SINAR SAMANTHA

1011 Kata
Tidak perlu berkata apa-apa lagi karena semua ini telah berlalu Samantha juga bukan orang yang sembarangan dia yakin dengan semua ini pasti akan berlalu tetapi apa boleh buat dia hanya bisa bercanda dengan waktu dan tempat. Mereka melewati semuanya secara perlahan namun pasti dan mereka juga yakin bahwa sekarang ini tidak ada jalan lain selain mendaki gunung yang akan mereka naik Ki itu entahlah ini adalah tujuan mereka dari awal datang ke tempat ini namun kenapa malah berubah? Bukan lagi tentang apa-apa namun sudahkah Elida sadar bahwa mereka sebentar lagi akan sampai? dan juga kenapa sekarang ini dengan wajah mereka yang tampak lebih dingin tidak ada kata lain selain dingin dan gugup. Dia menatap kearah samping dan melirik teman-temannya dia yakin bahwa sekarang ini diam adalah pilihan karena ini cara yang paling mudah untuk di mengerti, sekarang tidak ada lagi waktu yang dia tunggu kecuali mendaki dan mendaki sampai beberapa jam lagi, merela akan sampai. Terdengar beberapa percakapan di antara mereka entahlah sekarang ini tiba saatnya bagi mereka untuk tertawa di depan dan juga tertawa di depan. "Apakah yang kalian pikirkan? ayolah mari kita bersenang-senang karena bukankah kita sudah sampai di tempat yang kita inginkan?" tanya wanita itu dengan nada suara yang terdengar sangat menarik. "Apakah yang kamu inginkan? kita belum sampai lantas apa yang kamu banggakan?" tanya wanita yang berada di samping itu. Elica tentunya adalah wanita yang selalu bertanya kadang ada nada yang sangat seram dan kadang ada juga nada yang sangat mereka inginkan, entahlah saat ini mereka hanya bisa tersenyum di tengah lelah dan kelapangan d**a yang selalu mereka ke depan kan. Samantha dia hanya berjalan di dalam pikiran dia hanya ada satu kata, yaitu agar dia bisa sampai di tempat dengan keadaan baik dan juga selamat dia akan selalu kepikiran untuk si wanita itu dia juga tidak yakin apakah mereka akan pulang bersama-sama? Banyak pertanyaan yang belum dia dapat dan banyak keinginan yang belum dia dapatkan, dia hanya bisa berdoa kalau suatu saat nanti apa yang dia inginkan tercapai. Dalam hati dia seolah berbisik juga dan mencoba untuk mengatakan beberapa hal ya g membuat otaknya juga tidak dapat berjalan dengan baik. 'Apakah keadaan keluarga kami akan terus seperti ini? Selalu saja berantakan?' 'Aku mendaki ke gunung. Ikan karena keinginan aku yang pertama, keinginan yang pertama sangatlah mudah tetapi tampak sangat sulit untuk di jalani.' Beberapa pandangan mata memang kalo ini tidak tertuju kepada wanita yang bernama Samantha itu, sinarnya telah redup kala dia memikirkan apa yang menjadi alasan utama dari seorang Samantha pergi untuk melakukan hiking. Memecahkan rekor? menjadi petualang yang tidak baik? atau malah dia hanya ingin mencari perhatian di tengah gejolak yang selalu membara seperti api? Tidak semua itu salah, tidak ada yang benar dan tidak ada yang diinginkan dan oleh sosok Samantha di depan itu, dia hanya ingin mencoba mendapatkan keuntungan dari dunia ini, lahir ke dunia ini dengan kedua orang tua yang sama-sama sibuk, rasanya sangat melelahkan bukan? Kita mati saja jelas sudah membuat terpaku setiap orang yang berada di sekeliling kita, tetapi untuk orang tua mungkin hanya merelakan Samantha dengan begitu saja, seperti barang rongsokan, dia yakin semua ini tidak hal yang sulit bagi sosok Samantha. "Ada apa lagi dengan hati aku? setidaknya kamu bisa tenang tidak? kita hanya akan melakukan beberapa jam perjalanan lagi dan akan sampai, lantas apakah kamu akan menggagalkan semua rencana yang telah saya susun dengan baik ini?" tanyanya pada diri sendiri. Ketiga temannya menoleh ke samping dengan tatapan yang bingung dan juga kadang-kadang hanya menggelengkan kepala tiba saatnya kali ini mereka tidak bisa tinggal diam, karena semua ini harus di selesaikan dengan baik agar semuanya berjalan dengan harapan dan tidak terjadi kekacauan sekecil apapun itu. "Hey, apakah sosok Samantha kembali lagi dengan khayalan yang tinggi dan eksperimen yang dia buat sendiri?" tanya Rachel tertawa memasang startegi. "Apakah kamu yakin bahwa kamu mengatakan dia sedang melakukan eksperimen?" tanya Casilda dengan dagu yang dia naik turunkan. "Hah? yah lihatlah dia bukan kah itu sebuah eksperimen yang sangat tinggi?" tanya wanita itu dia sadar bahwa apa ya h dilakukan oleh Samantha kadang berjalan tidak sesuai dengan rencana. Tatapan mata yang mereka berikan saat itu sungguh tidak bisa dikatakan baik karena apa? karena semuanya tidak berjalan dengan lancar Samantha sengaja untuk mempercepat langkahnya dia tidak tahu apakah eksperimen yang akan di berikan oleh kedua orang itu. "Bagaimana dia bisa meninggalkan kita dengan begitu mudahnya?" Tanya Elica. "Entahlah," ucapnya dan sepertinya dia juga tidak tahu bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang lebih pahit dari apa yang dia rasakan sekarang ini, dia terdiam. Beberapa detik kemudian tatapan yang mereka berikan adalah tatapan yang paling dalam dan kini semuanya adalah kosong kenapa? tidak terasa sudah lebih satu jam mereka berjalan dan saling mengomel satu sama lain, dengan tatapan mata yang memandang wow sekali ke depan, dia terdiam. "Apakah ini adalah sinar yang di berikan Samantha?" tanya wanita itu kepada Samantha. "Sinar apa yang kamu maksud sayang?" tanya Samantha karena sekarang ini dengan senyum yang tak kalah manis dia menarik tangannya ke depan. "Apakah ini adalah sebuah rencana dari yang kamu lakukan? kenapa ini sangat cantik? astaga kenapa dunia ini baru aku tahu?" tanyanya sekali lagi dia tahu bahwa ini adalah sebuah perkara di atas Pertiwi. Dengan pemandangan seribu satu kereunian yang paling indah, dia yakin bahwa sekarang ini adalah salah satu fenomena alam yang paling indah, dengan sigap Casilda segera mengeluarkan ranselnya dan mengambil potret begitu juga dengan mereka yang lainnya dengan cepat mereka menurunkan ransel dan melepaskan pakaian yang sangat berat itu. Tidak terasa satu malam sekarang ini telah mereka lewati, yah satu malam sebelum sampai di pegunungan dengan cepat mereka berfoto ria karena tidak ada kata lain selain berfoto, dengan begitu banyak gaya dan juga keceriaan yang paling besar sekarang mereka melompat dan tertawa lagi. Memeluk satu sama lain dan meneteskan air mata, kenapa selalu meneteskan air mata? astaga kenapa mereka mewek sekali seperti ini. "Aku rindu akan masa-masa ini, apakah kalian juga rindu sayang?" dengan peluknya mereka berdangsa ria. "Ia, kamu tahu rasanya bukan bermain di atas gunung yang kita inginkan?" tanya Elica setelah dia tidak berbicara satu jam belakangan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN