juga sadar bahwa ini semua akan membawa hal yang menarik lagi, dia tersenyum dan tidak tahu apa-apa lagi. "Ke mana lagi kami harus mencari dedaunan?" tanyanya dengan wajah yang tampak lebih letih lesuh. "Ini hampir kami jalani satu kampung dan hampir mendaki tetapi tidak ada pertanda untuk ranting yang jatuh dengan dedaunan yang banyak," keluh Rachel saat dia berada di dalam hutan lagi. Memasuki tempat itu bukan hal yang mudah melainkan itu adalah tempat yang seharusnya tidak dia tempati, yah seperti yang kalian tahu bahwa di sini mentalnya akan di latih sungguh besar-besaran dia sadar bahwa ini bukan hal yang baik lagi. "Yah, ini dia yang aku cari kenapa kamu sangatlah lama datang?" kesal Rachel dia segera berbalik dan wajahnya menatap dengan ekspresi yang sungguh bodoh, karena ini hampir sore hari dia tidak tahu bahwa akan ada sesuatu yang berbeda dari semua ini. "Kenapa tidak ada jalan pulang?" dia bergumam dengan langkah kaki yang mundur ke belakang. "Apakah yang terjadi? bahkan aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi kepada diriku, bagaimana nanti kalau aku tidak bisa pulang?" dia mulai meneteskan air matanya, tetasan demi tetesan keluar dari matanya yang indah dia tidak pasrah kepada keadaan hanya saja dia tidak tahu harus berbuat apa. Bunyi ranting yang dia pijak di bawah kakinya kali ini membuat nyawanya melayang tak kuasa dia juga heran kenapa saat ini dirinya tidak bisa berbuat apa-apa kenapa batin ya sangat lemah, dia kembali memberanikan diri dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk tenang dan menarik napas, dia kira dengan begini rasanya sungguh akan membaik sekali. "Apakah yang kamu lakukan? ayo mari kita lihat waktu yag kita lalui sekarang ini, ingat kamu adalah Rachel tidak pernah akan takut dengan tantangan mari kita menyelam ke alam yang bebas seperti namamu," dia berbicara sendiri yah hitung-hitungan membuang rasa yang sangat sedih atas perilakunya yang sangat bodoh ini. Kali ini dia juga heran dengan apa yang terjadi kepada hatinya kenapa lagi-lagi berubah, apakah dia tidak akan sampai di mobil tempat Samantha dan juga Casilda serta Elica?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN