Ayun menepati janji ucapannya kepada Agha yang mengatakan pulang sendiri. Namun, sialnya ponselnya berdering dengan pendial nama ayahnya. Walau rasanya masih enggan semingguan ini mendiamkan Bagas bukan berarti Ayun sekurang ajar itu sampai mengabaikan panggilan ayahnya.
"Hallo, Ayah," sapa Ayun. Jilatan pada es krim rasa cokelat terdengar oleh Bagas.
"Kamu lagi di mana, Yun? Kenapa Agha datang sendiri ke rumah sakit, untung saja Ayah melihat sebelum dilihat sama mertua kamu."
Mendengar hal itu kening Ayun mengernyit dalam. "Apa hubungannya, Yah?" tanya wanita itu masih cuek menghabiskan es krim di tangan kiri sedangkan tangan kanan mengambil keripik kentang pedas. Wanita itu duduk di depan Indoguna Mart.
"Ayun," geram Bagas.
Sadar menyalakan speaker membuat Ayun kalang-kabut. Nggak enak kalau ada orang lain yang mendengar percakapannya dengan sang ayah, apalagi pria paruh baya itu sudah menunjukkan taringnya.
"Ayah kenapa, sih?" tanya Ayun dengan nada rendah, wajahnya masam bukan main karena sikap ayahnya yang seakan menguntit ke manapun ia pergi.
"Kamu yang kenapa? Mertua kamu pulang malam ini masa Agha datang tanpa istrinya, sih. Apa kata mertuamu, Yun. Buruan nyusul ke sini. Kirim lokasinya biar Narji ke sana."
Sambungan langsung tak terhubung.
Sialan kenapa ayahnya terus saja membuat ia badmood, sih? Lagian salah Agha kenapa tidak mengatakan perihal kepulangan orang tua pria itu. Setidaknya Ayun partner kerjasama yang baik, kok.
"Lagi-lagi waktu me time terganggu." Monolog wanita itu membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja plastik.
***
Tapak kaki yang menggema di koridor saling bersahutan dan berlawanan arah. Jujur langkah kaki Ayun tak lagi santai. Dia berjalan bergegas meninggalkan Narji yang kewalahan mengikutinya di belakang.
Begitu sampai di dalam ruangan rawat kelas satu tatapan Ayun justru terpaku pada sosok wanita cantik bertubuh langsing.
Wanita paruh baya yang merupakan mertuanya menjangkaunya lantas berkata seraya menggandeng tangannya masuk. "Agha sudah dimarahin sama papanya karena ninggalin kamu. Ke sini dijemput sama supir, 'kan, Sayang?"
Pertanyaan lembut Wina nyatanya berhasil mengembalikan senyum Ayun yang tadinya redup. Entah mengapa ia tidak menyukai Maudi yang dekat-dekat dengan suaminya. Apalagi pria itu juga terlihat tidak risih sama sekali.
"Ayun tadi—"
"Suami kamu udah jelasin, kok. Ayo sini duduk. Kamu pasti capek, 'kan?"
Ayun benar-benar bingung dengan situasi ini. Jadi sejak tadi mereka bermain drama?
"Ma, katanya papa sudah diperbolehkan pulang, ya?" Mata Ayun memang terfokus pada Rivaldi akan tetapi, lirikannya tajam ke arah sang suami terlebih pada wanita yang berdiri di sebelahnya. Tak ada sapaan apapun padahal keduanya sama-sama kenal. Kenal dalam artian sebatas tahu nama dan status masing-masing. Maudi yang dulu sebagai kekasih Agha dan Ayun sebagai teman semasa kecil juga tetangganya.
"Iya benar Papa pulang malam ini, tapi seharusnya kamu sama Agha di rumah saja, apalagi Ayun. Pasti capek kerja seharian. Jadi suami harusnya siaga, Gha," omel Rivaldi tak tanggung-tanggung langsung meninju lengan kekar anaknya yang terbalut hoodie. Sangat berbeda dengan Ayun yang masih mengenakan setelan kerjanya.
Situasi ini benar-benar membuat Ayun mati kutu. Sejujurnya dia merasa tak enak berada di sini. Lebih baik pulang, bersih-bersih, dan bergelung di balik selimut ketimbang terjebak dengan mantan kekasih suaminya.
"Pengantin baru biar pulang duluan, Bro?" tanya Bagas kepada besannya yang diangguki oleh Rivaldi disertai kekehan keduanya yang penuh arti. Sungguh Ayun semakin mati kutu jika seperti ini.
"Barang-barangnya sudah diberesin biar nanti sekalian dibawa sama Narji," ujar Bagas kembali berkata.
Wina mengiyakan mengelus bahu menantunya dengan sayang. "Gih pulang duluan."
"Ma, tapi …." Ucapan Ayun tercekat di tenggorokan saat uluran tangan Agha menyambutnya.
"Ya sudah Ayun sama Agha pulang duluan," pamit wanita itu. Sepintas masih melirik Maudi yang bersedekap d**a.
Aduh kalau seperti ini bisa-bisa Maudi akan meneror dirinya, apalagi Maudi pastinya sudah tahu status pernikahan mantan kekasihnya.
Wina dengan segala tekat mengusir Maudi, bahkan sebelum Ayun datang. Membanggakan Ayun membuat bibir Maudi terus saja manyun.
"Seharian ini lo bikin gue emosi melulu, Gha," ucap Ayun seraya memasang sabuk pengaman.
Mobil masih berhenti di pelataran rumah sakit.
"Aku nggak bermaksud bikin kamu kesal, Yun."
Ayun tidak menyahut.
"Mantan lo."
Agha menoleh. "Ada apa sama Maudi?"
"Bukan apa-apa, sih. Kelihatan nggak suka sama keberadaan gue."
Agha tak lagi bersuara. Menyalakan mesin mobil meninggalkan rumah sakit. Benar, mereka butuh istirahat. Agha juga baru dikasih tahu saat sampai di rumah kalau Rivaldi pulang malam ini. Karena mengira Ayun marah kepadanya membuat Agha tidak memberitahukan. Eh justru jadi petaka sampai-sampai mertuanya yang turun langsung.
Kepala Agha menoleh ke samping dan mendapati posisi miring badan istrinya yang menempel di jendela mobil. "Tidur." Menghela napas perlahan; bingung.
Merasa tak enak hati membangunkan istrinya yang tidurnya lelap Agha berinisiatif menggendongnya sampai ke dalam kamar mereka.
"Pasti nggak nyaman tidur pakai baju lengan panjang." Monolog Agha, tapi tidak punya kuasa untuk menggantinya. Pada akhirnya dia membiarkan saja. Memilih menunggu kedua orangtuanya di lantai satu.
Tak berselang lama suara deru mobil juga pencahayaan dari teras terlihat silau. Agha langsung bangkit membukakan pintu depan bahkan sebelum diketuk.
"Biar Agha saja, Yah," ujar pria itu mengambil alih koper kecil milik Rivaldi yang ada di bagasi mobil. Sedangkan Rivaldi sudah ditanting masuk oleh Wina.
"Kamu sendirian memangnya Ayun di mana, Gha?" tanya Bagas sesudah menyerahkan koper besannya kepada sang menantu.
"Tidur, Yah. Agha nggak enak kalau ngebangunin Ayun. Kelihatan lelah sekali."
Bagas berdecak mendengar hal itu. "Anak itu memang malas dari dulu, Gha. Dimaklumi, ya, kalau bisa disuruh-suruh soalnya Ayun kalau nggak disuruh anaknya pasif."
Tanpa diberitahu Agha sudah mengetahuinya. Mereka teman semasa kecil, semua tingkah laku Ayun sudah terekam jelas di memori Agha.
Agha tersenyum manis seraya mengangguk. Mempersilakan mertuanya masuk ke dalam lebih dulu.
Agha masuk membawa koper Rivaldi ke kamar pria paruh baya itu. Meninggalkan orang tua dan mertuanya yang berbincang di sofa ruang keluarga, di depan televisi yang menyala karena tadi Agha sempat menonton siaran berita malam.
Usai meletakkan barang-barang tersebut Agha langsung bergabung duduk di sebelah Bagas yang kebetulan kosong. Turut menyimak obrolan walau dia merasa tidak paham sama sekali sampai pada akhirnya suara Rivaldi memecah pembahasan awal.
"Kenapa, Pa?" tanya Agha sekilas kurang jelas.
"Ini loh Papa kamu tanya ada rencana bulan madu ke mana supaya Papa bisa bantu urus perizinan libur kalian berdua," jelas Wina menimpali. Sedikit kesal dengan tanggapan lamban anaknya yang memang kelihatan melamun sedari tadi.
"Kalau kurang fokus lebih baik masuk ke kamar saja, Gha. Tidur saja, matamu sudah merah begitu," ujar Bagas ikut menimpali, tetapi nadanya terdengar gemas.
"Agha emang ngantuk, tapi masih bisa ditahan, kok." Jawaban dari pria itu seraya mengucek-ucek kelopak matanya.
Kedua bapak-bapak di sana justru meloloskan kekehannya. Mereka menganggap Agha grogi karena diledekin.
"Sudah-sudah lebih baik kamu ke kamar sana, sekalian tanyakan istrimu mau liburan ke mana," sela sang ibu.
Sejak duduk di sofa Agha memang tidak ditanyai mengenai keberadaan Ayun oleh Wina, mungkin juga mereka memang sudah menduga kalau Ayun sedang istirahat.